
Hawa sejuk khas pegunungan mulai menyeruak ke paru-paru. Indahnya bentang alam yang berwarna hijau, menyejukkan pandangan netra yang lelah di perjalanan.
Dean menepikan mobilnya sejenak. Ia mencari alamat lokasi syuting Rissa di tas Naina. Ia sempat melihatnya tadi saat mencari obat Naina pada lembaran kertas.
Naina menggeliat kecil. Ia mulai membuka matanya perlahan.
"Kamu cari apa De?" Tanya Naina lirih.
Dean menghentikan aktivitasnya. Pandangannya teralihkan ke arah Naina. Ia tersenyum kecil.
"Kamu sudah bangun? Apa masih sakit perutmu?"
Naina hanya menggeleng.
"Aku mencari alamat syutingnya. Aku tadi sempat melihatnya di tasmu."
Dean lalu mengambil lembaran kertas yang ada di tas Naina. Ia lalu membacanya mencari alamat yang ia cari.
"Pakai ponselku saja! Di ponselku sudah ada peta lengkapnya. Ada di tas juga." Sahut Naina.
Naina menegakkan tubuhnya. Ia menoleh ke arah Rissa. Gadis kecil itu masih terlelap. Sedang Dean mencari ponsel Naina di tas yang ia pegang. Setelah ketemu, ia memberikannya pada Naina.
Naina lalu menunjukkan lokasi yang sudah dikirimkan oleh kru film melalui pesan dengan lokasi. Dean lalu mulai kembali melajukan mobilnya kembali.
"Kenapa kamu berbohong tadi?" Tanya Dean singkat.
"Apa maksudmu?"
"Kamu belum minum obat kan tadi pagi?" Terka Dean.
Naina gelagapan karena ketahuan berbohong tak meminum obatnya. Ia hanya diam tak menjawab apapun.
"Apakah sesulit itu untuk meminum obatmu Na? Kau tak kasihan pada Rissa jika sampai terjadi sesuatu padamu nanti?" Sindir Dean.
"Kamu tak perlu memikirkan itu De. Itu urusanku." Ketus Naina.
"Apa aku harus menikahimu dulu baru itu semua menjadi urusanku?"
Dean mulai kesal karena tanggapan Naina. Naina tertegun medengar ucapan Dean.
"Kita sesama manusia harus saling peduli Na. Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu Na."
Naina masih diam sembari menatap hamparan perkebunan teh yang mulai menghiasi tepian jalan.
"Kalaupun kamu tidak memikirkan dirimu sendiri, fikirkan Rissa. Dia putrimu bukan. Kalau terjadi apa-apa denganmu, bagaimana dengannya? Dengan siapa dia akan bergantung? Dia masih kecil Na."
Hati Naina tidaklah mati. Ia meresapi setiap perkataan Dean. Airmatanya diam-diam membasahi pipi mulusnya, dan Dean tak melihat itu.
"Aku lelah." Batin Naina perih.
Iya, Naina sudah merasa lelah dengan hidupnya. Hidup dengan bayang-bayang sebuah malam yang kelam. Yang hingga kini siap menghantuinya setiap saat.
Menyesal? Tentu. Tapi itu ia lakukan demi orang yang telah merawatnya. Ia terjebak dalam dilemanya sendiri. Satu sisi ia menyesal karena merelakan mahkotanya malam itu hingga akhirnya Rissa hadir dalam hidupnya. Di sisi lain, ia tak bisa menyesalinya karena ia melakukan itu demi neneknya. Karena jika ia menyesalinya, berarti ia tidak tulus dan ikhlas menyelamatkan nyawa neneknya kala itu. Naina terjebak dalam dilema itu sampai saat ini.
Naina ingin hidup bahagia layaknya wanita lain. Mencintai dan dicintai oleh seorang lelaki. Tapi ketika bayangan masa lalu itu hadir, keinginannya menciut hingga sirna tak bersisa.
__ADS_1
Bayangan masa lalu ketika ia dicemooh dan dihina oleh orang-orang karena tindakan nekatnya, sungguh membuatnya bergidik ngeri. Ia tak bisa membayangkan, jika rahasia yang ia pendam beberapa tahun ini akan diketahui orang dan dia akan menerima hinaan itu lagi. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Dulu ada Sekar, Lea dan Hera yang selalu mendampingi dan menemaninya. Tapi kini, ia sendiri. Bahkan, ia harus menjaga putrinya yang tak tahu tentang semua itu.
