Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Mirip


__ADS_3

Flashback On


"Niko, kirim pengawal buat ngikutin Naina ke lokasi syuting! Minta dia laporkan apapun yang Naina lakuin. Terlebih kalau sampai Delvin macam-macam sama Naina." Pinta Dean sambil memandang deretan gedung-gedung pencakar langit yang berjajar di sepanjang jalanan ibukota di pagi yang cerah itu.


"Baik Tuan!" Sahut Niko.


"Jangan sampai mereka ketahuan jika sedang mengikuti Naina. Suruh mereka menyamar."


"Baik Tuan!"


"Apa rapat hari ini tak ada yang bisa di cancel atau jadwal ulang?"


"Maaf Tuan, semua sudah di jadwal ulang untuk yang kedua kalinya. Kalau harus dijadwal ulang, mereka mungkin akan membatalkan kerja samanya." Jelas Niko.


Dean hanya menghela nafasnya. Ia sebenarnya ingin mengikuti Naina ke lokasi syuting, tapi karena agenda rapat yang tak bisa ditunda, ia akhirnya memutuskan mengirim pengawalnya untuk menjaga Naina selama ia belum tiba.


Flashback Off


"Hai Na,," Sapa seseorang yang mengalihkan perhatian tiga wanita yang bersiap untuk pulang.


"Dean?" Naina terkejut mendapati Dean berada di lokasi syuting Rissa.


"Om Dean?" Ucap Rissa gembira. Rissa langsung turun dari kursinya dan menghambur ke arah Dean. Dean pun langsung menangkap tubuh Rissa dan menggendongya.


"Iya cantik. Sudah selesai?" Tanya Dean.


"Sudah Om."


"Yuk pulang!" Ajak Dean. Rissa pun mengangguk gemas.


Ada sepasang mata menatap sinis pada Dean yang dengan senyum lebarnya menggendong Rissa. Ia mengeratkan rahangnya yang kokoh menahan kesal. Tangannya terkepal menahan cemburu.


"Awas kamu De, aku akan rebut mereka darimu!" Batinnya.


Dean pun berjalan dengan santai sembari berjalan menggendong Rissa. Naina berjalan di sampingnya. Sedang Atun dan Niko, mengikutinya di belakang sembari membawa beberapa perlengkapan Rissa.


"Siapa itu? Ganteng bener?"


"Eh, mirip ya sama Delvin."


"Itu gadis ciliknya cantik ya! Mirip banget sama ayahnya!"


Suara beberapa kru film dan warga sekitar lokasi syuting kala melihat Dean berjalan sambil menggendong Rissa, terdengar menggema di telinga Naina dan Dean. Dean menoleh pada Naina ketika mendengar celetukan beberapa orang. Sedang Naina, hanya berjalan santai tanpa ekspresi yang berarti.


Naina sebenarnya cukup risih mendengar itu semua, hanya saja, ia memilih diam agar tak menjadi pusat perhatian.


"Kunci mobilnya Na!" Pinta Dean kala mereka tiba di dekat mobil Naina.


"Buat apa?"


"Aku yang menyetir." Sahut Dean santai, dan pastinya jangan lupa senyuman tampan yang disertai lesung pipi yang tercetak sempurna.


"Nggak usah De! Aku masih bisa bawa mobil sendiri." Jawab Naina seraya membukakan pintu bagasi untuk Atun.


"Ayolah Na! Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Atau kita pakai mobilku saja ya?" Rayu Dean.


"Nggak perlu De. Aku kan bawa mobil sendiri."


"Yasudah, berikan kunci mobilmu! Biar aku yang menyetir!"


"De,,"


"Heem,," Dean menatap lekat mata Naina yang tak tertutup masker.

__ADS_1


Naina akhirnya mengalah. Ia memberikan kunci mobilnya pada Dean. Ia yakin, jika ia tidak mengalah, akan ada perdebatan panjang karena sikap Dean yang cukup keras kepala.


Naina, Rissa dan Atun akhirnya pulang bersama Dean dengan mobil Naina. Sedang Niko, membawa mobil Dean sendirian dan kembali ke kantor sesuai permintaan Dean.


