
Sore yang cerah. Mentari pun masih setia bertengger di tempatnya. Menampilkan sinarnya dengan penuh keyakinan. Membawakan kebaikan bagi semua.
"Mommy,," Suara nyaring seorang gadis kecil menggema indah di telinga Naina.
Naina yang sedang bersandar di samping mobil sambil menerima telepon pun segera menoleh karena mendengar panggilan dari gadis kecil yang sedang berlari ke arahnya. Ia segera membungkukkan badannya untuk meraihnya dalam gendongan.
"Gimana sekolahnya sayang?" Tanya Naina setelah ia menggendong gadis kecil itu dan mencium gemas pipinya.
"Lancar Mom. Tadi Rissa dapat nilai terbaik waktu ulangan matematika." Sahut gadis kecil itu dengan antusias.
"Siipp! Anak Mommy memang hebat. Pulang yuk!" Ajak Naina seraya membukakan pintu mobil untuk putri kecilnya yang masih berusia lima tahun.
Gadis kecil itu pun mengangguk patuh. Naina yang tadi merasa bad mood karena ulah laki-laki yang mengganggunya di kafe, kini sudah kembali tersenyum ceria setelah bertemu putrinya, Rissa. Rissa adalah semangat terbesar untuk Naina. Mereka pun berkendara untuk pulang ke rumah.
Clarissa Fauziah D. Putri kecil Naina yang masih berusia lima tahun. Tapi jangan salah, diusianya yang ke lima, ia sudah duduk di bangku SD kelas tiga. Ia bersekolah di sekolah khusus anak-anak dengan IQ diatas rata-rata. Meskipun begitu, ia tetap paling menonjol diantara murid-murid yang lain.
Rissa, itu panggilannya sehari-hari. Wajahnya yang cantik dengan mata biru, hidung yang mancung, bibir tidak terlalu tipis dan rambut hitam yang panjang, membuatnya nyaris sempurna. Apalagi jika mengingat otaknya yang sangat encer bin cerdas. Itu bagai paket komplit yang Tuhan berikan padanya.
Ya, Rissa sangat, sangatlah cerdas. Diusianya yang ke tiga, dia sudah pandai membaca dan menulis. Ia bahkan bisa menghafalkan Al-Qur'an saat usia itu juga. Dan saat usianya empat tahun, ia sudah membaca lebih dari puluhan buku yang kini ada di rumahnya. Dan semua itu, buku tentang bisnis milik ibunya. Belum lagi buku-buku yang ia baca di perpustakaan bersama sang ibu.
Dan dari sanalah Naina akhirnya bangkit. Ia bersemangat untuk mencari nafkah dan merawat Rissa dengan baik. Memberikan kehidupan yang layak untuk putrinya.
Awalnya Naina sangat menolak kehadiran Rissa, tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai menerima Rissa. Bahkan ia akan sangat takut jika kehilangan Rissa.
Naina dulu diremehkan dan diejek oleh teman-teman kampusnya karena pernah menjual diri dan bahkan hamil diluar nikah. Kondisi psikisnya bahkan sempat drop dan nyaris dinyatakan tidak waras oleh dokter. Tapi berkat dukungan Sekar, Hera dan Lea, ia bisa bangkit lagi dan menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Meski harus mengajukan cuti selama satu semester.
Flashback On
"Hei, pelac*r! Masih betah ternyata kamu kuliah disini? Dasar nggak tahu malu! Bikin jelek nama kampus aja." Ucap seorang gadis dengan dandanan sangat menor bersama empat temannya yang berjalan melewati tempat parkir motor dimana Naina hendak mengambil motornya sore itu selepas kuliah.
Naina berusaha diam tak membalas. Ia enggan meladeni ocehan orang-orang yang memandang buruk padanya. Berita tentang ia menjual diri demi uang, beredar dengan cepat ke seluruh penjuru kampus.
Apalagi kini perutnya mulai membuncit karena usia kehamilannya memasuki bulan ke lima. Ia tak dapat lagi menutupinya, karena memang tubuh Naina yang ramping jadi dengan mudah akan terlihat jika perutnya membesar.
