Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Tak Terduga


__ADS_3

Perasaan. Hal yang wajar bagi setiap yang memiliki hati. Setiap makhluk pasti memilikinya. Entah itu bahagia, sedih, marah, cemburu, atau apapun. Kita hanya perlu mengaturnya. Agar tak menjebak kita dalam situasi yang tak kita harapkan.


"Aku merindukanmu Na." Ucap Dean lembut dengan tatapan yang penuh perhatian.


Naina terpaku mendengar ucapan Dean. Kalimat itu, menelusup sempurna di indera pendengaran dan penglihatannya. Netra Naina bisa melihat dengan jelas, Dean mengucapkan kalimat itu dengan sempurna. Telingannya pun bisa mendengar dengan paripurna, kalimat yang mampu menggetarkan hati Naina.


"Aku juga merindukanmu De." Batin Naina, yang juga menatap Dean yang tepat dihadapannya.


Hati Naina berteriak tertahan. Ingin rasanya ia mengucapkan semua isi hatinya. Merengkuh laki-laki yang tengah mengungkungnya itu ke dalam pelukannya. Menumpahkan segala rasa yang ia pendam, jauh di dalam hati.


Ya. Dua insan itu saling merindu satu sama lain. Kesibukan pekerjaan masing-masing, membuat mereka tak sempat saling bertatap muka selama beberapa hari. Dan itu berhasil menumbuhkan rasa rindu di hati masing-masing.


Dean sering mengirimkan pesan atau menelepon Naina disela kesibukannya untuk sekedar melepas rasa rindunya pada Naina. Tapi, Naina tak mengindahkannya. Ia memilih sibuk dengan pekerjaannya demi bisa membunuh perasaan yak tak ia inginkan itu.


Tapi, Naina tak bisa memungkiri, rasa itu masih bertahta sempurna dihatinya dihatinya hingga kini. Meski, sudah berkali-kali ia mencoba untuk membunuhnya.


"Kenapa kau tak pernah menjawab teleponku atau sekedar membalas pesanku, huh? Apa kau marah padaku?" Tanya Dean lembut.


"Jangan seperti ini De! Aku sedang bekerja." Kilah Naina sambil mendorong tubuh Dean agar tak mengungkungnya. Naina pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Dean yang tak siap di dorong, pegangannya pada kursi Naina pun terlepas dan segera menegakkan tubuhnya kembali. Ia menghela nafas dalam karena reaksi Naina.


"Besok aku jemput ya!" Ucap Dean agar mendapatkan perhatian Naina kembali.


"Untuk apa?" Ketus Naina dengan tangan yang sibuk membolak-balik lembaran kertas.


"Ke acara pernikahan Niko dan Sinta."


"Tak perlu! Aku bisa berangkat sendiri."


"Ayolah Na! Aku malas berkendara sendiri sejauh itu." Rayu Dean.


"Kamu bisa mengajak Mama dan Papa bukan? Atau ajak saja pengawalmu. Kamu punya banyak pengawal kan?" Jawab Naina santai.


"Mama dan Papa tak bisa hadir. Papa sedang tak enak badan."


"Papa sakit? Semoga lekas sembuh Pa!" Batin Naina.


"Yasudah, berangkat dengan pengawalmu saja!" Jawab Naina datar, dengan tatapan yang tak lepas dari laporan kafenya.


"Ayolah Na! Aku tak bisa mengobrol banyak jika dengan pengawal."


"Rewel banget kamu De! Kayak ibu-ibu kompleks yang suka ngerumpi nggak jelas." Cibir Naina.


"Enak aja, ganteng-ganteng gini disamain ibu-ibu kompleks yang suka ngerumpi!" Kesal Dean.


Naina hanya diam tak merespon. Ia tak ingin mengobrol panjang lebar dengan Dean saat ini.


"Kamu kenapa sih Na? Marah, tadi aku ikut panggil kamu 'Mommy' kayak Rissa?"


DEG. Naina terpaku sejenak. Ia teringat saat tadi Dean memanggilnya dengan sebutan 'Mommy'.


Sebenarnya ia tak masalah dengan itu. Hanya saja, hatinya bergetar tak karuan kala ia mendengar Dean mengucapkan itu. Ada perasaan bahagia ketika Dean memanggilnya seperti itu. Dan ia kesal, karena tak bisa mengendalikan hatinya sendiri. Naina benar-benar bimbang.


"Ayolah Na! Aku hanya bercanda tadi." Ucap Dean sambil bersandar santai di meja yang ada dihadapan Naina.


"Apa aku harus menikahimu dulu baru bisa memanggilmu 'Mommy' seperti Rissa?" Ucap Dean santai.


