
Tok, tok, tok.
Ketukan itu menggema di rumah Naina. Para penghuni rumah sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Terutama Rissa. Ia sedang sibuk bersiap untuk menghadiri penayangan perdana film yang ia bintangi. Ia bersama dua bintang utama lain, akan sedikit berkeliling Jakarta hari ini.
"Biar aku saja Na yang buka!" Ucap Lea tulus. Ia baru saja menidurkan malaikat kecilnya setelah mandi pagi.
Keluarga Lea masih di sini untuk satu minggu kedepan. Ben masih harus menyelesaikan beberapa urusannya di sini. Meski mereka sudah dua hari di Jakarta.
"Cari siapa Mas?" Tanya Lea sopan saat melihat empat orang laki-laki berpakaian rapi berada di depan pintu.
"Apa Nona Naina ada?" Sahut salah satu dari mereka singkat.
"Oh, iya sebentar." Jawab Lea yang lalu berjalan menghampiri Naina yang sedang membantu Rissa bersiap.
"Ada yang nyari kamu Na." Jujur Lea.
"Siapa Mbak?"
"Nggak tahu. Empat orang laki-laki. Penampilannya sih kayal pengawal pribadi gitu."
"Pengawal pribadi?" Gumam Naina lirih.
Lea hanya mengangguk di ambang pintu. Ia kembali ke ruang keluarga bersama keluarganya yang sedang asik menikmati pagi.
"Rissa! Rissa sarapan dulu ya! Nanti Mommy menyusul. Ajak om dan tante sekalian ya!" Pinta Naina setelah ia selesai merapikan rambut panjang Rissa.
"Oke Mom!" Jawab Rissa singkat.
Rissa dan Naina lantas keluar kamar. Naina segera menuju pintu depan, sedang Rissa mengajak para tamunya untuk sarapan sesuai permintaan Naina.
"Ada apa ya Pak?" Tanya Naina pada laki-laki yang sedang berdriri di depan pintu rumahnya.
"Kami pengawal Tuan Dean. Kami diminta mengawal Anda dan putri Anda selama proses peluncuran film Nona Rissa." Jelas salah satu laki-laki.
Naina menghela nafas panjang. "Mari masuk dulu Pak!"
"Terima kasih Nona. Kami tunggu di sini." Sahut seorang laki-laki.
"Apa kalian sudah sarapan?" Tanya Naina.
"Sudah Nona."
"Baiklah. Saya kedalam dulu!" Jawab Naina kaku.
"Silahkan!"
Keempat laki-laki itu sedikit membungkukkan badan untuk menghormati Naina. Naina pun lantas meninggalkan mereka di depan rumah.
"Siapa Na?" Tanya Hera penasaran setelah mendengar cerita Lea tadi.
"Pengawalnya Dean Mbak. Dia ngirimin pengawalnya buat nemenin Rissa di acara peluncuran filmnya nanti." Jujur Naina.
"Wah, calon suami idaman." Celetuk Hera untuk menggoda Naina.
"Mbak Hera!" Bentak Naina sambil melirik ke arah Rissa.
"Hhehe, maaf Na." Sahut Hera santai.
Naina masih menyembunyikan perasaannya pada Dean dari Rissa. Ia tak ingin terburu-buru memberitahukan itu pada Rissa. Karena ia pun tak yakin, jika ia menjalin hubungan lebih dengan Dean, itu semua akan berjalan mulus. Jadi, ia memilih untuk merahasiakan semuanya dulu.
Bagaimana dengan Rissa? Ia bahagia mendengar jika Dean mengirimkan pengawal untuknya hari ini. Gadis kecil itu, selalu bahagia ketika Dean memberikan perhatian lebih padanya.
"Mbak Atun, tolong buatkan minum untuk empat orang di depan ya!" Pinta Naina. Naina lantas berjalan ke kamar Rissa.
"Kamu nggak sarapan Na?" Tanya Lea karena melihat Naina menjauh dari meja makan.
