Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Kemarahan Naina


__ADS_3

Siang berganti malam. Malam pun kembali berganti siang. Dan begitu seterusnya. Takdir tetap berjalan seperti yang telah digariskan.


Naina berangkat ke kantor seperti biasa pagi ini. Suasana hatinya sudah membaik perlahan. Butuh waktu bagi Naina menerima kenyataan, bahwa ia di bohongi oleh orang-orang disekitarnya.


Dan hari ini tepat enam minggu sejak keberangkatan Dean ke Jerman. Laki-laki itu masih tetap tak mengabari apapun pada Naina. Naina pun akhirnya memilih cuek dan berusaha melupakannya dengan semua kesibukan rutinnya.


"Sinta! Tolong kamu jemput Rissa ke sekolah! Aku harus menyelesaikan berkas-berkasku." Ucap Naina sembari tangannya masih sibuk mencorat-coretkan pulpennya.


"Baik Bu'." Sahut Sinta singkat.


Sinta yang baru saja selesai menelfon brokernya, langsung sedikit merapikan mejanya. Ia pun segera meraih tasnya dan mengambil kunci mobil yang berada di atas mejanya lalu keluar kantor.


Sinta sebenarnya dibelikan mobil oleh Naina untuk digunakannya sebagai alat transportasi sebagai asisten pribadinya. Tapi Sinta jarang memakainya. Ia hanya memakainya jika sedang dalam urusan pekerjaan. Ia tak menggunakannya jika untuk urusan pribadi, meski Naina mengizinkannya.


Belum ada lima menit Sinta keluar, sebuah suara yang cempreng khas anak kecil bersama wujudnya, muncul dari balik pintu ruangan Naina.


"Mommy,," Ucap Rissa penuh semangat sambil berlari menuju meja kerja ibunya.


"Rissa? Kamu pulang sama siapa? Tante Sinta baru aja keluar mau jemput kamu." Sahut Naina kebingungan.


"Maaf Bu'," Sinta pun masuk kembali ke dalam ruangannya mengikuti Rissa.


Rissa langsung duduk dipangkuan ibunya. Naina langsung memeriksa setiap jengkal tubuh Rissa. Ia pun celingukan mencari orang yang menjemput Rissa ke sekolah.


"Kamu kesini sama siapa sayang?" Tanya Naina bingung.


Rissa masih diam tak menjawab. Ia sibuk membaca berkas yang ada di meja ibunya.


"Sin, Rissa kesini sama siapa? Sama Niko?" Tanya Naina penasaran.


Iya, perlahan Rissa pun mulai dekat dengan Niko. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Niko yang sering menemui Sinta atau menemani Dean.


"Eemm,, sama,," Sinta kebingungan mengucapkannya. Ia takut, Naina akan marah dan perasaannya kembali memburuk seperti beberapa minggu yang lalu.


"Aku." Ucap seorang laki-laki yang masih berada di balik pintu.


Naina mengerutkan dahinya. Ia merasa familiar dengan suara itu. Ia pun menajamkan pandangannya ke arah pintu.


Perlahan laki-laki itu muncul dan menampakkan wajah dan tubuhnya secara utuh.


"Dean?"


Naina refleks berdiri. Beruntung ia masih menyadari bahwa Rissa ada di pangkuannya, ia lebih dulu menurunkan Rissa dari pangkuannya.


"Hai Na." Ucap Dean lembut dengan senyum lembutnya.


Hati Naina berteriak. Jantungnya berdetak cepat. Matanya mulai terasa panas. Ada perasaan yang bergelut dalam hatinya. Bahagia, akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan sosok yang ia rindukan beberapa hari terakhir. Tapi juga marah, karena ia tahu betul, ulah Dean yang dengan sengaja menyembunyikan kepergiannya.


Naina berusaha mengatur perasaannya. Menekannya agar tak meledak-ledak dan diluar kendali. Ia beberapa kali menarik nafas panjang.


"Sinta!" Panggil Naina tegas.


"Iya Bu',"


"Tolong antar Rissa pulang!" Pinta Naina tanpa basa-basi.


"Baik Bu'."


"Rissa!" Rissa menoleh pada Naina yang wajahnya terlihat menahan amarah.


"Kamu pulang sama Tante Sinta dulu. Mommy masih banyak kerjaan di kantor. Dan satu lagi, jangan pernah temui siapapun tanpa seizin Mommy!" Tegas Naina.


"Tapi Mom,,"

__ADS_1


"Nggak ada tapi! Cepat pulang!" Pinta Naina tegas.


"Na, jangan marah sama Rissa." Tegur Dean.


Naina diam tak menggubris ucapan Dean. Rasa kesal dan marahnya ternyata lebih mendominasi perasaan di hatinya.


Rissa akhirnya menuruti permintaan Naina. Ia berjalan menghampiri Sinta yang berdiri di dekat pintu bersama Niko dan Dean.


