
Cinta itu indah. Bila kita bisa merasakan dan mensyukurinya. Menikmati setiap waktu dan prosesnya. Hingga cinta itu tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.
Senyum Niko dan Sinta tersimpul indah dibibir mereka. Kala Niko memasangkan cincin di jari manis Sinta sebagai tanda diterimanya lamaran Niko. Semua yang hadir pun ikut tersenyum bahagia.
Tapi tidak Naina. Ia tersenyum sedikit kaku untuk menutupi getir hatinya. Dalam hati kecilnya, ada sepotong harapan kecil, ia bisa merasakan momen itu. Tapi kenyataan pahit harus ia terima lagi. Kenyataan tentang masa lalunya yang membuatnya berfikir berkali-kali untuk jatuh cinta atau bahkan menikah.
Tanpa ia sadari, sebulir air bening melewati kelopak matanya. Mengalir membasahi pipi halusnya dan berakhir di punggung tangannya. Naina sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri. Ia tak ingin terlihat lemah dan emosional karena hal seperti itu. Ia segera mengusap bekas air matanya.
Pandangannya beralih pada putri kecilnya yang berada di pangkuan Dean. Ia terlihat sangat asik menyaksikan Niko dan Sinta. Tapi tidak dengan Dean.
Dean sedari tadi menatap setiap gerakan Naina. Ia tahu, Naina meneteskan air matanya. Tak sengaja, pandangannya bertemu dengan Naina. Dua pasang mata itu saling bicara dalam riuhnya kebahagiaan kedua keluarga yang berbahagia.
Hingga Rissa mengalihkan lamunan Dean. Rissa menepuk pelan pipinya karena tak menyahut panggilannya. Kedua insan itu diam-diam saling salah tingkah.
Suasana bahagia pun terus mengalir hingga acara lamaran selesai. Semua orang larut dalam suasana bahagia. Hingga keluarga Niko berpamitan pada keluarga Sinta.
Tapi, ada yang janggal. Kala rombongan keluarga Niko meninggalkan rumah Sinta, Dean masih santai di sana bermain dengan Rissa.
"Bu',," Panggil Sinta.
"Iya Sin?"
"Itu Pak Dean?"
"Biar aja Sin! Aku males nanti malah jadi ribut di rumah kamu. Kan nggak enak kalau ribut di rumah orang." Jelas Naina.
"Kalau gitu, aku pamit sekarang aja ya Sin. Biar nggak kesorean sampai rumah."
Naina sudah sangat lelah hari ini. Lelah hati dan fisik. Meski ia sudah biasa menyetir sendirian, tapi kesibukannya beberapa hari juga menjadi faktor lain tubuhnya terasa lebih lelah saat ini.
"Kita pulang!" Ucap Dean tiba-tiba.
Naina dan Sinta langsung menoleh bersamaan. Dua wanita itu malah saling pandang.
"Kalau kamu mau pulang, pulang aja!" Sahut Naina santai.
"Mobilku di bawa Niko." Jawab Dean lebih santai.
"Apa?"
Naina dan Sinta langsung mencari keberadaan mobil Dean. Mereka menoleh kesana kemari. Dan benar saja, tak ada mobil lain selain mobil Naina di depan rumah Sinta. Dua wanita itu kembali saling pandang sembari mengerutkan dahinya.
"Ayo sayang, kita pulang! Pamit akung sama uti dulu ya!" Ajak Naina pada Rissa.
Naina pun segera menggandeng tangan mungil putrinya menghampiri kedua orang tua Sinta. Ia pun berpamitan pada mereka. Dean juga mengikuti langkah dua wanita itu.
"Bu', itu calon suaminya ya?" Tanya ibunya Sinta pada Naina setelah Naina duduk di teras tepat di sampingnya.
"Eh, bukan Bu'. Itu atasannya Niko." Sahut Naina cepat.
"Saya kira calon ayahnya Rissa. Rissa bisa deket banget gitu." Celetuk ibunya Sinta lagi.
Naina hanya tersenyum kaku. Ternyata, Dean mendengar obrolan kecil dua wanita itu.
__ADS_1
"Iya Bu', saya calon ayahnya Rissa." Ucap Dean menyela.
Mata Naina melotot marah pada Dean. Dadanya bergemuruh menahan amarahnya. Tangannya sudah mengepal sempurna.
"DEAN!"
Naina berdiri dan membentak Dean yang berdiri tepat di depan ibunya Sinta. Semua orang yang masih ada di rumah orang tua Sinta langsung menoleh ke arah Naina.
Dean tersentak mendengar teriakan Naina. Ia sedikit berjingkat saking terkejutnya.
"Jaga bicara Anda Tuan Dean Pratama!" Ucap Naina dengan penuh amarah dan telunjuk yang menunjuk tepat diwajah Dean.
"Maaf Na, aku hanya bercanda!" Ucap Dean penuh penyesalan.
Naina mendadak diam. Perutnya kembali bereaksi. Sakitnya kembali mendera. Ia sudah menahannya sejak tadi, tapi entah karena teriakannya atau perasannya yang tak karuan, kini terasa lebih sakit.
Naina meremas perutnya dengan sebelah tangan, dan mencoba mencari pegangan dengan tangan yang lainnya. Ibunya Sinta langsung memegang tangan Naina yang lain. Semua jadi panik karena melihat kondisi Naina. Naina lalu duduk di teras sembari menahan sakitnya. Rissa segera menghampiri Naina dan menangkupkan tangannya ke wajah Naina.
