
Bulan dan bintang, menggantung sempurna di langit ibukota. Menerangi jutaan makhluk Allah dalam gelapnya sang malam. Menampilkan sejuta pesonanya bagi setiap netra yang memandang.
Malam semakin larut. Naina yang dilarikan ke rumah sakit, masih belum siuman, meski kini ia telah berada di ruang rawat inap. Rissa sudah pulang bersama Atun, dengan diantar oleh pengawal Dean. Sedangkan Dean, menemani Naina di rumah sakit.
Rissa tadi sempat tidak mau pulang, karena ingin menemani Naina di rumah sakit. Tapi, setelah dibujuk perlahan oleh Dean, ia akhirnya mau pulang bersama Atun. Dengan sebuah janji, bahwa Dean akan segera mengabari Rissa jika Naina sudah siuman.
"Kenapa kamu sampai seperti ini Na?" Ucap Dean saat memandangi wajah Naina yang masih nampak sedikit pucat.
Dean menggenggam lembut tangan lemah Naina.
"Kenapa kamu tak pernah membalas pesanku atau menjawab teleponku? Kenapa kamu juga tak meminta bantuanku untuk menyelesaikan semua pekerjaanmu yang begitu banyak?"
"Bagunlah Na! Rissa menantimu. Dan aku juga."
Tiba-tiba ponsel Dean berdering. Ia segera meraih benda pipih yang tadi ia letakkan di atas nakas. Ia berjalan sedikit menjauh dari Naina.
"Kenapa Nik?" Ucap Dean tanpa basa-basi setelah menjawab panggilan yang masuk.
"Apa Nona Naina pingsan Tuan?" Tanya Niko cepat.
"Iya. Dia juga belum sadar sampai sekarang. Dari mana kamu tahu?"
"Salah satu pengawal Tuan yang mengatakannya."
"Begitu rupanya."
"Lalu, bagaimana dengan Nona Rissa?"
"Dia sudah pulang bersama Atun."
"Baik Tuan. Terima kasih."
"Ya."
Panggilan pun terputus. Dean lalu kembali mendekati Naina. Deangan harapan, matanya telah terbuka saat ini. Tapi ternyata, Naina masih tetap memejamkan matanya.
Malam semakin sepi dan sunyi. Suara lalu lalang kendaraan di luar rumah sakit pun mulai tak terdengar. Meski, lampu-lampu malam ibukota, masih setia menerangi jalanan yang semakin lengang.
Dean masih tetap setia menemani Naina. Entah hingga pukul berapa ia terjaga. Menunggu sang pujaan hati membuka matanya setelah tidurnya yang tak disengaja. Dean tertidur di sofa karena kelelahan.
Perlahan, mata yang terpejam itu mulai terbuka. Ia mengedipkan kelopak matanya beberapa kali untuk membiasakan kornea matanya dengan bias cahaya yang ada disekitarnya.
"Aku dimana?" Batin Naina karena merasa asing dengan atap ruangannya.
Naina kemudian mengedarkan pandangannya. Selimut, brangkar pasien, infus dan seseorang yang nampak tak asing baginya. Yang sedang tertidur pulas di sofa.
"Dean?"
"Kenapa aku di rumah sakit?"
Naina mencoba mengumpulkan ingatannya. Ia mulai ingat, saat ia sampai di stasiun tv untuk menjemput Rissa. Ia juga ingat, sempat melihat mobil Dean saat tubuhnya membentur pintu samping mobilnya.
"Rissa?"
Naina mencari keberadaan ponselnya. Ia bisa melihat tasnya ada di atas nakas. Entah bagaimana tas itu ada disana.
Tiba-tiba, dug.
Dean segera terbangun karena mendengar sesuatu terjatuh. Ia segera bangun dan menoleh pada Naina. Ternyata, tas tangan Naina yang tadi ia letakkan diatas nakas terjatuh.
"Kamu sudah sadar Na?" Ucap Dean bahagia saat mendapati Naina sudah membuka matanya.
Naina hanya mengangguk. Dean pun menghampiri Naina dan mengambil tasnya yang terjatuh.
"Kamu kenapa di sini?" Tanya Naina pelan dan lirih.
