Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Drama Nasi Kucing


__ADS_3

"Nasi kucing dengan sambal ikan teri, Mas." Jawab Naina sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Dean.


"Nasi kucing?" Ulang Dean kebingungan.


"Iya Mas."


"Kamu mau makan makanan kucing?" Tanya Dean bingung.


"Bukan Mas." Sahut Naina kesal.


"Lha tadi, katanya mau nasi kucing. Itu makanan buat kucing kan?"


"Bukan Mas. Itu cuma sebutan." Sahut Naina santai, yang mulai sadar bahwa suaminya tidak mengetahui makanan sederhana itu.


Dean yang hidup dengan berkecukupan dan bahkan beberapa tahun hidup di luar negeri, tidak pernah makan makanan yang dijajakan di pinggir jalan atau kaki lima. Termasuk, angkringan. Jadi, dia tidak mengenal apa itu nasi kucing.


"Terus?" Tanya Dean bingung.


"Udah Mas, ayo keluar! Kita cari penjual yang masih buka. Nanti aku kasih tahu apa itu nasi kucing." Ajak Naina sumringah.


Dean pun tersenyum dan mengangguk paham. Mereka lalu bersiap untuk pergi mencari angkringan yang masih buka, demi menuruti keinginan si bumil.


"Mbak. Mbak Atun."


Naina membangunkan Atun dari depan kamarnya sebelum mereka pergi.


"Iya Bu'. Ibu butuh sesuatu?" Tanya Atun singkat, sembari mengumpulkan kesadarannya setelah membukakan pintu.


"Mbak, aku mau keluar sama Mas Dean. Titip Rissa ya!" Ucap Naina segera.


"Ibu mau kemana? Ibu nggak papa kan?" Tanya Atun khawatir.


"Enggak kok Mbak. Aku pengen makan nasi kucing Mbak. Mbak Atun tahu nggak, angkringan yang jual nasi kucing dengan sambal ikan teri?"


Atun terdiam. Ia mencoba mengingat sesuatu yang mungkin bisa membantu Naina.


"Di dekat taman itu Bu', ada. Suaminya Yuli jualan di sana. Katanya ada nasi kucing dengan sambal ikan teri Bu'. Tapi, nggak tahu masih buka atau enggak jam segini." Jujur Atun.


"Yuli siapa Mbak?"


"ART di rumah Pak Harto, rumah depan itu lho Bu'. Dia kan tidak menginap. Kami sering bertemu kalau dia pulang kerja. Ngobrol bentar Bu'."


"Oh, gitu. Yaudah, coba aku kesana dulu. Makasih ya Mbak. Titip Rissa!" Pamit Naina segera.


"Iya Bu'."


Naina dan Dean segera keluar rumah. Mereka lalu menuju tempat yang dimaksud Atun tadi. Taman yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya.


Mobil Naina membelah dingin dan sepinya malam bersama jutaan bintang yang menemani. Menyusuri jengkal demi jengkal jalanan ibu kota, yang mulai hidup lagi dalam gelapnya sang malam.


"Mana ya?" Gumam Naina bingung, saat mendapati suasana taman sudah tak ada satu orang pun di sana.

__ADS_1


"Mungkin sudah tutup Sayang. Ini sudah setengah dua." Sahut Dean, yang netranya sibuk mencari penjual makanan yang mungkin masih ada, yang dimaksud Atun tadi.


"Terus gimana dong Mas? Aku pengen nasi kucing." Ucap Naina sedih.


Dean yang masih melajukan mobilnya perlahan, segera menepi. Ia ingin menenangkan Naina lebih dulu.


"Jangan nangis dong Sayang! Kan ini juga udah hampir pagi, mungkin penjualnya sudah pada tutup. Besok kita beli ya?"


Naina menggeleng sambil tertunduk. Satu tetes air matanya pun, jatuh tepat mengenai tangannya.


"Oke. Kita jalan lagi ya! Kita coba cari di jalan lain!" Usul Dean cepat.


Naina mengangguk patuh.


Dan sebelum Dean kembali melajukan mobilnya, ia teringat sesuatu. Ia segera mengambil ponselnya. Ia sejenak fokus pada ponselnya.


"Niko! Kamu tahu nasi kucing?" Tanya Dean, setelah panggilannya tersambung.


Naina menoleh pada Dean, yang ternyata sedang menelepon asisten pribadinya.


"Apa Tuan? Nasi kucing?"


"Iya. Kamu tahu?"


"Iya Tuan. Ada apa?"


"Apa di dekat rumahmu ada yang jual? Nasi kucing dengan sambal ikan teri."


"Cari tahu, cepat! Bayar berapapun yang ia minta jika masih ada! Atau kalau perlu, minta penjualnya buat beberapa untuk Naina, dan bayar lebih untuk itu. Aku ke sana sekarang."


"Apa Tuan?"


"Kamu kenapa mendadak lamban?" Kesal Dean.


"Oh, maaf Tuan. Baik, saya mengerti."


