
Kematian. Menjadi misteri yang tak pernah terpecahkan. Kapan dan dimana hal itu akan terjadi, tak ada seorang pun yang tahu. Semua menjadi rahasia Yang Maha Kuasa.
Dean masih sibuk dengan pekerjaannya di senja ini. Ia tak bisa memfokuskan pikirannya sejak siang tadi, hingga membuat pekerjaannya semakin menumpuk. Hatinya masih gelisah dengan alasan yang tak ia ketahui. Tapi hanya satu nama yang membuat hatinya tidak tenang. Naina.
"Astaghfirullah. Kenapa aku seperti ini?" Gumam Dean setelah menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.
Dean memejamkan matanya. Mencoba mengingat sosok Naina yang saat ini begitu mengganggu pikirannya. Mencoba merangkai kenangan bersama Naina yang pernah mereka lalui.
"Ah ya, aku bisa mencari informasinya di internet."
"Mama tak akan tahu bukan jika aku mencari informasinya di internet." Gumam Dean sumringah.
Dean pun segera menegakkan punggungnya dan bersiap mencari informasi Naina di internet. Atau pun jika tidak, informasi terakhir tentang saudara sepupunya, Delvin.
Dean segera mengetikkan nama Naina di mesin pencari di internet. Tapi ternyata tidak berhasil. Ia lalu mengetikkan nama Delvin di komputernya. Dan ternyata juga tidak berhasil.
"Bagaimana bisa?" Geram Dean.
Dean tak tahu, Jelita telah memblokir akses internet di ponsel dan kantor Dean. Ia tahu, hal ini akan terjadi suatu saat. Dean mencari informasi Naina melalui internet. Jadi, Jelita meminta seseorang untuk memblokir akses internet Dean jika ia berusaha mencari informasi Naina ataupun Delvin.
"Ini pasti ulah Mama."
"Dan mungkin, ini cara Allah agar aku bisa melepaskannya." Gumam Dean.
Dean akhirnya mengalah pada keadaannya. Ia tak tahu lagi, bagaimana cara agar bisa mengetahui secara jelas kabar Naina saat ini. Ia kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya sembari menatap ke arah jendela, yang melukiskan keindahan langit Kota Munich sore ini.
"Semoga kamu baik-baik saja Na. Dan hidup bahagia dengannya." Gumam Dean.
Dean menghela nafas beratnya. Ia berusaha sekuat hati melepaskan Naina secara perlahan. Meski hatinya tak menginginkannya.
Di sisi lain, Naina masih berjuang dengan kondisinya yang masih ditangani oleh para dokter dan perawat. Meski tak banyak luka di tubuhnya, tapi karena kepalanya yang terbentur ke lantai dengan cukup keras dan mengalami pendarahan, ia kehilangan cukup banyak darah saat sampai di rumah sakit. Dan itu membuat kondisinya kritis.
"Kami sudah melakukan yang terbaik. Pasien kehilangan banyak darah sebelum sampai di rumah sakit. Sekarang, kita hanya perlu berdo'a yang terbaik untuknya." Ucap salah seorang dokter yang baru saja selesai menangani Naina.
Tubuh Sekar merosot begitu saja ke lantai. Airmatanya pun mengalir deras seketika. Ia tak menyangka, kondisi Naina seburuk itu. Wiliam segera memeluk Sekar dengan penuh perhatian.
Sedangkan Rissa, segera berlari menghampiri ibunya yang masih belum sadarkan diri di salah satu bilik ruang IGD.
"Mommy! Rissa di sini Mom. Bangunlah Mom! Rissa janji, Rissa tak akan membantah semua yang Mommy katakan. Rissa akan menuruti semua permintaan Mommy. Rissa juga tidak akan menanyakan siapa ayah Rissa lagi Mom. Tapi bangunlah Mom, bangun!" Ucap Rissa histeris di samping tubuh Naina yang terbujur lemah di atas ranjang sambil menggoyangkan tangan Naina.
Sinta segera menghampiri Rissa yang menangis di samping Naina. Sinta pun tak dapat menahan air matanya melihat sepasang ibu dan anak yang setiap hari menjadi temannya menghabiskan waktu itu.
Sinta segera meraih tubuh mungil Rissa dan memeluknya lembut.
"Tante, kenapa Mommy belum bangun? Rissa sudah berjanji untuk tidak nakal lagi pada Mommy. Tolong bangunkan Mommy Tante!" Rengek Rissa polos di pelukan Sinta.
"Sabarlah sayang! Kita sekarang harus lebih banyak berdo'a untuk Mommy, agar ia segera sadar dan membaik." Saran Sinta tulus.
__ADS_1
"Mommy!"
