
Mentari pagi menyapa pada sebagian penduduk bumi dengan kehangatannya. Sinarnya yang penuh kebaikan, menelusup indah melalui celah sisa-sisa dinginnya sang malam. Perlahan namun pasti, menggantikan kesejukan pagi hari dengan kehangatannya yang lain daripada yang lain.
"Oke Sayang, ayo berangkat! Mommy tak ingin kamu terlambat di hari pertamamu di kelas baru." Ucap seorang wanita cantik yang baru saja kembali dari liburannya di Amerika untuk merayakan keberhasilannya menyandang gelar MBA-nya dari salah satu kampus terbaik di ibukota.
"Oke Mom!" Sahut sang putri yang kini mulai tumbuh menjadi gadis kecil yang semakin cantik dan pandai dalam banyak hal.
Ya, Naina menjalani kehidupannya bersama Rissa dengan sangat baik. Setelah kejadian penculikan itu, ia bersama Rissa menapaki kehidupan baru dengan hati yang lebih lapang dan penuh dengan asa yang tak lekang oleh waktu.
Naina akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia mengambil studi pasca sarjana di sebuah kampus di ibukota yang memiliki fakultas pasca sarjana dalam bidang bisnis dan keuangan terbaik.
Naina pun masih mengelola bisnisnya yang kini makin berkembang pesat. Dibantu oleh dua asisten kepercayaannya, ia tetap bisa mengelola bisnisnya sambil mengurusi studinya selama dua tahun terakhir.
Naina kini memiliki dua asisten. Sinta dan Riska. Riska bekerja pada Naina sejak dua tahun lalu. Tepat satu bulan setelah Naina keluar dari rumah sakit setelah kejadian penculikan itu.
Naina meminta Sinta untuk mencari asisten baru untuk membantu pekerjaannya sebelum ia dinyatakan hamil oleh dokter. Karena Naina tak ingin membuat Sinta kelelahan jika nantinya Sinta sedang hamil anaknya. Jadi ia pun mengantisipasi hal itu jauh hari sebelumnya.
Naina menjalani kehidupannya dengan semangat baru setiap harinya. Ia kembali menjadi single parent yang selalu ada untuk putri tersayangnya.
Di tengah kesibukannya dalam mengurusi pekerjaan dan studi S2-nya, Naina selalu menyempatkan diri mengajak Rissa mengunjungi dua tantenya yang ada di Lombok. Mengunjungi pusara kakek neneknya yang ada di Jogja. Dan pastinya, mengunjungi Oma Sekar dan Opa Wiliam di Amerika.
Naina menjadi semakin dewasa sikap dan pemikirannya seiring waktu. Ia semakin bisa memahami setiap apa yang terjadi pada kehidupannya dengan lebih bijaksana. Meski terkadang ia masih sangat manja jika sedang bersama Sekar dan Wiliam.
Ya, bertambah satu orang lagi yang sangat menyayangi Naina seperti putrinya sendiri. Wiliam. Ia bisa menerima kehadiran Naina dalam kehidupan rumah tangganya bersama Sekar. Begitu juga kedua putra dan putri Wiliam. Mereka pun menyambut hangat kehadiran Naina dalam keluarganya. Naina bahkan sudah memanggil Wiliam dengan sebutan daddy sekarang.
Seperti biasa, Naina berangkat ke kantornya setelah mengantar Rissa ke sekolah. Kantor Naina kini sudah berpindah tempat. Ia sudah menyewa sebuah gedung berlantai lima sebagai kantornya.
Karena memang, kantor lama Naina yang merupakan sebuah apartemen, sudah tidak bisa lagi menampung karyawannya yang bertambah banyak saat ini. Mengingat, beberapa bidang bisnis yang ia geluti selama ini dan ditambah jasa desain interior yang ditekuni Rissa semakin berkembang pesat. Jadi, mau tak mau, Naina mencari kantor baru untuk semua bisnis yang ia kelola selama ini.
"Maaf Bu', ada undangan untuk Ibu." Ucap Sinta sembari menyerahkan sebuah undangan yang baru saja sampai di kantor Naina.
"Undangan apa?" Tanya Naina sambil mengulurkan tangannya untuk menerima benda kotak pipih dengan desain mewah yang makin sering ia terima.
"Undangan pernikahan putri Tuan Adrian Mahadirga. Salah satu rekan bisnis properti Anda." Jelas Sinta.
Naina menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Ia bahkan menghela nafas lesu seperti yang biasa ia lakukan.
Kenapa?
Karena memang Naina sangat enggan menemui para koleganya dalam acara di luar urusan pekerjaan. Naina pasti akan ditanyai perkara status lajangnya oleh beberapa koleganya yang sudah mengincarnya secara pribadi. Naina cukup risih dengan hal itu.
Jika Naina bertemu dengan koleganya dalam urusan pekerjaan, ia bisa beralasan dengan profesionalitas kerja yang membuatnya bisa terhindar dari beragam pertanyaan dan rayuan gombal para kolega yang ingin mempersuntingnya.
