
Alunan lagu-lagu nan romantis, menelusup sempurna ke telinga. Menemani setiap langkah dan tingkah setiap raga yang sedang berbahagia. Memberikan asa dan semangat yang berbeda-beda bagi setiap hati yang memiliki mimpi.
"Apa ini Bu'?" Tanya Sinta saat menerima sebuah kotak berukuran sedang, yang dari tadi dibawakan oleh Atun.
"Hadiah kecil." Jawab Naina singkat.
"Tapi Bu', Ibu sudah memberikan sangat banyak untuk pernikahan saya."
"Itu bukan hadiah. Ini hadiahmu! Dan kamu harus menerimanya."
"Tapi Bu',,"
"Tak ada penolakan! Kalau nanti kalian sudah membukanya, hubungi aku jika kalian kebingungan ya!" Pinta Naina tulus.
Sinta mengerutkan keningnya. Ia jadi penasaran, apa hadiah yang Naina berikan untuknya. Tapi Sinta lekas menganggukkan kepalanya.
"Kita foto dulu ya Bu'!" Pinta Sinta.
Naina segera mengangguk. Mereka semua lalu berfoto bersama. Naina, Dean dan Rissa, benar-benar nampak seperti keluarga kecil yang sempurna dan bahagia. Banyak yang berdecak kagum dan iri pada mereka.
"Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Sinta khawatir.
"Maksud kamu?" Sahut Naina bingung.
"Pak Dean?" Ucap Sinta sambil melirik pada Dean.
"Dia memaksaku kemarin. Aku tak mungkin berkelahi dengannya hanya karena hal itu." Jawab Naina sedikit kesal karena teringat kejadian beberapa hari lalu di kantor kafenya.
"Ayo Na!" Ajak Dean.
"Kemana?" Jawab Naina polos.
"Ya turun lah! Kamu mau disini? Kita nikah dulu Na kalau kamu mau seharian di pelaminan." Jawab Dean santai.
"Punya mulut tuh di jaga!" Ketus Naina.
"Ucapan kan do'a Na."
Naina hanya mendengus kesal. Ia enggan menanggapi ocehan Dean lagi. Ia lantas berpamitan pada Sinta dan Niko untuk turun dari panggung pelaminan. Diikuti Rissa dan Atun juga pastinya.
Baru saja berjalan beberapa langkah mereka turun dari panggung pelaminan, tiba-tiba beberapa orang menghampiri mereka.
"Clarissa ya?" Ucap beberapa orang secara bergantian.
Gadis kecil itu segera memeluk tubuh Dean yang sedari tadi tangannya ia gandeng. Ia ketakutan karena tiba-tiba dikerumuni beberapa orang. Dean yang menyadari status Rissa yang sudah menjadi pemain film, meski masih pendatang baru, ia dengan sigap meraih tubuh Rissa lalu menggendongnya.
Rissa langsung memeluk leher Dean dengan wajah panik.
"Tenang Sayang! Kamu kan sekarang jadi artis. Kamu lupa?" Ucap Dean yang menyadari ekspresi Rissa.
"Maaf ya Mbak-mbak semuanya! Pelan-pelan ya!" Ucap Naina mencoba melindungi putrinya.
"Itu beneran Clarissa yang main film sama Delvin kan?" Tanya seorang wanita yang siap dengan kamera ponselnya.
__ADS_1
"Iya. Tapi bisakah kalian lebih tenang? Dia ketakutan jika kalian seperti itu." Jujur Naina.
Beberapa wanita itu mulai berangsur lebih tenang. Mereka lalu meminta izin untuk berfoto bersama Rissa. Rissa yang sudah tenang karena ditenangkan oleh Dean, ia pun menyetujui permintaan beberapa wanita tadi.
"Sama Mas-nya sekalian aja fotonya ya! Mbak, tolong fotoin ya!" Ucap seorang wanita pada Naina seraya menyerahkan ponselnya.