Saat sampai di rumah Naina, si artis cilik sudah terlelap di pangkuan Atun karena kelelahan. Naina bersiap mengangkat tubuh Rissa untuk memindahkannya ke kamar.


"Biar aku saja!" Serobot Dean dari pintu berlawanan.


Dean yang memang posisinya lebih dekat dengan Rissa, ia dengan mudah membopong tubuh gadis kecil itu keluar mobil. Naina akhirnya membukakan pintu rumah untuk mereka.


"Bisa kita bicara sebentar Na?" Tanya Dean setelah ia memindahkan Rissa ke kamar.


"Kita ngobrol di belakang saja!"


Naina dan Dean duduk di sebuah kursi kayu yang ada di taman belakang rumah. Diteduhi oleh sebuah pohon mangga, Naina senang duduk di sana kala sore hari, sembari menikmati waktunya bersama Rissa.


Taman belakang rumah Naina memang cukup luas untuk ukuran rumahnya. Tak banyak tanaman bunga atau semacamnya disana, hanya rumput hias yang tumbuh rapi dan sebuah pohon mangga dan jambu yang sudah tumbuh tinggi.


Naina meletakkan sebuah kursi kayu panjang tepat di bawah pohon mangga. Dan sebuah ayunan di bawah pohon jambu untuk bermain Rissa. Tak lama, Atun datang membawakan dua gelas minuman dan dua toples cemilan.


"Kamu kenal dia Na?" Dean menyodorkan ponselnya setelah Atun kembali ke rumah.


Naina mengambil ponsel Dean begitu saja. Keningnya berkerut dalam mengamati foto yang Dean tunjukkan. Matanya membola melihat foto itu.


Ada sebuah foto seorang gadis kecil seusia Naina sedang bermain dedaunan yang berserakan di tanah. Wajahnya sangat mirip dengan Rissa, hanya saja bola matanya berwarna hitam.


"Ini siapa?" Tanya Naina penasaran.


"Dia Rhea, adikku. Kamu pasti sudah mendengar ceritanya dari Mama."


Dean menatap kosong pada langit biru. Fikirannya melayang mengingat adik kecilnya yang tersayang. Ia sungguh merindukan adik kecilnya itu. Ia lalu menatap Naina dalam.


Lita dan Dean langsung menyadari kemiripan Rissa dan Rhea saat kecil ketika bertemu dengan Rissa beberapa hari yang lalu. Mereka memilih diam dan tak banyak bertanya karena tak ingin menyinggung perasaan Naina.


"Iya, dia mirip sekali dengan Rissa. Mama juga berkata demikian."


Dean seakan bisa membaca fikiran Naina setelah melihat ekspresi wajah Naina.


"Maka dari itu, aku ingin bertanya padamu. Siapa ayah Rissa? Bagaimana bisa, wajahnya sangat mirip dengan Rhea dan juga denganku?"


Dean menatap wajah Naina lebih intens. Mencoba membaca raut wajahnya yang cantik.


Deg. Jantung Naina seakan berhenti berdetak. Tatapannya mendadak kosong. Fikirannya melayang jauh entah kemana. Tubuhnya mendadak dingin seketika dan mematung. Sekitarnya mendadak sunyi dan senyap. Tiba-tiba, bayangan malam kelam itu hadir lagi di fikiran Naina.


Klothak. Ponsel Dean terjatuh begitu saja dari tangan Naina ke atas kursi. Naina masih melamun dalam. Dean lantas menggeser tubuhnya mendekati Naina setelah memindahkan nampan dan isinya ke tempat duduknya tadi.


"Na? Kamu kenapa?" Tanya Dean panik karena tak mendapat respon apapun dari Naina.


Naina masih diam dan melamun. Fikirannya masih dikuasai bayangan malam kelam enam tahun lalu.


"Naa,," Dean memegang tangan Naina setelah mengambil ponselnya.


Naina masih diam tak menjawab.


"Naina,,"


Dean sedikit meninggikan nada suaranya. Ia menggoyangkan tangan Naina perlahan.


"Tidak!" Ucap Naina tiba-tiba.