Akan tetapi, jika di luar urusan pekerjaan, ia tak memiliki banyak alasan untuk menghindari pertanyaan dan rayuan beberapa lelaki yang memang cukup mapan dan tampan yang siap meminang Naina.
"Apa perlu saya temani Bu'?" Tanya Sinta yang paham ekspresi Naina.
Naina diam sejenak sambil mulai membuka undangan yang sudah di tangannya.
"Tak perlu Sin! Kamu ada acara bukan bertepatan dengan tanggal undangan ini?" Jawab Naina lesu.
"Tidak apa-apa Bu, saya bisa membatalkannya. Atau Ibu ingin ditemani Riska?" Usul Sinta.
__ADS_1
"Jangan kamu batalkan acaramu! Aku akan pergi sendiri besok. Riska akan pulang kampung bukan akhir pekan ini?" Jawab Naina pasrah.
"Apa Ibu yakin?"
"Entahlah Sin! Tapi aku tak bisa menghiraukan begitu saja undangan ini. Mengingat, Tuan Mahadirga salah satu rekan bisnis kita sejak lama. Beliau juga menjadi salah satu orang yang banyak membantu bisnis desain interior Rissa berkembang pesat." Jelas Naina.
"Anda benar Bu'." Jawab Sinta paham.
"Baiklah, kembalilah! Aku akan pikirkan ini nanti!" Pinta Naina ramah.
"Baik Bu'!"
Sinta pun kembali ke ruang kerjanya bersama Riska. Tepat bersebelahan dengan ruang kerja Naina.
Naina memang sudah sangat sering menerima undangan seperti itu sebelumnya. Ia pasti akan mengajak salah satu asistennya untuk membantunya mengalihkan perhatian beberapa orang yang mulai mendekatinya saat ia menghadiri acara tersebut.
Tapi kali ini Naina tak bisa berkutik. Ia tak bisa merusak acara para asistennya hanya demi urusan pribadinya semata. Jadi ia memilih untuk menghadiri undangan itu seorang diri, dengan segala resiko yang mungkin bisa terjadi.
...****************...
Sinar matahari mulai meredup di ibukota. Semburat lembayung senja menghiasi langit ibukota yang cerah petang ini. Memberikan secercah asa, dalam setiap rasa yang selalu terjaga, meski telah begitu banyak hal yang terlewati seiring waktu yang berjalan.
Malam mulai bergulir. Selepas kumandang adzan isya' dan Naina melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, ia bersiap untuk menghadiri undangan yang ia terima awal pekan ini. Ia benar-benar menghadirinya seorang diri.
"Mommy pergi sebentar ya Sayang! Kamu di rumah sama Mbak Atun ya!" Pamit Naina setelah ia duduk di sofa, berdampingan dengan Rissa.
"Oke Mom. Mommy hati-hati ya! I have bad feeling." Jawab Rissa sedikit cemas.
"In shaa Allah Sayang, Mommy akan lebih hati-hati nanti." Jawab Naina menenangkan Rissa.
Naina pun memeluk dan mencium pipi Rissa yang sudah tak lagi tembam. Gadis kecil Naina itu tumbuh menjadi sangat cantik dengan tubuh rampingnya.
Naina segera mengambil mantel dan tasnya yang tadi ia letakkan di dekat tempat duduknya. Ia pun melambaikan tangannya pada Rissa dan mengucapkan salam sebelum keluar rumah.
Naina mengemudikan mobilnya dengan cukup santai. Ia mengingat jelas pesan Rissa tadi. Hingga, setelah hampir empat puluh lima menit berkendara, Naina tiba di tempat acara. Sebuah rumah dengan desain uniknya, yang memang disewakan untuk acara-acara pesta seperti ini.
Naina mengenakan mantelnya setelah keluar dari mobil. Ia menghela nafas pendek untuk meyakinkan hatinya memasuki tempat acara. Karena memang, selama diperjalanan tadi, ada gejolak aneh di dalam hatinya yang membuatnya sedikit cemas.
Lokasi parkir yang mulai penuh, membuat Naina memarkirkan mobilnya cukup jauh dari pintu masuk acara. Ia pun berjalan santai sambil menetralkan perasaannya dan bersiap menghadapi apapun yang mungkin terjadi nanti.
Naina menitipkan mantelnya pada bagian pengisian daftar hadir tamu. Ia pun lalu memasuki ruang acara lalu sejenak berhenti dan melihat suasana ruang acara. Dan ternyata, suasana begitu ramai. Banyak koleganya yang juga hadir dalam acara itu.
"Aku lebih baik bergegas. Agar tak banyak yang menyapaku nanti." Batin Naina yakin.
Naina mulai melangkahkan kaki jenjangnya menuju panggung pelaminan. Diiringi oleh lantunan suara merdu sang penyanyi yang memeriahkan suasana, Naina mulai menemui sang empunya hajat yang sedang berdiri berdampingan bersama istrinya menemani kedua mempelai.
