Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Memaafkan


__ADS_3

Duhai rasa,, dapatkah engkau jujur pada Sang Hati? Agar ia bisa lebih leluasa mengungkapkan asa yang nyaris tak terbaca dan tak terjaga. Agar ia lebih tenang dalam mengarungi segala emosi dalam jiwa.


Naina dan Dean merasa canggung satu sama lain. Mereka diam sejenak demi mengurai rasa yang menelusup dalam hati.


Naina berusaha keras menetralkan perasaan aneh yang ia rasakan. Perasaan yang sungguh lama tak ia rasakan. Perasaan yang lama ia bunuh, demi membentengi dirinya dari rasa sakit yang pernah ia rasakan di masa lalu.


Bagaimana dengan Dean?


Sungguh, sisa jiwa cassanova dalam diri Dean, meronta ingin dilepaskan. Suasana yang hanya berdua di rumah bersama Naina, sang gadis penakluk hati, membuatnya ingin melakukan banyak hal dengannya. Tapi, jika itu ia lakukan, Naina bisa saja langsung menghilang dari dalam hidupnya.


Tiba-tiba,,


"Nandini."


Nama itu menggema di otak dan hati Dean lagi. Ia langsung berdiri. Berjalan ke arah pintu belakang, meninggalkan Naina. Naina hanya melihat Dean yang melangkah begitu saja.


"Nandini? Siapa Nandini?" Gumam Dean lirih, setelah ia sampai di teras belakang.


Dean memejamkan matanya. Kembali mencoba mencari sosok dari pemilik nama yang selalu mengusik hatinya. Mencari sekeping ingatan, yang mungkin bisa membuatnya mengingat sosok itu.


"Aaaaaaaaa,,,"


Dean tersentak kaget karena teriakan Naina. Ia segera berlari kembali ke dalam dan menghampiri Naina.


"Kenapa Na?" Tanya Dean panik.


"Ituuu,,"


Naina menunjuk ke arah tv dengan wajah yang ketakutan. Ia bahkan sudah berjongkok di atas sofanya dengan ekspresi penuh kepanikan.


"Apa Na?"


Dean kebingungan mencari sesuatu yang mungkin Naina takuti hingga ia berteriak sangat kencang. Tapi Dean tak menemukan apapun.


"Itu Dee,," Ucap Naina dengan wajah makin panik.


"Apa Na?" Dean menyapukan pandangannya ke sembarang arah.


Fobia serangga Naina sungguh parah. Ia bisa sampai berhalusinasi ketika belum sepenuhnya tenang.


Seperti saat ini, ia berhalusinasi dengan sosok yang ia takuti. Hanya karena sempat melihat Dean menuju teras belakang, hingga mengingatkannya pada belalang dan ulat yang tadi ia lihat di halaman belakang rumah.


Dean ingat ucapan Naina saat menolak ajakan Sinta tadi. Ia mulai paham, jika Naina masih terbayang oleh serangga yang ia temui tadi. Ia segera menarik tubuh Naina dalam dekapannya.


Naina hanya pasrah. Rasa takutnya, mengalahkan rasa gengsinya pada laki-laki yang mengerjainya tadi. Ia memeluk erat tubuh Dean. Dean pun bisa merasakan detak jantung Naina yang berdegup kencang.


Dean membopong tubuh Naina begitu saja. Naina pun hanya menurut pada Dean dengan mata terpejam. Ia mengalungkan tangannya ke leher Dean dan menyembunyikan wajahnya di bahu Dean. Bayangan belalang itu lebih menakutkan dari apapun.


Dean membawa Naina ke kamarnya dan meletakkan Naina ke atas ranjangnya. Naina masih terus memeluk tubuh Dean dengan erat. Ia benar-benar ketakutan.


"Tenanglah! Tak ada serangga di sini." Ucap Dean selembut mungkin untuk menenangkan Naina.


Dean mengusap lembut punggung Naina.


"Tenanglah Na!"


Dean berkali-kali mengucapkan kalimat itu untuk menenangkan Naina. Perlahan, pelukan Naina mulai melemah dan lepas. Dean pun melepaskan pelukannya.


"Aku ambilkan minum sebentar ya!" Ucap Dean setelah Naina merebahkan tubuhnya ke ranjangnya.


Dean hendak berdiri untuk mengambilkan Naina minum, tapi tangannya ditahan oleh Naina. Naina menggenggamnya erat.


Dean menoleh pada Naina. Ia bisa melihat wajah Naina yang masih ketakutan. Naina pun menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia enggan ditinggalkan oleh Dean.


"Yasudah, istirahatlah! Aku temani kamu disini!" Ucap Dean penuh perhatian.


Naina masih diam tak bicara. Ia mulai memejamkan matanya perlahan. Tangannya, masih menggenggam tangan Dean dengan erat. Naina sungguh takut jika Dean meninggalkannya. Ia melupakan kekesalannya pada Dean yang tertumpuk selama beberapa hari.

__ADS_1


Dean mengusapkan ibu jarinya ke tangan Naina. Mencoba menenangkan lagi dan lagi. Naina pun mulai terlelap. Tapi tangannya masih menggenggam tangan Dean. Dean pun masih setia menunggu genggaman tangan Naina melemah.


