Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Bertemu


__ADS_3

Sibuk. Lalu lalang. Suasana sangat ramai di lokasi syuting. Beberapa bagian keamanan terlihat menghadang para penggemar yang mulai memadati lokasi syuting. Mereka berteriak riuh memanggil-manggil nama idolanya.


Beberapa mata mulai tertuju pada Rissa. Apalagi kalau bukan karena mata biru Rissa. Itu hal yang paling sering menjadi pusat perhatian orang-orang kala melihat Rissa. Mata biru yang cukup jarang ditemui di mata orang Indonesia.


Beberapa kru film mulai mengarahkan Rissa untuk bersiap. Naina dengan sigap membantu Rissa bersiap. Naina pun membantu Rissa menghafal beberapa dialog dan adegan. Dean memilih duduk dan menyaksikan wanita pencuri hatinya, mendandani putri kecilnya.


Syuting pun dimulai. Rissa diminta berkenalan dengan dua pemain utama dewasa. Delvin Dewangga dan Anneke Virginia. Mereka kagum melihat wajah cantik Rissa dan mata birunya.


"Hei cantik! Matamu indah sekali!" Puji Anne.


"Terima kasih Tante." Sahut Rissa dengan senyum manisnya.


"Apa itu Mama dan Papamu?" Tanya Delvin seraya menunjuk ke arah Naina dan Dean yang sedang mengawasi Rissa dari jauh.


Rissa mengangguk. "She is my beloved Mom."


"Kamu pandai berbahasa Inggris?" Tanya Delvin kagum.


Rissa mengangguk bahagia karena ia dapat mengobrol dengan idolanya. Naina merasa was-was karena kedekatan Rissa dengan Delvin. Jantungnya berdegup tak karuan. Ketakutannya mulai menyeruak.


"Dia ayahmu sayang. Apa kau bahagia bisa bertemu dengannya?" Batin Naina.


Dean menyadari gelagat aneh Naina. "Kamu nggak papa Na?"


Naina masih fokus mengawasi gerak-gerik Rissa yang sedang menjalani syuting dengan Delvin. Rissa berperan sebagai anak Delvin dalam film itu. Jadi Rissa akan sering berdekatan dengan Delvin nantinya.


Dalam hati kecil Naina, ia bahagia, Rissa bisa bersama dengan ayahnya. Tapi ia juga takut, jika ada yang menyadari kemiripan wajah Rissa dan Delvin, meski tak begitu jelas. Ia takut jika Delvin pun menyadari itu dan akan mengambil Rissa darinya.


"Dia hanya putriku, bukan putri Delvin. Kau tak boleh mengambilnya dariku!" Batin Naina sembari menatap sinis pada Delvin.


"Naaa,," Panggil Dean lagi karena tak mendapat jawaban dari Naina.


"Eh, iya. Kenapa De?" Tanya Naina gelagapan karena terkejut.


"Kamu nggak papa? Apa perutmu sakit lagi?" Terka Dean dengan wajah cemas.


"Oh, nggak. Aku nggak papa." Jawab Naina singkat.


"Makanlah sesuatu! Perutmu tak boleh dibiarkan kosong."


"Nanti saja, aku sedang tak berselera." Jawab Naina dengan pandangan fokus pada Rissa.


"Naa,," Dean menyangga kepalanya dengan sebelah tangan di atas meja menghadap Naina.


"Hem,," Naina yang masih fokus memperhatikan Rissa, akhirnya menoleh pada Dean.


Naina tak tahu jika Dean sudah merubah posisi duduknya. Tanpa sengaja, wajah mereka bertemu sangat dekat. Hidung mancung Naina dan Dean nyaris bertemu satu sama lain meski tertutup masker.


Dean tersenyum dibalik maskernya. Sedang Naina langsung memundurkan kepalanya dengan mata yang membola sempurna karena terkejut.


Aahh, lagi-lagi masker menjadi penghalang pemandangan wajah Naina yang merona. Menjadi sebuah keberuntungan pastinya bagi Naina, tapi tidak untuk Dean. Meski sebenarnya, Dean menyadari hal itu dari gelagat Naina.