Sampai saat ini, baru sekali Rissa menanyakan ayahnya. Dan Naina berhasil mengalihkan perhatian Rissa waktu itu. Entah bagaimana jika nanti Rissa menanyakannya lagi, Naina tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu sudah menjadi orang tua Na. Kamu tidak bisa seegois itu pada putrimu. Kalau kau mau menjadi egois, biarkan Rissa bersama ayahnya. Dimana dia? Apa dia tidak bertanggung jawab pada putrinya?"
"DEAN CUKUP!" Naina membentak sangat keras.
Dean tersentak. Ia tak mengira Naina akan berteriak sekeras itu. Rissa yang terlelap pun ikut terbangun karena suara Naina.
"Aarrgghh,," Naina berteriak tak terkendali. Tangannya mengacak kasar rambutnya hingga berantakan. Ia menangis meraung di kursinya. Dean segera menepikan mobilnya.
"Mommy,," Panggil Rissa halus. Rissa langsung berpindah ke kursi Naina. Ia memeluk erat tubuh ibunya yang bergetar karena menangis.
"Naa,,"
"STOP DE! Leave me alone!" Ucap Naina lirih.
"Mommy,," Rengek Rissa.
"Rissa please! Just a moment Dear!"
"Kita keluar sebentar sayang! Lihat perkebunan teh yuk!" Ajak Dean seraya mengulurkan kedua tangannya pada Rissa. Rissa pun menyambut tangan Dean.
Naina menumpahkan tangisnya setelah Dean dan Rissa keluar dari mobil. Entah apa yang membuat hatinya terasa begitu sakit. Ia tak tahu mengapa ia menjadi sangat emosional dan tak bisa menahan tangisnya.
Di luar, Rissa masih setia digendongan Dean. Mereka menatap luas hamparan perkebunan teh yang terbentang hijau menyegarkan.
"Maafin Om ya sayang! Om tadi salah bicara, jadi bikin Mommy marah-marah." Jelas Dean lembut.
Rissa hanya mengangguk. Ia belum pernah melihat ibunya seemosional itu sebelumnya. Meski ia tahu, ibunya sering menahan segala sesuatunya sendirian. Tapi ia tak pernah seperti itu sebelumnya.
"Maafkan aku Na!" Batin Dean sembari melirik ke arah mobilnya.
Sepuluh menit kemudian, Naina keluar dari mobil dengan rambut yang telah di ikat rapi kembali. Mata dan hidungnya masih merah, tapi ia sudah terlihat lebih tenang.
"Mommy,," Rissa langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Naina. Naina pun langsung menyambutnya.
"Are you okay Mom?"
"Yes, I'm fine baby." Jawab Naina lembut. "Rissa bisa tunggu di mobil sebentar? Mommy mau bicara sama Om Dean."
Rissa mengangguk. Naina lalu mengantar Rissa masuk ke mobil. Ia lalu menghampiri Dean yang masih berdiri menatap hamparan ribuan pohon teh yang disinari oleh sang surya.
"Maaf De,," Ucap Naina sembari ikut menatap hamparan perkebunan teh.
"Aku yang harusnya minta maaf Na. Aku terlalu lancang mencampuri kehidupanmu." Sahut Dean sambil menoleh dan memandangi wajah Naina.
"Ayo kita lanjutkan perjalanannya! Kasihan Rissa jika nanti terlambat." Ajak Naina sambil membalikkan badan dan masuk ke mobil. Dean pun akhirnya mengikuti langkah Naina. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
Suasana di dalam mobil begitu hening. Hanya Rissa yang sesekali bertanya sesuatu pada Dean atau Naina. Hingga dua puluh menit kemudian mereka sampai di lokasi syuting.
Bersamaan dengan itu, datang sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam. Mobil itupun terparkir tepat di sebelah mobil Dean. Dan disaat bersamaan dua mobil itu membuka pintunya bersamaan pula.
__ADS_1
Dean berpapasan dengan laki-laki pemilik mobil itu. Dua laki-laki itu sempat tertegun bersamaan. Mata mereka saling bertemu tatap. Tapi Dean segera mengalihkan perhatiannya dan membantu Rissa menyiapkan perlengkapannya.
