Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Dekat


__ADS_3

"Ehem,,"


Suara deheman seseorang mengalihkan perhatian dua manusia yang sedang menikmati waktunya itu. Mereka menoleh ke arah pintu yang berada dibelakang mereka.


"Mama?"


Dean dan Naina sama-sama menoleh hanya karena suara deheman Lita. Bahkan ada empat pasang mata sedang memperhatikan mereka ternyata saat ini. Hhaha, terciduk mereka. Bahkan oleh Rissa juga.


Dean merasa sedikit kikuk karena terciduk berduaan dengan Naina. Tapi tidak dengan Naina. Ia merasa biasa saja sembari menikmati masakan Dean.


"Mommy pacaran ya sama Om Dean?" Celetuk Rissa tanpa basa-basi.


Uhuk, uhuk, uhuk.


Naina yang tadi santai langsung tersedak karena ucapan gadis berusia lima tahun itu. Dean pun refleks mengambil gelas berisi teh dan memberikannya pada Naina. Naina pun langsung menerimanya dan meminumnya. Semua tertawa kecil mendengar ocehan Rissa.


"Kamu bicara apa sayang?" Tegur Naina setelah tenggorokannya membaik.


"Kata Alfred, kalau laki-laki sama perempuan berduaan itu pacaran. Kan Mommy sama Om Dean berduaan tadi. Jadi Mommy sama Om Dean pacaran dong?" Jelas Rissa dengan wajah polos.


"Alfred siapa cantik?" Tanya Dean.


"Teman Rissa di sekolah Om." Jujur Rissa dengan wajah manisnya.


Naina segera meletakkan piringnya. Ia lalu merentangkan tangannya ke arah Rissa. Rissa pun menghambur ke pelukan Naina dengan gemas.


"Tadi Om Dean cuma nganterin makanan buat Mommy sayang. Dan satu lagi, kalau laki-laki sama perempuan berduaan, belum tentu mereka pacaran sayang. Kamu juga masih kecil, nggak usah mikirin hal-hal kayak gitu. Oke?" Jelas Naina lembut.


"Iya Mom,,"


"Kamu sudah makan sayang?" Tanya Naina.


"Udah Mom. Tadi sama Tante Sinta."


Mereka pun kembali menikmati suasana sore. Kini mereka berada di halaman belakang rumah Naina. Naina pun kembali melanjutkan makannya ditemani Lita. Sedang Rissa, asik bermain dengan Sinta, Dean dan Niko.


"Kenapa mereka bisa begitu cepat akrab? Rissa tak pernah seperti itu sebelumnya. Ia bahkan tak bisa sedekat itu dengan Mas Ben, yang sudah sering ia temui." Batin Naina.


"De, kapan kamu mau menikah nak? Mama ingin segera melihatmu seperti itu dengan anakmu nanti. Apakah mungkin, Naina mau menerima Dean?" Batin Lita sambil melirik Naina yang masih mengunyah makanannya.


Hingga senja menjelang. Dean dan Lita pun berpamitan pulang. Niko dan Sinta pun ikut berpamitan pada Naina.


"Mom, Om Dean baik banget ya Mom." Celetuk Rissa kala ia sudah bersiap untuk tidur ditemani oleh Naina malam ini.


"Iya. Rissa suka sama Om Dean?"


"Iya Mom. Om Dean ganteng lagi."


Naina tersenyum kecil mendengar ucapan Rissa. "Tidurlah! Besok kita harus ke puncak buat syuting. Kita harus bangun pagi. Oke?"


Rissa mengangguk. Ia pun mulai memejamkan matanya dan telelap dalam dekapan sang ibu. Setelah Rissa terlelap, Naina membiarkan Rissa tidur sendiri seperti biasa. Ia pun kembali ke kamarnya untuk istirahat.


Naina merebahkan tubuhnya di kasurnya dan sejenak merenung di kamarnya. Memikirkan kejadian hari ini yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Mungkin karena Dean bersaudara dengan Delvin, jadi Rissa terlihat mirip dengannya." Gumam Naina.

__ADS_1


Wajah Rissa memang terlihat mirip dengan Dean. Terlebih, mata biru yang sangat jarang ditemui pada orang-orang di Indonesia. Sinta dan Niko pun sempat menyadari itu tadi, tapi mereka memilih diam.


"Semoga esok tak ada yang menyadari jika Rissa adalah putri Delvin. Aku tak akan bisa memberi alasan jika ditanyai tentang kemiripan mereka."


Naina menghela nafas panjang. Perasaannya benar-benar tak tenang. Ia takut jika setelah Rissa bertemu Delvin, mereka akan menyadari kemiripan itu. Dan akan ada isu-isu tak sedap yang menerpanya.


Pikiran Naina mulai berkelana jauh. Ia memikirkan hal-hal buruk yang bisa terjadi. Ia memutuskan keluar kamar dan mencari udara segar di teras belakang. Tapi tiba-tiba, bayangan Dean tadi siang, menghampiri Naina dan menari indah di pelupuk matanya.


"Kenapa aku jadi teringat pada Dean? Hiisshh,," Gerutu Naina.


Naina mulai kesal sendiri karena teringat perlakuan manis sang pebisnis muda yang hari ini datang ke rumahnya. Laki-laki yang selama ini ia perlakukan acuh dan ketus ketika bertemu. Tapi ternyata, laki-laki itu tetap bersikap manis padanya setelah semua perlakuan kurang baiknya.


