Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Ulah Dean


__ADS_3

"Mommy,," Rissa segera berlari ke taman belakang karena mendengar teriakan Sinta.


Lita, Dean dan Niko mengikuti langkah Rissa. Rissa berteriak histeris karena melihat ibunya tergeletak di lantai dengan wajah pucat. Sinta masih berusaha mengangkat Naina.


"Mommy, Mommy, Mommy,," Panggil Rissa sambil menggoyangkan tubuh Naina.


Naina pingsan setelah Sinta masuk ke rumah mengambilkan obat. Tubuhnya yang tak bisa bersandar sempurna pada kursi di teras belakang, akhirnya merosot ke lantai.


"Mommy kenapa Tante?" Tanya Rissa sembari menangis.


"Naina!"


"Nona!"


Semua orang panik. Dean segera menyingkirkan Sinta. Ia meraih tubuh Naina dan membopongnya.


"Dimana kamarnya?" Tanya Dean tanpa basa-basi.


"Sini Om!" Teriak Rissa.


Dean lalu mengikuti Rissa membawa Naina ke kamarnya. Kamar utama di rumah itu. Semua lalu mengikuti Dean.


Tubuh tegap dan kekar Dean, dengan mudah mengangkat tubuh Naina. Membawanya menuju kamar Naina tanpa kesulitan yang berarti.


"Niko, panggil Dokter Juan, cepat!" Ucap Dean panik setelah ia membaringkan Naina di kasurnya. Niko langsung memanggil dokter keluarga Diedrich.


"Naina, bangunlah! Naina!" Panggil Dean seraya menepuk-nepuk pipi Naina.


Rissa masih terus menangis di samping tubuh Naina. Atun menyerahkan minyak angin pada Sinta. Sinta pun mendekatkan minyak angin ke hidung Naina. Hingga beberapa saat, Naina masih belum sadar.


"Dia kenapa tadi?" Tanya Dean.


"Saya kurang tahu. Sepertinya perutnya sakit, maagnya mungkin kambuh." Jelas Sinta.


Semua orang masih panik karena Naina tak kunjung sadar. Rissa sudah mulai tenang karena di tenangkan oleh Atun dan Sinta. Kepanikan masih menghiasi wajah tampan Dean yang setia duduk di samping Naina sembari mengusap-usap tangan Naina yang dingin.


"Kenapa Dokter Juan lama sekali?" Gerutu Dean.


Naina mulai membuka mata mendengar suara Dean. "Mommy, Mommy,,"


Mata Naina terasa berat untuk terbuka. "Naina, Naina?" Panggil Dean lembut.


Mata Naina terbuka sempurna. Ia memandangi semua orang yang menatapnya cemas. Rissa segera memeluk tubuh Naina yang masih lemas.


"Syukurlah kamu sudah sadar Nak." Ucap Lita.


"Sadar? Memangnya aku kenapa?" Batin Naina.


Naina masih enggan berbicara. Badannya terasa lemas, perutnya masih terasa sakit. Ia masih belum menyadari, tangannya digenggam oleh Dean. Ia masih merasakan pelukan Rissa yang sedikit terisak di dadanya. Naina menatap Dean yang tersenyum hangat padanya.


Seorang laki-laki memasuki kamar Naina bersama Atun.


"Kamu kenapa lagi Na?" Tanya Juan, dokter yang tadi ditelepon oleh Niko.


Lita, Dean dan Niko terkejut mendengar ucapan Juan. Mereka menatap bingung pada Juan yang masih santai menyiapkan alat untuk memeriksa Naina.


"Kenapa kalian melihatku begitu?" Tanya Juan bingung, ketika menyadari tatapan tiga orang asing di rumah itu.


"Dokter kenal dengan Naina?" Tanya Dean.


"Dia juga salah satu pasienku. Iya kan Cantik?" Ucap Juan menatap Rissa yang telah melepaskan pelukannya pada Naina.


"Iya Om." Sahut Rissa.


"Kamu kenapa Na? Sakit lagi perutnya?" Terka Juan.


"Tadi Ibu pingsan Dokter." Sahut Sinta.


"Pingsan?" Bentak Juan. "Kamu mau nginap di rumah sakit lagi?" Sindir juan pada Naina.


"Aku pingsan?" Naina masih belum sadar, bahwa dia tadi sempat pingsan.


