
Senja yang indah menjadi pengantar bulan dan bintang memulai tugasnya di malam hari. Lembayung senja menawarkan sejuta pesona bagi setiap netra yang melihatnya.
"Carikan aku semua informasi tentang mamanya Rissa!" Ucap seorang laki-laki dengan perawakan tinggi tegap yang sedang berdiri di balkon vila pribadinya, sembari menikmati pemandangan matahari yang terbenam.
"Mamanya Rissa?" Tanya laki-laki lain yang lebih kecil badannya dan tingkahnya sedikit gemulai.
"Iya, mamanya Rissa. Naina namanya, aku tadi sempat berkenalan dengannya."
"Kamu mau ganggu rumah tangga orang? Jangan gila Vin! Ingat, kamu ini public figure! Kalau sampai kecium media, rusak image kamu!"
Ya, dia Delvin dan asistennya, Ivan.
"Dia sepertinya janda. Dia tadi datang bersama musuh lamaku. Dan setahuku, musuhku itu belum menikah." Sahut Delvin dengan santainya.
"Kamu mau menyalakan api lama? Jangan aneh-aneh kamu!" Cibir Ivan.
Asisten Delvin, Ivan, memang mengetahui semua masa lalu Delvin. Ia adalah teman Delvin sejak kuliah. Ia juga tahu siapa yang dimaksud Delvin dengan 'musuh lama'. Ia adalah satu-satunya orang yang tetap ada di sisi Delvin kala Delvin dan keluarganya terpuruk enam tahun lalu.
"Siapa yang mau menyalakan api? Aku mau merebut hati Naina. Selama batu nisan belum tertancap di tanah di atas kepalanya, dia masih bisa dimiliki oleh siapapun. Termasuk aku."
"Gila kamu!" Gerutu Ivan sembari membalikkan badan meninggalkan Delvin.
Flashback On
"CUT! Oke, kita istirahat dulu!" Teriak sang sutradara kala matahari mulai tepat berada di atas ubun-ubun para pencari rezeki.
"Bye Om,," Ucap Rissa sembari melambaikan tangan ke arah Delvin. Ia baru saja menyesaikan adegannya dengan Delvin.
"Byee,," Sahut Delvin.
Rissa pun segera meninggalkan Delvin dan para kru untuk menghampiri ibunya. Rissa segera disambut hangat oleh Naina dan Dean. Naina segera memberikan minum pada Rissa lalu menyuapinya makan. Dean pun menikmati makan siangnya bersama Rissa.
Dan setelah Rissa selesai makan, kini giliran Naina makan siang. Mau tak mau, ia harus melepaskan masker yang sedari tadi ia kenakan.
"Cantik juga dia." Gumam Delvin kala melihat keseluruhan wajah Naina dari tempat duduknya yang tak begitu jauh dari tempat Naina berada.
"Dean memang pandai meluluhkan hati wanita cantik. Dan aku pun juga pandai meluluhkan hati para wanita cantik." Gumam Delvin lagi masih tetap menatap wajah Naina dari kejauhan.
"Aku harus mendapatkanmu!" Batin Delvin.
Flashback Off
...****************...
"Kita istirahat dulu De, cari masjid! Udah adzan." Ajak Naina.
"Oke. Aku cari masjid dulu!" Sahut Dean santai.
Tak lama, Dean melihat sebuah menara masjid berada tepat di tepi jalan. Ia langsung membelokkan mobilnya ke halaman masjid.
"Rissa,, Sayang,, bangun dulu sayang! Kita sholat dulu!" Ucap Naina sembari menoleh ke belakang dan mengusap pelan lengan Rissa.
Rissa tak bergeming sama sekali. Ia tertidur sangat pulas. Rasa lelahnya sungguh membuatnya terbang ke alam mimpinya sangat dalam.
"Biarlah Na! Dia pasti kelelahan." Saran Dean yang melihat Rissa tidur dengan sangat tenang dan tak terusik sedikit pun.
Naina akhirnya membiarkan Rissa tidur di mobil. Ia dan Dean turun untuk melaksanakan sholat di masjid. Selepas sholat, Dean lebih dulu keluar dari masjid. Ia melihat ke sekeliling wilayah masjid.
Saat Naina selesai, ia langsung menuju mobil untuk melihat Rissa dan mencari Dean. Karena Dean sudah tak terlihat di dalam masjid, ia berfikir kalau Dean sudah lebih dulu berada di mobil.
