
Sebuah rasa. Menelusup menyentuh raga dan menari indah dalam jiwa. Mengusik hati yang tenang, menjadikannya keruh dan berombak penuh buih.
Naina merasa uring-uringan pagi ini. Ia sedikit kesal hanya karena Rissa tak sengaja menumpahkan minumannya ke rok Naina yang telah ia pakai dan siap untuk ia gunakan bekerja hari ini.
Suasana hati yang memang tak baik hampir dua minggu terakhir, membuatnya benar-benar sensitif. Hanya karena hal sepele, ia bisa marah-marah tak jelas seperti orang yang sedang PMS.
"Sinta!" Panggil Naina tegas dengan nada sedikit marah.
Sinta yang sedang sibuk di meja kerjanya setelah selesai rapat pagi, terhenyak bukan main karena panggilan Naina yang tak biasa. Ia belum pernah dipanggil Naina dengan nada seperti itu, meski ada beberapa hal yang tak menyenangkan bagi Naina.
Meski Naina nampak angkuh dan keras dari luar, ia tak pernah marah atau berkata keras pada Sinta. Ia selalu lembut pada asistem pribadinya itu. Semarah apapun hatinya.
Tapi tidak hari ini. Perasaan Naina yang sedang tak karuan, membuatnya jadi tak karuan pula. Sejak dari awal sampai di kantor, wajahnya sudah nampak sangat masam dan terlihat menahan marah.
Sinta yang mengetahui itu, memilih diam dan tak menanyakannya. Karena, biasanya Naina akan bercerita sendiri nanti jika suasana hatinya sudah membaik.
"Iya Bu'?" Sahut Sinta cepat.
"Ini kenapa belum ada laporan dari Dito? Pagi ini jatahnya buat laporan kan?" Nada bicara Naina masih terdengar marah.
"Ini sudah dikirimkan ke saya Bu', baru saya periksa kembali. Nanti saya kirimkan ke Ibu jika sudah selesai."
Naina hanya diam tak menjawab. Ia merasa sangat kesal lalu melempar pulpennya ke atas meja sembari menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursinya.
"Ibu nggak papa?" Tanya Sinta yang melihat tingkah Naina yang tak biasa.
Naina memejamkan matanya tanpa menjawab Sinta.
"Selesaikan saja laporannya, dan segera berikan ke saya!" Sahut Naina dengan mata terpejam.
"Baik Bu'!" Sahut Sinta singkat.
Naina diam di kursinya. Matanya masih terpejam. Fikirannya melayang mengingat kejadian beberapa hari terakhir. Kejadian yang sangat membuat hatinya kesal.
Flashback On
Tidak seperti biasanya, malam ini, Naina menyiapkan makan malamnya sendiri. Ia membiarkan Atun beristirahat karena sedang tak enak badan. Ia memasak beberapa menu kesukaan Rissa.
Setelah selesai di dapur, ia lantas pergi ke kamar Rissa untuk mengajaknya makan malam. Pintu kamar Rissa tidak tertutup rapat. Saat hendak membuka pintu, terdengar samar-samar suara Rissa sedang mengobrol dengan seseorang.
"Rissa sedang video call dengan siapa?" Batin Naina kala melihat putrinya sedang asik melakukan panggilan video dengan posisi membelakangi pintu kamarnya.
"Tenang Om, Mommy sedang masak di dapur. Soalnya Mbak Atun baru nggak enak badan." Ucap Rissa dengan jelas.
"Mommy masak apa?" Suara dari sebrang telfon, menggema jelas di telinga Naina. Suara yang begitu familiar di telinga Naina.
"Katanya mau bikin nasi liwet sama opor ayam kesukaan Rissa. Tadi Mommy juga udah buat macaroni schotel buat Rissa."
"Mommy jago masak ya?"
"Iya Om. Punya resto kan cita-cita Mommy."
"Oh, gitu."
"Iya Om. Om kapan pulang? Rissa udah kangen sama Om."
"Besok ya Cantik, Om masih ada kerjaan di sini. Mommy kangen nggak sama Om?"
__ADS_1
"Nggak tahu Om. Tapi kemarin, Mommy bilang ke Rissa kalau Om ternyata pergi ke Jerman. Kayaknya Mommy udah tahu." Jujur Rissa.
