
"Aku sepertinya datang bulan."
"Apa?"
Dean segera menghentikan aksinya. Perasaannya sedikit kacau seketika. Ia pun menghentikan aktifitasnya yang sedang begitu mengasyikkan.
Naina segera mendorong tubuh Dean yang berada di atasnya. Ia pun segera bangun.
"Bisa tolong bukakan resleting gaunku Mas?" Ucap Naina setelah ia terduduk.
"Kamu sedang mengerjaiku Sayang?" Tanya Dean tak percaya.
"Aku akan memeriksanya di kamar mandi Mas. Dan aku harus melepaskan gaun ini agar bisa memeriksanya." Jelas Naina.
Dean mendengus kesal. Tapi ia segera membantu istrinya itu untuk membuka resleting gaun pernikahannya.
Naina pun segera berdiri. Ia mengangkat gaunnya yang menjuntai panjang dan berlari ke kamar mandi setelah meraih handuk kimono yang ada.
Dean akhirnya hanya bisa menatap istrinya itu berlari ke kamar mandi sambil menenangkan sesuatu di bawah sana yang sudah mulai menegak dan siap untuk bertempur.
Di kamar mandi,,
"Huft! Untung aja kepikiran itu tadi, hihi." Naina cekikikan sambil melorotkan gaunnya.
Ah ya, Naina hanya bersandiwara tadi. Ia sebenarnya hanya belum siap memulai pergulatan hebat dengan peluh kenikmatan bersama sang suami. Apalagi, mereka baru saja selesai menggelar acara resepsi. Ia merasa sedikit risih dengan tubuhnya yang tadi sedikit kepanasan karena menyalami banyak tamu. Bau asem.
Dean ditipu oleh Naina. Dan Naina masih sedikit takut melakukan itu dengan Dean. Meski mereka pernah melakukannya beberapa tahun yang lalu.
Naina akhirnya menyegarkan dan membersihkan dirinya. Membuang semua rasa penat dan lelah yang tadi menerpanya selama di ballroom.
"Mas, mandilah dulu!" Pinta Naina setelah ia keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono dan handuk yang ia bungkuskan di kepala untuk menutupi rambut basahnya.
"Kamu benar-benar datang bulan Sayang?" Tanya Dean cepat sambil menghampiri Naina.
Naina tersenyum kaku. Ia tak mengucap sepatah katapun.
Dean menghempaskan tubuhnya putus asa di atas ranjang. Ia menghela nafas kesal dan kecewa setelah mendapat senyuman itu dari Naina.
Bayangan malam pertama yang indah bersama Naina, sirna seketika. Ia harus rela, menunggu sang istri selesai datang bulan lebih dahulu, jika ingin menggenapi ritual malam pertamanya bersama sang istri.
"Maaasss,,"
Naina menggelayut manja di bahu Dean sambil melingkarkan tangannya di perut Dean yang sudah kembali duduk. Ia merasa tak enak hati karena membohongi Dean tadi.
"Aku mandi dulu Sayang." Sahut Dean datar.
Hati Naina seketika menciut. Ia tak menyangka, Dean akan bereaksi seperti itu padanya.
Dean segera bangkit dari duduknya setelah melepaskan paksa pelukan tangan Naina. Ia lalu berjalan ke kamar mandi dan meninggalkan Naina yang menatapnya penuh penyesalan.
"Apa dia marah padaku?" Gumam Naina setelah Dean menutup pintu kamar mandi.
Dean segera menyalakan shower dan membasahi tubuhnya yang lelah setelah melepaskan setelan kemejanya. Dan kini, hatinya pun mendadak lelah karena hal kecil yang mengganggunya tadi.
Dean begitu menikmati tetesan demi tetesan air yang membasahi tubuh polosnya. Ia menyesali sikap kekanak-kanakkannya pada Naina tadi. Hanya karena Naina datang bulan, hingga membuatnya gagal menuntaskan hasrat yang sudah menggebu-gebu dalam hatinya, ia menjadi sedikit kesal pada Naina tadi dan bersikap acuh padanya.
__ADS_1
"Aku akan segera mandi dan minta maaf padanya." Gumam Dean cepat.
Dean pun akhirnya fokus pada ritual mandinya. Ia segera membersihkan diri dan ingin segera bertemu lagi dengan istrinya untuk meminta maaf padanya.