Setelah hampir tiga puluh menit, genggaman tangan Naina mulai lepas. Dean perlahan melepaskan tangannya. Ia lalu menyelimuti tubuh Naina dan membiarkannya beristirahat di kamar.


Dean lalu keluar kamar dan menuju dapur. Salah satu tempat favoritnya jika di rumah. Ia mulai mencari bahan makanan di kulkas yang bisa ia masak untuk makan siang. Dan Dean pun, memulai hobinya. Memasak.


Hampir satu jam Dean berkutat di dapur. Ia pun sudah membereskan semua peralatan yang ia gunakan. Semua sudah kembali ke tempat semua dalam keadaan bersih. Ia lalu kembali ke kamar Naina.


Saat ia masuk, Naina masih terlelap. Tidurnya nampak sangat tenang. Dean duduk di samping Naina.


"Maafkan aku Na!" Gumam Dean lirih sembari mengusap tangan Naina lembut.


Dean mencoba melihat-lihat isi kamar Naina. Ada sebuah bingkai foto yang Naina pajang di meja kamarnya, dan Dean tertarik dengan itu.


Foto seorang gadis berusia dua puluhan yang tersenyum bahagia, dengan rambut sebahu dan kacamata tebal yang bertengger di atas hidung mancungnya.


"Siapa ini? Tapi, wajahnya seperti Naina? Apa ini dia?"


Dean sejenak menoleh pada Naina yang masih terlelap. Ia kembali meletakkan bingkai itu dan melihat sesuatu yang lain di dekatnya. Sebuah kacamata yang sama persis dengan yang ada dalam foto yang baru saja Dean lihat. Ia mengambil lalu mengamatinya.


"Ini kan kacamata yang pernah Naina pakai waktu itu? Apa benar itu fotonya? Kenapa sangat berbeda dengan Naina yang sekarang?"


"Iissshhh,,"


Mendadak kepala Dean berdenyut keras. Ia meletakkan kacamata itu lalu memegangi kepalanya.


"Kenapa mendadak sakit sekali?" Gerutu Dean.


Dean segera mendudukkan dirinya di kursi rias Naina. Menyangga kepalanya dengan kedua tangannya pada meja. Dahinya berkerut dalam karena menahan sakit.


Beberapa saat kemudian, sakit kepala Dean mulai mereda. Ia berjalan mendekati Naina. Sejenak mengamati wajah cantik Naina yang terlelap. Ia lalu keluar kamar karena tiba-tiba ponselnya berdering.


Niko menelepon Dean karena Sinta mencemaskan kondisi Naina. Ia tak berani menelepon Naina, karena takut mengganggu Naina jika sedang istirahat.


"Iya, dia sedang istirahat sekarang." Ucap Dean sembari memandangi taman belakang rumah Naina.


"Baik Tuan. Maaf jika saya mengganggu."


"Tentu Tuan." Panggilan pun terputus.


Jawaban absurd dari seorang Dean Pratama, bisa dengan mudah dipahami oleh asistennya. Niko benar-benar memahami sikap Dean, meski hanya isyarat.


Dean sejenak menikmati halaman belakang rumah Naina. Ia kembali mengingat kejadian kecil tadi pagi saat ia baru saja tiba. Mengingat wajah panik Naina hanya karena ulat kecil yang bahkan tak akan bisa menyakitinya.


"Apa Naina pernah mengalami trauma dengan serangga? Tak mungkin ia bisa setakut itu dengan serangga tanpa alasan." Gumam Dean.


"Iya, aku pernah mengalami trauma dengan serangga." Sahut Naina dari arah pintu.


Dean pun segera membalikkan badannya. Ia melihat Naina sedang berdiri sembari bersandar pada pintu belakang rumah. Kondisinya sudah nampak lebih tenang.


"Kamu sudah bangun? Apa sudah lebih baik?" Tanya Dean seraya berjalan mendekati Naina.


Naina mengangguk. "Terima kasih."


"Tentu Na." Sahut Dean sangat ramah. Hatinya sungguh bahagia melihat Naina kembali lebih tenang.


"Kita makan dulu! Aku sudah membuat makan siang tadi." Ajak Dean sambil memegang bahu Naina lalu memutar tubuhnya. Mendorongnya perlahan menuju meja makan.


"Kamu yang masak ini semua?" Tanya Naina penasaran karena ada beberapa menu makanan yang sudah tersaji dengan tampilan yang begitu menggugah selera di meja makannya.


"Memang ada yang lain selain kita disini?"


"Mungkin saja kamu pesan makanan secara online." Cibir Naina.


Dean hanya tersenyum. Ia lalu menarikkan kursi untuk Naina dan sedikit memaksa Naina untuk duduk disana. Ia pun segera mengambil tempat di sebelah Naina.


"Aku tak tahu apa makanan kesukaanmu. Aku hanya mencoba mengolah bahan yang ada di kulkasmu saja. Semoga kamu menyukainya!" Jujur Dean.

__ADS_1


Naina menoleh sejenak pada Dean. Karena perut yang memang terasa lapar, Naina pun segera mencicipi masakan Dean.