Naina tiba-tiba berdiri dengan keringat yang membasahi keningnya. Nafasnya tak beraturan. Tatapannya ketakutan.


"Kamu kenapa Na?" Dean ikut berdiri tepat di hadapan Naina. Ia memegang kedua lengan Naina.

__ADS_1


Naina tersentak karena lengannya disentuh. Matanya berkedip beberapa kali berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia lalu menghempaskan kedua tangan Dean dan sedikit mundur menjauh dari Dean.


"Kamu kenapa Na? Maaf jika perkataanku menyinggungmu." Ucap Dean tulus sambil menatap lembut pada Naina.


Dean menyesal menanyakan hal itu pada Naina. Ia tak mengira, reaksi Naina akan seperti itu.


Naina masih berusaha mengatur nafas dan perasaannya. Ia diliputi ketakutan akan bayang-bayang malam itu dan perlakuan buruk yang ia terima setelahnya.


Bulir bening tiba-tiba mengalir dari kelopak mata Naina. Dean segera meraih tubuh Naina dan memeluknya. Ia sungguh menyesal menanyakan pertanyaan itu pada Naina hingga membuat Naina meneteskan airmatanya.


"Maafkan aku!" Ucap Dean kala ia memeluk hangat Naina.


Ya, Naina tak menolak pelukan Dean. Ia merasakan kehangatan pelukan Dean. Ia sejenak menumpahkan kegelisahan dan ketakutan yang membayangi selama ini dalam pelukan Dean.


Dean membiarkan Naina tenang dalam pelukannya. Ia sungguh merasa bersalah karena menanyakan hal itu.


Naina perlahan mundur setelah ia lebih tenang. Dean pun melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Naina yang merah dan sembab.


"Maaf De, tolong tinggalkan aku!" Pinta Naina.


"Tapi Na,,"


"Tolong De! Aku butuh waktu untuk sendiri." Ucap Naina.


"Maafkan aku Na!"


"Iya. Tapi tolong tinggakkan aku sendiri dulu De!" Pinta Naina seraya membalikkan badan membelakangi Dean.


Dean akhirnya mengalah. Ia meninggalkan Naina sendirian di taman belakang. Ia masih enggan untuk pulang karena memikirkan Naina. Ia akhirnya menunggu Naina di ruang tamu.


Naina terduduk di atas rumput. Perasaannya masih berkecamuk. Perkataan Dean menggema di telinga dan kepalanya. Air mata pun kembali mengalir perlahan.


".. Bagaimana bisa, wajahnya sangat mirip dengan Rhea dan juga denganku? .."


"Mana mungkin bisa semirip itu? Meski Mama Lita dan ibu Delvin kembar, tak mungkin bisa semirip itu." Gumam Naina di tengah kebingungannya.


"Tak mungkinkan jika Mr. D adalah Dean? Romo tak mungkin memeberikan informasi yang salah pada Ibu bukan? Lagi pula, Dean tak mengenaliku waktu di kafe saat itu."


"Ya Tuhan, apa artinya ini?" Ratap Naina sendirian.


"Naa,," Suara Dean mengagetkan Naina.


Naina segera berdiri dan membalikkan badannya. Ia terkejut melihat Dean sudah ada dibelakangnya.


"Dean?"


"Apa sudah lebih baik?"


"Iya. Maaf."


"Aku yang minta maaf Na." Ucap Dean tulus. Ia benar-benar merasa bersalah karena menanyakan hal itu pada Naina.


"Aku yang terlalu emosional De. Maaf." Sahut Naina setelah menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku akan pulang. Istirahatlah! Sekali lagi aku minta maaf Na."


"Terima kasih De." Jawab Naina tulus.


Dean hanya mengangguk. Ia lalu berjalan meninggalkan Naina di taman sendirian lagi. Naina hanya menatap punggung Dean yang menghilang di balik pintu rumahnya.


Dean meninggalkan rumah Naina dengan hati dan fikiran yang penuh tanda tanya. Ia bingung dengan sikap Naina.


"Apakah ada masalah dengan masa lalunya?"

__ADS_1


__ADS_2