
Jalanan ibukota. Pagi ini cukup padat, meski ini adalah akhir pekan. Barisan kendaraan bermotor menjadi pemandangan yang wajar hampir di setiap ruas jalan. Menjadi teman yang begitu setia bagi beberapa netra.
Niko melajukan mobil barunya dengan santai. Sebuah mobil SUV berwarna hitam yang diberikan oleh Dean sebagai hadiah pernikahannya kemarin. Niko sempat mengembalikan hadiah itu pada Dean, karena menurutnya, hadiahnya terlalu berlebihan. Dan Niko pun juga telah memiliki mobil sendiri. Tapi, Dean tetap menolaknya.
"Kita diikuti Mas." Ucap Sinta sambil mengamati sebuah mobil melalui spion mobilnya.
Niko yang menyadari ucapan Sinta, pun ikut melirik pada spion dalam mobilnya. Ada sebuah MPV hitam yang mengikuti mobilnya perlahan di belakangnya. Dan Niko tahu, mobil siapa itu.
Niko menoleh pada Sinta. Ia lalu sedikit berunding dengan Sinta, tepat saat mereka berhenti di sebuah persimpangan dengan lampu lalu lintas yang sedang menyala merah.
Sedangkan di mobil MPV hitam yang mengikuti mobil Niko, sepasang ibu dan anak sedang sangat fokus dengan mobil Niko. Sang anak berusaha sangat hati-hati mengendarai mobilnya, berusaha agar tak ketahuan.
"Vin, mereka mulai belok. Mungkin di sana Naina dirawat." Ucap Jenita yang ikut mengawasi laju mobil Niko.
"Iya Ma. Kita ikut parkir pelan-pelan!" Ucap Delvin meyakinkan.
Mobil Niko mulai memasuki area parkir sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang cukup besar di ibukota. Niko, Sinta dan Rissa bersiap untuk turun.
"Mbak Atun sembunyi dulu ya Mbak! Sambil ngawasin Delvin dan mamanya saat mereka keluar mobil." Pinta Niko sebelum turun.
"Baik Pak! Nanti saya kabari jika Pak Delvin keluar bersama ibunya." Jawab Atun paham.
Niko, Sinta dan Rissa lantas keluar mobil bersama. Mereka lantas masuk melalui lobi rumah sakit. Bersamaan dengan itu, Delvin juga baru saja selesai memarkirkan mobilnya. Ia bisa melihat, tiga orang yang ia ikuti mobilnya, masuk ke lobi rumah sakit.
"Ayo Vin, cepat! Kita nanti nggak tahu Naina dirawat di ruangan apa." Ajak Jenita tak sabar.
"Kita bisa tanya ke resepsionis Ma." Sahut Delvin santai.
"Iya juga ya."
"Kalau kita cepat-cepat, mereka pasti bakalan tahu kalau kita ngikutin mereka sejak tadi." Ucap Delvin meyakinkan.
Jenita akhirnya hanya menganggukkan kepalanya. Ia juga sependapat dengan apa yang putranya katakan. Delvin segera mengenakan maskernya untuk menutupi wajahnya, agar tak menjadi pusat perhatian.
Sedangkan Niko, segera menghubungi temannya yang kebetulan bekerja menjadi salah satu dokter di rumah sakit itu. Ia pun sedikit meminta bantuannya.
Saat selesai menelepon, ponsel Sinta pun berdering.
"Gimana Mbak?" Tanya Sinta tanpa basa-basi.
"Mereka keluar mobil Bu'. Sekarang mulai masuk pintu lobi." Ucap Atun di seberang telepon.
"Oke Mbak. Makasih ya. Tunggu sebentar!"
Panggilan langsung terputus.
"Udah Mas." Ucap Sinta memberitahu Niko.
"Oke. Kita ke ruangan temanku! Ada di ujung lorong ini ruang prakteknya." Ajak Niko cepat.
Niko segera meraih tubuh mungil Rissa. Ia menggendongnya agar lebih cepat berjalan untuk bersembunyi dari Delvin dan Jenita.
Saat sampai di depan sebuah pintu praktek dokter, Niko sejenak mengetuk pintunya. Seorang perawat membuka pintunya.
"Apa Dokter Dewa ada?" Tanya Niko cepat.