"Aku menemanimu. Kamu butuh sesuatu?"
"Rissa?"
"Rissa pulang dengan Atun tadi, setelah kamu dipindahkan ke ruangan ini. Aku meminta pengawalku mengantar mereka pulang."
"Terima kasih."
Dean tersenyum hangat.
"Kamu mau minum?" Tanya Dean penuh perhatian.
Naina menggelengkan kepalanya.
"Pulanglah! Aku sudah tidak apa-apa." Pinta Naina tulus. Ia tak enak hati karena membuat Dean menemaninya di rumah sakit.
"Aku sudah berjanji pada Rissa akan menjagamu malam ini." Jujur Dean.
"Kamu sudah menjagaku sedari tadi bukan? Pulanglah dan istirahat di rumah! Kamu pasti lelah."
"Aku akan panggilkan perawat untuk memeriksamu!"
Dean berusaha mengalihkan perhatian Naina. Ia tak ingin meninggalkan Naina dalam keadaannya yang masih belum pulih. Dean pun segera memanggil perawat untuk memeriksa kondisi Naina.
"Maaf, aku tertidur tadi! Jadi aku tak tahu jika kamu sudah sadar." Ucap Dean tulus.
"Kamu pasti kelelahan, hingga tertidur di sofa. Padahal, ada tempat tidur lain di ruangan ini."
__ADS_1
"Sedikit." Jawab Dean sambil tersenyum kecil.
Dean segera mengambil ponselnya. Ia berniat menelepon Rissa, untuk mengabari bahwa ibunya sudah bangun. Tapi saat ia melihat jam yang ada di ponselnya, ia mengurungkan niatnya. Ternyata hari masih sangat gelap. Ini masih jam tiga pagi.
Seorang perawat datang untuk memeriksa kondisi Naina. Ia menanyakan beberapa pertanyaan untuk Naina. Setelah memastikan kondisi Naina stabil, perawat tadi kembali ke ruang jaganya.
"Istirahatlah kembali De, atau pulanglah! Aku tak apa sendirian di sini." Ucap Naina setelah perawat tadi pergi.
"Aku ingin menemanimu di sini. Apa tidak boleh?" Jawab Dean sambil tersenyum hangat.
Hati Naina bergetar. Jantungnya berdegup cepat hanya karena senyuman Dean dan ucapan sederhananya.
"Mama dan Papa pasti menunggumu pulang."
"Aku sudah mengatakan pada mereka tadi. Aku akan menemanimu di rumah sakit malam ini." Jujur Dean.
"Tapi De,,"
"Tak ada penolakan. Kamu sudah menghindariku selama berhari-hari bukan? Dan sekarang, kamu tak bisa menghindar lagi."
Suara Naina tercekat. Ia tak menyangka, Dean bisa menyadari niat hatinya untuk menghindar darinya. Ia sedikit membuang pandang dari Dean.
"Aku,,"
"Sudah! Aku tahu, kamu juga pasti kelelahan selama Sinta tak disampingmu. Sampai kondisimu separah ini."
Naina kembali menoleh pada Dean.
"Apa obatmu habis?"
"Tidak. Obatku tertinggal di kantor."
"Yasudah, istirahatlah lagi! Wajahmu masih sedikit pucat. Nanti setelah subuh, kita kabari Rissa. Dia pasti sedang tidur sekarang."
"Thank's De."
Dean tersenyum hangat pada Naina. Tanpa permisi dan tanpa aba-aba, Dean mendekatkan wajahnya pada Naina. Lebih dekat, makin dekat dan makin dekat lagi
CUP. Sebuah kecupan nan hangat dan penuh cinta, mendarat sempurna di kening Naina. Naina pun spontan memejamkan matanya. Menikmati kecupan pertama Dean di keningnya yang terasa begitu menenangkan hatinya.
Naina tetaplah Naina. Wanita yang memiliki perasaan pada seorang Dean Pratama Diedrich. Rasa sayang dan cinta layaknya seorang wanita dewasa pada seorang laki-laki dewasa pula. Ia juga bahagia jika diperlakukan begitu istimewa oleh orang yang dicintainya. Meski ia sudah sekuat tenaga mencoba menghindar dan menghapus nama laki-laki itu dari hatinya.