"Dan Sinta, tolong minta Tuan Dean pergi dari kantor ini!" Pinta Naina lagi setelah Rissa menggandeng tangan Sinta.


"Na, aku ingin bicara denganmu!" Ucap Dean lembut.


"Maaf Tuan Dean, saya masih banyak pekerjaan, jadi TOLONG tinggalkan kantor saya." Ucap Naina dengan nada yang cukup tinggi.


Dan itu berhasil membuat Rissa terkejut. Rissa tetaplah anak kecil, ia akan takut jika melihat ibunya marah. Dan ia juga tahu, apa penyebab kemarahan ibunya. Dan ia juga ikut andil dalam hal yang menjadi penyebab kemarahan Naina. Rissa pun memeluk tubuh Sinta.


"Na, cukup! Rissa ketakutan!" Bentak Dean.


"Kalau begitu, silahkan tinggalkan kantor saya!" Ucap Naina sembari menunjuk ke arah pintu keluar.


"Kenapa kamu masih di sini Sin?" Tanya Naina membuyarkan lamunan Sinta.


"Maaf Bu'." Ucap Sinta sambil membungkukkan badan.


"Ayo Rissa, Tante antar pulang!" Sinta segera menuntun Rissa berjalan keluar ruangan. Niko pun mengikutinya.


Naina segera membalikkan badannya membelakangi Dean. "Silahkan tinggalkan kantor saya Tuan Dean!"


Ceklek, ceklek.


Naina menoleh kembali. Ternyata, Dean mengunci pintu ruangan Naina dari dalam dan menyimpan kuncinya di saku celananya. Kini tinggal dia dan Naina yang ada di ruangn itu.


"Apa yang kamu lakukan De? Buka pintunya dan pergi dari sini!" Naina benar-benar meluapkan amarahnya.


"Tenanglah Na! Aku hanya ingin bicara denganmu." Jelas Dean perlahan sembari berjalan mendekati Naina.


"Aku tak ingin bicara denganmu De! Tinggalkan kantorku sekarang!"


"Na, biarkan aku menjelaskan semuanya!"


"Apa yang mau kamu jelaskan? Tentang persekongkolanmu dengan orang-orang disekitarku? Atau tentang pengawalmu yang diam-diam membuntutiku?"


"Oh ya, dan satu lagi, atau tentang Mama Lita dan Papa Jonathan yang tiba-tiba menemuiku dan memberitahuku bahwa kau berangkat ke Jerman?"


"Apa yang ingin kau jelaskan? Itu semua ulahmu bukan?"


Dean menghela nafas panjang mendengarkan semua perkataan Naina yang benar adanya. Ia tidak tahu, bahwa Naina akan mengetahui itu semua.


"Awalnya aku fikir kau marah padaku karena aku tak memenuhi permintaan sederhanamu malam itu,," Nada bicara Naina mulai pelan tiba-tiba.


"Dan betapa menyesalnya aku tak memenuhi permintaan sederhanamu, saat aku tahu, kau pergi ke Jerman yang entah kapan kau kembali. Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri karena tak memenuhi permintaanmu malam itu."


"Tapi saat aku tahu, ternyata kau diam-diam menghubungi Rissa, dan ternyata Rissa berbohong padaku, aku mulai terlihat sangat bodoh. Terlebih, ternyata Sinta juga melakukan hal yang sama dengan yang Rissa lakukan. Aku benar-benar merasa sangat bodoh ketika mengetahui itu semua."


Naina tertawa getir sembari menumpukan tangannya pada meja kerjanya dengan kepala yang tertunduk. Hatinya lelah mengingat betapa bodoh dirinya hingga bisa dibohongi oleh orang-orang yang dipercayainya.


"Sekarang, apa yang ingin kau jelaskan TUAN. DEAN. PRATAMA. DIEDRICH?" Naina mengangkat wajahnya lalu menatap tajam pada Dean.


Dean berjalan mendekati Naina. "Maafkan aku Naina."


Naina akhirnya menegakkan kembali tubuhnya. Ia berjalan mendekati Dean dengan tatapan sinis.


"Maaf katamu? Apa kau fikir, aku tak punya perasaan? Hingga dengan mudahnya kau mempermainkanku perasaanku seperti itu?"

__ADS_1


"Bukan itu maksudku Na."


"Oh, bukan itu? Lalu apa maksud dari perbuatan Anda Tuan Dean?" Cibir Naina.


"Aku mencintaimu Na. Aku ingin tahu, apakah kau juga mencintaiku." Jujur Dean.


"Anda gila Tuan Dean!" Naina membalikkan badannya dan menjauhi Dean lagi.


"Aku tak bisa membaca hatimu. Sikapmu tak bisa ditebak. Terkadang sikapmu bisa sangat dekat denganku, tapi juga terkadang kau terasa begitu jauh."


