Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Rahasia Rissa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Ma." Sapa Naina pada Lita ketika ia sampai di resto milik Dean.


"Wa'alaikumussalam Na."


Naina menyalami tangan Lita. Ia pun duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi Lita. Mereka sudah janjian pagi ini. Lita ingin menemui Naina karena sudah lama tak bertemu dengannya.


"Gimana kabarnya Ma?" Tanya Naina dengan senyum ramahnya.


"Baik Na. Gimana kabar Rissa?"


"Rissa baik Ma."


"Mama kangen sama dia."


"Rissa masih sekolah Ma. Sekolahnya sedikit terganggu karena syutingnya." Jelas Naina.


Naina pun memilih menu setelah seorang pelayan menghampirinya dan memberikannya buku menu.


"Disini Pa!" Ucap Lita sedikit keras. Ia melambaikan tangannya untuk memanggil seseorang.


Naina masih sibuk memilih menu. Setelah selesai, seorang laki-laki seumuran dengan Lita telah sampai di meja mereka.


"Selamat siang Tuan Jonathan." Sapa Naina.


"Siang Na." Sahut Jonathan dengan senyum tampannya.


Laki-laki yang usianya baru saja menginjak kepala enam itu, masih terlihat tampan dan menawan dengan setelan kerjanya. Dengan rambutnya yang mulai berubah putih satu per satu, makin menambah pesonanya di usianya kini.


"Jangan panggil tuan! Panggil om atau papa juga boleh, kayak Dean." Imbuh Jonathan ramah.


"Tapi Tuan,,"


"Kamu memanggil Jelita dengan sebutan mama, jadi apa salahnya memanggilku dengan sebutan papa. Aku tak keberatan."


"Eh,,"


Naina kebingungan dengan permintaan Jonathan. Ia memang memanggil Lita dengan sebutan 'mama' karena memang sudah cukup akrab. Tapi jika dengan Jonathan, terasa aneh. Mengingat, ini masih pertemuan kedua mereka.


"Tak apa Na. Biar lebih enak didengar. Kayak Dean." Ucap Lita dengan senyum cantiknya.


"Ah anak itu, baru juga satu minggu pergi, aku sudah sangat rindu." Gumam Lita.


"Mama mau nyusul ke Jerman?" Tawar Jonathan penuh perhatian.


"Enggak ah Pa. Kasihan Papa disini sendirian."


Naina hanya mendengarkan obrolan sepasang suami istri itu. Tapi, ia juga penasaran, siapa yang Lita rindukan, hingga Jonathan menawarkannya untuk menyusul ke Jerman.


"Kita nggak tahu Dean sampai kapan disana Ma. Kalau Mama rindu, Papa akan antar Mama ke Jerman."


Samar, ucapan Jonathan menelusup ke indra pendengaran Naina. Ia menatap sepasang suami istri itu penuh tanya.


"Dean?" Ucap Naina menyela.

__ADS_1


Perasaan Naina sedikit gugup ketika mendengar nama Dean di sebut. Hatinya mendadak bergejolak ketika mendengar nama itu. Rasa kesal, marah, dan rindu menyeruak dalam rongga dadanya. Ia mencoba mengatur perasaannya.


"Kenapa Na?" Tanya Lita.


"Dean ke Jerman Ma?" Ucap Naina setenang mungkin.


"Iya. Apa dia tak mengatakannya padamu?" Ucap Lita penuh selidik.


Naina hanya menggeleng. "Kapan dia berangkat Ma?"


"Seminggu yang lalu. Tunggu dulu! Malam sebelum keberangkatannya, Dean pamit ke Mama mau kerumahmu. Apa dia tak datang?"


Naina diam dan mengingat sesuatu. "Apa malam itu? Saat ia memintaku untuk tersenyum?"


Tiba-tiba perasaan sedih dan menyesal menghampirinya. Ia menyesal tak memenuhi permintaan Dean malam itu.


Permintaan yang sangat sederhana dari seorang laki-laki yang malam itu sikapnya sangat lembut, tak seperti bisanya. Laki-laki yang dalam beberapa hari terakhir berhasil membuatnya kelabakan. Kelabakan karena tak ada kabar apapun dari laki-laki itu.


Dan kini, rasa penasaran Naina selama satu minggu terakhir, terjawab sudah. Rasa penasaran yang membuat dirinya terkadang uring-uringan sendiri.


Lita dan Jonathan menatap Naina yang melamun, lalu saling pandang dan tersenyum kecil.


"Kamu kenapa Na?" Ucap Lita, seraya membuyarkan lamunan Naina.


"Oh, iya Ma. Naina nggak papa." Jawab Naina dengan nada sebiasa mungkin.


"Dean datang Ma malam itu, tapi dia nggak bilang kalau mau ke Jerman." Jujur Naina.


"Enggak Ma. Bahkan sampai sekarang, dia nggak ada kabar sama sekali." Ucap Naina dengan senyum yang ia paksakan untuk menutupi kekecewanannya.


"Kenapa kamu tak bilang padaku De?" Batin Naina.