Naina yang tadinya sudah mulai bangkit, tapi karena cemoohan itu datang tiada henti, ia kembali terpuruk. Bahkan ia diculik dan hampir diperkosa oleh beberapa teman kampusnya yang mengetahui jika Naina pernah menjual diri.
"Maaf Pak, bisa tunjukkan surat-suratnya! Kami sedang melakukan pemeriksaan." Ucap seorang polisi dengan tegas setelah mencegat mobil yang membawa paksa Naina.
__ADS_1
Naina yang melihat polisi itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memberontak dan minta tolong pada sang polisi yang pastinya tidak sendirian. Polisi pun curiga kepada tiga laki-laki yang berada di dalam mobil dengan Naina yang yang berteriak minta tolong dan baju Naina pun sudah sedikit terkoyak. Ia akhirnya meminta rekan polisi lainnya untuk mengamankan teman-teman Naina yang tadi menculiknya.
"Naina nggak kuat lagi Bu',, Naina lelah!" Ratap Naina malam itu setelah Sekar menjemputnya dari kantor polisi.
"Sabarlah Na! Ada Ibu disini."
Sekar masih selalu setia menemani Naina. Ia benar-benar menganggap Naina seperti putrinya sendiri. Terlebih, kini kondisi Naina tengah hamil. Dan bagi Sekar, itu adalah kesalahan terbesarnya. Karena ia tak bisa menyelamatkan Naina malam itu.
Sekar akhirnya mengajukan cuti kuliah untuk Naina. Karena kondisi Naina yang memburuk karena olokan dan sindiran dari teman-temannya. Ia pun mengawasi Naina penuh selama di rumah. Ia tak akan membiarkan Naina sendirian hingga akan melakukan hal nekat lagi.
Setelah dua bulan lalu klab milik Romo di hancurkan dan Romo dibunuh secara tragis, Sekar, Hera dan Lea membuka usaha warung makan yang mereka kelola bersama. Naina awalnya juga antusias dengan usaha para mantan 'kupu-kupu malam' itu. Ia bahkan ikut memilihkan beberapa menu masakan rumahan yang akan dijual di warung.
Tapi karena kejadian penculikan itu, ia kembali murung. Naina yang tadinya antusias dengan warung baru Sekar, kini tak lagi bersemangat. Ia banyak mengurung diri dan banyak menangis. Sekar bahkan harus membawanya ke psikiater untuk menjalani pengobatan.
Sekar lalu mencoba mengajaknya ke warung dan menyibukkan Naina dengan beberapa kegiatan di warung. Dan itu cukup mengalihkan kesedihannya. Naina yang memang pandai memasak karena ajaran neneknya dulu, tak ragu-ragu membantu para mantan 'kupu-kupu malam' itu menyiapkan masakan.
Sekar, Hera dan Lea lega melihat kondisi Naina yang membaik. Meski masih ada beberapa gunjingan miring yang menyusup ke telinga Naina, ia berusaha tak mengindahkannya. Ia memilih mengoleksi dan membaca buku-buku yang bersangkutan dengan kuliahnya kini, meski sedang cuti.
Hingga akhirnya, Naina melahirkan Rissa. Wajah Rissa yang tak begitu mirip dengannya membuatnya sedih. Rissa memiliki mata biru, tak seperti Naina yang bermata hitam. Itu yang sangat menonjol.
"Dia mungkin seperti ayahnya Na, matanya indah sekali." Puji Sekar saat ia menggendong Rissa setelah mereka pulang dari bidan.
"Iya. Akan kuberikan anak itu padanya!" Jawab Nania penuh amarah.
"Tak boleh! Kau tak boleh memberikan anak ini pada siapapun! Kalau kau tak mau merawatnya, biar Ibu yang merawat. Ibu nggak akan membiarkanmu memberikan anak ini pada baj*ngan seperti dia!" Tolak Sekar mentah-mentah.
"Tapi Bu',,"
"Pokoknya Ibu nggak rela kalau kamu mau nyerahin anak ini ke Keluarga Dewangga."
"Kita rawat sama-sama Na!" Ucap Hera tulus.