Naina langsung menoleh pada Dean. Matanya menatap Dean penuh makna. Ada harapan dan ada kemarahan.


"Jaga bicaramu De!" Bentak Naina.


"Kenapa? Apa salahnya jika aku menikahimu?" Tantang Dean santai.


"Cukup De! Tinggalkan kantorku sekarang!" Gertak Naina marah.


Bukannya Dean menuruti permintaan Naina, Ia malah kembali memutar kursi Naina dan mengungkungnya kembali. Naina menatap Dean kesal.


"Tidak! Sebelum kamu menerima ajakanku tadi." Jawab Dean dengan seringainya.


"Kau mau kuhajar?" Tantang Naina.

__ADS_1


"Apa kau tak tahu? Aku juga pandai bela diri. Mungkin, akan menyenangkan jika kita bertanding di sini." Ucap Dean sambil memainkan alisnya naik turun.


"Aarrgghh, sial!" Batin Naina kesal.


Naina cukup tahu, Dean adalah lawan yang tangguh dalam hal bela diri. Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di rumahnya, ketika Dean bisa menangkis setiap serangan Naina.


"Oke. Aku terima tawaranmu tadi." Ucap Naina agar Dean segera melepaskannya.


Dean pun tersenyum puas. Ia lantas menegakkan kembali badannya.


"Sudah? Sekarang, tinggalkan kantorku!" Pinta Naina masih dalam mode kesal.


"Oke! Oke! Aku akan antar Rissa pulang!" Ucap Dean sebelum ia beranjak pergi.


"Tak perlu! Akan kuantar putriku pulang setelah ini!" Sahut Naina ketus.


"Bye Mommy!" Goda Dean saat ia mulai melangkahkan kakinya untuk keluar kantor sambil melambaikan tangan pada Naina.


Naina tak menggubris ucapan Dean. Ia memilih fokus kembali pada pekerjaannya agar cepat selesai dan segera mengantar putri kesayangannya pulang.


Saat sampai di bawah, Rissa sudah menyelesaikan makannya. Milkshake-nya pun sudah hampir habis.


"Om nggak jadi makan? Kata Mommy, mubadzir Om kalau nggak dimakan." Tanya Rissa saat melihat Dean tak menyentuh makanannya seusai menemui Naina.


"Oh, gitu ya Cantik? Oke! Om makan sebentar ya! Setelah itu, Om antar kamu pulang." Sahut Dean senang.


"Oke Om."


Dean segera menikmati makanan pesanannya yang sudah dingin. Ia pun menghabiskan makanannya dengan cepat. Lalu menepati janjinya untuk mengantar Rissa pulang.


Dean pun menyempatkan berpamitan dan berterima kasih pada Niko dan Sinta sebelum pergi. Setelah itu, ia mengantar Rissa pulang ke rumahnya.


Dan saat mobil Dean meninggalkan kafe, Naina pun turun ke bawah untuk mengantar Rissa pulang.


"Rissa mana Sin?" Tanya Naina saat tak mendapati putrinya di mejanya tadi.


"Baru saja diantar oleh Pak Dean Bu'." Jujur Sinta.


"Iiissshhh,," Kesal Naina.


"Tak apa Sin." Jawab Naina sehalus mungkin.


"Nikmati waktu kalian ya! Aku pergi dulu!" Pamit Naina cepat.


"Baik Bu'." Jawab Sinta sopan.


"Iya Nona." Jawab Niko.


Naina segera melangkahkan kakinya untuk membayar pesanannya. Ternyata, semua sudah dibayar oleh Dean tadi sebelum ia pergi.


Naina pun langsung melenggang pergi meninggalkan kafe untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali ke kantor utamanya.


...****************...


Pagi yang cerah. Menghantarkan semangat tersendiri bagi setiap hati dan jiwa untuk menjalani hari. Memberikan asa yang tak pernah padam untuk setiap rasa yang telah terangkai.


Pagi ini, Dean tengah bersiap untuk mengunjungi pujaan hatinya. Ia bersiap menjemput wanita yang telah berhasil mengisi hari-harinya dengan begitu banyak rasa.


"Ma! Pa! Dean berangkat dulu ya!" Pamit Dean saat melihat kedua orang tuanya masih menikmati Minggu pagi yang santai di halaman belakang rumah.


"Kamu nggak sarapan dulu?" Tanya Lita perhatian.


"Nanti aja Ma, di rumah Naina." Jawab Dean santai.


"Kamu ini! Emangnya di rumah nggak ada makanan apa? Numpang makan terus di rumah Naina." Sindir Lita.


"Ah Mama, kayak nggak pernah muda aja!" Kilah Dean dengan wajah yang mulai merona.