Baru saja Dean selesai membersihkan sisa busa sabun dan sampo yang ada di tubuhnya, Naina tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Sayang?" Dean terkejut bukan main saat membuka matanya di bawah guyuran air shower.
Karena air yang terus mengguyur kepalanya, Dean tak menyadari kehadiran dan keadaan Naina.
Naina langsung menghambur ke pelukan suaminya yang sedang berada di bawah guyuran air. Ia tak menghiraukan apa yang akan terjadi setelah ini. Yang pasti, ia hanya ingin meminta maaf pada Dean saat ini.
Dean membulatkan kedua bola matanya saat tubuh Naina menempel tepat di kulit tubuhnya yang basah. Ia sedikit menggeser tubuhnya, agar bisa menghilangkan tetesan air yang terus membasahi wajahnya.
"Oh ****!" Umpat Dean saat menyadari Naina ternyata tak mengenakan apapun di tubuhnya saat ini. Ya, mereka sama-sama dalam keadaan polos tanpa busana.
Naina tadi akhirnya memberanikan diri untuk meminta maaf dan menebus sedikit kesalahannya pada sang suami dengan berniat untuk sedikit menggodanya dan memberinya kejutan. Naina menyusul Dean ke kamar mandi yang ternyata tidak di kunci oleh Dean. Naina melepaskan kedua handuk yang ia kenakan di depan kamar mandi. Ia pun menghampiri Dean dalam keadaan polos tanpa ada satu benda pun yang menempel di tubuhnya.
"Maaf Mas." Ucap Naina saat Dean sudah sedikit menepi dari guyuran air shower.
"Tak apa Sayang. Aku juga minta maaf, karena sempat kesal padamu tadi." Sahut Dean tulus sembari membalas pelukan Naina dan menahan gejolak dalam dirinya yang seketika meronta kembali karena keadaan polos Naina.
Naina mendongakkan wajahnya. Menatap lekat wajah basah sang suami yang selalu ia rindukan selama beberapa bulan ini. Dean pun menatap wajah ayu sang istri, yang juga ikut sedikit basah karenanya. Ia tersenyum hangat padanya.
"Kembalilah ke kamar! Aku akan menyelesaikan mandiku terlebih dahulu." Pinta Dean halus.
Naina menggelengkan kepalanya. Dean pun mengerutkan keningnya.
"Ayolah Sayang, jangan memancingku! Kamu sedang datang bulan bukan?"
CUP. Naina mengecup bibir Dean tanpa permisi.
"Lakukanlah Mas!" Pinta Naina lirih dengan wajah yang mulai merona.
Dean menatap Naina penuh tanya.
"Aku tidak sedang datang bulan Mas."
Mata Dean seketika berbinar dengan indahnya dengan tatapan tak percaya pada Naina.
"Apa kamu mengujiku Sayang?"
"Tidak Mas. Aku menggodamu." Jawab Naina sambil tersenyum kecil.
"Kamu benar-benar tidak sedang datang bulan?"
Naina hanya mengangguk.
Dean pun segera menautkan bibirnya dengan bibir Naina dengan penuh kelembutan. Ia memainkan lidahnya dengan begitu lihai dan penuh perasaan untuk bisa bermain bersama lidah Naina di rongga mulutnya. Saling mengecap dan membelit satu sama lain. Dan mulai menikmati, perjalanan mereka yang baru saja dimulai.
Dean meraih kran shower dan memutarnya.
"Kita ke kamar!" Ajak Dean cepat.
Dean pun membopong tubuh polos Naina dan kembali menautkan bibirnya setelah Naina menarik tengkuk Dean dalam pelukannya. Dean meletakkan tubuh Naina perlahan di atas ranjang. Ia mengamati tubuh polos Naina dari atas ke bawah.
__ADS_1
Naina menarik dagu Dean.
"Jangan melihatku seperti itu!" Pinta Naina manja.
Dean pun tersenyum. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Naina.
"Aku akan melakukannya Sayang. Perlahan." Bisik Dean di telinga kanan Naina.
Dan itu berhasil membuat sensasi menggelitik nan indah di tubuh Naina. Naina pun sedikit bergidik geli.
Perlahan namun pasti, Dean kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Naina. Memulai pemanasannya dengan penuh kelembutan.
Jiwa cassanova Dean yang telah lama mati, seketika meronta tak bisa dibendungnya. Meminta untuk segera dilepaskan padanya yang telah halal atas dirinya.
