Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Pengakuan


__ADS_3

Cinta. Bisa membuat seseorang melakukan hal yang terlihat mustahil menjadi mungkin. Bisa membuat seseorang melakukan apapun demi rasa itu.


"Kamu dimana De?" Batin Naina sambil terus berjalan dan mencari keberadaan Dean.


Naina terus saja berjalan kesana kemari. Netranya terus saja ia tajamkan untuk menemukan laki-laki yang membuatnya nekat lari dari rumah sakit dengan kondisinya yang jauh dari kata baik.


"Ish!" Naina meringis kesakitan karena kepalanya yang sempat terluka belum sembuh.


Naina mendekati salah satu petugas bandara yang ia temui. Ia menanyakan kembali tentang keberangkatan pesawat ke Jerman.


"Pesawat ke Jerman mengalami sedikit keterlambatan Bu'. Jadwalnya ditunda enam puluh menit kemudian." Jelas petugas itu.


"Baik Pak, terima kasih." Ucap Naina tulus.


"Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya petugas itu sebelum Naina pergi.


"Iya."


Naina lalu pergi meinggalkan petugas itu. Ia berjalan lagi mencari Dean di terminal keberangkatan internasional. Ia juga mencari keberadaan putrinya yang pasti sedang bersama Dean. Ia pun mulai putus asa, karena kondisi badannya semakin melemah.


"Dimana mereka?" Gumam Naina sambil terus berjalan.


Naina melihat seseorang yang sedang berdiri dengan perawakan yang cukup mirip dengan Dean. Laki-laki itu baru saja selesai menelepon. Ia pun segera menghampiri laki-laki itu. Ia ragu-ragu, apakah itu Dean atau bukan. Karena ia hanya melihat punggungnya saja.


Hingga laki-laki itu menoleh ke sebelah kanan dan melambaikan tangannya. Naina pun menoleh ke arah laki-laki itu melambaikan tangan. Ia melihat dua orang yang sangat ia kenali. Salah satunya sedang membalas lambaian tangan laki-laki itu. Dan Naina pun bisa melihat satu sisi wajah laki-laki itu.


"Dean!" Gumam Naina lirih.


Hatinya mendadak bahagia. Perasaan putus asa yang tadi sempat menderanya, seketika menghilang. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menghampiri laki-laki itu.


BRUK. Naina langsung memeluk erat tubuh laki-laki itu dari belakang.


"Jangan pergi! Kumohon!" Ucap Naina lirih dalam pelukannya.


Laki-laki itu pun terkejut karena dipeluk secara tiba-tiba dari belakang oleh seseorang. Tapi setelah mendengar suara orang yang memeluknya, ia pun tersenyum bahagia.


"Maaf, aku mengacuhkanmu sejak kemarin. Aku hanya tak tahu harus bagaimana menghadapi apa yang kamu katakan kemarin." Imbuh Naina yang masih tetap memeluk erat laki-laki itu dari belakang.


"Aku tahu perasaanmu Sayang." Jawab laki-laki itu sambil melepaskan pelukan tangan Naina secara perlahan.


Iya, laki-laki itu memanglah Dean. Naina tadi sempat melihat wajah Dean saat melambaikan tangannya pada Rissa yang sedang bercengkrama dengan Jonathan.


Dean perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Naina. Naina pun kembali memeluk tubuh Dean. Ia membenamkan wajahnya pada dada bidang Dean begitu saja. Naina tak menghiraukan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Kita baru saja bertemu, dan sekarang kau ingin pergi lagi?" Rengek Naina yang mulai menitikan airmatanya.


"Dua tahun berpisah jauh darimu dan tanpa kabarmu, sudah cukup berat bagiku De. Haruskah sekarang kita berpisah lagi? Yang bahkan, kamu juga tak tahu kapan akan kembali ke Indonesia lagi." Adu Naina disela tangisnya.


Dean memeluk erat tubuh Naina yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Nafas Naina pun makin tak beraturan.


"Aku sudah dengar sendiri dari Ibu tentang apa yang kamu katakan kemarin, dan aku percaya, kamu ayah Rissa." Aku Naina pelan.