Naina terkejut bukan main. Ia tiba-tiba disodori ponsel oleh seorang wanita yang langsung nyelonong mendekati Dean dan Rissa. Wanita itu pun langsung dengan sigap berdiri di samping Dean dengan Rissa berada di tengah.
Naina membulatkan bola matanya. Ia kesal karena wanita itu memintanya dengan kurang sopan. Apalagi, dia dengan cepat mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Dean, dan nampak sedikit menggodanya. Naina menahan kekesalannya agar tak membuat masalah di pernikahan Sinta. Ia pun menuruti pemintaan wanita tadi untuk mengambil fotonya bersama Rissa dan Dean.
Daaannn,,
Beberapa wanita itu pun mengikuti ulah wanita tadi. Mereka ikut meminta Naina untuk mengambilkan foto mereka bersama Rissa dengan bonus foto laki-laki ganteng yang menggendongnya, yang mereka kira adalah ayahnya.
Hati Naina makin kesal tak terkira. Apalagi, para wanita itu dengan entengnya, sedikit menggoda Dean. Mereka berkenalan dengan Dean. Bahkan, ada yang dengan genitnya, mengedipkan sebelah matanya pada Dean.
Naina cemburu? Iya, dia cemburu. Dalam hati kecilnya, Dean tetaplah seorang lelaki yang mampu merubuhkan benteng hatinya yang ia bangun selama beberapa tahun. Bahkan, ia mulai menyadari, ada sebuah ikatan yang cukup kuat antara dirinya dan Rissa dengan Dean. Tapi, Naina tak tahu apa itu.
Dean yang sibuk meladeni para wanita tadi, tetap menyadari gelagat Naina. Ia menyadari, Naina sangat kesal karena para wanita itu menggodanya dengan begitu entengnya. Dan ia hanya diam tak menolaknya.
Dean tersenyum melihat Naina. Saat semua wanita sudah selesai dengan fotonya, Dean segera menggandeng tangan Naina. Ia segera menarik tangan Naina ke salah satu kursi kosong.
"Duduk dulu Sayang!" Ucap Dean sambil menurunkan Rissa dari gendongannya.
"Makasih ya Om!" Ucap Rissa polos.
"Iya Sayang!" Jawab Dean.
"Kamu nggak duduk Na?" Tanya Dean saat melihat Naina masih memberengut kesal sambil berdiri.
"Kamu kenapa sih Na?" Goda Dean.
"Au'." Jawab Naina singkat.
Dean malah tersenyum melihat tingkah Naina.
"Mommy lapar?" Tanya Rissa sambil menarik tangan Naina.
"Iya? Enggak kok Sayang." Jawab Naina lembut pada putrinya.
Naina lalu ikut duduk di kursi sebelah Rissa. Dean pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Naina dan Rissa. Ia mengambilkan beberapa makanan dan minuman untuk sepasang ibu dan anak itu.
Naina yang hatinya masih kesal, ia hanya membantu Rissa memakan makanannya. Ia membiarkan makanannya tetap utuh.
"Kamu kenapa nggak makan? Mau aku suapi?" Tanya Dean yang sedari tadi sudah duduk di samping Naina.
"Males." Jawab Naina singkat.
"Kamu cemburu?"
"Kurang kerjaan."
Dean akhirnya mengalah dengan sikap Naina. Ia memilih diam karena tak ingin membuat keributan dengan berdebat karena kecemburuan Naina.
__ADS_1
Cukup lama Dean, Rissa dan Naina menikmati acara pernikahan Sinta dan Niko. Perlahan, kekesalan Naina pun berangsur hilang karena celoteh Rissa. Ia tak henti-hentinya mengagumi kecantikan Sinta hari ini. Yang nampak sangat berbeda dari biasanya.
"Mommy!"
"Ya Sayang!"
"Kapan Mommy menikah dengan Daddy?" Tanya Rissa polos.
