Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti. Menapaki masa dan rasa yang telah digariskan oleh Sang Ilahi. Merangkai dan menguntai asa yang selalu ada dalam setiap nafas yang selalu dilalui.


Kabar kecelakaan Naina menyebar cepat. Beberapa kolega bisnisnya pun ada yang datang untuk menjenguknya di rumah sakit. Ada yang memang berniat untuk melihat kondisi Naina, dan ada juga yang memiliki niat terselubung dibalik kedatangannya. Misalnya, mencari perhatian Naina dan ingin mendekatinya.


Pesona Naina belumlah pudar seiring berjalannya waktu. Kabar gagalnya pernikahan Naina dengan Delvin dua tahun lalu, tidak membuatnya memiliki citra kurang baik di hadapan para laki-laki yang mengincarnya. Mereka malah semakin gencar mendekati Naina demi mendapatkan wanita dengan setatus janda palsu itu.


Tapi apa mau dikata, jika takdir berkehendak lain. Mereka yang berniat mendekati Naina harus mengubur harapan mereka dalam-dalam saat tiba di rumah sakit. Pastinya karena kehadiran seseorang yang tak pernah mereka duga sebelumnya.


Dean pastinya. Putra sulung salah satu pebisnis ekspor-impor dan properti dari Jerman itu, tak pernah membiarkan Naina menemui koleganya seorang diri. Ia akan selalu ada disampingnya demi wanitanya. Agar wanitanya tidak direbut oleh orang lain pastinya.


Dean bahkan tak segan menunjukkan sikap manisnya pada Naina saat ada kolega bisnis Naina yang menjenguknya. Ia bahkan dengan santainya memanggil Naina dengan panggilan sayangnya di hadapan mereka.


Posesif? Iya. Dean benar-benar tak ingin kehilangan Naina. Perpisahannya dengan Naina selama dua tahun dan kebenaran yang telah terungkap, membuat Dean benar-benar tak ingin berpisah kembali dari Naina.


Banyak yang terkejut karena Dean bisa ada di rumah sakit menemani Naina. Karena dari kabar yang beredar, Dean telah memiliki kekasih selama ini. Ia bahkan menolak semua wanita yang mendekatinya karena ia telah memiliki seorang kekasih yang tak pernah diketahui oleh orang-orang identitasnya.


Tiga minggu sudah Naina dirawat di rumah sakit. Dokter sudah memberikan izinnya untuk Naina agar bisa menjalani rawat jalan. Naina pun pulang ke rumah ditemani oleh Dean dan Sekar.


Sekar masih setia menemani putrinya di sini. Suami dan putra-putrinya sudah kembali lebih dulu ke Amerika dengan urusannya masing-masing. Wiliam jelas dengan pekerjaannya. Sedang kedua anaknya jelas dengan sekolahnya.


Lea dan Hera sudah kembali ke Lombok bersama Ben sejak Naina masih di rumah sakit. Karena Ben masih harus mengurusi bisnisnya. Lea dan Hera pun akhirnya ikut kembali ke Lombok bersama sang suami dan memantau kondisi Naina dari sana. Mereka sedikit tenang karena ada Sekar yang menemani Naina saat ini.


Pagi ini, Naina sudah bersiap kembali pada rutinitasnya, bekerja. Ia sudah siap kembali ke kantor, setelah dua minggu dikurung oleh Dean di rumahnya sendiri.


Iya, Naina dikurung oleh Dean dirumahnya sendiri. Dean tak membiarkan ibu dari putri kesayangannya itu pergi kemanapun tanpa dirinya. Apalagi untuk bekerja di kantor, Dean tidak mengizinkannya sama sekali.


Setiap pagi, Dean akan datang ke rumah Naina untuk memastikan Naina tidak berangkat ke kantor. Begitupun dirinya, tidak ke kantor selama mengurung Naina di rumah. Mereka berdua mengerjakan pekerjaannya dari rumah.


Bahkan Dean juga membantu pekerjaan Naina agar Naina tidak kelelahan dalam masa pemulihannya. Dean juga memastikan Naina makan dengan baik dalam masa pemnyembuhannya ini. Dean pun dengan setia dan senang hati menyiapkan makanan untuk Naina selama ia berada di rumah Naina saat siang hari.


