Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Rahasia Naina


__ADS_3

Suara kicau burung, saling bersahutan menyambut indahnya hari. Bersatu padu dengan hembusan angin yang bertiup sejuk di antara rumah-rumah yang berdiri dengan gagahnya. Memberi semangat tersendiri bagi setiap raga yang bernyawa.


Matahari sudah meninggi dan mencapai puncaknya. Memberikan sejuta manfaatnya bagi setiap insan dan rasa yang mulai bertumbuh seiring berjalannya waktu.


"Ma, Delvin dengar Naina sudah pulang dari rumah sakit kemarin. Mama jadi mau ketemu Naina?" Tanya Delvin saat ia sampai di lantai satu rumahnya.


"Jadi dong! Kamu ada jadwal syuting nggak hari ini?" Jawab Jenita antusias sembari meletakkan ponselnya dan menoleh pada putranya.


"Ada Ma. Tapi masih nanti sore."


"Yaudah, kita ke rumah Naina sekarang aja!" Ajak Jenita cepat.


"Mama siap-siap dulu aja! Delvin tunggu di sini." Ucap Delvin sambil menjatuhkan pantatnya di sofa yang ada di ruang keluarga, yang bersebelahan dengan tempat duduk Jenita.


"Sebentar, Mama ganti baju!"


Jenita segera beranjak dari duduknya. Ia pun segera kembali ke kamarnya dan bersiap untuk pergi ke rumah Naina bersama putra semata wayangnya.


"Kalau mereka menolak kita lagi bagaimana Vin?" Tanya Jenita khawatir.


"Enggak lah Ma. Kemarin kan asisten Naina bilang, Naina nggak suka diganggu jika sedang di rumah sakit. Sekarang kan dia sudah pulang." Jawab Delvin santai sambil berjalan keluar rumah bersama mamanya.


"Bener juga." Jawab Jenita sekenanya.


Delvin dan Jenita pun segera masuk ke mobil. Delvin pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Naina. Ia sebenarnya juga khawatir dengan kondisi Naina. Tapi mau bagaimana lagi, Sinta sudah jelas menolak kehadirannya kemarin saat Naina masih di rumah sakit. Ia tak ingin membuat citra buruk di depan Naina. Atau hal itu akan menggagalkan rencana yang sudah ia buat bersama mamanya.


Sedang di tempat lain, saudara kembar Jenita Dewangga, juga tengah bersiap untuk melihat kondisi Naina yang baru saja kembali dari rumah sakit. Meski ia kemarin sempat menunggui Naina di rumah sakit menggantikan putranya, tapi ia tetap saja khawatir dengan keadaan Naina.


"Mama mau kemana siang-siang gini?" Tanya Jonathan saat melihat istrinya sudah berdandan rapi sambil menenteng tas branded keluaran terbaru.


"Mau ke rumah Naina Pa. Dia baru saja pulang dari rumah sakit kemarin. Dean juga kesana tadi pagi." Jelas Jelita.


"Syukurlah kalau dia sudah pulang dari rumah sakit."


"Papa mau ikut?"


"Enggak Ma. Papa ada janji dengan Tuan David nanti." Jujur Jonathan.


"Oke Pa. Mama pergi dulu Pa!"


Jonathan hanya menganggukkan kepalanya. Jelita pun tak lupa menyalami dan mencium tangan sang suami. Ia pun segera berangkat ke rumah Naina bersama sopir dan pengawalnya.


Di kantor Naina, Sinta sedang sibuk dengan pekerjaannya. Fokusnya teralihkan oleh suara dering ponselnya. Ia pun segera meraih benda pipih berwarna hitam dengan berbagai fitur canggihnya itu. Sinta segera membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


"Pak Ronald? Ada apa beliau meneleponku? Apa ada masalah dengan Rissa?" Gumam Sinta penuh tanya.