Dean dengan sangat lembut membawa Naina menikmati setiap sentuhannya. Setiap kecupannya. Dan setiap buaian yang terasa begitu asing tapi penuh dengan kenikmatan bagi Naina.
Suasana kamar yang tadi sempat terasa dingin, kini mulai menghangat. Memanas dan makin panas lagi, mengiringi des*han demi des*han yang keluar dari bibir kedua pengantin baru itu.
"Tatap mataku Sayang!"
Pinta Dean lembut, kala senjata miliknya mencoba menerobos inti Naina yang sudah basah dan terasa begitu sempit juga menggodanya sejak tadi.
Naina yang tadi sempat memejamkan mata dan bahkan sampai menitikan air mata karena menahan sakit karena sesuatu memaksa masuk pada inti tubuhnya, perlahan membuka matanya. Tangannya pun mencengkeram erat lengan kekar sang suami yang tersenyum hangat padanya.
Sebuah jeritan dari bibir Naina, menggema begitu saja di ruangan yang sudah menjadi berantakan sejak beberapa saat yang lalu, ketika inti tubuhnya berhasil ditembus oleh sesuatu yang menegang sempurna sejak tadi.
Dean mengecup wajah Naina berkali-kali.
"Kamu akan terbiasa nanti." Bisik Dean lagi, seraya mengusap air mata yang meluncur dari tempatnya.
Naina hanya mengangguk paham. Ia masih berusaha menguasai dirinya, karena mendapatkan sebuah sensasi aneh yang pernah ia rasakan bertahun-tahun yang lalu. Sensasi rasa sakit tapi juga begitu nikmat, yang susah untuk dijelaskan. Dan itu juga dari pria yang sama.
Perlahan, Dean mulai menggerakkan tubuh bagian bawahnya. Ia mulai memompa tubuh Naina dengan sangat lembut. Ia tahu, Naina pasti sedikit kesakitan. Tapi, perlahan rasa sakit itu berubah menjadi sebuah rasa nikmat yang begitu memabukkan. Dan ia membiarkan Naina menikmatinya.
Pasangan suami istri itu pun mulai pertempuran hebatnya sejak sore ini. Mereka saling menikmati perasaan yang sungguh indah dan menjadi karunia bagi mereka yang telah halal satu sama lain.
Des*han dan lenguhan dari bibir mereka, menjadi suara nan indah dan merdu di telinga masing-masing. Hasrat yang menggebu, makin menggelora seiring dengan permainan Dean yang makin cepat bergerak naik dan turun di atas tubuh sang istri.
"Aaahh Dee, akuuhh,," Ucap Naina saat merasakan sesuatu yang ingin kembali meledak di bawah sana.
"Bersama Sayang!" Pinta Dean sembari mempercepat gerakan tubuhnya di atas sang istri.
Dan beberapa detik kemudian, Naina merasakan sesuatu yang hangat tumpah begitu saja di dalam rahimnya. Bersamaan dengannya yang kembali merasakan puncak sensasi yang begitu menghanyutkan dan terasa begitu melegakan.
"Terima kasih Sayang." Ucap Dean setelah mendaratkan kecupan yang entah sudah keberapa kalinya di wajah Naina yang berpeluh.
Naina hanya mengangguk pasrah. Ia masih menikmati sensasi luar biasa di bawah sana, yang mampu membuatnya seakan terbang jauh entah kemana.
Dean lalu merebahkan dirinya di samping Naina. Ia pun memeluk tubuh polos Naina begitu saja.
"Istirahatlah dulu! Karena aku, tak akan membiarkanmu tidur tenang malam ini." Ucap Dean sambil menggerayangi punggung polos Naina.
Naina langsung mencubit pinggang Dean yang tepat berada di dalam rengkuhannya. Dean hanya sedikit menggeliat sambil terus mengeratkan pelukannya pada sang istri.
Pasangan pengantin baru itu, semakin hangat dalam pelukan mereka yang terasa begitu nyaman bagi satu sama lain. Mereka pun melewati malam pengantin yang indah, dengan pertempuran demi pertempuran yang berpeluh dengan penuh kenikmatan.
__ADS_1
Setiap orang memiliki masa lalu. Dan setiap yang memiliki masa lalu, pasti memiliki masa depan. Tak peduli seburuk apa masa lalumu, jika memang Sang Kuasa berkehendak mengubah masa depanmu menjadi lebih baik, itu adalah karunia untukmu. Syukuri dan pergunakanlah dengan baik.