Malam semakin larut. Naina masih menikmati waktunya di teras belakang. Hingga hampir tengah malam, rasa kantuk mulai menghampirinya. Pikirannya pun mulai sedikit tenang. Ia akhirnya kembali ke kamarnya dan beristirahat.


...****************...


Di tempat lain, sepasang suami istri paruh baya sedang mengobrol santai sebelum mereka pergi beristirahat di kamarnya. Sang istri sedang memandangi foto dua orang anak kecil yang tengah berpelukan hangat.


"Mama rindu sayang!" Gumam Lita.


Lita masih asik memandangi foto kedua anaknya ketika masih kecil. Dean dan Rhea.


"Sudahlah Ma, biarkan Rhea tenang disana!" Ucap Jonathan sembari mengambil foto yang dari tadi dipegangi Lita.


Lita hanya mengangguk. "Papa tahu, hari ini Mama bertemu gadis kecil yang mirip dengan Rhea saat kecil. Hanya saja, bola matanya seperti milik Dean, berwarna biru."


"Siapa Ma?" Tanya Jonathan sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


"Dia putri Naina. Wanita yang pernah Mama kenalkan ke Papa waktu itu."


"Dia sudah menikah?"


"Dan ternyata, Naina seorang pebisnis muda yang cukup hebat Pa. Dia menyembunyikannya sangat baik. Asistennya ternyata berpacaran dengan Niko. Dan Niko ternyata juga tak tahu tentang itu."


"Niko, asistennya Dean?"


"Iya Pa."


"Wah, dia sangat tertutup ternyata. Mama harus lebih hati-hati dengannya."


"Mama sih nggak begitu memikirkan itu Pa. Yang Mama fikirkan, kedekatan Dean dengan Rissa."


"Rissa?"


"Iya Rissa, putri Naina."


"Mereka sudah saling kenal?"


"Belum Pa. Mereka juga baru pertama kali bertemu."


"Benarkah?"


"Iya Pa. Kita tahu sendiri, Dean tak pernah bisa berdekatan dengan anak kecil. Tapi hari ini, dia bahkan bermain dengan Rissa seharian. Mereka langsung dekat Pa."


Jonathan menatap wajah Lita. "Kamu nggak bercanda kan Ma?"

__ADS_1


"Enggak Pa. Bahkan Dean nggak segan gendong Rissa waktu bermain di taman belakang rumah."


Jonathan mencerna setiap kalimat Lita. Ia tahu betul, jika putranya tak pernah seperti itu pada anak kecil. Ia bahkan terkadang terlihat sangat tidak nyaman jika berdekatan dengan anak kecil. Dean bahkan memilih menjauhi para keponakannya yang masih kecil jika sedang berkumpul dengan keluarga ayahnya di Jerman.


"Apa Papa setuju, jika kita jodohkan Naina dengan Dean?"


"Dean menyukai Naina?"


"Iya. Ternyata, Dean sudah lama tertarik dengan Naina."


"Oh ya?"


"Kemarin waktu Mama kenalin mereka, Dean langsung meluk Naina. Tapi langsung dikunci lengannya oleh Naina. Dan Dean, tak melawan sedikit pun Pa. Padahal itu di resto dan baru ramai pengunjung." Lita bercerita penuh semangat.


"Dean sepertinya serius dengan Naina." Sahut Jonathan santai.


"Iya Pa. Gimana menurut Papa?"


"Papa nggak keberatan Ma. Asal Dean tak kembali seperti dulu dan mereka bisa saling menerima."


"Beneran Pa?"


"Iya Ma."


"Oke. Kalau begitu, Mama butuh bantuan Papa. Dan yang pasti, butuh bantuan Niko dan kekasihnya juga." Gumam Lita dengan seringai penuh makna diwajahnya.


"Besok lagi aja Ma. Kita istirahat dulu, udah malam. Papa capek."


"Iya Pa."


Lita pun akhirnya mengikuti suaminya menarik selimut dan mengistirahatkan badannya. Mulai beristirahat dengan banyak ide dikepalanya untuk sang putra tercinta.


...****************...


Pagi menjelang. Sinar sang surya pun telah menelusup dan menembus jendela-jendela kaca di rumah gadis kecil yang pagi ini sangat bahagia.


Bagaimana tidak? Keinginannya untuk menjadi artis, sudah di depan mata. Langkah pertamanya akan segera dimulai. Bisa bermain di sebuah film dengan lawan main yang tak lain adalah idolanya sendiri, sungguh diluar dugaan Rissa.


"Sudah siap sayang?" Tanya Naina kala ia keluar kamar dan mendapati Rissa sudah siap dengan tas kecil di punggungnya.


"I'm ready Mom." Sahut Naina mantap.


Naina melirik jam tangannya. "Kita sarapan dulu ya! Masih ada waktu."


Rissa hanya mengangguk. Mereka lalu berjalan menuju meja makan. Atun telah selesai memasak pagi sekali sesuai permintaan Naina.


Tok, tok, tok.


"Biar saya yang buka Mbak!" Naina segera berdiri.


Terdengar sedikit gaduh di depan pintu. Terdengar suara dua orang laki-laki yang sedang berbincang, tapi terdengar sedikit tidak akur.


"Siapa pagi-pagi ribut? Ini bahkan belum ada jam enam." Gumam Naina seraya memutar kunci.


Ceklek, pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Dokter Juan? Dean?" Naina menatap dua orang pria yang berada di depan pintu rumahnya.


"Kalian ada apa kesini pagi-pagi sekali?" Tanya Naina penuh kebingungan.


__ADS_2