Naina menatap nanar putrinya dari belakang yang ternyata tengah asik bertelfon ria dengan Dean.
"Jadi, Rissa tahu kalau Dean pergi ke Jerman? Dan dia juga tak pernah bilang padaku. Apa cuma aku yang nggak tahu kalau Dean pergi ke Jerman?" Batin Naina
Tiba-tiba airmatanya mengalir begitu saja. Dua hari ia merasa bersalah pada Dean karena tak memenuhi permintaan sederhananya malam itu. Tapi ternyata, ia hanya dibodohi oleh beberapa orang disekitarnya. Dan itu pasti atas permintaan Dean.
"Percuma aku merasa bersalah."
Naina mengusap kasar pipinya yang basah. Ia menetralkan perasaannya sendiri. Mencoba mengatur nafas dan suaranya yang tercekat karena kenyataan yang baru ia ketahui.
Naina masih berada di depan pintu, saat ia mendengar panggilan yang Rissa lakukan sudah diakhiri. Ia perlahan membuka pintu kamar Rissa.
"Rissa, ayo makan dullu!" Ucap Naina selembut mungkin.
"Mommy?" Rissa terkejut bukan main. Ia masih dalam posisi yang sama saat bertelfon dengan Dean saat Naina masuk kamarnya.
"Kamu kenapa?"
"Mommy bikin Rissa terkejut." Gerutu Rissa dengan detak jantung yang berdegup cepat.
"Pintu kamarmu tidak tertutup sempurna, jadi Mommy masuk tanpa suara." Pancing Naina.
"Apa? Sejak kapan Mommy disana?" Tanya Rissa panik.
"Mommy baru saja selesai masak sayang. Kenapa? Ada yang mau kamu sembunyikan dari Mommy?"
"Eh, enggak Mom." Rissa tersenyum kaku.
Naina hanya tersenyum kecil. "Yuk makan dulu!"
Rissa segera melemparkan ponselnya ke atas kasurnya. Ia langsung menarik tangan Naina keluar kamar. Mereka pun makan bersama seperti biasa.
Rissa benar-benar gugup. Ia takut ketahuan Naina jika ia baru saja melakukan panggilan video dengan Dean. Ia sudah berjanji pada Dean untuk merahasiakan kepergian Dean ke Jerman seperti permintaannya saat datang menemuinya terakhir kali.
Malam harinya saat Rissa sudah terlelap, Naina diam-diam memeriksa ponsel Rissa. Ia memeriksa daftar riwayat panggilan Rissa.
"Ternyata kalian setiap hari berkomunikasi." Batin Naina saat menatap ponsel Rissa.
Naina lalu kembali meninggalkan kamar Rissa dan termenung sendiri di teras belakang. Ia senang menyendiri di sana jika fikiran dan hatinya sedang tak karuan.
"*Apa ini balasanmu De karena aku tak memenuhi permintaanmu malam itu? Tapi sepertinya tidak. Bahkan kamu setiap hari berkomunikasi dengan Rissa tanpa sepengetahuanku."
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan mengikuti permainanmu*." Batin Naina kesal.
Naina berjalan ke halaman belakang rumah. Ia menatap jutaan bintang yang berkelip indah malam ini. Bulan pun nampak nyaris bulat sempurna dengan sinarnya.
"Aku merindukanmu De." Batin Naina sendu.
Ya, dalam hati kecil Naina ia merindukan sosok laki-laki itu. Meski ada kesal di hatinya, tapi rasa itu tak dapat ia pungkiri. Ia seperti kehilangan sesuatu setelah kepergian Dean ke Jerman yang tanpa kabar apapun ke Naina.
Flashback Off
"Ini Bu', laporannya!" Sinta menyerahkan beberapa lembar berkas yang sudah ia periksa pada Naina.
Naina masih dengan posisi yang sama selama hampir setengah jam saat Sinta sibuk dengan laporannya. Sinta perlahan mendekati Naina untuk menyerahkan apa yang diminta Naina tadi.
__ADS_1
"Ibu' baik-baik saja?" Tanya Sinta perhatian.
Naina masih diam. Sinta mengira Naina tertidur. Ia segera membalikkan badannya. Tapi terhenti ketika Naina mulai bersuara.