Tapi Dean juga tak lupa, mengajak Naina untuk menikmati waktunya. Berjalan-jalan bersama. Mengantar dan menjemput putrinya ke sekolah. Mereka sudah seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.


"Mommy yakin mau berangkat ke kantor? Daddy nggak akan marah?" Tanya Rissa polos sebelum ia dan Naina keluar rumah.


"Ya yakin dong Sayang. Mana mungkin Daddy marah? Kan Mommy nggak bawa mobil sendiri. Kita nanti dijemput Tante Sinta." Jawab Naina santai.


"Apa Daddy akan jemput Rissa lagi nanti ke sekolah?"


"Mommy nggak tahu Sayang. Coba kamu telepon!"


Naina pun mengambil beberapa keperluannya di kantor. Beberapa berkas dan tasnya yang sudah ia siapkan sejak semalam.


Sedang Rissa, langsung menelepon Daddy-nya untuk menanyakan hal yang tadi ia tanyakan pada ibunya.


Setelah semua siap, mereka pun keluar rumah bersama. Dan di saat bersamaan, Sinta pun telah tiba untuk menjemput Naina dan Rissa. Mereka segera mengantar Rissa ke sekolah lebih dulu. Setelah itu, Naina dan Sinta pun berkendara ke kantor Naina.


Para karyawan Naina tersenyum lega dan bahagia melihat kedatangan Naina. Mereka menyambut hangat kedatangan Naina ke kantor setelah lima minggu Naina tidak berkantor. Naina pun membalas sapaan para karyawannya dengan senyum hangat.


Hari pertama Naina berkantor, pekerjaannya sudah cukup banyak. Banyak berkas-berkas dan beberapa kontrak kerjasama yang harus ia periksa. Hingga waktu istirahat siang pun tiba. Sinta dan Riska dengan sabar mengingatkan atasannya untuk beribadah dan makan siang terlebih dahulu.


Pukul tiga sore.


"Sinta!" Panggil Naina saat ia membuka pintu ruangannya.


"Kok sepi? Kemana para karyawan? Sinta sama Riska juga kemana lagi?" Gumam Naina bingung.


Naina terkejut melihat para karyawannya tidak berada di tempatnya satu pun. Ruangan kerja di depan ruang kerja Naina yang biasanya sibuk dengan para karyawannya, saat ini sangat lengang. Meja kerja Sinta dan Riska yang berada tepat di ruangan sebelah ruang kerja Naina pun kosong.


"Bu Naina!" Panggil Riska yang baru saja keluar dari lift.


Naina pun menoleh.


"Ini pada kemana Ris? Kenapa bisa nggak ada orang gini? Sinta kemana?" Tanya Naina panjang lebar.


"Maaf Bu', ada masalah di bawah. Mbak Sinta sedang berusaha menyelesaikannya. Dan karena masalah itu, para karyawan jadi turun untuk melihatnya." Jawab Riska sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Masalah apa?" Tanya Naina sedikit geram karena sebelumnya tak pernah terjadi hal seperti ini.


"Maaf Bu'. Ibu bisa turun dan melihatnya sendiri. Terlalu sulit untuk dijelaskan Bu'." Jujur Riska sedikit bingung.


"Ada apa sih Ris? Kenapa aku sampai tak tahu jika ada masalah di kantor?"


"Maaf Bu'. Mbak Sinta tidak ingin Ibu kelelahan. Jadi dia berusaha menyelesaikannya sendiri lebih dulu."


"Yasudah. Ayo turun!"


"Baik Bu'."


"Ah iya, ponselku tertinggal di dalam." Gumam Naina saat mulai melangkahkan kakinya.


"Biar saya ambilkan Bu'." Sahut Riska tulus.


"Tolong ya! Aku tunggu di depan lift."


"Baik Bu'."


Naina pun berjalan menuju lift yang ada di kantornya. Sedang Riska menuju ke ruang kerja Naina untuk mengambil ponsel Naina yang tertinggal. Riska bahkan sedikit berlari agar segera bisa menyusul Naina.


Setelah selesai, mereka lantas masuk ke lift. Riska pun menekan tombol lantai satu setelah masuk ke dalam lift. Ia lantas berdiri sedikit dibelakang Naina seperti biasanya.