"Lagi? Memang Naina kenapa Dokter?" Tanya Lita.

__ADS_1


"Naina memiliki riwayat maag akut dan juga memiliki kebiasaan susah minum obat. Bukan begitu Mommy?" Ucap Juan menirukan panggilan Rissa pada Naina. Naina hanya tersenyum kaku.


"Ini udah pegangannya! Saya mau periksa pasiennya dulu!" Tegur Juan sembari menepuk tangan Dean yang menggenggam erat tangan Naina.


Naina baru sadar, jika tangannya digenggam oleh Dean sejak tadi. Ah, tiba-tiba pipinya merona. Jantungnya berdegup kencang. Dia jadi salah tingkah setelah tangannya dilepas oleh Dean.


Dean lalu berdiri dan membiarkan Juan memeriksa kondisi Naina. Ia memandangi Naina yang sedang diperiksa Juan.


"Obatmu kamu minum kan?" Tanya Juan.


Naina tersenyum kaku.


"Harus gimana lagi sih Na biar kamu itu mau minum obat? Kamu nggak kasihan sama Rissa?" Tegur Juan.


"Kamu harus rawat inap! Kondisimu memburuk Na."


"Tapi Dokter, saya nggak bisa! Saya harus menemani Rissa besok. Berikan saya obat saja Dokter, saya pasti akan meminumnya!" Rayu Naina.


"Tapi kondisimu memburuk Na."


"Tolong Dokter Juan! Saya benar-benar tidak bisa rawat inap di rumah sakit. Saya janji, saya akan meminum obatnya!" Rengek Naina.


Juan yang mengerti kondisi Naina, hanya menghela nafas panjang. "Baiklah! Tapi kamu harus meminum obatmu secara teratur. Dan hubungi aku ketika obatmu habis! Aku akan memeriksa kondisimu lagi."


"Tenang saja Dokter! Naina akan menjalani rawat inap mulai nanti!" Ucap Dean yakin.


Semua menoleh pada Dean. "Saya akan pastikan Naina menjalani rawat inap!"


"Dean!" Bentak Lita.


"Iya Ma?"


"Diam!" Dean langsung membeku mendengar ucapan mamanya. Bibirnya sedikit mengerucut kesal.


"Jangan dengarkan dia Dokter! Tolong berikan saya obatnya saja! Saya pasti akan meminumnya." Ucap Naina lirih.


"Kamu juga harus makan teratur! Ingat itu!" Ucap Juan memastikan.


"Baiklah Dokter!" Sahut Naina.


Juan merupakan dokter langganan Naina. Sedikit banyak ia sudah mengenal Naina. Ia juga tahu jika Naina adalah seorang single parent. Maka dari itu, ia akan bisa memahami kondisi Naina jika sudah menyangkut putrinya, Rissa. Juan pun sudah mengenal Sinta sebagai asisten pribadi Naina. Sinta pun mengantar Juan hingga ke depan.


"Apa dia kekasih Naina?" Tanya Juan sebelum ia pergi.


"Bukan Dokter. Tuan Dean hanya teman Bu Naina." Jujur Sinta.


Juan tersenyum lega. Ia lantas meninggalkan rumah Naina. Sinta pun segera ke apotek untuk membeli obat untuk Naina ditemani oleh Niko.


"Apa kamu sudah makan?" Tanya Dean setelah Niko pergi bersama Sinta.


"Sudah." Sahut Naina singkat.


"Belum Om. Mommy belum makan." Jawab Rissa.


"Rissa!" Tegur Naina. Rissa hanya meringis kecil.


"Boleh aku pinjam dapurmu?" Tanya Dean.


"Untuk apa?"


"Boleh Om. Ayo Rissa antar!" Sahut Rissa antusias.


Naina hanya menghela nafas panjang. Badannya masih lemas, hingga malas mendebat Rissa. Ia hanya menatap Dean dan Rissa yang berjalan keluar kamarnya.


"Maaf ya Na, Dean memang seperti itu sikapnya." Ucap Lita canggung.


"Iya Ma, tidak apa. Maaf merepotkan Mama. Tapi, sebenarnya Mama kesini ada apa?"


"Oh itu. Dean mau minta maaf padamu tentang kejadian kemarin di resto." Jujur Lita.


"Naina yang minta maaf Ma. Naina nggak sopan kemarin."