Naina tertegun mendapat pertanyaan itu. Nafasnya tercekat. Mulutnya seakan terkunci. Otaknya pun seperti berhenti bekerja. Ia tak dapat menemukan jawaban untuk pertanyaan putri semata wayangnya.
Tanpa Naina sadari, Dean pun dengan setia menanti jawaban dari pertanyaan Rissa. Ia juga penasaran, kapan sebenarnya Naina menikah. Dan siapa ayah Rissa.
"Kenapa kamu nanyain itu Sayang?" Tanya Naina.
"Karena di rumah tak ada foto Daddy satupun. Daddy itu seperti apa Mom?" Tanya Rissa polos.
DEG. Jantung Naina seakan berhenti berdetak. Ia tak mengira, Rissa menyadari hal itu. Pikirannya benar-benar kosong saat ini. Ia tak bisa mengatakan kebenaran itu sekarang pada Rissa. Apalagi, mereka sedang berada di tempat umum.
Dean pun juga mulai menyadari perkataan Rissa. Ia tak melihat satu pun foto pernikahan Naina atau foto seorang laki-laki yang mungkin adalah ayah Rissa. Hanya ada dua foto laki-laki di rumah Naina, foto ayah Naina dan Ben. Foto Ben pun, bersanding dengan kedua istrinya.
Naina kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan Rissa.
"Kita pulang aja yuk Sayang! Lain waktu, Mommy akan ceritakan pada Rissa. Ya?"
Rissa hanya mengangguk. Dean pun menatap Naina penuh tanya.
"Ada apa sebenarnya dengan ayah Rissa? Apa pernikahan Naina dulu sangat menyakitkan?" Batin Dean.
Naina dan Rissa lalu berdiri. Dean pun akhirnya mengkuti Naina. Saat mereka berjalan beberapa langkah, Naina dan Dean dihampiri oleh masing-masing karyawannya. Mereka menyapa atasannya yang nampak sangat berbeda hari ini.
Tidak Naina, tidak Dean. Mereka sama-sama tak pernah terlihat menggandeng pasangan mereka masing-masing selama ini. Mereka selalu nampak sibuk sendiri dengan semua pekerjaan mereka, tanpa sempat memikirkan masalah asmara.
Tapi hari ini, mereka nampak sangat serasi datang bersama. Bahkan, pemandangan itu makin sempurna, kala Rissa berada di gendongan Dean, yang wajahnya mirip dengannya.
Masing-masing dari mereka mengucapkan hal yang sama. Sebuah do'a tulus yang mengalir dari hati mereka masing-masing. Sebersit do'a, yang Dean harapkan selama ini. Untuk segera menjadikan Naina miliknya seutuhnya.
"Om! Kenapa mereka bilang Om mau nikah sama Mommy?" Celetuk Rissa polos.
"Itu ya Sayang. Karenaaa,," Dean berusaha memikirkan jawaban yang tepat untuk Rissa.
"Kenapa Om? Om memangnya mau nikah sama Mommy?" Tanya Rissa lagi.
"Memangnya, kalau Om nikah sama Mommy, Rissa ngizinin?" Goda Dean.
"Kalau Om nikah sama Mommy, berarti, Om jadi daddy-nya Rissa dong?"
Dean berpikir sejenak dan memandangi wajah Rissa. Ia berusaha membaca raut wajah gadis yang ada digendongannya.
"Eemm, iya Sayang." Jawab Dean pelan-pelan.
"Kapan Om mau nikah sama Mommy?" Tanya Rissa tak sabar.
"Apa?" Ucap Dean dan Naina bersamaan.
__ADS_1
Naina ternyata mendengar sedikit perbincangan Rissa dan Dean. Ia telah selesai bertegur sapa dengan para karyawannya. Jadi ia mendekati Rissa dan Dean. Dan saat mendengar sedikit obrolan mereka, Naina berniat menegur Dean. Tapi, ia kalah cepat.
"Iya Mom. Kapan Mommy sama Om Dean menikah?" Ucap Rissa tanpa ragu.