"Dengan Bapak Niko?" Tanya perawat itu.
__ADS_1
"Iya."
"Mari Pak, Anda sudah di tunggu!" Ucap perawat itu ramah.
Niko langsung masuk bersama Sinta dan Rissa. Mereka disambut oleh seorang dokter yang cukup tampan. Sikapnya pun sangat ramah pada Niko. Niko pun langsung meminta bantuan Dewa untuk melarikan diri dari rumah sakit itu secepatnya, tanpa melalui lobi depan.
"Memangnya, kalian diikuti siapa sih?" Tanya Dewa penasaran.
"Ada lah. Dan kami harus segera ke rumah sakit lain, karena ibu dari gadis kecil ini sedang menunggunya di sana. Dia baru saja sadar pagi ini." Jujur Niko.
"Oke. Tapi, akan sangat mencurigakan jika kalian melarikan diri dari ruanganku begitu saja." Ucap Dewa menasehati.
"Apa kamu ada ide?"
"Ayo, ikut aku! Orang yang mengikutimu, pasti juga akan mengikuti kita nanti. Saat mereka lengah, kamu bisa pergi nanti."
"Baiklah. Terima kasih."
"Tentu. Aku sangat penasaran, siapa yang sampai mengikutimu? Apa dia ada hubungannya dengan Tuan Dean?"
"Iya. Dan ibu dari gadis ini. Dia ingin menemui ibu dari gadis ini."
"Begitu rupanya. Baiklah, ayo keluar! Ikut aku ke salah satu ruangan pasienku!"
Kelima orang yang ada di ruangan praktek Dewa lantas keluar ruangan. Mereka berjalan dengan santai melewati kursi tunggu pasien rawat jalan. Dan Niko, bisa dengan jelas melihat Delvin dan Jenita. Tapi, ia berpura-pura tak melihatnya. Ia mengobrol santai bersama Dewa dan Sinta.
"Ma, mereka keluar." Ucap Delvin seraya melirik ke arah Niko.
Jenita hanya mengangguk. Mereka lantas berdiri dan mulai mengikuti langkah Niko sedikit jauh di belakang. Mereka tak ingin kehilangan jejak.
"Itu pasti dokter yang merawat Naina." Ucap Jenita yakin.
Niko mengikuti Dewa ke salah satu ruang rawat inap pasien yang ada di lantai satu. Dewa mengajak Niko masuk ke salah satu ruangn yang biasanya ditempati oleh dua pasien. Tapi, disana hanya ada satu pasien. Dan itu pasien Dewa. Dewa pun mulai memeriksa kondisi pasiennya sejenak.
"Kalian keluar lewat pintu itu!" Tunjuk Dewa pada pintu lain yang menuju ke taman kecil di belakang ruang rawat inap.
Niko dan Sinta menoleh ke arah tangan yang ditunjukkan Dewa.
"Ambil kiri setelah di ujung lorong. Kalian bisa melhat area parkir dari sana. Dan yang mengikuti kalian, tak akan tahu jika kalian sudah keluar rumah sakit. Mereka pasti menunggu di depan ruang rawat ini." Jelas Dewa.
"Thank's Wa." Ucap Niko tulus.
"Sama-sama." Dewa pun memberikan senyum ramahnya pada Niko.
"Dan Cantik! Semoga ibumu lekas sembuh ya!" Imbuh Dewa seraya tersenyum hangat pada Rissa.
"Terima kasih Om Dokter." Jawab Rissa polos sambil tersenyum.
Dewa pun lalu mengajak Niko, Sinta dan Rissa keluar melalui pintu belakang. Niko segera meninggalkan Dewa bersama perawatnya. Ia mengikuti petunjuk Dewa tadi untuk segera sampai ke area parkir. Sedangkan Dewa, melanjutkan pekerjaannya memeriksa pasien lain di ruang lain melalui pintu belakang juga.
Dan benar, tak lama berjalan, Niko bisa melihat area parkir rumah sakit. Bahkan ia bisa melihat mobilnya dengan jelas. Mereka bertiga segera menuju mobil dan meninggalkan rumah sakit itu.
Sementara di depan ruang rawat inap, Jenita dan Delvin menunggu Niko dan Dewa keluar. Mereka menunggu hampir tiga puluh menit.
