
Malam mulai menyapa. Perlahan-lahan, jutaan bintang kembali menghiasi indahnya langit malam. Menguntai dan merangkai rasa yang sempat tercerai berai oleh padatnya kesibukan di siang hari. Kembali memberikan semangat pada setiap raga yang sedang melepas lelah.
Malam mulai larut. Naina baru saja mulai terlelap di atas ranjang rawat inapnya. Dan lagi, ia masih ditemani oleh Dean di sana. Dean masih terjaga karena memikirkan perusahaannya di Jerman yang sedang mengalami masalah.
Ponsel Dean tiba-tiba berdering. Ia segera membaca nama yang tertera pada layar ponselnya. Ternyata sang ibu yang menelepon. Padahal, ia baru saja pulang dari rumah sakit bersama Jonathan untuk menjenguk Naina.
"Assalamu'alaikum. Mama sudah sampai rumah?" Sapa Dean.
"Wa'alaikumussalam. Sudah. Apa Naina sudah tidur?"
"Sudah Ma. Ada apa?"
"Ini, papamu ingin menanyakan masalah perusahaan di Jerman. Dia tidak tega jika Naina mendengar pembicaraan ini tadi."
"Dean akan berangkat Ma besok. Akan sangat berbahaya bagi perusahaan jika sampai masalah itu tidak segera di selesaikan."
"Kamu yakin mau berangkat ke Jerman besok? Naina bahkan belum diizinkan pulang De."
"Dean harus bagaimana Ma? Dean tak mungkin membiarkan masalah itu begitu saja. Pasti akan banyak karyawan yang jadi korban jika tidak segera diselesaikan."
"Baiklah. Jika itu sudah menjadi keputusanmu."
"Dean akan berangkat setelah Nyonya Sekar tiba di sini Ma."
"Baiklah. Ya sudah, istirahatlah!"
"Iya Ma. Mama dan Papa juga istirahat."
"Iya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Ma."
Panggilan pun berakhir. Dean yang tadi berdiri sedikit menjauh dari Naina untuk menerima telepon, lantas berjalan ke arah ranjang Naina. Ia berdiri di samping ranjang Naina sambil menatap wajah wanita yang selalu ia rindukan selama dua tahun ini.
"Maaf Sayang, aku harus kembali ke Jerman lagi. Aku tak tahu akan membutuhkan waktu berapa lama menyelesaikan masalah di sana. Maukah kau menungguku lagi? Aku akan berusaha untuk segera menyelesaikan masalah itu dan kembali ke sini untukmu dan Rissa." Ucap Dean lirih sambil merapikan anak rambut Naina yang sedikit berantakan.
Dean lalu keluar dari ruang rawat. Ia berniat untuk meminta Niko mencarikan tiket pesawat untuknya terbang ke Jerman.
Tanpa Dean ketahui, Naina ternyata terbangun saat ponselnya berdering tadi. Naina tadi belum terlelap terlalu dalam, jadi tidurnya sedikit terusik oleh dering ponsel Dean.
Dan diam-diam, Naina mendengar percakapan Dean dan Jelita melalui telepon. Dia pun juga mendengar dengan jelas, ucapan Dean tadi.
Naina menoleh ke arah Dean yang berjalan keluar.
"Haruskah kamu pergi lagi De?" Batin Naina perih.
Naina tetaplah wanita biasa yang mengharapkan kehadiran laki-laki yang ia sayangi. Ia tetaplah wanita biasa yang berharap bisa bahagia bersama keluarga kecilnya.
Apalagi kini, ada secercah cahaya yang menerangi pekatnya masalah yang lama ia pendam. Misteri sosok ayah kandung dari putri kesayangannya mulai mendapat titik terang. Meski ia belum yakin sepenuhnya, tapi keyakinan dalam hatinya semakin kuat. Mengingat, beberapa kejanggalan yang sungguh nampak jelas di depan mata yang sempat ia kesampingkan.