"Bentar Mbak." Sahut Naina ringan sambil terus berjalan.
Naina mengambil ponselnya yang ia letakkan di kamar Rissa. Ia segera mencari nama seseorang di ponselnya lalu melakukan panggilan.
"Assalamu'alaikum Na." Salam seorang laki-laki di seberang telepon.
"Wa'alaikumussalam De." Sahut Naina singkat.
"Kenapa Na pagi-pagi telepon? Kamu udah kangen sama aku?" Goda laki-laki di seberang telepon, yang tak lain adalah Dean.
"Ngapain kamu kirim pengawal segala? Ini kan cuma peluncuran film biasa." Ketus Naina.
"Aku cuma mau memastikan keselamatan kalian."
"Kan ada pihak keamanan nanti."
"Aku nggak yakin dengan pihak keamanan. Lagian, mereka lebih profesional dari pihak keamanan gedung. Aku lebih tenang jika mereka mengawalmu dan Rissa."
"Nggak usah lebay deh De! Sekarang, cepat minta pengawalmu untuk pulang! Cabut perintahmu sama mereka!"
__ADS_1
"Ayolah Na! Cuma sehari juga kan?"
"Rissa belum jadi bintang besar De!"
"Atau aku saja yang mengawal kalian?"
"Siapa yang mau kamu kawal De?" Suara seorang perempuan, terdengar jelas dari seberang telepon.
"Ini Ma, Naina sama Rissa. Hari ini pemutaran perdana film Rissa. Dean tadi udah kirim pengawal buat mereka. Tapi Naina nggak mau katanya." Sahut Dean santai.
Naina akhirnya menjatuhkan pantatnya ke ranjang Rissa. Ia hanya mendengarkan percakapan ibu dan anak itu tanpa menyela. Tapi tiba-tiba ponsel yang ia tempelkan di telinga, berdering tanda panggilan masuk.
"Eh,,"
Naina segera melihat siapa yang menelepon. Ternyata Dean merubah panggilannya ke panggilan video.
"Pagi Na!" Sapa Lita.
"Pagi Ma. Mama apa kabar?" Sahut Naina ramah.
"Alhamdulillah baik Na. Nggak papa Na, pengawalnya biar jaga kalian."
"Tapi Ma, Rissa kan belum banyak penggemarnya. Lagian, nanti pasti ada pihak keamanan dari gedung dan penyelenggara."
"Sudah Na, terima saja! Toh mereka juga tak menganggu kalian bukan? Mereka menjaga kalian."
"Yaudah, aku aja yang jadi pengawal kalian kalau gitu. Oke?" Timpal Dean yang tiba-tiba merebut ponsel yang tadi dipegang Lita.
"Nggak usah De!" Tolak Naina lagi.
"Oke! Aku kesana sekarang!"
"No! Oke, aku terima pengawalnya." Ucap Naina mengalah.
"Oke. Apa perlu aku tambah pengawalnya?"
"Cukup De."
"Oke."
"Yaudah, aku harus bersiap. Terima kasih."
"Tentu. Jangan lupa sarapan ya! Atau aku akan menginap di rumahmu untuk memastikan kamu makan teratur."
"Iya, iya. Assalamu'alaikum."
Panggilan pun langsung diakhiri oleh Naina. Ia menghela nafas panjang lalu tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia bahagia diperhatikan oleh Dean. Ia tak mengira, Dean bisa begitu perhatian padanya. Meski ia masih sering bersikap ketus pada laki-laki itu.
Naina akhirnya kembali ke ruang makan untuk makan bersama yang lain. Setelah itu, ia bersiap berangkat bersama Rissa.
Karena Naina dan Rissa pergi bersama pengawal, mereka akhirnya memakai mobil milik yang dibawa pengawal Dean. Mereka memakai dua mobil.