Naina sedikit berbasa-basi dengan orang yang mengundangnya. Ia pun memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai setelahnya.
Dan saat ia turun dari panggung pelaminan, ada sepasang suami istri yang menyapanya.
"Halo Sayang!" Sapa sang istri yang memang sudah sangat akrab dengan Naina.
__ADS_1
"Mama! Papa!" Sahut Naina bahagia.
Sepasang suami istri itu pun tersenyum bahagia pada Naina. Mereka Jonathan dan Jelita. Jelita pun segera merengkuh tubuh Naina dan memeluknya erat. Naina pun membalasnya dengan bahagia. Tak lupa, ia mencium tangan Jonathan dengan hormat.
"Mama dan Papa apa kabar? Dan kalian kapan sampai?" Tanya Naina setelah ia melepaskan pelukannya.
"Kami baik. Dua hari yang lalu kami tiba di Jakarta. Bagaimana kabarmu? Dan apa kamu sendirian kemari?" Jawab Jelita ramah.
"Naina juga baik Ma. Iya Ma, Naina sendiri. Asisten Naina sudah ada acara masing-masing malam ini." Jujur Naina.
"Rissa?"
"Rissa di rumah Ma. Mama tahu sendiri, dia tidak suka dengan acara seperti ini." Jelas Naina.
Jelita dan Jonathan tersenyum lega. Mereka lantas mengobrol sejenak sembari menikmati acara.
Jelita dan Jonathan kembali menjalin hubungan baiknya dengan Naina. Hati Jelita tak bisa memungkiri rasa sayangnya pada Naina. Meski masih ada ganjalan di hatinya tentang masa lalu Naina, tapi ia bisa mengesampingkannya.
"Oh iya Na, ada yang ingin bertemu denganmu tadi." Ucap Jelita tiba-tiba disela obrolannya.
"Aduh! Siapa lagi yang mau Mama kenalin sama aku?" Batin Naina panik.
Karena memang, Jelita sudah beberapa kali memperkenalkan Naina pada lelaki yang mungkin bisa membuat Naina melepas masa lajangnya. Itu salah satu bentuk kasih sayang Jelita untuk Naina.
Jelita segera menoleh kesana-kemari untuk mencari seseorang. Naina pun makin panik dan cemas. Ia sungguh tak ingin lagi, dikenalkan dengan laki-laki lajang yang sebenarnya bisa menjadi pendamping hidup yang pantas bagi Naina.
Karena sesungguhnya, dalam hati Naina masih terukir dalam sebuah nama yang selama dua tahun terakhir belum bisa ia hapus dari hatinya. Meski ia sudah tak tahu lagi bagaimana kabar dan keberadannya sampai saat ini.
Naina pun ikut-ikutan menoleh kesana-kemari untuk mencoba menghargai niat baik Jelita. Naina tahu, Jelita hanya ingin ia bahagia. Menjadi wanita seutuhnya. Seorang anak, istri dan ibu.
"Kemana dia tadi Pa?" Tanya Jelita sedikit kesal karena tak kunjung menemukan orang yang dia maksud.
"Entah Ma. Papa juga tidak melihatnya." Jujur Jonathan yang juga ikut mencari orang yang ingin bertemu dengan Naina.
"Nggak usah ketemu aja deh Ma, Pa. Hhihi." Batin Naina sedikit lega.
"Sebentar ya Na! Kamu tunggu di sini sebentar! Mama dan Papa akan mencarinya." Pinta Jelita tulus.
"Emmhh, Naina tunggu di teras samping aja Ma. Naina malas meladeni beberapa orang di sini." Jujur Naina sambil menunjuk ke arah pintu samping yang berada sedikit jauh dari tempatnya.
"Oke Sayang." Jawab Jelita sambil mengusap lembut pipi Naina sambil tersenyum hangat.
Jonathan dan Jelita segera berbalik badan dan mencari orang yang mereka maksud. Naina pun segera berjalan menuju pintu yang tadi ia tunjuk. Ia sedikit tersenyum ramah pada beberapa kolega yang menyapanya ramah.
Naina menghirup nafas dalam-dalam setelah ia sampai di teras samping. Sebuah teras kecil menghadap ke arah kebun samping rumah yang tertata indah dengan beragam tanaman hiasnya yang terawat. Ditemani cahaya rembulan yang bersinar cerah malam ini, membuat suasana di samping ruang acara lebih menyenangkan bagi Naina.
"Mama mau ngenalin aku sama siapa lagi coba? Ada saja kenalannya yang ia kenalin." Batin Naina sedikit kesal.
Tempat Naina kini berada, sedikit jauh dari hiruk pikuk acara. Setelah beberapa saat menikmati suasana, Naina bisa mendengar dengan jelas sebuah langkah kaki mendekat ke arahnya. Ia pun mulai menyiapkan beberapa cara yang mungkin bisa dijadikannya alasan untuk menolak rayuan atau menghindari pertanyaan dari orang itu, seperti biasanya.
"Good evening Mrs. Nandini."
__ADS_1