Tanpa terasa, air mata Naina mulai meluncur membasahi wajahnya.
"Jika memang itu kamu, apa yang harus kulakukan De? Apa Mama akan bisa menerima hubungan kita nanti? Karena sungguh, aku ingin menjadi milikmu seutuhnya. Menapaki hari-hari bersama sebagai sebuah keluarga kecil, bersamamu dan Rissa pastinya." Gumam Naina.
Ceklek.
Naina kembali memejamkan matanya. Ia berpura-pura tertidur. Tapi, ia tak sempat menghapus sisa air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Dean yang baru saja kembali, langsung menghampiri Naina. Ia ingin memastikan tidak terjadi apa-apa pada Naina saat ia keluar sebentar tadi.
"Kenapa kamu menangis Sayang? Apa kamu bermimpi buruk?" Ucap Dean lirih saat melihat bekas air mata di wajah Naina.
Naina perlahan membuka matanya. Ia menatap wajah Dean dengan lembut.
"Kamu bangun Sayang? Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Dean penuh perhatian.
Naina mengangguk kecil.
"Maaf Sayang. Tidurlah lagi! Aku akan menjagamu." Ucap Dean seraya mendudukkan dirinya di kursi yang ada di dekatnya.
Naina memejamkan matanya. Hatinya sedikit perih mengingat Dean akan kembali ke Jerman. Tanpa izin darinya, airmatanya kembali mengalir begitu saja.
"Jangan pergi lagi, kumohon De!" Batin Naina.
__ADS_1
Dean menyadari Naina menitikan airmatanya. Ia kembali bangkit dari kursinya.
"Kamu kenapa Sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Dean panik.
Naina hanya menggelengkan kepalanya.
"Katakanlah Sayang! Katakan apapun yang kamu rasakan dan kamu inginkan!" Pinta Dean lembut.
Naina membuka matanya. Tatapannya tidak mengarah pada Dean. Ia lalu menoleh dan menatap wajah laki-laki yang begitu perhatian padanya.
"Jangan pergi lagi! Kumohon!"
Kalimat itu masih saja terucap dalam hati Naina. Bibir Naina belumlah sanggup untuk mengucapkannya.
Naina sebenarnya sangat bahagia ketika bertemu dengan Dean kembali. Dua tahun berpisah dari laki-laki yang mampu menggetarkan hatinya begitu hebat, sungguh sebuah ujian yang cukup berat baginya. Apalagi, mereka terpisah dengan cara yang terasa kurang adil.
Dalam dua tahun ini, bukan Naina tak pernah mengingat Dean. Ia bahkan nyaris tak bisa lepas dari bayang-bayang sosok Dean dimanapun ia berada.
Maka dari itu, Naina menyibukkan diri dengan banyak hal. Bukan untuk melupakan dan menghilangkan Dean dari benaknya, tapi lebih untuk perlahan melepaskannya secara lebih ikhlas seutuhnya. Karena ia tahu, ia tak mungkin menentang kehendak Jelita.
Dan kini, saat mereka bertemu kembali, Naina kembali dihadapkan oleh peliknya masalah yang lama ia lepaskan. Sosok laki-laki yang perlahan ia lepaskan, ternyata adalah orang yang ia cari keberadaannya sejak lama. Orang yang ia nanti selama ini. Bahkan dinanti juga oleh putrinya.
Dean tersenyum hangat menatap wajah Naina. Ia lalu mengusap lembut wajah Naina yang basah karena airmata.
"Maaf Sayang, istirahatlah!" Ucap Dean penuh perhatian.
Naina sedikit membenarkan posisinya. Ia lalu kembali memejamkan matanya. Dean pun kembali duduk di kursi. Ia menunggu Naina hingga terlelap sembari menggenggam lembut jari jemari Naina yang nampak lebih ramping dari dua tahun yang lalu.
"Apa hidupmu begitu berat Sayang selama dua tahun ini? Kenapa tubuhmu lebih kurus dari terakhir kita bertemu?" Batin Dean sembari mengamati dan mengusap lembut punggung tangan Naina.