Dean pun mengakhiri panggilannya lalu menoleh pada Naina yang wajahnya sudah berubah sumringah dengan senyum lebar penuh harap. Dean sampai terkejut melihat betapa cepatnya perubahan emosi Naina.


"Ada Mas?" Tanya Naina tak sabar.


"Niko sedang mencarikannya untukmu. Kita ke rumah Niko sekarang." Sahut Dean, seraya mengusap rambut Naina penuh kelembutan.


Naina hanya mengangguk.


Dean pun segera melajukan mobilnya kembali. Menuju rumah sang asisten pribadi yang sedang kelabakan karena permintaan aneh sang atasan. Bahkan di waktu yang sangat tidak biasa.


Karena kondisi jalan yang lengang, Dean dan Naina bisa segera sampai di rumah Niko. Mereka disambut oleh Sinta seorang. Niko tadi segera pergi setelah selesai ditelepon. Ia langsung paham, jika itu ulah istri sang atasan yang sedang hamil.


"Niko?" Tanya Dean cepat.


"Mas Niko sedang ke rumah pemilik angkringan. Tadi sudah habis katanya di warung. Mas Niko lalu ke rumah Pak Parto sekalian beliau pulang." Jelas Sinta.

__ADS_1


"Di rumah masih ada Sin?" Tanya Naina tak sabar.


"Kata Mas Niko, istrinya Pak Parto, bersedia membuatkan beberapa untuk Ibu." Jujur Sinta.


"Rumahnya dimana Sin?" Tanya Naina sambil celingukan melihat jalan di depan rumah Sinta.


"Di pojok kampung ini Bu'. Nggak jauh. Sebentar lagi Mas Niko mungkin sudah pulang." Jujur Sinta.


"Ayo Mas, susul ke rumahnya aja!" Rengek Naina.


"Kita tunggu di sini saja Sayang! Kan Sinta udah bilang, Niko sebentar lagi pulang." Tolak Dean perlahan.


"Aku pengen ke sana Mas."


"Tunggu di sini saja Sayang!" Bujuk Dean yang sebenarnya sangat mengantuk.


Naina tiba-tiba berjalan menuju mobilnya begitu saja. Wajahnya ditekuk. Hatinya pun mendadak sedih kembali.


"Maaf Pak, Ibu sedang hamil. Emosi wanita hamil bisa sangat fluktuatif. Saran saya, Bapak turuti saja kemauan Ibu. Takutnya, Ibu sedih hingga tertekan perasaannya, dan akan mempengaruhi bayinya." Saran Sinta tulus.


"Iya Sin. Dari tadi udah naik turun itu emosinya." Jujur Dean sedikit lelah.


"Rumahnya sebelah mana Sin?" Imbuh Dean cepat.


Sinta lalu menjelaskan pada Dean, dimana rumah pemilik warung angkringan yang sedang didatangi oleh Niko. Dean pun berpamitan pada Sinta dan berterima kasih. Ia lalu segera menyusul Naina ke mobil.


Di dalam mobil, Naina sudah sesenggukan. Beberapa lembar tisu, sudah berserakan di dekatnya. Dean pun segera meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan hangat.


"Maaf Sayang. Jangan menangis lagi ya! Kita akan ke rumah penjualnya menyusul Niko." Ucap Dean, saat ia sudah memeluk erat Naina.


Naina diam tak merespon. Dean pun melepaskan pelukannya. Ia lalu mengikuti petunjuk arah yang diberikan Sinta tadi, untuk menyusul Niko di rumah pemilik angkringan.


Tak sampai lima menit, Dean melihat motor Niko di tepi jalan. Tepat di depan rumah yang pintunya terbuka di jam yang sudah sangat larut. Dean pun segera memarkirkan mobilnya. Dan bertepatan dengan itu, Niko keluar untuk melihat siapa yang datang dengan mobil jam segini.


"Siapa Mas Niko?" Tanya laki-laki yang sedang mengobrol bersama Niko di ruang tamu, Parto. Pemilik angkringan.


"Atasan saya Pak." Jawab Niko, yang paham dengan mobil yang sedang menepi.


Tak lama, Dean dan Naina pun keluar dari mobil. Mereka lantas menghampiri Niko yang berdiri di ambang pintu.


"Ini Mas Niko, nasi kucingnya." Ucap seorang wanita yang datang dengan sebungkus plastik berisi lima bungkus nasi kucing pesanan Niko.


"Terima kasih Bu'." Jawab Niko sembari menerima plastik itu.


Naina tiba-tiba berlari kecil dan segera menghampiri Niko. Dean hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naina.


"Apa itu nasi kucingnya?" Tanya Naina sumringah.


"Oh, iya Nona. Silahkan!" Jawab Niko senang.


Naina segera mengambil plastik yang dibawa Niko. Senyum nan bahagia terlukis sempurna di wajah bumil itu. Semua yang ada di tempat itu pun, ikut bahagia karena melihat ekspresi Naina.

__ADS_1


Rasa bahagia bisa dengan mudah mengalir pada setiap hati yang saling terikat. Terikat oleh sebuah ikatan hati yang begitu indah sebagai karunia Sang Pencipta.


__ADS_2