"Kenapa dia ada disini?" Batin laki-laki pemilik MPV yang tak lain adalah Delvin Dewangga, sepupu Dean.
Naina pun ikut turun, tapi ia memakai masker yang telah ia siapkan dari rumah. Ia tak ingin wajahnya dikenali banyak orang. Sedang Rissa, ia menikmati pemandangan para kru film yang berlalu lalang dan sibuk dengan urusannya.
"Apa kau masih memiliki yang lain Na?" Tanya Dean.
"Apa?"
"Masker."
"Sebentar, aku ambilkan di tas." Naina pun mengambilkan masker untuk Dean di tas yang ia simpan di bagasi mobil.
"Kenapa kau ingin memakainya? Bukankah wajah tampanmu akan tertutupi nantinya." Ucap Naina saat ia menyerahkan masker Dean di belakang mobil dengan pintu bagasi yang masih terbuka.
Dean tersenyum kecil mendengar ucapan Naina. "Apa katamu tadi? Aku tampan?"
Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Naina. Menatap mata hitam Naina yang tak tertutupi masker. Ia memainkan sebelah alisnya.
Aahh, pipi Naina serasa panas tiba-tiba. Andai ia tak memakai masker, pasti pipinya terlihat merona karena perlakuan Dean. Ia menjadi salah tingkah dan sedikit gugup.
"Oh? Aku salah ya? Maaf." Ucap Naina singkat. Ia lalu berlalu meninggalkan Dean dan menghampiri Rissa sembari menenangkan perasaannya. Dean tersenyum kecil sambil memakai maskernya.
Deg. "Delvin?" Batin Naina.
"Mommy, itu Om Delvin Mom!" Teriak Rissa girang. Ia sampai berjingkrak-jingkrak saking gembiranya.
"Iya sayang. Tapi jangan berteriak!" Ucap Naina setelah mensejajarkan tubuhnya dengan Rissa. Rissa masih setia menatap wajah tampan Delvin yang sedang dikerumuni beberapa orang.
"Astaga, Dean?" Batin Naina yang langsung menoleh ke arah bagasi mobil. Ternyata Dean sudah berada tepat dibelakangnya. Ia segera berdiri.
"Maaf De,," Ucap Naina tulus.
"Untuk apa?"
"Eemm, Delvin,," Naina melirik ke arah Delvin sedikit.
"Kenapa dengannya?" Tanya Dean datar.
"Aku tahu sedikit ceritamu dengannya. Mama pernah menceritakannya padaku." Jujur Naina.
Iya, Naina tahu kisah Dean dan Delvin. Dean dan Delvin yang dulu sangat dekat, hingga akhirnya hubungan itu hancur karena kemarahan Dean pada Delvin yang telah mengabaikan Rhea dan menjadi penyebab hilangnya nyawa Rhea.
Deg. Dean terdiam. Ia terpaku mendengar ucapan Naina. Ia tak tahu, jika Naina dengan mamanya sudah sangat dekat. Hingga mamanya sudah menceritakan masa lalu itu pada Naina.
"Maaf, aku tak mengatakannya tadi." Ucap Naina karena tak mendapat tanggapan dari Dean. Hatinya sangat menyesal karena telah menerima tawaran Dean pagi ini.
"Sudahlah. Tak usah difikirkan. Aku tak ada urusan dengannya. Urusanku disini, denganmu dan Rissa. Oke?" Sahut Dean sesantai mungkin. Ia tak ingin membuat Naina merasa bersalah.
"Lagi pula, aku sudah mengetahuinya sejak kemarin. Rissa yang menceritakannya." Jujur Dean seraya meraih tubuh Rissa dalam gendongannya.
Naina tergelak karena ulah Dean. Ia tersenyum kecil di balik maskernya. "Andai itu adalah Delvin, pasti Rissa akan sangat bahagia karena bisa merasakan kasih sayang ayahnya."
"Rissa sama Mommy ya! Om yang bawa perlengkapanmu" Ucap Dean seraya menyerahkan Rissa pada Naina.
__ADS_1
Rissa mengangguk patuh. Ia lalu di gendong oleh Naina bersamaan denga Dean yang membawa beberapa keperluan Rissa. Mereka lalu berjalan ke tempat yang sudah disiapkan kru film untuk Rissa.