__ADS_1


Naina dan Dean dengan setia menunggu Rissa yang masih sibuk menjani syutingnya dengan serius. Hingga waktu makan siang tiba. Semua kru beristirahat untuk makan siang. Termasuk Rissa.


Risaa menikmati makan siangnya dengan disuapi oleh Naina. Dean pun menikmati makan siangnya sembari menikmati pemandangan indah yang ia nantikan beberapa minggu terakhir. Pemandangan wajah Naina dari dekat tanpa harus diam-diam memandanginya.


Naina menyadari pandangan Dean. Ia tetap bersikap santai dan fokus menyuapi Rissa. Setelah Rissa selesai makan, barulah giliran Naina makan. Dan kini Dean tak ingin kecolongan lagi. Ia menyiapkan obat Naina bahkan sebelum Naina selesai makan.


"Rissa, setelah ini Om yang temani ya. Mommy biar istirahat di mobil. Oke?" Ucap Dean sembari memangku Rissa.


"Oke Om." Rissa mengangguk dan tersenyum.


"Tak apa De, aku akan disini menemani Rissa. Kamu saja yang istirahat. Kamu sudah menyetir tadi." Tolak Naina.


"Salah satu obatmu ada yang membuatmu mengantuk. Setelah minum obat, kamu akan tidur untuk beristirahat. Itu yang Dokter Juan katakan." Jelas Dean.


Skakmat. Naina tak dapat lagi mengelak. Ia sebenarnya tahu jika obatnya ada yang bereaksi pada rasa kantuknya. Maka dari itu, ia tak meminumnya tadi pagi. Karena tak enak hati jika harus membiarkan Dean menyetir sendirian.


Naina akhirnya menuruti Dean. Ia benar-benar mengantuk setelah meminum obatnya. Ia akhirnya berjalan menuju mobil Dean.


"Hai,," Sapa seorang laki-laki yang mencegat langkah Naina.


Naina tengah berhenti dan tertunduk kala itu karena mencari ponselnya di dalam tas. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Ia terpaku mendapati orang yang menyapanya.


"Oh iya, hai,," Naina tersenyum kecil dibalik maskernya.


"Kamu mamanya Rissa kan?" Tanya laki-laki itu ramah.


"Oh, iya."


"Aku Delvin, rekan main film Rissa." Delvin mengulurkan tangannya.


"Maaf, saya permisi." Pamit Naina yang lalu berjalan kembali menuju mobil Dean.


Delvin terpaku. Tak pernah ada wanita yang meninggalkannya begitu saja setelah berkenalan dengannya. Ia menatap punggung Naina yang mulai menjauh dan hilang ke dalam mobil yang bersebelahan dengan mobilnya.


Delvin sempat melihat wajah cantik Naina saat tadi sedang makan siang. Naina melepas maskernya pastinya. Dan Delvin, ternyata tertarik pada Naina.


"Apa dia kekasih Dean? Hheeemm, sepertinya akan menarik." Gumam Delvin dengan seringai di wajah tampannya.


"Baiklah Naina. Tunggu aku! Aku pasti akan merebutmu dari Dean dan menjadikanmu milikku!" Batin Delvin.


Delvin pun kembali ke tempat manajernya berada. Ia kembali bersiap melakukan syuting bersama yang lain.


Sedang di dalam mobil, Naina sedang mengatur perasaannya karena disapa oleh Delvin. Bukan karena bahagia disapa oleh artis ternama, tapi ia tak menyangka jika Delvin akan melakukan itu padanya. Ia berusaha menutupi dirinya dari Delvin.


"Dia benar-benar tak mengingatku." Gumam Naina.


Rasa kantuknya mengalahkan segalanya. Ia mulai terlelap di dalam mobil Dean dengan alunan musik yang ia dengarkan melalui headphone milik Rissa.