"Bagaimana? Apa enak?" Tanya Dean penasaran.


Naina hanya mengangguk. Mereka kemudian menikmati makan siang dengan khusyu. Tak ada obrolan selama proses menyuapkan dan mengunyah makanan.


Hati kecil Dean begitu bahagia hanya karena Naina mau memakan masakan buatannya yang ia buat sepenuh hati. Meski hanya menu masakan sederhana, tapi Dean membuatnya dengan penuh ketulusan.


Naina benar-benar menikmati makan siangnya. Masakan Dean sungguh memanjakan lidahnya. Selepas makan, Naina membereskan meja makan dibantu Dean.


"Na,," Panggil Dean setelah mereka selesai merapikan meja makan.


"Hem,," Sahut Naina santai dengan sebuah ukiran senyuman kecil nan indah.


Dean tersenyum lega melihat senyum Naina. Mereka masih berada di area dapur setelah merapikan semuanya.


"Maafkan aku Na!" Ucap Dean lagi.


"Aku sudah memaafkanmu De." Sahut Naina lembut.


"Benarkah?" Tanya Dean antusias.


Naina tak menjawab. Ia malah berjalan meninggalkan Dean di dapur. Dean pun lantas mengikuti langkah Naina. Ia berjalan menuju pintu halaman belakang.


Saat Naina sampai di pintu, Dean menarik tangannya. Naina tersentak kaget hingga badannya berputar menghadap Dean. Dean pun menggiringnya hingga terpojok ke daun pintu. Ia pun mengunci Naina dengan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan.


"Apa kamu benar-benar sudah memaafkanku Na?" Tanya Dean lembut.


"Kamu mau aku banting lagi?" Ancam Naina geram.


"Jawab dulu pertanyaanku!" Sahut Dean tak bergeming.


"Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu tidak menyingkir, aku akan buat kamu menyesal!"


"Satu,," Dean mulai menghitung dengan wajah menggoda.


Naina mengerutkan dahinya.


"Dua,," Dean kembali menghitung.


"Kamu akan menyesal De!"


"Kamu yang akan menyesal Na, jika tak menjawab pertanyaanku!" Sahut Dean santai sembari memainkan alisnya.


"Tiga." Ucap Naina lembut.


Tapi tiba-tiba, kaki Naina mulai berayun untuk menyerang junior Dean. Sayang, gerakan Naina bisa ditangkis Dean. Kakinya ditahan oleh satu tangan Dean.


Naina mencoba melarikan diri, tapi tubuhnya bisa dengan mudah di raih oleh Dean. Dean mendekapnya dari belakang. Naina kembali meronta, tapi tenaga Dean cukup besar dan bisa mengetahui setiap gerakan Naina, hingga Naina tak bisa melepaskan diri.


"Kamu hanya perlu menjawabnya Na!" Ucap Dean lembut di telinga kanan Naina.


Rasa gengsi Naina cukup besar pada Dean. Semua perlakuan Dean yang membuatnya kesal, membuat Naina ingin membalasnya. Hingga Naina ingin sedikit mempermainkan Dean dengan enggan melakukan 'siaran ulang', bila ia sudah memaafkannya.


Tapi ternyata, ia gagal melakukannya. Ia tak tahu, jika Dean juga handal dalam bela diri. Ia tak bisa menjatuhkannya lagi seperti tadi.


Naina yang sudah mulai lelah dan tak bisa mengatur perasaannya sendiri, ia akhirnya menyerah dalam pelukan Dean. Ia mulai melemaskan otot-ototnya yang tadi sempat menegang karena bersiap untuk bertempur.


"Aku sudah memaafkanmu De. Jadi, tolong lepaskan aku! Atau aku akan membenturkan kepala seperti kemarin."


"Terima kasih Na." Sahut Dean bahagia.


Bukannya Dean melepaskan pelukannya, ia malah mengeratkan pelukannya dengan gemas. Ia bahkan mendaratkan sisi kepala kirinya di sisi kepala kanan Naina.


Hati Naina bergetar kala semua itu terjadi. Tak dapat dipungkiri, hati kecilnya juga mendambakan sebuah pelukan penuh cinta dari seorang laki-laki. Dan ia bisa merasakan itu dari pelukan Dean saat ini.


Naina memejamkan matanya. Menikmati setiap gelanyar aneh yang lama tak ia rasakan. Rasa yang menari indah dalam relung hatinya dan perlahan mekar dengan indah memenuhi hatinya. Ia benar-benar sudah memaafkan sikap Dean yang membuatnya kesal kemarin.

__ADS_1


Dean pun bahagia bisa mendapatkan maaf dari Naina. Ia bahkan tak menyadari, ia tengah memeluk Naina dengan begitu gemas. Dan Naina menerima itu.


Dua hati itu bahagia karena alasan masing-masing. Saling merajut asa dalam cara yang berbeda dan mencoba menggapai mimpi dalam satu jalan yang sama. Akankah mimpi itu dapat terwujud suatu saat nanti? Ataukah, akan tetap menjadi mimpi yang indah dalam angan yang tak pernah mati?


__ADS_2