"Apa kamu tahu Sin?" Naina membuka matanya menoleh pada Sinta yang berdiri diam sembari kembali memutar tubuhnya.
"Iya Bu'?"
"Kalau Dean berangkat ke Jerman dua minggu lalu?"
Deg. Tubuh Sinta bagaikan disambar petir siang itu. Ia terkejut Naina sudah mengetahui kepergian Dean. Ia juga sebenarnya tahu jika Dean ke Jerman, dari Niko. Tapi, sesuai permintaan Niko, ia merahasiakannya dari Naina. Dan pastinya, atas permintaan Dean juga.
Sinta diam tak berkata apapun. Ia berusaha mencari penjelasan yang paling lembut untuk atasannya itu. Terlebih, kini Naina sedang dalam mood yang tak baik. Jika salah sedikit saja ia bicara, mungkin sisi gelap Naina akan muncul. Dan itu bisa memicu kambuhnya penyakit maag Naina.
"Kenapa kamu diam Sin?" Naina tertawa sinis melihat ekspresi Sinta. Ia seakan tahu jawaban dari pertanyaannya.
"Ternyata kalian semua membodohiku." Cibir Naina.
Naina segera berdiri dari kursinya. Ia meraih ponsel dan tab-nya yang ada di meja. Lalu dengan cepat meraih tasnya dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Sinta.
"Bu'! Bu'! Bu Naina!" Panggilan Sinta tak digubris oleh Naina.
Naina melangkahkan kakinya dengan pasti keluar ruangannya lalu keluar kantor. Sinta memilih membiarkan atasannya itu sendirian. Karena jika dikejar, akan ada perdebatan hebat antara mereka berdua.
Sinta merasa sangat bersalah karena merahasiakan kepergian Dean. Mengingat Naina, sudah beberapa kali menanyakan Dean padanya sejak hari keberangkatan Dean.
Flashback On
"Sin, apa kamu tahu Dean kemana? Kenapa dia tak ada kabar sejak pagi ini?"
Tanya Naina pada Sinta, yang malam ini mengantarkan beberapa berkas yang harus ia tandatangani. Naina sebenarnya sangat lelah setelah tadi menemani Rissa syuting lalu pergi menemani Rissa makan es krim bersama Delvin dan Ivan. Tapi ia pun ingat, bahwa ia masih memiliki tanggung jawab lain.
Sinta terdiam sejenak. Ia ingat janjinya pada Niko untuk merahasiakan keberangkatan Dean ke Jerman dari Naina.
"Mungkin, Tuan Dean sedang banyak pekerjaan Bu'." Sahut Sinta sedikit gugup.
"Mungkin." Naina menjawab sekenanya.
Naina pun mulai sibuk dengan kertas-kertas yang dibawa Sinta.
Dua hari kemudian, Naina sedang makan siang bersama Sinta karena sedang tak banyak pekerjaan.
"Sin, apa kamu tahu Dean sedang sibuk apa? Kenapa ia tak ada kabar sama sekali sejak awal pekan ini?" Tanya Naina datar.
"Eemhh, sepertinya Tuan Dean sedang ada proyek baru Bu'. Mas Niko juga sedikit sibuk beberapa hari." Bohong Sinta.
"Begitu rupanya."
Naina pun melanjutkan makan siangnya dengan santai. Tapi tidak Sinta. Ia merasa sangat ridak enak hati pada Naina karena membohonginya.
"Maaf Bu'. Bahkan pagi ini saya sempat sarapan bersama Mas Niko."
Dan itu berlangsung hingga beberapa hari. Naina kembali bertanya pada Sinta tentang kesibukan Niko yang berhubungan langsung dengan Dean. Dan lagi-lagi, Sinta berbohong pada Naina.
Hingga akhirnya, Naina bertemu dengan Lita setelah sepekan kepergian Dean ke Jerman. Dan ia merasa sangat bersalah karena tak memenuhi permintaan Dean malam itu.
Flashback Off
__ADS_1
"Maafkan saya Bu'! Saya hanya ingin Ibu' bahagia." Gumam Sinta sembari menatap punggung Naina yang menghilang di balik pintu ruangan kantor.