Satu jam kemudian, Naina terbangun karena alarm yang telah ia pasang di ponselnya. Ia mengumpulkan kesadarannya sembari merapikan penampilannya. Ia sejenak melirik ke arah Dean yang masih setia menunggu Rissa menjalani syuting.


Setelah beberapa saat, Naina kembali menghampiri Dean. Meski wajah Dean tertutupi masker, beberapa pasang mata tetap tertuju padanya.

__ADS_1


"Kamu sadar nggak jadi perhatian beberapa pasang mata?" Cibir Naina saat ia sudah duduk di dekat Dean.


Dean mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum kecil memandang Naina.


"Apa kamu cemburu?" Goda Dean dengan berbisik mesra di telinga Naina yang tengah fokus pada Rissa.


Naina menoleh pada Dean dengan tatapan aneh. "Kurang kerjaan." Celetuk Naina kesal.


Dean hanya diam tak menggubris. Ia memilih memandangi wajah Naina yang tertutup masker dari samping.


Hingga sore, syuting telah selesai. Syuting hari ini memang hanya beberapa adegan. Sisa adegan lainnya akan di ambil di lokasi lain di ibukota.


"Capek nggak sayang?" Tanya Naina saat ia membantu Rissa berkemas sembari beristirahat.


Rissa mengangguk. "Lain kali, nggak ada syuting-syuting lagi. Oke? Mommy nggak mau kamu kelelahan begini, ya?"


"Tapi Rissa seneng Mom, bisa ketemu sama Om Delvin." Jujur Rissa.


"Kan nggak harus pakai syuting juga. Kamu jadi kelelahan kan!"


"Iya Mom." Rissa mengangguk paham.


Menjelang senja, semua kru dan pemain film mulai meninggalkan lokasi syuting satu per satu. Begitu juga Rissa.


"Halo cantik! Besok ketemu lagi ya di ibukota!" Sapa Delvin kala Rissa sedang berada digendongan Naina. Mereka sedang merapikan barang-barang Rissa ke dalam mobil.


"Iya Om." Sahut Rissa dengan senyum lebarnya.


"Gadis cilik ini akan jadi pendukungku merebut Naina dari Dean." Batin Delvin di balik senyum manisnya.


"Dada cantik!" Pamit Delvin sembari melirik ke arah Naina.


"Daa Om Delvin." Rissa benar-benar bahagia di sapa oleh Delvin secara pribadi.


"Mari Naina!" Sapa Delvin semanis mungkin.


Naina hanya mengangguk. Dean memperhatikan adegan itu sejak tadi. Hatinya sebenarnya bergemuruh melihat Delvin mendekati Rissa dan Naina. Tapi ia menahan dirinya agar tak membuat keributan.


Delvin pun sejenak melirik Dean dengan tatapan sinis. Dua laki-laki itu masih menyimpan dendam dalam hati masing-masing. Dendam sejak enam tahun lalu.


"Sudah selesai. Ayo pulang!" Ajak Dean setelah ia berdiri di samping Naina.


"Ayo pulang sayang!" Ucap Naina pada Rissa yang sudah duduk di mobil.


Naina membantu Rissa memasang sabuk pengamannya. Dean dan Naina pun masuk ke mobil dan duduk berdampingan kembali. Dean dengan cepat meninggalkan lokasi syuting.


Tak butuh waktu lama, sang artis cilik, sudah terbang ke alam mimpinya karena kelelahan. Naina tersenyum melihat Rissa tertidur pulas.


"Kamu juga tidurlah! Aku akan bangunkan jika sudah sampai!" Saran Dean.


"Aku sudah tidur tadi. Jika lelah, gantian aku saja yang bawa mobil." Ucap Naina. Ia tak enak hati karena terus merepotkan Dean.

__ADS_1


"Tenang saja, aku masih kuat." Sombong Dean.


Naina dan Dean mulai mengobrol santai sepanjang peejalanan. Obrolan-obrolan receh menemani mereka dan mulai mengakrabkan mereka. Naina mulai sangat santai dengan Dean. Sikap ketus dan dinginnya mulai berubah menjadi hangat dan ramah.


__ADS_2