Saat Naina sampai mobil, ia tak melihat Dean. Ia mencari keberadaan sang sopir dadakan dengan menyapukan pandangannya ke seluruh area masjid. Tapi nihil, Dean tak terlihat sama sekali. Ia berdiri di samping mobil seraya sibuk mencari ponsel di tasnya.
"Ah, aku nggak punya nomer Dean lagi. Kemana lagi tu orang ya?" Gerutu Naina.
"Nyari aku ya?" Bisik Dean dari belakang Naina.
Naina langsung berbalik badan. "Astaghfirullah. Kamu ini, ngagetin aja!"
__ADS_1
"Udah kangen ya sama aku? Makanya, nomerku disimpan! Jadi kalau kangen, tinggal telfon aja!" Goda Dean dengan senyuman manisnya. Dan jangan lupakan, lesung pipi yang terukir sempurna di kedua pipinya.
"Iiihh,, GeEr!" Cibir Naina.
"Nih, aku beli ubi, jagung dan kacang rebus. Perutmu nggak boleh kosong, ingatkan?" Ucap Dean seraya menyerahkan satu kantong plastik cemilan rebus yang tadi ia beli.
Naina menerimanya dengan terkejut. Ia melongok ke dalam plastik. Asap mengepul ketika plastik itu terbuka. Uuhh, selera makan Naina tiba-tiba datang menghampiri.
"Mau disini apa pulang?" Goda Dean yang ternyata sudah masuk ke dalam mobil.
"Eh,," Naina kebingungan karena ia ditinggal Dean masuk ke mobil tanpa ia sadari.
Naina pun segera masuk ke mobil. Dean pun kembali melajukan mobilnya.
"Kamu nggak doyan kayak gitu?" Tanya Dean penasaran karena Naina hanya diam tak memakan cemilan yang tadi ia beli.
"Doyan kok."
"Yaudah, dimakan! Atau mau perutnya sakit lagi ya? Biar aku elus-elus lagi perutnya?" Goda Dean sembari melirik ke arah Naina dan memainkan sebelah alisnya naik turun.
Bluuusss. Pipi Naina merona. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ia sungguh malu mengingat kejadian tadi pagi kala perutnya sakit bukan main. Entah karena obat atau usapan lembut tangan Dean, yang mampu menenangkan perut Naina yang terasa sangat sakit pagi tadi.
"Udah, diem!" Ketus Naina.
Dean hanya tersenyum di balik kemudinya. Naina lalu mulai mengupas ubi rebus yang menggoda selera makannya sejak tadi. Ia mulai menggigit ubi hangat itu dengan bahagia. Hhaha, orang laper mah, makanan apa aja terasa enak.
"Aku mana?" Celetuk Dean kala Naina sudah menghabiskan separuh ubi rebus berukuran sedang.
Naina menoleh pada Dean. "Pinggirin dulu mobilnya."
"Kelamaan. Nanti mau jam berapa sampai rumah kalau kebanyakan berhenti?"
"Lha tadi nanya. Kalau mau, ya berhenti dulu aja, makan dulu."
"Nggak mau!"
"Ayolah Na! Jangan kejam gitu!" Gerutu Dean.
"Kejam gimana?" Tanya Naina bingung seraya mengunyah ubinya.
"Hadduh Naaa,, peka dikit napa? Kupasin kek, trus disuapin gitu."
"Idiihh, maunya!" Cibir Naina.
"Kamu nggak kasihan apa aku udah nyetir dari tadi?" Ucap Dean dengan nada sedikit memelas.
"Enggak. Kan kamu sendiri tadi pagi yang nawarin jadi sopir pribadiku hari ini." Celetuk Naina santai. Tangannya pun sibuk mengupas lagi ubi yang lain karena yang tadi telah habis ia kunyah sendiri.
"Ya ampun Naa,, kamu ini ya bener-bener!" Gerutu Dean lagi.
"Bener-bener apa? Cantik? Emang!" Sombong Naina.
Dean menggelengkan kepalanya sembari melirik Naina yang sibuk mengupas ubi. Senyuman lebar pun terukir di wajah tampannya. Dean akhirnya memilih diam dan tak mengganggu Naina menikmati cemilannya.
"Yang penting kamu makan sesuatu, biar perutmu nggak sakit lagi Na." Batin Dean.
"De,," Panggil Naina.
"Hem,," Dean masih fokus dengan jalanan.
"Lihat sini!" Dean pun menoleh.
"Aaa,," Naina langsung menyuapkan ubi yang tadi ia kupas pada Dean.