"Maaf, aku terlambat menyadarinya. Aku akan berusaha menebus waktu-waktumu yang kau lalui dengan kepedihanmu di masa lalu, dengan kebahagiaan kelak. Aku juga akan berusaha, menebus waktu yang kau lalui untuk merawat Rissa seorang diri, dengan cinta yang seutuhnya untukmu dan keluarga kecil kita kelak."
Dean mengangkat sedikit tangan Naina lalu mengecup punggung tangannya.
"I love you Nandiniku."
Tubuh Naina membeku. Ia bagaikan tersengat aliran listrik mendapatkan perlakuan romantis dari Dean. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Hatinya merasa bahagia dan pedih di saat bersamaan. Ia berusaha keras agar tak lagi menitikan airmatanya saat ini. Karena ia tak akan bisa memberikan alasan pada Dean jika sampai kembali menangis.
Naina yang belum terlelap, kembali membuka matanya. Ia menoleh ke arah pintu dimana Dean tadi pergi. Ia lalu kembali memejamkan matanya dan berusaha untuk beristirahat.
Tak lama, Dean pun kembali masuk. Ia kembali duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Naina. Ia duduk sambil memainkan ponselnya untuk berkomunikasi dengan dua asistennya yang berada di dua tempat berbeda, sembari menemani Naina beristirahat.
Hingga pagi pun menjelang. Pagi-pagi sekali Sekar sudah tiba di rumah sakit. Ia tiba di Jakarta dini hari tadi bersama Wiliam dan dua putra-putrinya. Mereka juga mengkhawatirkan keadaan Naina. Tapi Sekar ke rumah sakit lebih dulu seorang diri, karena suami dan dua anaknya kelelahan di perjalanan.
Sekar sebenarnya juga kelelahan dalam perjalanan, tapi hatinya belum bisa tenang sebelum melihat kondisi putri tersayangnya itu secara langsung.
Saat Sekar tiba di rumah sakit, Naina masih terlelap. Sekar pun tak mengusik istirahat putrinya itu. Ia lalu sedikit mengobrol bersama Dean yang sudah bangun lebih dulu.
"Jangan panggil nyonya! Panggil ibu saja, seperti Naina." Pinta Sekar setelah Dean menjabat tangannya.
"Baik Bu." Jawab Dean patuh.
"Bagaimana kondisi Naina?" Tanya Sekar setelah ia duduk berhadapan dengan Dean.
"Naina sudah membaik. Tak banyak luka di badannya. Hanya keningnya saja yang kemarin mendapat beberapa jahitan." Jujur Dean.
"Bagaimana dia bisa mengalami kecelakaan?"
"Saya tidak begitu tahu alasannya Bu'. Dia masih enggan bicara denganku."
"Apa kamu sudah mengatakan padanya?"
"Mengatakan apa?"
"Siapa dirimu dan alasan kamu tak mengingatnya sebelumnya."
"Saya sudah sempat mengatakan identitas lama itu, tapi belum sempat mengatakan alasannya pada Naina."
"Sepertinya aku tahu kenapa Naina bisa sampai mengalami kecelakaan." Jawab Sekar yakin.
"Sebentar, aku akan menelepon Rissa!" Pamit Sekar seraya keluar dari ruang rawat.
Dean pun mengangguk paham. Ia juga lantas bersiap untuk berangkat ke bandara. Meski jadwal penerbangannya masih tiga jam lagi, ia masih harus mempersiapkan beberapa hal.
__ADS_1
Saat Sekar selesai menelepon, Dean pun selesai bersiap. Mereka lalu kembali mengobrol berdua sembari menunggu Naina bangun.
Iya, Naina bangun kesiangan hari ini. Ia semalam kesulitan untuk tidur karena memikirkan Dean yang akan kembali ke Jerman pagi ini. Dan ia tak tahu, berapa lama lagi ia harus kembali terpisah dengan laki-laki itu. Hati kecil Naina sungguh tak rela jika harus berpisah kembali dengan Dean.