"Apakah harus dengan cara seperti itu kau mengetahuinya?" Bentak Naina lagi.


"Aku tahu Na, sikapku salah. Jadi, aku minta maaf padamu. Kumohon, maafkan aku Na!"


Dean tiba-tiba memeluk erat Naina dari belakang. Naina meronta sekuat tenaga. Ia berusaha menjatuhkan Dean dengan jurus beladirinya, tapi tak bisa. Pelukan Dean terlalu kuat, dan Dean juga bisa membaca gerakan Naina.


"Lepaskan aku De!"


"Tidak, sebelum kau memafkanku!"


Karena Naina menggunakan sepatu hak tinggi, tinggi badan Naina bisa sejajar dengan Dean. Akhirnya, Naina membenturkan kepala belakangnya sekuat tenaga ke kepala Dean. Dean yang tak mengira hal itu, terkejut hingga pelukannya akhirnya mengendor Naina pun segera melepaskan diri.


Dean mengaduh kesakitan. Naina pun sama, kepalanya terasa sangat sakit dan pusing. Tapi itu jalan terakhirnya. Dua manusia itu saling menahan sakitnya masing-masing.


"Kamu nggak papa Na?" Tanya Dean khawatir sembari memegangi kening dan hidungnya.


"Tolong, tinggalkan aku De!" Sahut Naina sembari memegangi kepalanya dengan satu tangan berpegangan pada meja.


"Na,,"


"Tinggalkan aku!"


Dean akhirnya mengalah. Ia tahu, jika sikapnya salah. Ia pun mengeluarkan kunci yang tadi ia simpan di sakunya. Ia lalu membuka kunci pintunya.


"Kamu yakin nggak papa Na?" Tanya Dean sebelum keluar.


"Tinggalkan aku De!" Sahut Naina lirih. Ia masih menahan kepalanya yang pusing.


Dean akhirnya melangkahkan kakinya keluar ruangan Naina. Ia pun menutup pintu ruangan perlahan. Di depan, Niko masih setia menantinya. Mereka lantas meninggalkan apartemen yang menjadi kantor Naina.


Setelah Dean keluar, tubuh Naina merosot. ia terduduk di belakang meja kerjanya. Hatinya merasa sakit tak karuan. Akhirnya ia menumpahkan tangisnya.


Tak dapat Naina pungkiri, hatinya mulai luluh oleh laki-laki yang sering membuatnya kesal itu. Namanya mulai terukir dalam sudut hati kecilnya. Dan semakin lama, semakin jelas terukir.


Naina berusaha menolak rasa itu. Karena ia tak ingin terjatuh terlalu dalam dan akhirnya akan tersakiti terlalu dalam juga. Masa lalu yang tak bisa diubahnya, menjadi bayangan hitam yang selalu membuatnya menjauh dari laki-laki yang ia cintai.


Dan kini, saat cinta itu datang menghampirinya, ia pun harus sekuat tenaga menjauh dari rasa dan laki-laki itu. Meski terasa sangat menyakitkan, tapi ia harus berusaha.


Kini, ia hanya bisa menangis. Agar hatinya lebih tenang.


...****************...


Pagi ini, pagi yang tenang di rumah Naina. Setelah berlari di taman dengan Rissa, mereka bersantai di rumah. Melepas lelah dan penat.


Rissa sudah menyelesaikan syutingnya. Semua sudah selesai. Hanya tinggal menunggu pemutaran perdana filmnya saja.


Naina bersyukur, Rissa masih disampingnya. Meski banyak yang menyadari kemiripan Rissa dengan Delvin, untungnya Delvin masih diam tak bereaksi. Dia hanya mencoba mendekati Naina. Mencoba menarik perhatian Naina. Tapi sayang, itu belum berhasil. Hati Naina tidak menyambut Delvin.


Misi Naina mendekatkan Rissa dengan Delvin cukup berhasil. Rissa beberapa kali bisa dekat dan pergi menghabiskan waktu bersama Delvin diluar lokasi syuting. Itu cukup bagi Naina. Rissa pun sudah tak lagi menanyakan tentang ayahnya. Atau lebih tepatnya, belum menanyakan lagi.


Pagi ini, terasa lebih tenang bagi Naina. Hatinya sudah mulai tenang dan lega setelah menumpahkan tangisnya semalam karena ulah Dean.


Naina sedang asik duduk santai dibawah pohon jambu sendirian. Rissa sedang asik menonton film kartun kesukaannya.

__ADS_1


Samar terdengar ketukan dari pintu depan rumahnya. Atun pun segera berlari ke depan untuk membuka pintu. Dan ternyata, Rissa pun mengikutinya. Ia penasaran, siapa yang datang.


"Aaaaaaa, Mbak Atun tolooonnggg!" Teriakan Naina menggema hingga pintu depan. Tepat sesaat setelah Atun membuka pintu.


__ADS_2