Rissa akhirnya memeluk erat tubuh Sinta. Ia sebenarnya cukup paham kondisi Naina saat ini. Gadis kecil Naina itu, kini mendadak polos karena takut kehilangan ibunya.
Bertepatan dengan itu, Jonathan dan Jelita pun tiba di ruang IGD rumah sakit. Jonathan dan Jelita segera menghampiri Niko yang terduduk lemas di salah satu kursi yang ada di ruang IGD.
"Bagaimana keadaan Naina?" Tanya Jelita cepat.
Niko yang menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada Dean, karena gagal memenuhi permintaan Dean dan Jelita untuk menjaga Naina, tidak menyadari kedatangan Jonathan dan Jelita. Niko segera mengangkat kepalanya setelah mendengar sapaan itu.
"Tuan? Nyonya?" Ucap Niko seraya berdiri.
"Bagaimana kondisi Naina? Dimana dia sekarang?" Tanya Jelita cemas.
"Nona,,,"
"Nona ada di sana Nyonya, masih belum sadar." Jawab Niko sambil menunjuk ke salah satu bilik IGD.
"Kepalanya terluka dan kehilangan banyak darah sebelum sampai di rumah sakit. Pihak medis sudah melakukan yang terbaik untuk Nona Naina tadi." Imbuh Niko.
Jelita hanya menatap sekilas pada Sekar yang masih terduduk lemas di atas lantai. Ia segera menghampiri Naina sesuai petunjuk Niko. Sinta dan Rissa yang ada di dekat Naina, langsung menoleh pada Jelita yang datang mendekati Naina. Sinta sedikit menganggukkan kepalanya untuk menyapa Jelita, tapi Jelita terlalu fokus pada Naina.
"Bangunlah Sayang! Mama di sini. Maafkan Mama, Mama tak bisa menjagamu dengan baik!" Ucap Jelita sambil mengusap lembut wajah Naina yang sedikit pucat.
Airmata Jelita mengalir begitu saja melihat kondisi Naina. Kepala Naina dililit kain perban setelah menerima beberapa jahitan. Ada bekas luka lebam di wajahnya.
"Kita pindahkan Naina ke Ibrahim Medical Center Pa! Disana lebih bagus dan lebih lengkap fasilitasnya. Naina harus mendapatkan perawatan terbaik." Usul Jelita cepat sambil menoleh ke arah Jonathan.
Jelita tetaplah seorang ibu. Ia sudah menyayangi Naina sebagaimana ia menyayangi putrinya sendiri. Meski ia sempat menolak kenyataan masa lalu Naina, tapi rasa sayang itu tak bisa hilang begitu saja. Dan ia tidak bisa melihat putrinya dengan kondisi seperti itu.
"Tenanglah Ma! Kita bicarakan itu dengan pihak rumah sakit dan kerabat Naina nanti! Sekarang, kabari putramu! Aku yakin, hatinya sedang gelisah saat ini. Dan biarkan dia datang kemari!" Ucap Jonathan penuh perhatian sambil menatap wajah istrinya.
Jelita menoleh pada Naina. Sinta yang masih berusaha menenangkan Rissa pun menoleh pada Jonathan dan Jelita seketika. Ia tak menyangka, Jonathan bisa berkata selembut itu pada istrinya mengenai Naina.
Jelita tiba-tiba keluar dari bilik yang di tempati Naina tanpa berucap apapun. Jonathan pun segera mengikuti langkah Jelita, yang ternyata menuju keluar dari ruang IGD.
"Kita pulang Pa!" Ajak Jelita cepat.
"Apa maksud Mama?" Sahut Jonathan bingung.
"Pulang ya pulang Pa." Jawab Jelita ketus sambil berjalan menuju tempat parkir mobilnya.
"Bagaimana dengan Naina Ma?" Tanya Jonathan makin bingung.
"Biar Mama urus itu nanti!" Jawab Jelita singkat.
Jelita benar-benar melakukan ucapannya. Ia mengajak Jonathan pulang segera dari rumah sakit itu. Tanpa berpamitan pada siapapun.
__ADS_1
Jelita berusaha mengalihkan perhatian Jonathan dari permintaannya tadi, untuk mengabari Dean tentang kondisi Naina. Ia masih belum siap jika Dean harus kembali menjalin hubungan dengan Naina yang memiliki masa lalu kurang baik.
Meski sebenarnya, hatinya sangat mengkhawatirkan kondisi Naina dan sangat ingin mendampingi Naina saat ini.
Jonathan hanya bisa mengalah kembali pada istrinya. Ia tak ingin membuat keributan di tempat umum. Ia yakin, istrinya itu sudah memiliki rencana yang lebih baik saat ini. Meski ia tak tahu apa itu.