Pukul delapan pagi, Rissa tiba di rumah sakit bersama Niko dan Sinta. Rissa merengek pada Lea dan Hera ingin segera ke rumah sakit. Tapi karena Via dan Tasya yang mendadak rewel, mereka tak bisa mengantar Rissa ke rumah sakit.
Rissa pun akhirnya menghubungi Sinta dan memintanya untuk segera mengantarnya ke rumah sakit. Dan kebetulan, Sinta dan Niko juga baru akan berangkat ke rumah sakit tadi. Jadi mereka segera menjemput Rissa untuk berangkat bersama.
"Oma!" Panggil Rissa bahagia saat medapati Sekar di ruang rawat Naina.
"Cucu Oma!" Jawab Sekar bahagia sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Rissa.
"Oma kapan tiba?" Tanya Rissa antusias.
"Tadi jam tiga. Dimana dua tantemu?"
"Masih di rumah Oma. Dek Via sama Dek Tasya rewel."
"Oh, oke." Jawab Sekar bahagia sambil menunjukkan ibu jari tangannya.
"Rissa mau ikut Om ke bandara?" Sela Dean setelah melirik arlojinya.
"Om mau pergi?" Tanya Rissa cemas.
"Iya Sayang. Ada Oma Lita sama Opa Nathan juga nanti." Jawab Dean perlahan.
"Pergilah sama Om Dean! Oma akan menemani Mommy selagi kalian pergi." Usul Sekar.
"Ada Tante Sinta sama Om Niko juga kok Sayang." Imbuh Dean.
Rissa menoleh ke arah Sinta dan Niko yang duduk di kursi yang berhadapan dengannya dan Sekar. Sinta dan Niko pun mengangguk.
"Oke Om, Rissa ikut." Jawab Rissa bahagia.
"Oke Cantik. Kita berangkat sekarang, agar tidak terlambat penerbangannya." Ajak Dean segera.
"Oke Om."
Rissa dan Dean pun segera beranjak dari duduknya. Mereka segera berpamitan pada Sekar, Sinta dan Niko. Tak lupa, mereka berpamitan secara perlahan pada Naina.
Selang beberapa saat setelah Dean dan Rissa berangkat, Sekar pun berpamitan pada Sinta dan Niko. Ia akan pulang terlebih dahulu untuk memastikan keluarga kecilnya baik-baik saja setelah perjalanan panjang dari Los Angeles.
"Aku akan kembali lagi nanti. Tolong jaga Naina!" Pinta Sekar ramah.
"Tentu Bu'." Jawab Sinta paham.
Sekar pun lantas pulang ke rumah. Menyisakan Sinta dan Niko yang menemani Naina di rumah sakit.
Tak lama, Naina pun terbangun. Ia lalu dibantu Sinta pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia kembali ke ranjangnya.
"Jam berapa ini Sin? Aku bangun sangat terlambat." Ucap Naina sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang rawatnya.
"Pukul sembilan Bu'." Jawab Sinta singkat.
"Apa Rissa belum datang?"
"Sudah Bu' tadi bersama kami. Bu Sekar juga sudah di sini sejak tadi."
"Ibu sudah tiba? Dimana Ibu sekarang?" Tanya Naina bahagia.
"Beliau baru saja pulang. Beliau ingin memastikan keadaan keluarganya baik-baik saja setelah penerbangan. Beliau akan kembali ke sini nanti." Jelas Sinta.
"Lalu dimana Rissa?"
"Nona Rissa mengantar Tuan ke bandara." Jawab Niko.
"Bandara?" Ulang Naina tak percaya.
"Iya Nona. Tuan akan berangkat ke Jerman siang ini untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaannya di Jerman." Jelas Niko santai.
Naina terdiam.
"Apa dia tak berpamitan padaku? Aku bahkan belum mengatakan apapun padanya." Batin Naina pedih.
__ADS_1