Mereka menuju sebuah mall untuk menghadiri acara peluncuran film dan nonton bareng di bioskop yang ada di mall tersebut. Saat mereka sampai, sudah banyak orang yang berkerumun untuk menyaksikan acara peluncuran filmnya. Dan saat inilah para pengawal mulai menjalankan tugasnya.
Naina dengan sigap menggendong Rissa untuk melewati kerumunan. Ia diapit oleh keempat pengawal yang bersamanya. Mereka disambut oleh sang sutradara dan dua aktor utama film itu, Delvin dan Anneke.
"Kamu punya pengawal pribadi Na?" Tanya Delvin penasaran.
"Oh itu, enggak. Itu pengawal Dean. Dia yang ngirim pengawalnya untuk Rissa hari ini." Jujur Naina setelah menurunkan Rissa dari gendongannya.
"Sial! Aku kalah start!" Umpat Delvin kesal.
"Oke Sayang, Mommy tunggu di sini ya!" Ucap Naina seraya mensejajarkan tinggi badannya dengan Rissa.
"Oke Mom!" Sahut Rissa bahagia.
"Hati-hati ya!" Pesan Naina sebelum Rissa pergi bersama Delvin yang menunggunya.
Rissa mengangguk mantap. Ia lalu berjalan bergandengan tangan dengan Delvin sesuai arahan pengarah acara. Acara peluncuran dimulai dengan meet and greet para pemain di aula mall. Lalu dilanjutkan dengan nonton bareng di bioskop yang ada di lantai teratas mall.
Semua berjalan lancar hingga acara nonton bareng selesai. Mereka lalu berpindah ke bioskop kedua saat sore menjelang. Naina pun dengan sabar menemani putri kesayangannya dengan ditemani empat pengawalnya.
"Mommy!" Rissa berlari menghampiri Naina yang sedang menunggu di area depan bioskop. Ia tengah menikmati kopi yang tadi ia pesan sembari menunggu Rissa.
Naina segera menoleh ke sumber suara. Ia pun tersenyum kala melihat putrinya berlari ke arahnya. Tapi diluar dugaannya, ada beberapa penggemar baru Rissa yang mencegatnya. Naina segera berdiri kala putrinya tak terlihat karena tertutup kerumunan.
Naina dan keempat pengawalnya berlari dan menghampiri kerumunan. Dan saat itu juga, Rissa muncul dan berada dalam gendongan Delvin. Naina merasa sedikit lega. Ia tersenyum pada Delvin yang juga tersenyum padanya.
Rissa dan Delvin menuruti permintaan para penggemarnya untuk berfoto bersama. Delvin dengan bangganya, membawa Rissa pada Naina. Ia di dampingi oleh dua pengawal yang berniat menjaga Rissa.
"Thank's Del." Ucap Naina tulus sambil meraih Rissa dari gendongan Delvin.
"Tentu Na, apapun buat kalian." Sahut Delvin ramah.
Naina mengerutkan keningnya mendengar ucapan Delvin. Delvin pun tersenyum semanis mungkin pada Naina.
__ADS_1
"Apa sudah selesai?" Tanya Naina.
"Sudah untuk hari ini. Apa kalian akan pulang?" Jawab Delvin ramah.
"Iya. Rissa juga harus istirahat, besok dia harus sekolah." Jujur Naina.
"Apa kalian ada waktu sebentar? Aku ingin mengobrol denganmu." Tawar Delvin.
"Mommy, Rissa ingin makan es krim!" Rengek Rissa tiba-tiba.
"Ini sudah mulai petang sayang." Tolak Naina halus.
"Lagi pula, Mommy nggak bawa mobil. Kita kan tadi berangkat pakai mobil pengawal." Imbuh Naina.
"Apa Rissa mau kalau Om Delvin antar?" Tawar Delvin yang seperti mendapatkan kesempatan berharga.
"Mau Om." Jawab Rissa cepat.
"Eh, jangan Del. Tak perlu." Tolak Naina.