"Iya Na. Kita rawat si cantik ini sama-sama!" Imbuh Lea.
"Nanti kalau dia tanya ayahnya gimana Bu'?"
"Hanya jika nanti dia menanyakannya, kita akan jelaskan pelan-pelan. Dan kalau perlu, kita pertemukan dia dengan ayahnya. Itu saja, tak lebih." Tegas Sekar.
__ADS_1
Empat wanita itu sudah tahu siapa laki-laki ceroboh itu. Beruntung Romo sudah mendapatkan informasi sebelum ia dibunuh dan sempat memberikan informasi itu pada Sekar. Dan itu cukup melegakan bagi mereka. Meski akhirnya mereka harus kehilangan sosok bagai ayah seperti Romo.
Seiring berjalannya waktu, sifat keibuan Naina tumbuh dengan baik. Ia mulai menyayangi Rissa kecil dengan sepenuh hati. Ia juga mulai kembali berkuliah dan tak menghiraukan ocehan teman-temannya lagi.
Ia ingin menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Dan dengan bantuan Hera dan Lea yang menjaga Rissa, Naina menyelesaikan kuliahnya lebih cepat daripada teman-teman yang menghinanya selama ini.
Flashback Off
"Mommy, Rissa mau ikut casting!" Ucap gadis kecil itu kala ia telah selesai mengerjakan semua PR-nya malam itu.
"Kenapa tiba-tiba mau ikut casting sayang?" Tanya Naina.
"I want to be an artist!"
"Jadi artis? Rissa kan masih sekolah, ngapain jadi artis?"
"Rissa ingin main film sama aktor ganteng itu Mom! Dewa D." Ucap Rissa sembari menunjuk ke arah tv yang ada di rumahnya yang sedang menayangkan sebuah iklan produk makanan.
DEG. Naina tertegun kala melihat siapa aktor yang dimaksud Rissa. Matanya membelalak marah. Rahangnya mengerat. Tangannya terkepal. Hatinya terasa sakit dan ingin berteriak. Beruntung Rissa tak melihat ekpresi sang ibu.
Bagaimana tidak? Aktor itu, tidak lain adalah Delvin Dewangga. Ia memakai nama panggung Dewa D. Ia menjadi artis pendatang baru, setelah memenangkan sebuah ajang pencarian bakat disebuah stasiun tv nasional.
Entah apa motivasinya mengikuti ajang itu, mengingat keluarganya sudah cukup terpandang dan tersohor di negeri ini. Meski kini, ia sudah tak bergelimang harta seperti dahulu, karena kebodohannya sendiri.
Setelah Delvin memenangkan ajang itu, wajahnya mulai wira-wiri di layar kaca. Suaranya memang bagus, ia juga sudah menelurkan dua album sejak debutnya sebagai penyanyi solo, tiga tahun lalu.
Kini ia juga mulai merambah dunia akting. Dari awalnya yang hanya menyanyi, kini mulai menjadi maskot beberapa iklan di tv dan mulai berakting di film layar lebar. Dan ternyata, Rissa sudah menonton film-film yang dibintanginya lewat internet. Kamu kecolongan Naina.
"No! Kamu harus fokus sekolah! Nggak usah mikir aneh-aneh, apalagi mau jadi artis. Mommy masih sanggup nafkahin kamu dari usaha yang sudah kita rintis bersama nak." Bantah Naina tegas.
"Tapi Mom,,"
"Pokokya, Mommy nggak izinin kamu ikut casting apalagi jadi atris!"
"Mommy jahat!" Rissa merajuk dan berlari menuju kamarnya meninggalkan Naina bersama asisten rumah tangganya di depan tv.
"Dia itu kadang bisa dewasa banget kalau urusan bisnis. Tapi tetep aja, dia itu masih anak lima tahun yang pasti manja dan banyak maunya yang harus dituruti." Gumam Naina saat melihat Rissa berlari.
__ADS_1
"Iya Bu'." Sahut Atun, sang asisten rumah tangga yang juga merangkap jadi pengasuh Rissa sejak mereka pindah ke ibukota.
"Bagaimana reaksinya jika dia tahu siapa ayahnya?" Batin Naina perih.