Ting. Pintu lift terbuka. Kening Naina berkerut sempurna. Ia kebingungan saat melihat apa yang ada di depan pintu lift yang terbuka. Ia menoleh pada Riska yang berada di dekatnya.


"Ada apa ini Ris?" Tanya Naina kebingungan.


Riska hanya menggelengkan kepalanya. Naina lalu dengan ragu melangkahkan kakinya keluar lift. Ia mulai menapaki lantai kantornya yang sedikit berbeda saat ini.


Bagaimana tidak berbeda? Tepat di depan pintu lift, ada taburan kelopak bunga mawar merah yang membentuk sebuah jalan menuju ke suatu tempat. Bahkan di beberapa bagian, ada kelopak mawar berwarna pink yang dibentuk dengan lambang cinta menghiasi karpet kelopak bunga itu.


Para karyawan Naina pun tersenyum hangat pada Naina yang berjalan perlahan menyusuri hamparan karpet kelopak bunga itu. Mereka bahkan satu per satu berjajar dan memberi Naina satu tangkai bunga mawar merah yang meraka bawa. Naina pun menerimanya dengan kebingungan.


Setelah berjalan beberapa meter mengikuti hamparan karpet kelopak bunga itu, Naina melihat seseorang yang beberapa hari ini selalu menemaninya tanpa lelah. Ia berdiri dengan senyum hangatnya menanti Naina tiba dengan bunga mawar yang mulai memenuhi tangannya.


"Astaghfirullah. Apa ini ulah Dean?" Gumam Naina saat laki-laki itu berjalan mendekatinya.


Naina menjatuhkan semua tangkai bunga yang ada di tangannya. Satu tangannya segera menutupi mulutnya yang ternganga karena terkejut.


Ya, Dean menyiapkan kejutan itu untuk Naina. Ia meminta Sinta dan Riska membantunya menyiapkan kejutan itu. Sinta dan Riska pun dengan senang hati membantunya. Mereka segera memberitahu para karyawan Naina untuk bekerja sama dalam kejutan ini.


Dean berjalan menghampiri Naina yang jantungnya berdegup begitu kencang. Nafasnya sedikit tak beraturan karena aliran darahnya yang berdesir hebat. Airmatanya pun mulai menggenang. Hatinya berteriak tertahan. Suaranya mendadak tercekat ditenggorokannya.


"Ini untukmu Sayang." Ucap Dean seraya memberikan sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar yang sedari tadi ia pegang.


Naina pun menerimanya dengan tubuh yang gemetar.


"Aku tak tahu, apakah ini sudah cukup romantis untukmu. Tapi yang aku tahu, ini semua hanya untukmu." Jujur Dean.


Airmata Naina sudah tak bisa dibendung lagi. Mereka mulai meluncur membasahi wajah cantiknya yang kini sudah merona sempurna.


"Maaf, aku datang sangat terlambat. Tapi yang perlu kamu tahu, namamu sudah terukir dalam hatiku sejak pertemuan pertama kita."


"Dan sekarang, izinkan aku mengatakan apa yang seharusnya sejak lama aku katakan padamu."


Tiba-tiba, terdengar sebuah alunan lagu yang menggema di lobi kantor itu. Lagu yang bisa dibilang, cukup romantis. Lagu dari salah satu band negeri ini. Akad by Payung Teduh.


Naina menoleh kesana kemari mencari sumber suara. Dan tanpa ia sadari, Dean sudah berlutut dengan sebelah kakinya di hadapannya. Memegang sebuah kotak berlapis beludru berwarna merah dengan sebuah cincin yang beberapa hari lalu sudah ia lihat.


"Astaga!" Ucap Naina terkejut saat melihat Dean. Sontak ia mundur satu langkah ke belakang.


"Naina Andini. Aku tak bisa menjanjikan kebahagiaan seutuhnya untukmu. Aku juga tak bisa menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagimu dan Rissa. Tapi, aku akan berusaha, memberikan yang terbaik untuk kalian. Aku akan berusaha, menjadi pendamping hidup dan ayah yang terbaik bagimu dan Rissa."