"Hanya sekali Na. Aku juga tak ada jadwal apapun setelah ini."
"Tapi Del,,"
"Ayolah Mom! Rissa mau makan es krim!"
"Tapi Sayang,,"
"Tak apa Na! Nggak begitu jauh kan tempatnya kalau dari sini?"
"Enggak sih."
"Oke! Ayo Rissa, kita makan es krim!" Ajak Delvin semangat.
"Ayo Om!" Jawab Rissa bahagia.
Rissa segera merosotkan tubuhnya dari gendongan Naina. Naina akhirnya hanya mengalah pada Rissa yang sudah menggandeng tangan Delvin keluar bioskop dan menuju mobil Delvin.
Naina pun meminta para pengawal untuk pulang karena acara hari ini sudah selesai. Ia juga berterima kasih karena sudah dijaga selama seharian bersama Rissa. Dan para pengawal pun menuruti permintaan Naina dan meninggalkan Naina bersama Delvin.
Naina segera mengikuti Rissa dan Delvin ke mobil. Mereka lantas berangkat menuju kafe milik Naina yang menjadi langganan makan es krim Rissa. Disepanjang perjalanan, Naina lebih banyak diam. Ia hanya mendengarkan obrolan Delvin dan Rissa yang nampak lebih akrab.
"Apa kamu merasakannya Sayang? Dia ayahmu." Batin Naina sembari menatap Rissa yang mengoceh tiada henti bersama Delvin di kursi depan.
"Pelan-pelan saja Del! Yakinlah! Naina pasti jatuh dalam pelukanmu nanti." Batin Delvin sembari melirik pada Naina melalui kaca spion.
Saat sampai di kafe, mereka langsung memesan makanan dan minuman masing-masing. Belum sempat mereka menikmati waktu, beberapa penggemar Delvin mulai histeris melihat sosok Delvin ada di kafe. Mereka pun mulai mengerumuni meja Naina demi mendekati Delvin.
Naina hanya menghela nafas melihat adegan itu. Ia memilih diam dan melihat orang-orang mulai ramai menuju mejanya. Beberapa ada juga yang meminta berfoto bersama Rissa. Rissa pun dibantu Delvin untuk itu.
Perlahan suasana mulai terkendali lagi. Kerumunan sudah mulai berkurang. Makanan pesanan pun sudah datang. Mereka lantas menikmati pesanan masing-masing diselingi obrolan ringan.
"Makasih Del, sudah diantar pulang." Ucap Naina saat mobil Delvin, berhenti tepat di depan rumahnya.
"Tentu Na." Sahut Delvin sambil tersenyum dibalik kemudi.
Naina hendak keluar bersama Rissa yang duduk di kursi belakang, tapi tangannya tiba-tiba ditahan oleh Delvin. Naina segera menoleh pada Delvin.
"Ada apa Del?" Tanya Naina.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Katakanlah!" Jawab Naina santai.
"Apa kamu menjalin hubungan spesial dengan Dean?"
Naina tersenyum kecil pada Delvin. "Tidak, kami hanya berteman biasa."
"Kamu yakin?"
"Iya. Apa ada masalah?" Tanya Naina bingung.
"Tidak, tidak ada." Sahut Delvin dengan senyum manisnya lagi.
"Apa ada lagi?"
"Tidak."
"Bisa tolong lepaskan tanganku!" Ucap Naina sambil melirik ke arah tangannya yang masih dipegang Delvin.
"Oh iya, maaf Na."
"Aku turun dulu. Sekali lagi, terima kasih." Ucap Naina tulus.
"Tentu."
__ADS_1
Naina lantas keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju rumahnya. Menyusul Rissa yang sudah lebih dulu keluar mobil. Delvin pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Naina dengan perasaan bahagia.
"Oke, selangkah demi selangkah. Aku pasti bisa mendapatkanmu, Naina." Gumam Delvin di balik kemudi mobilnya.