Naina mengeratkan pelukannya untuk menahan tubuhnya agar tak merosot. Dean pun tersenyum lega mendengar ucapan Naina.


"Jika memang kamu harus pergi, bawalah aku bersamamu! Kumohon! Aku tak bisa jika harus kembali berpisah denganmu." Pinta Naina putus asa.


"Memangnya aku mau pergi kemana?" Sahut Dean santai.


Naina seketika menghentikan tangisannya. Ia berusaha menegakkan badannya lalu mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Dean.


"Bukankah kamu akan berangkat ke Jerman?" Tanya Naina sesenggukan.


"Siapa yang mengatakan itu padamu?" Tantang Dean yang juga menatap Naina penuh perhatian.


"Bukankah semalam kamu yang mengatakannya sendiri saat menerima telepon dari Mama." Jelas Naina.


Dean tersenyum melihat Naina kebingungan.


"Mana mungkin, aku meninggalkan calon istriku yang baru saja mengalami kecelakaan begitu saja." Jawab Dean santai, setelah mengecup hidung mancung Naina.


"Maksudmu?" Tanya Naina makin kebingungan.

__ADS_1


"Aku tak akan pergi kemanapun Sayang. Aku tak mungkin meninggalkanmu dalam kondisimu seperti ini." Jelas Dean perlahan.


"Tapi semalam,,"


"Iya, apa yang kamu dengat semalam benar. Tapi, setelah itu, aku meminta Papa untuk menggantikanku mengurusi masalah di Jerman karena aku tak akan bisa tenang meninggalkanmu dalam keadaanmu sekarang."


"Jika aku pergi ke Jerman dan meninggalkanmu dalam keadaanmu sekarang, pasti akan mempengaruhi fokus kerjaku di sana. Dan akan membuatku kesulitan menangani masalah di sana dengan baik." Jelas Dean panjang lebar.


"Jadi, calon istriku, tenanglah! Aku tak akan pergi kemanapun sampai kamu benar-benar pulih. Aku akan menjagamu, disampingmu." Imbuh Dean.


Naina masih berusaha mencerna kalimat sederhana yang Dean ucapkan. Ia menatap wajah Dean penuh kebingungan.


"Aku tak jadi pergi ke Jerman Sayang. Papa dan Mama yang akan ke Jerman hari ini." Jelas Dean lagi.


"Terima kasih." Jawab Naina singkat sambil kembali memeluk erat tubuh Dean.


"Tentu saja Sayang." Jawab Dean sambil membalas pelukan Dean.


Dua insan yang sedang meluapkan perasannya untuk melepaskan rasa dalam hati itu, tak menghiraukan beberapa orang yang ada di sekitar mereka. Mereka hanya ingin menikmati pelukan yang mereka rindukan satu sama lain.


Di tempat yang tak begitu jauh dari mereka, tiga pasang mata sedang mengamati mereka dengan seksama.


"Mommy!" Teriak Rissa yang sedang berada di pangkuan Jonathan.


"Sstt! Biarkan Mommy dan Daddymu berbicara dulu Sayang." Jawab Jonathan sambil memegangi Rissa yang mencoba turun dari pangkuannya untuk menghampiri Naina dan Dean.


"Daddy?" Ucap Rissa kebingungan.


Jonathan menganggukkan kepalanya. Rissa pun menatap Jonathan penuh tanya.


"Iya Sayang. Om Dean adalah ayahmu. Ayah biologismu yang kamu dan Mommy cari selama ini." Jawab Jelita lembut.


Rissa menatap Jelita yang baru saja kembali dari toilet dengan tatapan tak percaya. Ia masih berusaha memahami apa yang Jelita katakan. Meski sebenarnya, ia cukup paham dengan maksud Jelita.


"Maksud Oma?" Tanya Rissa bingung.


"Om Dean adalah ayah kandungmu. Oma sudah membuktikannya sendiri dengan melakukan tes DNA pada kalian." Jelas Jelita lagi.


"Iya Sayang, itu benar. He's your dad." Jawab Jonathan sambil tersenyum untuk meyakinkan Rissa.


