Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Dua Kabar Bahagia Part 2


__ADS_3

"Ada apa ini?" Tanya Jonathan penasaran.


"Kita bakal jadi opa sama oma lagi Pa." Jawab Jelita bahagia, sambil berjalan menghampiri Jonathan.


"Benarkah?" Tanya Jonathan tak percaya.


Jelita mengangguk pasti.


"Wah, ada dua kabar bahagia berarti." Sahut Jonathan santai.


"Dua?" Tanya Jelita bingung.


Semua di kamar itu menoleh pada Jonathan dengan penuh tanya.


"Iya. Naina akan memiliki adik. Nyonya Sekar sedang hamil. Tuan Wiliam yang mengatakannya." Sahut Jonathan santai.


Sekar yang sudah berada di samping sang suami, hanya tersenyum untuk menjawab ucapan Jonathan. Semua lantas menoleh pada Sekar.


"Ibu hamil?" Tanya Naina yang langsung menghampiri Sekar dan menggenggam kedua tangannya.


"Iya Sayang. Itu alasan Ibu baru bisa mengunjungimu sekarang setelah pernikahanmu kemarin." Jujur Sekar.


Sepulangnya Sekar dari Indonesia setelah pernikahan Naina, ia menyadari ada yang tak biasa dari tubuhnya. Ia pun memeriksakan keadaannya ke rumah sakit ditemani Wiliam. Dan saat itu, ia mendapati bahwa dirinya tengah hamil dua bulan.


Di usia Sekar yang sudah kepala empat, kehamilannya sungguh sangat beresiko. Maka dari itu, dokter kandungan Sekar, sangat meminta Wiliam dan Sekar untuk menjaga kondisi Sekar dengan lebih baik. Demi meminimalisir resiko buruk yang mungkin terjadi karena kehamilan Sekar di usianya sekarang.


Keberangkatan Sekar ke Indonesia pun, tentu dengan izin dokter kandungannya. Dokter harus benar-benar memastikan kondisi Sekar sangat baik untuk penerbangannya yang memakan waktu dua puluh jam itu.


Naina langsung memeluk tubuh Sekar dengan perasaan yang sangat bahagia. Hatinya bergetar hebat karena dua kabar bahagia yang ia dapatkan pagi ini.


"Eehh,," Sekar berteriak panik, karena hampir terjatuh, karena tubuh Naina mendadak merosot saat memeluknya.


Semua panik karena Naina yang mendadak melemas di pelukan Sekar. Dean pun segera meraih Naina yang nyaris terjatuh tapi masih dalam kondisi sadar.


"Kamu nggak papa Sayang?" Tanya Dean perhatian.


Naina mengangguk lemas karena euforia yang ia rasakan di tubuhnya. Ia pun dibantu Dean untuk duduk di sofa. Semua lantas ikut duduk di sofa karena ikut khawatir pada Naina.


"Kamu kenapa Na?" Tanya Sekar cemas.


Naina hanya menggeleng. Tubuhnya mendadak lemas begitu saja tadi. Ia pun bersandar sempurna di dada Dean.


"Kamu yakin? Apa ada yang sakit? Kepalamu pusing?" Tanya Sekar lagi, yang sudah duduk di samping Naina.


"Minum dulu!" Sela Jelita sambil menyerahkan segelas air putih yang baru saja ia tuangkan.


Dean pun menerima gelas itu lalu membantu Naina untuk minum.

__ADS_1


"Naina nggak papa Bu'. Mungkin Naina terlalu bahagia mendengar kabar bahagia ini." Sahut Naina lirih.


"Kamu yakin nggak papa Sayang?" Tanya Dean khawatir.


Naina hanya mengangguk. Tubuhnya masih terasa sedikit lemas dan rasanya menjadi enggan untuk banyak bicara.


"Nanti antar Naina ke rumah sakit untuk periksa De!" Pinta Jelita cepat.


"Tentu Ma." Jawab Dean yakin, seraya memeluk hangat tubuh Naina dengan sebelah tangannya.


Semua larut dalam kebahagiaan karena kabar kehamilan dua wanita itu. Mereka pun mengobrol santai di kamar Dean sambil menunggu kondisi Naina membaik.


Pukul sepuluh siang, Dean dan Naina akhirnya berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Naina. Dean juga ingin berkonsultasi pada dokter tentang kehamilan Naina. Mengingat, ini adalah momen pertamanya menemani Naina dalam kondisi hamil.


Saat sampai di rumah sakit, Dean dan Naina harus menunggu beberapa antrian pasien lain yang juga ingin berkonsultasi pada dokter. Kondisi Naina sudah cukup stabil setelah kejadian tak biasa tadi.


"Selamat Pak, Bu. Bayinya kembar." Ucap seorang dokter wanita paruh baya, yang tangannya sibuk menggerakkan alat di atas perut Naina.