"Mommy, are you okay?" Tanya Rissa cemas.
"Dimana obatmu?" Tanya Dean panik.
Rissa kemudian di pangku oleh ibunya Sinta. Sinta segera mengambil tas Naina dan mencari obatnya disana. Tapi sayang, dia tidak menemukannya.
"Ibu nggak bawa obat?" Ucap Sinta.
Dean semakin panik. "Sinta, coba usap pelan-pelan perut Naina! Itu yang pernah Dokter Juan katakan. Buat dia tenang!"
"Oh iya benar."
"Apa sudah lebih baik Bu'?" Tanya Sinta setelah melihat perubahan ekspresi wajah Naina.
Naina hanya mengangguk. Semua menjadi lebih tenang setelah Naina membaik. Sinta lalu memberikan minum pada Naina.
"Maaf Na,," Ucap Dean sembari berjongkok di hadapan Naina.
Naina mengangguk sembari memejamkan matanya karena masih menahan sakit. Rissa pun segera berpindah ke pangkuan ibunya.
Naina pun membuka matanya ketika Rissa sudah duduk tepat dipangkuannya. "Yuk pulang sayang!"
"Istirahat dulu saja disini Bu'! Bahaya kalau Ibu menyetir dengan kondisi begitu." Saran Sinta.
"Aku akan pelan-pelan Sin. Jadi nanti sampai rumah juga tidak kemalaman." Sahut Naina membenarkan posisi duduknya.
"Biar aku yang menyetir!" Sahut Dean.
"Udahlah De! Tolong jangan berulah lagi!" Cibir Naina.
"Terus aku pulangnya gimana kalau nggak sama kamu?"
Naina memutar bola matanya jengah. Ia lelah menghadapi Dean. Apalagi masih harus menahan sakit perutnya.
"Sin, tolong telfon Niko! Minta dia jemput Dean kesini!" Ucap Naina tegas.
__ADS_1
"Ibu mau nginep sini?" Tanya Sinta penasaran.
"Aku mau pulang Sin."
"Yaudah, biar Pak Dean bareng sama Ibu saja. Bahaya kalau ibu nyetir sendirian dengan kondisi seperti itu!"
"Bener yang Sinta bilang Bu Naina. Bahaya kalau Bu Naina menyetir sendiri. Lagian kan, Pak Dean juga searah ke ibukota." Timpal ibunya Naina.
"Iya Mom. Biar Om Dean nanti nganterin Rissa pulang." Celetuk Rissa.
Naina mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rissa. Naina akhirnya mengalah karena ia sendiri tak yakin dengan kondisinya.
"Kenapa juga harus kambuh sekarang sih?" Gerutu Naina dalam hati.
Naina, Rissa dan Dean akhirnya berpamitan dengan keluarga Sinta. Senyuman Rissa pun terkembang sempurna. Ia akhirnya bisa kembali menghabiskan waktu dengan Dean.
"Hati-hati ya Pak Dean! Titip Bu Naina dan Rissa!" Ucap ibunya Sinta saat mereka bertiga hendak pergi.
"Iya Bu'. Kami permisi!" Pamit Dean.
Mobil Naina pun melaju meninggalkan rumah orang tua Sinta. Dean akhirnya yang membawa mobil Naina. Naina hanya diam di kursi depan sembari menatap hamparan sawah yang ada di luar desa.
Tubuh yang lelah membuat Naina mengantuk. Terlebih, Rissa pun sudah terlelap di kursi belakang, sehingga tak ada yang diajak ngobrol. Ia masih enggan bicara dengan Dean. Dan tak berselang lama, Naina telah terlelap di kursinya.
Entah berapa lama Naina telelap. Perlahan ia membuka mata. Ia merasakan mobil sedang berhenti. Ia melihat ke arah kemudi. Tak ada orang disana. Dan ternyata Rissa juga tak ada di mobil.
"Ini dimana?" Gumam Naina.
Naina menajamkan penglihatannya. Ia melihat keluar.
"Ini tempat parkir. Tapi dimana?"
Naina keluar dari mobil dengan menenteng tasnya. Ia menyapukan pandangannya. Beberapa mobil dan motor terparkir rapi. Pepohonan rimbun menjadi peneduh sebagian lahan parkir yang cukup penuh itu.
"Ini di taman, tapi dimana mereka?" Gumam Naina sembari berjalan mencari keberadaan Dean dan Rissa.
"Ah iya, aku telfon Rissa saja!" Naina pun segera mengambil ponselnya.
"Kamu dimana sayang?"
"... ..."
"Dean? Rissa kemana?"
"... ..."
"Baiklah."
Panggilan pun segera terputus. Naina menunggu Dean dan Rissa sembari duduk di sebuah kursi kosong. Tak lama ia melihat sosok yang dicarinya sejak tadi.
"Kamu sebenarnya pria baik De. Hanya saja, sikapmu kadang semaumu sendiri dan itu membuatku tak nyaman dan bimbang. Andai kau tahu siapa ayah Rissa, apa kau masih bisa sedekat itu dengan Rissa?"
Batin Naina setelah melihat Dean sedang menggendong Rissa untuk menghampirinya. Mereka terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Aku tahu, ada niat lain dari kedekatanmu dengan Rissa. Aku dapat merasakan perhatianmu selama ini. Andai masa laluku tak sekelam itu, aku pasti menyambutmu De. Dengan senang hati." Batin Naina lagi.