"Enggak Na. Dean yang nggak sopan kemarin. Dia cukup lama hidup di Jerman. Dia terbiasa dengan kehidupan luar negeri yang cukup bebas." Jelas Lita.

__ADS_1


Naina hanya ber-oh ria. "Tadi Naina pingsan Ma?"


"Iya. Kamu tadi pingsan di teras belakang. Dean yang membawamu kesini." Cerita Lita.


"Dean?" Naina terkejut mendengar ucapan Lita.


"Iya."


Naina terdiam. Ia masih belum mempercayai ucapan Lita. Tapi ia juga mencoba berpikir rasional. Tak mungkin juga Sinta dan Atun bisa membawanya ke kamar dengan mudah. Mengingat jarak kamarnya dengan teras belakang cukup jauh, dan harus melewati ruang makan dan ruang keluarga yang cukup penuh dengan furniture.


Tak mungkin juga jika Niko yang membawanya. Ia akan sangat tak enak hati dengan Sinta jika itu memang terjadi.


Lita menemani Naina mengobrol, sedangkan Dean dan Rissa sibuk di dapur. Tak lama, Dean dan Rissa kembali ke kamar Naina. Naina tengah duduk bersandar pada sandaran ranjang kasurnya.


Naina terkejut melihat Dean membawa nampan dengan sebuah mangkuk dan segelas air putih hangat diatasnya. Rissa pun mengikuti Dean dengan wajah ceria.


"Mbak Atun kemana Ris?" Tanya Naina.


"Ada Mom di dapur."


"Kenapa nggak minta Mbak Atun yang bawain makanannya?"


"Dia baru beresin dapur. Maaf, aku berantakin dapurmu tadi." Jawab Dean lembut.


Lita segera berdiri dan memberikan ruang untuk Dean agar menyiapkan makanan untuk Naina. Dean meletakkan nampannya di kasur, tepat di samping kaki Naina.


Semangkuk oatmeal dengan topping beberapa potong buah-buahan segar nampak menggugah selera. Dean segera mengambil mangkuk itu.


"Aku suapi ya? Kamu harus makan teratur bukan?" Ucap Dean sembari menyendok oatmeal yang ia pegang.


"Aku bisa makan sendiri." Sahut Naina dengan nada bicara lebih lembut.


"Kamu masih lemas bukan? Biar aku suapi! Aaa,," Dean menyodorkan sesendok oatmeal ke mulut Naina.


"Aku akan makan sendiri De. Tolong letakkan saja!" Pinta Naina.


"Kamu yakin?"


Naina hanya mengangguk. Dean pun mengalah. Ia meletakkan mangkuk dan sendoknya kembali ke atas nampan.


"Rissa suapi ya Mom?"


"Rissa bisa?" Tantang Naina.


"Bisa dong!" Sombong Rissa.


Rissa segera mengambil sendok yang telah berisi oatmeal dan menyuapkannya pada Naina. Naina tersenyum melihat tingkah putrinya.


"Makasih Sayang!" Ucap Naina sembari mengusap pipi Rissa yang duduk bersebrangan dengan Dean.


"Mommy nggak makasih sama Om Dean?" Celetuk Rissa.


"Om Dean?" Naina menoleh pada Dean.


"Kan ini yang nyiapin Om Dean tadi." Sahut Rissa.


Lita diam-diam tersenyum melihat tiga orang yang sedang berada di atas kasur itu. "Apa itu putraku?"


"Kenapa nggak minta Mbak Atun yang nyiapin?" Tanya Naina.


"Kalau sekedar oatmeal, itu hal sepele untuk Dean Na." Sahut Lita santai.


"Mama!" Celetuk Dean seikit malu.


"Kenapa? Kan benar yang Mama bilang." Sahut Lita santai.


Naina hanya mendengarkan obrolan ibu dan anak itu. "Makasih De."


Dean menoleh pada Naina. Ia lantas mengangguk dan tersenyum pada Naina.


Naina pun kembali memakan oatmeal yang dibuat Dean. Ia memakannya sendiri. Dan sesekali disuapi oleh Rissa.


Suasana mulai mencair. Obrolan di kamar Naina mengalir begitu saja. Sikap Naina pada Dean pun perlahan melunak seiring obrolan yang berlalu.

__ADS_1


"Kapankah aku bisa melihat putraku bahagia dengan keluarga kecilnya? Seperti saat ini mungkin."


__ADS_2