"Kembar Dokter?" Tanya Naina tak percaya.


"Iya. Apa keluarga dari Bapak atau Ibu ada yang memiliki gen kembar?" Tanya dokter itu ramah.


"Iya. Mama saya kembar." Jujur Dean.


"Begitu rupanya." Jawab dokter itu singkat.


Dan ya, benar kata Jelita tadi. Dean tidak masuk kantor hari ini. Ia akhirnya meminta Niko untuk menjadwalkan ulang pertemuannya dengan klien pagi ini.


Saat ini, Dean hanya ingin menghabiskan waktunya bersama istrinya. Dan tak lupa, putri semata wayang mereka, yang sedang bersekolah.


...****************...


Satu bulan berlalu. Kehamilan Naina tentu disambut hangat oleh Rissa. Gadis kecil itu, sudah tidak sabar ingin segera melihat adiknya dan segera bermain dengan mereka.


Sekar sudah kembali ke Los Angeles dua minggu yang lalu. Ia berpamitan pada Naina, karena tak bisa menemaninya saat ia sedang hamil seperti dahulu. Tapi dia cukup tenang, mengingat, Naina kini sudah bersama orang-orang yang menerima dan menyayanginya dengan sepenuh hati.


Sekar berpamitan pada Naina, bahwa ia sementara tidak akan bisa mengunjungi putri dan keluarga kecilnya. Ia harus fokus pada kehamilannya sendiri sementara beberapa bulan kedepan.


Naina menyambut hangat alasan Sekar. Ia pun tak ingin terjadi apapun yang kurang baik pada calon adiknya itu.


Karena kehamilannya, Naina sangat dibatasi kegiatannya oleh Dean. Ia tak boleh terlalu fokus pada pekerjaannya, hingga akan mengganggu kondisi kesehatannya. Dean pun meminta dua asisten Naina untuk menangani semua pekerjaan Naina. Dan hanya akan menghubungi Naina jika memang sangat mendesak.


Dean pun juga akhirnya ikut campur tangan dalam mengurusi pekerjaan Naina. Semua itu dilakukannya demi menjaga wanita penjaga hatinya yang sedang sangat manja padanya akhir-akhir ini.


"Mas!" Ucap Naina, sambil sedikit menggoyangkan tubuh Dean yang terlelap di sampingnya.


"Hhmm." Jawab Dean sekenanya, karena memang ia sedang tertidur sangat nyaman.

__ADS_1


"Maaasss. Aku lapar." Rengek Naina.


"Ya makan dong!" Sahut Dean santai, dengan mata yang masih terpejam dan malah menarik Naina lebih dalam ke pelukannya.


"Ya ayo bangun! Kita beli dulu!" Ajak Naina sambil kembali menggoyangkan tubuh Dean.


Dean perlahan membuka matanya. Wajah Naina, tepat berada dihadapannya. Ia pun tersenyum hangat pada Naina.


"Ini jam berapa? Penjualnya masih pada tidur Sayang." Sahut Dean tanpa berpikir panjang.


"Aku maunya sekarang Mas. Penjualnya pasti masih jualan." Rengek Naina.


"Memangnya ini jam berapa?"


Naina mencoba melirik jam digital yang ada di atas nakas di kamarnya.


"Jam satu Mas."


"Penjualnya udah tutup Sayang. Besok baru buka." Jawab Dean santai, sambil kembali memejamkan matanya.


"Belum Mas." Rengek Naina lagi, dengan tangan yang sibuk bermain kaos yang Dean kenakan.


"Besok saja Sayang."


"Aku mau sekarang Mas."


"Sayang, mana ada orang jualan jam satu malam."


"Ada Mas."


"Udah pada tutup Sayang."


Naina tak menjawab lagi. Tangannya pun tiba-tiba diam, tak bermain kaos Dean lagi. Ia malah memeluk Dean dengan sangat erat. Dan perlahan, terdengar isakan dari dada Dean.


Dean yang menyadari hal itu, segera membuka matanya. Ia sejenak lupa, istrinya itu sedang hamil. Dan wanita hamil, emosinya sangat tidak stabil. Ia bisa jadi sangat sensitif hanya karena hal yang sepele.


"Jangan nangis dong Sayang! Oke, oke, kita keluar beli makan. Ya?" Ucap Dean cepat.


Naina menggeleng di dada sang suami.


"Kamu mau makan apa? Ayo, kita cari! Pasti penjualnya masih buka." Rayu Dean segera.


"Nasi kucing." Jawab Naina lirih.


"Apa Sayang?" Tanya Dean tak percaya.


"Nasi kucing dengan sambal ikan teri, Mas." Jawab Naina sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Dean.

__ADS_1


"Nasi kucing?" Ulang Dean kebingungan.


__ADS_2