Dean terkejut bukan main. Ubi berukuran sedang itu tertancap dimulutnya dengan tangan Naina masih memegangi ubinya.
"Gigit De!"
__ADS_1
Dean tersentak. Ia segera menggigit ubi itu sekenanya. Ia pun mengunyahnya perlahan dengan perasaan tak karuan. Perasaan kaget bin terkejut dan bahagia bin senang.
"Hhaha, mimpi apa aku sampai disuapin sama Naina?" Batin Dean.
"Nggak usah GeEr kamu!" Celetuk Naina. "Aku nggak sekejam itu, enak-enakan makan sendirian!"
"Lagi!" Pinta Dean sedikit manja.
Naina pun kembali menyuapi Dean ubi yang sama. Ia kini sibuk mengupas kacang rebus yang terlihat mentes-mentes dan menggoda.
Aahh, hati Dean bersorak-sorak sangat bahagia. Kalau aja itu hati Dean ada toa-nya, pasti itu udah kedengeran sampai satu kampung suara sorakannya.
Naina sebenarnya sedikit gugup. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh padanya. Perasaan yang telah lama tak ia rasakan. Perasaan bahagia bercampur malu bercampur sedih dan takut.
"Ada apa denganku? Perasaan apa ini?" Batin Naina.
"Lagi Na!" Pinta Dean lagi.
Naina masih dengan telaten menyuapi Dean. Dan pastinya, dengan perasaan yang bercampur aduk. Naina berusaha menutupi perasaannya dengan sibuk memakan cemilannya.
Ditengah perjalanan, Dean mengajak Naina untuk makan malam terlebih dahulu. Rissa pun dibangunkan untuk makan malam.
Hingga selepas pukul sembilan, Dean dan Naina barulah sampai di rumah Naina. Dean dan Naina langsung menurunkan semua perlengkapan Rissa. Sedang Rissa langsung masuk ke rumahnya. Ia tak sabar ingin segera mandi.
"Maaf De, bukan maksudku tidak sopan. Ini sudah malam, aku tak bisa mengajakmu mampir dulu." Ucap Naina sopan.
"Aku paham. Aku bantu bawa ini masuk dulu, setelah itu baru aku akan pulang." Sahut Dean santai.
Dean dan Naina membawa masuk perlengkapan Rissa. Rissa sudah asik dengan guyuran air shower di kamar mandinya.
"Oke Na, aku pulang dulu! Istirahatlah!"
"Makasih banyak De." Ucap Naina tulus.
"Tentu. Dan jangan lupa, minum obatmu besok! Atau kalau tidak, telfon aku saja!"
"Kenapa?"
"Aku siap jadi penyembuh sakit perutmu!" Ucap Dean seraya mengusapkan tanganya pada perunya sendiri untuk menggoda Naina.
Naina menghela nafas kesal dan membuang pandangannya. Ia sungguh masih malu jika mengingat kejadian itu. Dean tersenyum melihat tingkah Naina.
"Boleh aku pinjam ponselmu?" Tanya Dean.
"Untuk apa?"
"Udah sini!" Dean merebut ponsel Naina yang berada di tangan kanan Naina.
Dean mengotak-atik ponsel Naina sebentar. "Nih udah!"
"Aku udah simpan nomorku di ponselmu. Nomormu juga udah masuk ke ponselku. Jangan lupa telfon aku ya nanti!" Goda Dean lagi.
Dean tak henti-hentinya menggoda Naina. Ia seolah mendapatkan mainan baru yang bisa membuatnya bahagia.
Naina mengecek ponselnya. Dalam log panggilan terakhir.
"Sayangku?" Naina membaca nama yang ada di layar ponselnya.
"Apa-apaan ini De? Enak aja,," Marah Naina. Tapi ternyata Dean sudah tak ada dihadapannya. Dean sudah melarikan diri terlebih dahulu sebelum nanti ia di hajar oleh Naina.
"Aku pulang dulu sayang!" Pamit Dean dari dalam mobilnya.
"Salam ya buat Rissa!" Ucap Dean lagi.
Naina hanya bisa menggeram kesal karena ulah Dean. Ia akhirnya membiarkan Dean pulang dengan perasaan sedikit kesal.
Dean? Jelas bahagia karena bisa seharian bersama Naina. Bahkan ia bisa mendapatkan nomor Naina dengan mudah. Ah iya, jangan lupakan modus licik bin jahil Dean agar bisa disuapi oleh Naina.
__ADS_1