"Kok lama banget sih Vin? Apa kondisi Naina separah itu sampai lama sekali dokter memeriksanya." Gumam Jenita yang mulai bosan menunggu.
"Kita masuk saja Ma kalau begitu." Usul Delvin.
__ADS_1
Delvin dan Jenita lantas berdiri dari kursi tunggu yang ada di lorong rumah sakit. Mereka menuju ruangan yang tadi Niko masuki bersama Dewa. Delvin pun segera mengetuk pintu lalu membukanya.
Dan betapa terkejutnya Delvin dan Jenita, ketika mendapati orang asing dalam ruangan tersebut.
"Dimana Naina Vin?" Tanya Jenita panik.
Sang penghuni ruang rawat kebingungan. Ia bersama seseorang yang menunggunya pun ikut kebingungan.
"Maaf, apa ada pasien lain di sini?" Tanya Delvin pada wanita yang menunggu pasien.
"Tidak. Hanya suami saya saja di sini sejak kemarin." Jujur wanita itu.
"Kita ketahuan Vin." Ucap Jenita yang mulai menyadari keadaannya.
"Baiklah, terima kasih. Maaf, kami permisi!" Ucap Delvin cepat.
Wanita itu pun menganggukkan kepalanya. Delvin dan Jenita lantas keluar ruangan. Delvin langsung menuju ruang jaga perawat.
"Maaf Suster, apa ada pasien bernama Naina yang dirawat di sini?" Tanya Delvin tanpa basa-basi.
Perawat jaga langsung mengecek datanya.
"Maaf Pak, tidak ada pasien bernama Naina di ruang rawat ini." Jujur perawat itu.
"Baiklah, terima kasih." Ucap Delvin segera.
"Sama-sama Pak." Jawab perawat itu ramah.
Delvin segera membalikkan badannya. Ia dan Jenita kesal bukan main. Rencananya ternyata gagal total karena mereka ketahuan oleh Niko. Dan Niko ternyata berhasil mengelabuhi mereka dengan sangat rapi.
"Sial!" Umpat Delvin kesal.
Delvin pun melangkahkan kakinya dengan terburu-buru dan perasaan yang marah dan kesal. Ia menuju area parkir bersama Jenita yang juga sama-sama kesal.
Apalagi, saat mendapati mobil Niko sudah tak ada di tempat parkirnya tadi. Ia pun makin bertambah kesal. Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke rumah
Sedangkan di tempat lain, Niko sedang berkendara dengan tenang menuju rumah sakit dimana Naina dirawat.
"Tante! Kenapa Om Delvin ngikutin kita sih?" Ucap Rissa polos.
Sinta yang tahu tentang rahasia Naina, berusaha mencari jawaban terbaik untuk Rissa. Agar seolah-olah, ia tak memojokkan Delvin pada Rissa. Ia sedikit panik, karena ucapan Rissa.
"Mungkin, Om Delvin cuma khawatir pada Mommy." Jawab Sinta sehalus mungkin.
Niko jelas menoleh pada Sinta karena mendengar jawaban istrinya.
"Tapi kan Tante sudah melarangnya tadi."
"Iya Sayang."
"Rissa nggak suka sama Om Delvin." Celetuk Rissa jujur.
"Jangan begitu Sayang! Om Delvin kan punya niat baik. Dia ingin menjenguk Mommy dengan mamanya." Jelas Sinta perlahan.
"Tapi kan, Tante sama Om Niko sudah melarangnya."
"Sudah! Sekarang, nggak usah mikirin Om Delvin. Kita sekarang mikirin Mommy aja. Dia pasti sudah menunggumu." Ucap Sinta untuk mengalihkan perhatian Rissa.
__ADS_1
Rissa pun mengangguk paham. Sinta pun mulai sedikit lega karena Rissa sudah tak membahas Delvin lagi.
Niko pun lebih mempercepat laju mobilnya, agar segera sampai ke rumah sakit, dimana Naina dirawat. Memang sedikit jauh jika dari rumah Naina. Mengingat, Naina kemarin pingsan di depan gedung stasiun tv. Jadi Dean membawanya ke rumah sakit terdekat, agar segera mendapat pertolongan.