Setelah pengurusan administrasi rawat inap, Naina dipindahkan ke ruang ICU. Ia harus menjalani perawatan intensif dengan kondisinya saat ini.
Sekar dan Rissa masih setia menunggu Naina membuka matanya. Mereka menunggu Naina di rumah sakit bersama. Sedang yang lainnya, diminta Sekar untuk pulang lebih dahulu, termasuk suaminya, Wiliam.
Karena kelelahan, Rissa pun terlelap dengan cepat di ruang tunggu pasien. Sekar masih setia menemani Naina sambil mengabari Lea dan Hera tentang keadaan Naina. Dua wanita itu pun segera bersiap kembali mengunjungi Naina setelah mendengar kabarnya.
Semua berharap yang terbaik untuk Naina. Mereka ingin Naina kembali sadar dan pulih dengan cepat setelah apa yang ia alami.
Di tempat lain, Delvin dan Jenita sudah langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan ditetapkan sebagai tersangka atas kasus hilangnya Naina dalam beberapa hari. Joe sudah menyiapkan tim pengacara terbaiknya untuk membuat Delvin dan Jenita merasakan nikmatnya hidup dalam jeruji penjara dalam waktu yang tidak sebentar.
Dua hari berlalu.
Pagi yang cukup cerah di atas langit rumah sakit dimana Naina dirawat. Naina masih belum membuka matanya sampai saat ini. Meski dokter sudah mengatakan masa kritis Naina sudah terlewati sejak kemarin, tapi belum ada tanda-tanda Naina siuman. Mereka masih setia berdo'a demi kesembuhan Naina.
"Mommy! Mommy!" Panggil Rissa sumringah saat melihat ibunya membuka matanya perlahan dari luar ruang ICU.
"Tenanglah Sayang!" Pinta Sekar yang sedang menyiapkan sarapan untuk Rissa.
"Mommy sudah bangun Oma. Look!" Jujur Rissa bahagia.
Sekar segera mengalihkan pandangannya ke arah Naina yang terhalang oleh dinding kaca dengannya. Ia pun bisa melihat Naina yang sudah membuka matanya dan beberapa perawat mulai memeriksa kondisi Naina.
Sekar tersenyum lega. Ia pun segera mengabarkan hal itu pada Wiliam, Sinta, Lea dan Hera. Mereka pun bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi Naina.
Satu hari kemudian, Naina dipindahkan ke ruang rawat inap oleh dokter yang menanganinya. Kondisinya sudah cukup stabil. Dan karena hal itu, Sekar segera meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Naina ke rumah sakit terbaik yang ada di ibukota. Ia ingin Naina mendapatkan perawatan terbaik di sana, sama seperti Jelita.
Pihak rumah sakit pun menyetujui permintaan Sekar setelah memastikan kondisi Naina cukup stabil untuk dipindahkan. Naina pun dipindahkan ke Ibrahim Medical Center sesuai arahan Niko yang juga sudah mendapatkan perintah dari Jelita.
Jelita sungguh bingung terhadap dirinya sendiri. Ia sungguh ingin merawat dan menemani Naina disaat-saat sulitnya seperti saat ini. Tapi ganjalan di hatinya tentang masa lalu Naina dan kebenaran ayah Rissa yang belum jelas, membuatnya sedikit menahan hasrat hatinya itu.
Jelita akhirnya hanya meminta Niko untuk melaporkan setiap kondisi Naina. Ia juga memerintahkan pengawalnya untuk mengawasi Naina dari jauh untuk memantaunya.
Saat Naina sudah stabil kondisinya, ia memberikan pernyataannya kepada pihak kepolisian untuk menjadi bukti dan saksi yang akan memberatkan hukuman Delvin dan Jenita dalam sidang esok.
Naina pun akhirnya pulih dengan cepat karena perhatian dari semua orang yang menyayanginya. Ia bisa kembali ke rumah setelah sepuluh hari berada di Ibrahim Medical Center, rumah sakit terbaik yang ada di negara ini.
Naina menapaki hari baru dalam hidupnya setelah kejadian buruk yang menimpanya. Ia mulai menata kembali lembaran kehidupannya dengan harapan baru yang mulai tertata indah dalam sanubarinya. Bersama orang-orang yang menyayanginya tentunya.
Tak ada kata terlambat untuk menjalani kehidupan ini dalam keadaan yang lebih baik. Semua akan ada waktunya untuk kita merasakan kehidupan yang lebih baik itu.
Meski tak semua yang kita harapkan terlaksana dengan baik, tapi hal itulah yang membuat kita bisa lebih bersyukur atas apa yang sudah kita miliki sampai saat ini. Dan berusaha lebih baik lagi untuk kehidupan yang lebih baik lagi.
__ADS_1