"Lihat Pa! Anak kita kayak ABG lagi. Digoda dikit aja, pipinya udah merah." Goda Lita bahagia.


"Biarlah Ma! Yang penting dia nggak kayak dulu lagi aja." Sahut Jonathan santai.

__ADS_1


"Enggak Pa! Dean janji, nggak akan kayak dulu lagi!" Jawab Dean yakin.


"Itu baru anak Papa!" Jonathan tersenyum hangat pada putranya.


"Makasih Pa!"


Dean segera memeluk papanya yang sedang tak enak badan. Usia yang terus bertambah, membuat Jonathan tak sebaik dulu kesehatannya. Apalagi, dia masih sering terbang ke Jerman untuk mengurursi bisnis ekspor-impornya. Membuatnya sering kelelahan dan kesehatannya menurun.


"Mama nggak dipeluk?" Cibir Lita.


"Iya! Iya Ma!"


Dean pun segera beralih nemeluk tubuh mamanya yang berada di sebelah Jonathan.


"Dean berangkat ya Ma, Pa!" Pamit Dean lagi.


"Ini! Tolong berikan pada Niko dan istrinya! Ucapkan permintaan maaf kami, tak bisa hadir di pernikahannya!" Ucap Jonathan sembari memberikan sebuah kotak kecil pada Dean.


"Oke Pa! Nanti Dean sampaikan." Jawab Dean santai.


Dean lantas menyalami tangan kedua orang tuanya. Ia pun segera berangkat ke rumah Naina dengan perasaan yang berbunga-bunga.


"Aahh, seharian bersama Naina!" Gumam Dean sambil menyetir dengan senyum yang terkembang indah di bibirnya.


Dean segera memencet bel rumah Naina saat ia sudah sampai di depan pintu. Tak lama, pintu pun terbuka.


Dean tertegun melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita yang nampak sangat anggun dengan gaun brokat hitam hingga sebatas betis kakinya. Warna kulitnya yang putih, sungguh terlihat sangat kontras dengan warna gaunnya.


Rambut panjang hitam yang ditata sedikit bergelombang. Tergerai indah hingga sedikit menutupi bagian bahunya. Naina nampak sangat paripurna pagi ini.


"De! De!" Panggil Naina sambil melambaikan tangannya di depan wajah Dean.


"De! Kamu kesambet?" Bentak Naina.


"Eh,," Dean pun tersadar dari lamunannya.


"Kamu cantik Na." Puji Dean tanpa ragu.


Ahaaaa. Hati Naina bahagia tak terkira. Ia ingin mengulas senyumnya karena pujian sederhana dari Dean. Tapi, ia tahan sekuat mungkin.


Naina ingat benar, bagaimana tadi pagi ia seperti ABG yang akan melakukan kencan pertamanya. Ia bingung mengenakan pakaian apa untuk menghadiri acara pernikahan Sinta nanti. Mengingat, ia akan pergi bersama Dean.


Dan setelah beberapa pilihan gaun yang ia jejerkan di atas kasurnya, pilihannya jatuh pada gaun hitam yang ia kenakan sekarang. Gaun yang tak begitu mewah. Tapi nampak cukup elegan dan pas di badannya.


"Makasih." Sahut Naina singkat sembari mengatur perasaannya.


"Masuklah!" Imbuh Naina.


Dean pun tersenyum lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah Naina.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Naina.


"Belum. Aku ingin sarapan denganmu di sini." Jujur Dean.


Naina yang berjalan di depan Dean, segera menghentikan langkahnya dan berbalik badan menoleh pada Dean. Dean kembali mengulas senyum manisnya.


"Oh Tuhan! Kuatkan hatiku!" Batin Naina cemas saat melihat senyuman Dean.


Naina menghela nafas pendek tanpa berkomentar. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan bersama Dean. Rissa pun langsung menyapa Dean dengan bahagia.


Saat semua akan mulai menikmati sarapannya, bel rumah Naina kembali berbunyi. Dean yang memang belum memulai makannya, ia berdiri dari kursinya.


"Biar aku yang buka pintu!" Ucap Dean yakin.


Naina yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya, hanya diam. Dean pun berjalan ke arah pintu depan.


DEG. Mata Dean membola sempurna kala melihat siapa tamu Naina pagi ini. Seorang laki-laki yang sangat ia kenali.


"Kau?" Ucap Dean dan laki-laki itu bersamaan.


"Siapa De?" Tanya Naina dari arah dalam rumah.

__ADS_1


Naina pun melihat siapa tamunya yang ada di balik pintu.


"Delvin?" Ucap Naina terkejut kala melihat tamunya.


__ADS_2