Sinta segera menjawab panggilan itu. Ternyata, ada masalah yang terjadi di sekolah Rissa. Semua murid dipulangkan lebih awal. Dan ternyata, Naina tidak bisa dihubungi sejak tadi. Jadi, wali kelas Rissa menghubungi Sinta, asisten Naina.

__ADS_1


Pihak sekolah Rissa sudah biasa menghubungi Sinta ketika Naina tak bisa dihubungi. Karena, terkadang Naina melupakan ponselnya ketika sedang rapat dengan klien atau karyawannya.


"Baik Pak, saya akan menjemput Rissa ke sekolah." Ucap Sinta sambil menganggukkan kepalanya saat menjawab telepon.


"Kenapa Bu Naina tidak bisa dihubungi?"


"Beliau baru saja pulang dari rumah sakit. Mungkin sedang istirahat saat ini." Jujur Sinta.


"Begitu rupanya. Baiklah Bu Sinta, kami akan menjaga Rissa sampai Ibu menjemputnya!" Ucap wali kelas Rissa tulus.


"Terima kasih Pak. Saya segera ke sana!"


"Baiklah."


Panggilan pun terputus. Sinta segera merapikan beberapa berkas yang ada di atas mejanya. Ia segera bersiap untuk menjemput Rissa ke sekolah.


Dan di rumah Naina, Dean dan Naina sedang mengobrol di teras belakang. Mereka baru saja selesai makan siang. Dan Dean yang menyiapkan menu makan siang itu pastinya.


"Kamu ternyata sangat pandai memasak De." Ucap Naina santai sembari memandangi taman belakang rumahnya.


"Apa Mana tak pernah memberitahumu?" Jawab Dean santai sambil menoleh pada Naina.


"Tidak. Mama tak pernah bercerita tentang hal itu."


"Rhea Resto adalah impianku bersama Rhea. Kami sama-sama suka memasak. Saat kami masih sekolah, kami bercita-cita untuk membangun bisnis kuliner kami sendiri. Tapi ternyata takdir berkata lain."


Batin Naina tiba-tiba bergejolak mendengar nama itu. Ia teringat, bagaimana bisa wajah putri semata wayangnya mirip dengan Rhea. Yang notabene, hanyalah sepupu dari ayah biologis Rissa.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu Sayang?"


Dean memperhatikan Naina yang terdiam mendengar jawabannya. Ia mulai teringat sesuatu.


Naina pun segera menoleh pada Dean karena sebuah panggilan yang masih terasa amat aneh di telinganya. Panggilan yang terdengar indah tapi terasa canggung di hatinya.


"Katakanlah!" Jawab Naina singkat sambil kembali memandang ke arah tamannya.


"Apa yang menahan perasaanmu selama ini?"


Naina terpaku mendengar pertanyaan Dean. Hatinya serasa belum siap menerima tanggapan Dean nantinya. Ia takut jika Dean akan pergi begitu saja dari hidupnya setelah tahu kebenaran itu.


Tapi, Naina juga tak bisa merahasiakan hal itu dari Dean. Apalagi, ia kini mulai menjalin hubungan yang lebih serius dengan Dean. Dan Dean pun nampak sangat serius dengan perasaannya dan dalam menjalani hubungan ini. Akan sangat menyakitkan bagi Dean, jika ia terlambat terlalu jauh mengetahui hal itu. Apalagi, jika ia tahu hal itu dari orang lain. Sungguh, itu lebih menyakitkan.


"Tak apa jika kamu belum siap mengatakan itu padaku sekarang." Ucap Dean, karena tak mendapat respon dari Naina.


"Aku pasti menerima semua yang ada pada dirimu dan Rissa." Imbuh Dean yang paham reaksi Naina.


"Katakan itu nanti, setelah kamu mendengarnya De. Karena aku yakin, kenyataan ini cukup menyakitkan bagimu." Ucap Naina sambil menoleh pada Dean, yang tempat duduknya terhalang oleh meja dengannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu Sayang?"