"Naina Andini. Maukah engkau menjadi milikku seutuhnya? Berbagi suka duka kehidupanmu denganku di sisa usia kita? Menjalani hari-hari bersama dalam sebuah ikatan yang Allah kehendaki. Maukah engkau menikah denganku Nandini? Maukah engkau menjadi istriku satu-satunya dan yang terakhir bagiku?"

__ADS_1


Naina tak bisa berucap apapun. Perasaannya sungguh tak bisa ia ungkapkan begitu saja. Airmatnya pun masih setia menemani.


Bahagia? Pasti. Ia sangat bahagia mendapat kejutan indah dari kekasihnya itu. Sedih? Iya. Karena kenapa baru sekarang semua ini terjadi. Setelah banyaknya airmata kepedihan dalam hidupnya.


Bruk. Tubuh Naina ditubruk oleh putri kecilnya. Naina pun makin terkejut. Apalagi, ada Jonathan, Jelita, Sekar, bahkan Lea dan Hera yang berjalan mendekat padanya. Mereka tersenyum hangat pada Naina.


"Mom, please make him my real father. I want him to be my only father." Ucap Rissa setelah ibunya menatap lembut padanya.


Naina tersenyum haru mendengar ucapan putrinya.


"Terimalah Na! Ini waktumu untuk bahagia. Setelah semua yang kamu alami selama ini, sekarang waktumu untuk bahagia." Ucap Lea yang sudah berdiri di samping kanannya.


"Iya Na. Kamu selalu mengkhawatirkan kami bukan? Sekarang, kami sudah bahagia dengan keluarga kecil kami. Mbak Sekar juga sudah bahagia dengan keluarganya. Sekarang, giliranmu untuk bahagia dengan keluargamu Na." Imbuh Hera yang berdiri di samping Lea.


"Kamu sudah jelas mendapat restu dari Ibu Na." Tambah Sekar sambil mengusap lembut lengan kiri Naina.


"Jadilah putriku selamanya Sayang!" Pinta Jelita tulus.


"Mama." Ucap Naina disela isakannya.


Hati Naina begitu terharu mendengar ucapan Jelita. Tak pernah ia kira, orang yang pernah menolaknya mentah-mentah, kini dengan tulus memintanya menjadi putrinya selamanya.


Jelita tersenyum hangat pada Naina. Ia pun menganggukkan kepalanya.


Naina lantas menoleh kembali pada Dean yang kakinya mulai pegal karena berlutut.


"Mom!" Rengek Rissa yang masih memeluk tubuh Naina.


Naina menoleh sejenak pada Rissa.


"Ya Allah, jika memang ini baik untukku dan putriku, ridhoi keputusan hamba." Batin Naina.


"Terima!"


"Terima!"


Sorakan para karyawan Naina sedikit memecah suasana.


"Yes, I will." Jawab Naina lirih disela sisa isakannya.


"Thank you Mom." Rissa mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih Sayang." Ucap Dean seraya berdiri.


Semua tersenyum lega mendengar jawaban Naina. Para karyawan pun bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah menyambut keputusan Naina.


Dean lalu mengambil cincin yang sudah ia siapkan. Ia lalu meraih tangan kiri Naina dan menyematkannya di jari manis Naina.


"Thank you so much Baby." Ucap Dean lagi yang lalu mengecup lembut tangan Naina.


Naina hanya bisa mengangguk dan tersenyum haru. Airmata haru itu kembali mengalir indah.


"Daddy!" Panggil Rissa bahagia.


Dean dan Naina pun menoleh pada Rissa yang berjingkrak-jingkrak bahagia.


"Carry me Dad!" Pinta Rissa sambil mengangkat kedua tangannya.


Dean pun segera meraih tubuh Rissa dan menggendongnya.


"Come here Mom! Let me hug my Mom and Dad!" Pinta Rissa polos.


Naina pun segera mendekat. Rissa benar-benar memeluk dirinya dan Dean dengan erat. Ia bahkan bisa merasakan perasaan bahagia Rissa saat ini.


Sebuah pilihan dalam hidup, terkadang bisa membawa kebaikan bagi banyak orang. Terkadang juga bisa membawa keburukan bagi orang lain. Apapun itu, semua pasti ada. Kebaikan dan keburukan. Semua berjalan beriringan dan saling mengisi dan melengkapi.

__ADS_1


__ADS_2