Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Rencana Dean


__ADS_3

Bunga-bunga bermekaran indah. Warna-warnanya yang indah menyejukkan mata setiap yang memandangnya. Sejuk semilir angin berhembus, membawakan sejuta rasa yang menenangkan hati.


Pagi yang tenang di sebuah mansion bergaya klasik yang cukup megah, yang terletak di sebuah negara yang terkenal dengan sebutan Negara Hitlet. Yap, Jerman.


Seorang laki-laki baru saja keluar dari ruang gym-nya. Ia berjalan menyusuri lantai mansionnya yang hanya ia tempati sendirian saat ini. Ia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua mansion.


Saat ia tiba di kamarnya, ponselnya berdering. ia pun segera menjawab panggilan yang masuk.


"Iya Nik."


"Tuan, Nona Naina sudah tahu semua. Bahkan ia tahu bahwa ia diikuti oleh pengawal Tuan."


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Nona Naina sangat marah, bahkan pada Sinta dan Nona Rissa yang tak pernah ia marahi."


Laki-laki itu menarik nafas panjang. "Tetap awasi dia! Aku akan secepatnya menyelesaikan pekerjaanku disini."


"Baik Tuan."


Panggilan pun terputus. Laki-laki itu melemparkan ponselnya ke atas kasurnya. Ia lalu berjalan ke arah balkon kamarnya.


Yaa, dia Dean. Dean masih harus tinggal di Jerman karena pekerjaannya belum selesai. Sebelum keberangkatannya, Dean memang diam-diam mengirimkan pengawal pribadinya untuk memantau setiap kegiatan Naina selama ia di Jerman. Sehingga, meski tanpa ia berkomunikasi langsung dengan Naina, ia bisa tahu, apa saja yang Naina lakukan dari laporan pengawalnya.


"Maaf Na."


Dean menatap jauh ke arah langit Jerman yang cerah. Musim semi yang mulai pergi, masih menyisakan semilir angin sejuk yang bertiup lembut. Menyapa setiap apapun yang ia lewati.


Dean yang baru saja selesai berolahraga, masih menikmati paginya sembari mengingat foto wajah Naina yang ia terima dari pengawalnya. Ia menumpukan kedua tangannya pada pembatas balkon dengan fikiran yang melayang jauh ke bagian bumi yang lain.


Curang? Jelas. Dean memang sedikit mencurangi Naina dengan diam-diam pergi dan bahkan tak menghubunginya sama sekali. Sedangkan ia, bisa tahu segala aktivitas Naina dari pengawalnya.


Dean sengaja merahasiakan keberangkatannya hanya pada Naina. Dan ia meminta semua yang dekat dengan Naina, merahasiakan hal itu juga.


"Apa itu artinya kamu sudah mulai membuka hatimu untukku Na?"


Batin Dean seakan berteriak bahagia. Ia sungguh ingin segera menemui wanita yang mengusik hatinya setiap saat itu. Menjelaskan semua dan menenangkan amarahnya.


Flashback On


"Papa harus kembali Ma, ada yang mau bertemu dengan Papa. Papa juga harus menyelesaikan masalah disana." Ucap Jonathan malam itu.


Jonathan, Lita dan Dean baru saja selesai makan malam. Mereka sedang duduk santai di ruang keluarga. Jonathan dan Lita duduk saling bersebelahan sedang Dean duduk di depannya berbataskan sebuah meja.


"Tapi Pa, Papa aja belum ada seminggu baru pulang dari sana. Masak udah mau balik lagi? Kondisi kesehatan Papa juga baru menurun kan?" Bujuk Lita yang memang faham kondiai suaminya itu.


"Iya Ma, Papa tahu. Tapi Papa juga punya tanggung jawab Ma disana. Dan juga, masalah ini harus segera diselesaikan."


"Mama nggak tega kalau Papa harus kesana lagi sendirian."


"Nggak papa Ma. Mama tenang aja, Papa pasti baik-baik saja."


"Atau biar Dean saja yang berangkat Pa?" Usul Lita.

__ADS_1


"Jangan Ma. Dean biar disini nemenin Mama."


'Tapi Paa,,"


"Udah Maa, nggak papa."


"Dean!" Lita memanggil putranya itu sedikit kesal. Karena ia terlalu fokus pada ponselnya dan tak memperhatikan kedua orangtuanya yang sedang kebingungan.


"Iya Ma?" Sahut Dean santai. Ia masih menyandarkan punggungnya di sofa dengan santai pula.


"Lusa kamu berangkat ke Jerman gantiin Papa." Tembak Lita tanpa basa-basi.


"Nggak usah Ma." Tolak Jonathan.


"Enggak Pa. Pokonya harus Dean yang berangkat." Tegas Lita.


"Kenapa Dean sih Ma?" Rengek Dean sembari menegakkan duduknya.


"Papa kan belum ada seminggu pulang dari sana. Lagian, kesehatannya juga baru menurun De. Kamu nggak kasihan sama Papa-mu?"


"Tapi Ma,,"


"Tapi apa? Naina? Nanti Mama jagain dia." Sindir Lita.


"Bukan gitu Ma,," Sanggah Dean berusah mencari alasan lain.


"Yaudah. Pokoknya, kamu harus berangkat ke Jerman lusa."


"Ada masalah apa sih Pa?" Tanya Dean.