"Aku belum pernah menikah De." Ucap Naina sedatar mungkin demi menutupi getir hatinya.


"Maksud kamu? Lalu Rissa?" Tanya Dean tak sabar dan penuh keterkejutan.


Jantung Dean berdegup kencang. Ia merasakan sesuatu yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Sebuah perasaan yang terlalu sulit dijelaskan.


"Aku hidup bersama nenekku sejak kematian orang tuaku saat usiaku sepuluh tahun. Dan enam tahun lalu, nenekku tiba-tiba terjatuh di kamar mandi dan masuk rumah sakit. Salah satu ginjalnya ternuata sudah rusak dan harus diangkat. Hidupku sangat susah dulu. Bahkan, kuliahku saja dibiayai oleh ibu angkatku."


"Aku pendek akal saat itu. Aku menjual keperawananku demi biaya operasi ginjal nenekku. Dan aku hamil Rissa setelah malam itu."


Hati Naina sungguh terasa perih mengingat kenangan itu. Tanpa ia sadari, buliran bening itu sudah meluncur melewati pipi mulusnya yang hari ini polos tanpa riasan apapun.


Dean terkejut bukan main. Pikirannya mulai bermain tak karuan. Ia lalu mulai teringat kemiripan Rissa dengannya dan Rhea.


"Lalu, siapa ayah Rissa?"


Pertanyaan itu dengan cepat terlontar dari bibir Dean. Ia sangat penasaran dengan hal itu sejak lama. Tidak adanya foto pernikahan Naina, atau sosok laki-laki yang mungkin adalah ayah Rissa, mulai terjawab sekarang.


Naina menoleh pada Dean. Ia seakan tak kuasa melihat reaksi Dean jika ia mengatakan kejujuran itu pada laki-laki yang selalu ada untuknya beberapa bulan terakhir. Laki-laki yang dengan sabar menantinya tanpa adanya pemaksaan.


"Maafkan aku De!" Ucap Naina berat.


"Kenapa kamu minta maaf Sayang?" Tanya Dean makin bingung.


"Ayah Rissa adalah Delvin, sepupumu." Jawab Naina tak rela.


"Apa? Kamu bercanda kan Sayang?"


Dean berusaha mengelakkan ucapan Naina. Ia mulai menggabungkan kemiripan Rissa dengannya. Memang ada sedikit garis wajah Delvin di wajah Rissa. Tapi, Dean berusaha menolaknya sekuat keyakinannya.


"Aku tidak bercanda De. Itu kenyatannya." Jawab Naina cepat.


"Meski malam itu aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya, tapi almarhum Romo sudah mencoba mencarikan informasi lengkapnya sebelum beliau tiada. Dan beliau mendapatkan identitas Delvin sebagai laki-laki yang membayarku malam itu." Imbuh Naina.


"Romo? Kenapa aku seperti mengenal nama itu?" Batin Dean kebingungan.


"Nandini."


Nama itu tiba-tiba muncul lagi di benak Dean. Dean memejamkan kembali kelopak matanya beberapa saat. Menyembunyikan bola mata birunya untuk beberapa saat. Mencoba kembali mengingat siapa sosok pemilik nama yang selalu mengusiknya.


Naina merasa sedikit lega, karena ia bisa mengatakan hal itu pada Dean. Dalam lubuk hatinya, ia berharap, Dean bisa menerima masa lalunya itu dan tetap menjaga perasannya untuk Naina. Tapi, ia juga tak bisa memaksakan kehendak hatinya. Yang ia paham benar, itu pasti sangat menyakitkan bagi Dean.


"DEAN!"


Sebuah suara mengagetkan Naina dan Dean yang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka lantas menoleh ke arah dalam rumah. Yang ternyata, ada lima pasang mata dan telinga yang melihat dan mendengarkan setiap perkataan Naina sejak tadi. Dan Dean serta Naina tak ada yang menyadari kehadiran mereka.

__ADS_1


__ADS_2