Hati Dean begitu bahagia, ketika Naina tak menolak perlakuan nekatnya itu. Ya, ide itu muncul begitu saja di kepala Dean tadi. Hingga ia pun memberanikan diri untuk melakukannya, dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi.
Wajah pucat Naina sedikit merona. Tubuhnya mendadak makin lemas karena kecupan itu. Dia juga hanya wanita biasa. Akan sangat mendebarkan baginya ketika diperlakukan begitu romantis oleh orang yang dicintainya.
"Tidurlah lagi! Aku temani di sini." Ucap Dean seraya duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Naina.
Naina hanya mengangguk. Tubuhnya yang lemas dan jantungnya yang masih berdebar tak karuan, membuatnya enggan berucap apapun.
"Minum saja." Jawab Naina lirih.
Dean segera mengambilkan gelas minum Naina. Ia membantu Naina untuk minum dengan sedikit mengangkat kepala Naina.
"Istirahatlah! Katakanlah, jika kamu butuh sesuatu!" Pinta Dean lagi.
Naina pun hanya kembali mengangguk kecil. Ia lalu kembali memejamkan matanya dan berusaha menetralkan perasaan dan degup jantungnya yang tak beraturan. Ia pun mulai kembali terlelap perlahan.
Dean lalu berpindah ke tempat tidur di samping Naina. Ia juga ikut merebahkan tubuhnya lagi dan kembali beristirahat. Yang pastinya, dengan perasaan yang bahagia, karena Naina tak menolak perlakuannya tadi.
Saat sang surya mulai menghangatkan bumi dan memancarkan cahayanya nan begitu terang, para penghuni bumi pun memulai aktivitasnya. Memulai setiap langkah baru untuk mengawali hari.
Disebuah rumah mewah, seorang wanita paruh baya sedang menikmati kopi paginya ditemani oleh benda kotak pipih berlayar sepuluh inci dengan segala kecanggihannya.
"Mama nggak masak?" Tanya Delvin ketika ia hendak pergi ke ruang olahraganya.
"Nanti. Mama baru cari informasi." Jawab Jenita singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari tab yang ia pegang.
"Info apa Ma?"
"Alamat rumah."
"Rumah siapa?"
"Udah, kamu olahraga aja sana! Nanti temani Mama ke suatu tempat. Kamu nggak ada acara kan hari ini?"
"Enggak Ma. Delvin cuma mau ke rumah seseorang nanti."
"Yaudah sana olahraga dulu! Tapi kamu nanti temani Mama dulu ya!"
"Iya Ma."
Delvin menatap ibunya dengan penuh keheranan. Ia bingung, dengan sikap ibunya yang tak biasa. Ia juga penasaran, alamat siapa yang sedang ibunya cari.
Delvin akhirnya kembali melangkahkan kakinya menuju ruang olahraganya. Ia mengawali hari ini dengan olahraga pagi seperti biasanya. Dengan sebuah ide yang sudah bermain indah di benaknya, untuk menjalankan misinya yang sudah mulai ia jalankan perlahan.
Sekitar pukul tujuh pagi, Delvin sudah selesai membersihkan diri setelah berolahraga. Ia pun lantas sarapan pagi dengan ibunya.
"Mama mau kemana?" Tanya Delvin setelah mereka selesai makan.
"Ke rumah pemilik kafe yang semalam tempatnya berantakan gara-gara para preman yang mencari Mama." Jujur Jenita.
"Dimana alamatnya Ma?"
__ADS_1
Jenita lantas menyodorkan sebuah alamat yang ia dapat dari manajer kafe semalam. Yang pasti, setelah merayunya dengan berbagai alasan dan cukup sulit. Delvin pun membacanya dengan seksama.
"Tempatnya sedikit jauh dari sini. Mama sudah mencarinya lewat internet tadi." Ucap Jenita seraya berdiri dari kursinya.
"Ini kan,," Gumam Delvin lirih.
"Siapa nama pemiliknya Ma?" Tanya Delvin penasaran.
"Naina."
"Naina?" Ucap Delvin terkejut.