Dean membuang nafasnya kasar. Ia mengingat kasus tahun lalu yang baru bisa diselesaikan hampir tiga bulan karena rumitnya proses perizinan di negara itu. Dan itu berarti, ia tak bisa memastikan, berapa lama ia akan berada di Jerman. Dan selama itu pula, ia tak bisa bertemu dengan wanita yang selalu mengusik hatinya itu.


Dean menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa kembali. Bayangan senyuman Naina menari indah dalam benaknya. Bayangan ketika pertama kali ia menyapa Naina dan di tolak mentah-mentah oleh Naina, bermain-main dalam otaknya. Hingga perlahan, sikap Naina mulai lembut padanya dan bahkan kini hubungan mereka semakin dekat.


Tapi, tiba-tiba, Dean berdiri dengan cepat. Jonathan dan Lita sampai terhenyak karena terkejut.


"Oke Ma, Pa, Dean akan berangkat ke Jerman Lusa." Jawab Dean pasti.


"Kamu yakin?" Tanya Jonathan memastikan.


"Iya Pa, Dean yakin. Tapi, Dean butuh bantuan Mama dan Papa di sini." Ucap Dean seraya berjalan ke arah kedua orang tuanya dengan sedikit memutari meja. Ia pun lantas duduk di atas meja menghadap pada kedua orang tuanya.


"Bantuan apa? Jaga Naina sama Rissa? Tenang, pasti Mama lakuin." Sindir Lita lagi.


"Itu pasti Ma. Tapi ada yang lain." Ucap Dean dengan seringai nakalnya.


"Apa?" Tanya Lita penasaran.


"Besok, Papa sama Mama pura-pura janjian sama Naina, dan bilang kalau Dean pergi ke Jerman."


"Emang kamu nggak mau pamitan sama Naina dan Rissa?"


"Pamitan dengan Rissa, tapi tidak Naina." Ide nakal Dean sudah muncul begitu jelas. Rencananya pun sudah tertata dengan matang dalam sekejap.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Dean mau lihat, bagaimana reaksi Naina jika Dean tak ada. Dan Dean mau tahu, apakah Naina sudah membuka hatinya untuk Dean." Jelas Dean dengan senyumnya.


"Maksud kamu gimana?"


"Dean nggak akan bilang ke Naina kalau Dean ke Jerman. Dean juga akan minta Rissa dan Sinta merahasiakan itu. Mama dan Papa yang besok akan memberi tahu Naina kalau Dean pergi ke Jerman. Mama dan Papa besok bisa lihat, bagaimana reaksi Naina saat tahu Dean pergi jauh dan dalam waktu yang tak bisa dipastikan lamanya tanpa mengabarinya."


"Apa kamu nggak akan hubungi dia? Bagaimana nanti kalau dia marah?"


"Dean nggak akan hubungi Naina sama sekali. Meski sulit, tapi Dean akan berusaha. Dean akan lihat, apakah Naina mau hubungi Dean duluan apa nggak. Selama ini, Dean yang selalu menghubungi Naina duluan."


"Marah, pasti. Dilihat dari sifat Naina, kemungkinan dia marah, sangatlah besar. Apalagi jika nanti dia tahu, bahwa orang-orang disekitarnya ternyata selama ini mengetahui kalau Dean ke Jerman dan tetap menjaga komunikasi dengan mereka."


"Lalu gimana hubungan kalian nanti?" Tanya Lita cemas.


"Tenang Ma. Kalau itu terjadi, berarti Naina sudah membuka hatinya pada Dean. Dean akan merayunya perlahan."


"Kamu yakin?" Timpal Lita lagi.


"Dean hanya perlu tahu, apakah Naina sudah membuka hatinya untuk Dean atau belum Ma. Jika sudah, Dean pasti akan masuk dengan perlahan tapi pasti." Jelas Dean dengan penuh keyakinan.


"Oke, Mama akan bantu. Tapi, Mama harap, hubungan kalian baik-baik saja."


"Makasih Ma. Papa nggak mau bantu anak Papa yang ganteng ini?" Goda Dean.


"Iya Papa bantu." Sahut Jonathan singkat.


"Oke. Nanti setelah satu atau dua minggu, Mama sama Papa baru temui Naina ya!" Usul Dean.


"Iya, iya." Sahut Lita sedikit cekikikan.


"Mama kenapa ketawa?" Gerutu Dean.


"Kamu ini udah lama nggak pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta, sama wanita yang susah ditaklukin."


"Bener kamu Ma." Imbuh Jonathan.


"Iya kan Pa?" Timpal Lita.


"Kasihan kamu De,, hhaha,," Sindir Jonathan.


"Ya, perasaan kan nggak bisa dipaksa Ma, Pa." Jawab Dean malu-malu.


"Iya-iya." Sahut Lita.


"Makasih Ma, Pa." Dean memeluk kedua orang tuanya dengan hangat. Jonathan dan Lita pun membalasnya dengan hangat pula.


Mereka lalu kembali mengobrolkan banyak hal. Waktu berkumpul keluarga, jadi terasa lebih indah dengan diselingi canda tawa.


Flashback Off


"Maaf Na, aku membuatmu marah lagi. Tapi dengan ini, aku tahu, kamu merindukanku bukan? Harus. Karena aku pun merindukanmu disini, selalu." Gumam Dean.

__ADS_1


Dean akhirnya mengakhiri lamunan paginya. Ia kembali ke kamarnya lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk ke kantor. Dengan langkah yang pasti, ia mengerjakan setiap pekerjaannya agar cepat selesai. Sehingga ia bisa secepatnya pulang dan menemui Naina.


__ADS_2