Rissa hanya diam tak bereaksi. Dalam lubuk hati terdalamnya, ia bahagia. Sangat bahagia. Sesuatu yang telah ia pendam selama dua tahun terakhir, tiba-tiba saja muncul dengan sendirinya. Dan bahkan, tak pernah ia duga.


Rissa memang memendam rasa ingin tahunya tentang ayah kandungnya selama dua tahun terakhir. Ia berusaha menepati janjinya pada Naina setelah Naina selamat dari kejadian penculikan dua tahun lalu.


Dan kini, Rissa dihadapkan oleh sebuah kenyataan yang membuatnya kebingungan. Bagaimana tidak? Kenyataan bahwa Dean adalah ayah kandungnya membuatnya bingung mengekpresikan perasaannya.


Satu sisi, Rissa bahagia karena akhirnya ia tahu siapa ayah kandungnya. Dan bahkan, ayah kandungnya adalah orang yang selama dua tahun ini sangat ia rindukan.


Tapi di sisi lain, Rissa juga belum lupa, apa yang membuatnya berpisah dari ayah kandungnya itu dua tahun lalu. Penolakan Jelita padanya dan ibunya.


Dan itu yang membuat Rissa kebingungan saat ini. Ia tak tahu harus bahagia atau sedih menghadapi kenyataan itu. Karena ia juga tak tahu, apakah ia akan bisa bersama dengan ayah kandungnya itu nanti.


"Kamu tak bahagia Sayang?" Tanya Jelita bingung.


Rissa menatap Jelita datar. Ia tak tahu harus menjawab pertanyaan Jelita bagaimana.


"Lihat! Ini semua karena ulahmu dulu. Cucu kita kebingungan sekarang." Cibir Jonathan yang paham dengan sikap Rissa.


"Iya Pa, Mama mengerti." Jawab Jelita pasrah.


Rissa hanya diam dan menunduk. Ia berusaha menutupi kesedihannya karena takut membayangkan penolakan yang akan Jelita lakukan lagi.


"Maafkan sikap Oma dulu Sayang." Ucap Jelita tulus sambil menangkupkan kedua tangannya ke pipi Rissa.


Rissa pun mengangkat wajahnya.


"Oma tak akan menghalangi hubungan Mommy dan Daddy lagi. Oma akan merestui hubungan mereka dan membuatmu memiliki keluarga yang utuh. Seperti yang kamu harapkan selama ini." Jelas Jelita perlahan.


"Benarkah itu Oma?" Tanya Rissa tak percaya.


Jelita hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jadi, Rissa akan punya Mommy dan Daddy?"


"Tentu saja Sayang. Kamu selalu memiliki mereka." Sahut Jonathan sambil merengkuh tubuh mungil Rissa ke dalam dekapannya.


"Terima kasih Opa, Oma." Jawab Rissa bahagia sambil membalas pelukan Jonathan dengan erat.


Jelita dan Jonathan bahagia mendengar ucapan sederhana Rissa. Mereka tak mengira, Rissa akan begitu bahagia mendengar hal itu. Rissa bahkan menitikan airmata bahagianya dalam pelukan Jonathan.


Begitu juga Naina. Hatinya begitu bahagia karena ia tak jadi berpisah dengan Dean. Ia juga mengangis haru, karena Dean begitu memperhatikannya.


"Emh,,"


Tubuh Naina mulai merosot dalam pelukan Dean. Tubuhnya terkulai lemas karena kondisinya yang belum pulih dan kelelahan karena mencari Dean sedari tadi.


"Sayang!" Ucap Dean panik sambil menahan tubuh Naina agar tak terjatuh.


Dean lalu menuntun Naina perlahan menuju kursi terdekat. Ia lalu membantu Naina duduk.


"Kamu tak apa-apa Sayang?" Tanya Dean panik setelah menyandarkan tubuh Naina ke tubuhnya sambil memeluknya.


Naina menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar sudah tidak baik-baik saja. Tubuhnya terasa begitu lelah dan lemas saat ini. Kepalanya semakin terasa sakit. Pandangannya semakin tak jelas. Ia hanya pasrah, saat Dean mendudukkannya di salah satu kursi tunggu.


Beberapa orang di sekitar mereka, mulai mendekat karena khawatir. Mereka juga menawarkan beberapa bantuan, tapi ditolak oleh Dean dan Naina. Jonathan, Jelita dan Rissa pun menghampiri mereka juga.