"Kamu kenal?"
"Dia mamanya Rissa Ma."
Jenita mengerutkan keningnya. Ia berusaha memahami ucapan putranya.
"Rissa, lawan main Delvin di film yang baru tayang Ma. Yang pernah Delvin ceritakan ke Mama waktu itu."
Jenita mulai paham maksud ucapan putra semata wayangnya.
"Semalam dia pakai dres cream kan Ma?" Tanya Delvin memastikan.
"Iya."
"Semalam dia pingsan di depan gedung stasiun tv. Lalu dibawa pergi oleh Dean."
"Pingsan?"
Delvin menganggukkan kepalanya. Tanpa berpikir panjang, sepasang ibu dan anak itu lantas pergi ke rumah Naina.
Di sisi lain, Sinta dan Niko sudah siap untuk keluar rumah pagi ini. Tujuan pertamanya adalah rumah Naina. Mereka akan mengecek kondisi Rissa terlebih dahulu, sebelum pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Naina.
"Rissa mana Mbak?" Tanya Sinta saat ia sampai di rumah Naina.
"Mbak Rissa sedang mandi Bu'." Jawab Atun jujur.
"Rissa sudah dikabari kalau Ibu sudah siuman?"
"Sudah tadi oleh Pak Dean."
"Syukurlah."
"Bu Sinta dan Pak Niko sudah sarapan?" Tanya Atun ramah.
"Sudah tadi di rumah."
"Tante Sinta!" Panggil Rissa sumringah saat ia keluar kamar.
"Kamu sudah makan?" Tanya Sinta seraya menghampiri Rissa.
"Sudah Tante. Ini mau ke rumah sakit sama Mbak Atun." Jujur Rissa.
"Sama Tante sekalian aja ya!" Ajak Sinta tulus.
Rissa pun mengangguk.
"Ayo Mbak Atun!" Ajak Sinta lagi, seraya menoleh pada Atun yang baru saja menutup pintu kamarnya.
"Iya Bu'."
Mereka berempat lantas bersiap berangkat ke rumah sakit. Tapi, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan rumah Naina. Atun berjalan lebih cepat untuk membuka pintu. Yang disusul oleh Sinta, Niko dan Rissa.
"Apa Naina ada?" Tanya Delvin setelah Atun membukakan pintu.
"Ibu tidak ada di rumah." Jujur Atun.
"Om Delvin?" Ucap Rissa ramah.
"Hai Cantik!" Sapa Delvin tak kalah ramah.
"Apa Mommy ada di rumah?" Imbuh Delvin.
"Nggak ada Om. Mommy di rumah sakit sekarang." Jujur Rissa.
"Rumah sakit?" Ulang Delvin tak percaya.
"Iya Om. Semalam Mommy pingsan kan, lalu dibawa ke rumah sakit sama Om Dean." Cerita Rissa.
"Mommy di rumah sakit mana?"
"Maaf Pak Delvin! Ibu Naina tak suka dikunjungi jika sedang di rumah sakit." Sela Sinta tegas, yang memang sangat paham sifat atasannya itu.
"Aku hanya ingin melihat kondisinya. Dan Mama juga ingin berterima kasih padanya." Ucap Delvin beralasan.
"Akan saya sampaikan pada Ibu Naina nanti." Jawab Sinta datar.
"Tapi,," Sela Jenita berusaha membela putranya.
"Maaf Nyonya Jenita! Nona Naina sedang tidak ingin diganggu saat ini, untuk pemulihannya." Ucap Niko membantu Sinta.
Delvin dan Jenita kesal bukan main. Mereka tak bisa menemui Naina saat ini, karena mereka tak tahu di rumah sakit mana Naina dirawat. Mereka pun mendengus kesal lalu melangkahkan kaki, keluar dari teras rumah Naina tanpa satu ucapan pun.
__ADS_1
Empat orang yang di dalam rumah, hanya menatap bingung. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit untuk melihat kondisi Naina, setelah mobil Delvin pergi.
"Kita buntuti mereka saja Ma! Mereka pasti akan ke rumah sakit." Usul Delvin setelah mobilnya mulai menjauh dari rumah Naina.