"Anak itu ya!" Gerutu Lita sedikit geram.


"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Dean Na?" Tanya Jonathan.


"Maksud Tuan? Eh, Papa." Naina masih sedikit kikuk dengan panggilan baru Jonathan.


"Ya, bagaimana hubungan kalian sekarang? Apa hubungan kalian masih berjalan baik?"


"Entah Pa. Sudah satu minggu Dean tak ada kabar apapun. Mungkin Dean marah pada Naina." Ucap Naina dengan getir hatinya.


"Marah kenapa? Kalian ada masalah?" Tanya Lita penasaran.


Naina hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Lita.


Penyesalan yang begitu besar memenuhi relung hati Naina. Hanya karena tak memenuhi permintaan sederhana Dean malam itu. Hingga dia berfikir, Dean marah dan tak mau menghubunginya hingga saat ini.


"Maaf De!" Batin Naina.


Lita dan Jonathan memilih mengobrolkan hal lain untuk mengalihkan perhatian Naina. Mereka menyadari perubahan ekspresi Naina setelah mendengar kabar bahwa Dean pergi ke Jerman.


Iya, Dean pergi ke Jerman satu minggu yang lalu untuk urusan bisnisnya. Ia menggantikan ayahnya terbang ke Jerman untuk menangani masalah dan memulai proyek barunya dengan investor asing yang ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan.

__ADS_1


Dean sebenarnya sangat berat untuk terbang ke Jerman, tapi ia tak bisa membiarkan ayahnya kembali ke Jerman lagi karena kondisi kesehatannya sedikit menurun. Usia senjanya mulai mempengaruhi kesehatannya.


Dean tak mengajak Niko ikut serta. Dean meminta Niko membantu Jonathan mengurusi kantor di Indonesia sembari mempersiapkan pernikahannya dua bulan lagi.


Waktu terus berjalan. Mentari pun telah tergelincir ke arah barat. Menampakkan sinar hangatnya pada setiap yang bernyawa dengan sejuta pesonanya.


Perlahan tapi pasti, bulan dan bintang pun menggantikan sang surya menerangi bumi. Malam yang menyapa, terasa hening dan sunyi bagi sebagian insan-Nya.


Malam ini, seperti biasa, Rissa sedang belajar di dalam kamarnya. Menyelesaikan beberapa PR-nya hari ini dengan penuh semangat.


Perhatian gadis kecil itu teralihkan, ketika ada panggilan video masuk ke ponselnya. Ia segera meraih benda pipih yang ia letakkan di kasurnya.


"Hai Om Dean!" Sapa Rissa ketika panggilan telah tersambung.


Senyum sumringah dua anak manusia beda generasi itu saling menghiasi layar gadget-nya masing-masing.


"Hai sayang! Jangan keras-keras ya, nanti Mommy denger!"


"Ups! Iya Om. Maaf, Rissa lupa! Hhihi,," Tawa kecil Rissa tedengar lebih lirih setelah jawaban Dean.


"Gimana hari ini sekolahnya?"


"Lancar Om. Om kapan pulang?" Tanya Rissa antusias.


"Memangnya kenapa? Rissa udah kangen sama Om?"


Rissa hanya mengangguk. Dean pun nampak tersenyum lebar di layar ponsel Rissa.


"Om masih harus kerja Sayang! Masih ada yang harus Om selesaikan di sini Sayang."


"Rissaaa!" Suara Naina menggema di kamar Rissa.


"Om, Mommy manggil Rissa. Udah dulu ya Om, bye!"


Panggilan pun langsung terputus. Bertepatan dengan Naina yang membukan pintu kamar Rissa. Rissa sangat gugup karena ia hampir ketahuan sedang melakukan panggilan video dengan Dean. Dan Naina menyadari ekspresi Rissa.


"Kamu sedang apa Sayang?" Tanya Naina karena melihat Rissa sedang memegangi ponselnya dan tidak sedang belajar.


"Ini Mom, Rachel tanya tentang PR hari ini." Jawab Rissa sedikit gugup. Ah gadis kecil itu, sudah bisa berbohong rupanya.


Naina menyadari gelagat aneh Rissa. Ia berjalan menghampiri Rissa dan ikut duduk du kasur Rissa dengan wajah datarnya.


"Kenapa Mom?" Tanya Rissa berusaha menutupi kegugupannya.


"Nggak papa Sayang. Kita makan dulu ya! Belajarnya nanti lagi!" Ucap Naina lembut.


"Oke Mom. Ayo Mom!" Rissa turun dari kasurnya lalu menarik tangan Naina untuk keluar kamar.


Naina pun mengikuti langkah Rissa. "Apa yang kamu sembunyikan Sayang?"


Naina menahan rasa ingin tahunya tentang gelagat aneh Rissa. Ia membiarkan Rissa menutupinya saat ini dan yakin akan mengetahuinya nanti. Mereka pun makan malam seperti biasa.


"Semoga Mommy nggak curiga!" Batin Rissa.

__ADS_1


__ADS_2