"Mommy! Are you okay?" Tanya Rissa khawatir.


Rissa langsung menghambur ke hadapan Naina. Ia sangat khawatir dengan keadaan Naina saat melihat tubuhnya sedikit merosot dalam pelukan Dean tadi.


Naina hanya tersenyum melihat putrinya yang tiba-tiba datang. Ia sebenarnya ingin mengatakan hal bahagia itu pada Rissa, tapi tubuhnya terasa begitu lemah hingga membuatnya kesulitan untuk berucap.


"Mommy, Om Dean is my biological father." Ucap Rissa yakin.


Naina terkejut mendengar ucapan Rissa.


"Oma Lita dan Opa Nathan yang mengatakannya." Jelas Rissa.


Naina lantas menoleh pada Jonathan dan Jelita. Ia menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Jelita lantas duduk di sebelah Naina.


"Maafkan Mama, Naina. Mama tidak akan lagi menghalangi kebahagiaan kalian." Ucap Jelita sambil menggenggam tangan kiri Naina.


"Mak,,sud Mama?" Ucap Naina terbata-bata.


"Mama akan merestui hubunganmu dengan Dean. Dan membiarkan Rissa merasakan kasih sayang seorang ayah yang seutuhnya." Jelas Jelita tulus.


Naina menoleh pada Dean. Dean hanya memainkan sebelah alisnya keatas dan kebawah. Naina akhirnya memeluk erat lagi tubuh Dean. Hatinya sangat bahagia saat ini.


Tak lupa, Dean pun merengkuh tubuh mungil Rissa ke dalam pelukannya setelah gadis kecil itu duduk di pangkuannya tadi. Rissa pun juga membalas pelukan Dean dengan bahagia.


"Daddy!" Rengek Rissa dalam pelukan Dean.


Hati Naina dan Dean bergetar hebat saat mendengar ucapan Rissa. Hati sepasang orang tua itu sungguh bahagia mendengar panggilan sederhana dari putri mereka yang lama menantikan saat-saat seperti ini.


Keluarga kecil itu akhirnya berpelukan dalam hati yang bahagia. Dalam tangis haru yang tak pernah mereka bayangkan. Dalam rasa yang lama mereka dambakan.


Hingga mereka tak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitar mereka yang menyaksikan pemandangan itu. Tak menghiraukan tatapan-tatapan yang penuh tanda tanya pada mereka. Mereka kini hanya ingin saling mengungkapkan semua rasa yang lama terpendam. Hanya itu.


Jonathan dan Jelita pun ikut menangis haru melihat pemandangan indah itu. Mereka tak menyangka, akan ada adegan seemosional ini hari ini.


"Sepertinya, kita tak bisa lama-lama di Jerman Pa. Kita harus segera menemui Nyonya Sekar setelah kembali ke Indonesia besok." Usul Jelita setelah mulai bisa menguasai dirinya karena adegan mengharukan dari keluarga kecil putranya.


Jonathan hanya menganggukkan kepalanya untuk menyetujui usulan Jelita yang sebenarnya, sudah sedari tadi ada dibenaknya.


"Terima kasih Pa, Ma." Ucap Dean makin bahagia.


Jonathan dan Jelita tersenyum bahagia.


"Kamu dengar itu Sayang! Bersabarlah sebentar lagi sembari menunggu kondisimu pulih! Kita akan segera menjadi keluarga yang seutuhnya." Bujuk Dean setelah mengecup kening Naina yang bersandar di bahu kirinya.


Naina hanya mengangguk pasrah. Hatinya sangat bahagia saat ini. Tapi dengan kondisi tubuhnya yang makin lemah, ia tak bisa banyak bertingkah, demi tetap menjaga kesadarannya.


Akan selalu ada cahaya terang, setelah gelap yang menyapa. Akan selalu ada kebahagiaan, setelah banyaknya kepedihan yang mendera. Yakinlah, takdir Tuhan akan selalu adil bagi setiap hamba-Nya. Karena Tuhan selalu tahu, apa yang terbaik bagi kita.

__ADS_1


__ADS_2