
Pagi yang sedikit mendung menyapa penduduk ibukota. Awan kelabu menggantung di beberapa tempat, menghalangi sinar hangat mentari mencapai bumi. Memberikan suasana sendu pada hati yang mendamba cerahnya mentari pagi.
Naina bangun tidur dengan hati sedikit kesal. Pasalnya, Dean belum mengatakan siapa yang akan dia kenalkan pada Naina dan Rissa hari ini. Perempuan, yang spesial bagi Dean.
Cemburu? Jelas. Naina cemburu pada wanita itu. Bagaimana bisa, Dean dengan santai ingin mengenalkan wanita itu pada Naina, yang notabene, baru saja menyandang status istri dari laki-laki tampan itu.
"Siapa sih dia? Berani-beraninya dia menggoda Dean." Batin Naina kesal sambil memotong-motong bahan masakannya.
Tiba-tiba, sepasang tangan kekar menelusup dan melingkar sempurna di pinggang Naina. Kepalanya pun langsung bersandar di bahu Naina dengan manja. Siapa lagi kalau bukan sang suami, Dean.
Naina terlalu fokus pada kecemburuannya pada wanita yang belum jelas siapakah dia, sejak tadi. Hingga ia tak menyadari, Dean datang menghampirinya ke dapur.
Ini akhir pekan. Jadi, keluarga kecil Naina semua berada di rumah. Dan gadis kecil Naina, kembali terlelap di kamarnya karena kelelahan, setelah kemarin berjalan-jalan sejak sore hingga malam bersama kedua orang tuanya. Dan Dean jelas memanfaatkan itu dengan bermesraan bersama istri tersayangnya.
"Kamu mau masak apa Sayang?" Tanya Dean manja.
"Nanti juga tahu." Sahut Naina ketus.
Dean mengerutkan keningnya. Ia terkejut dengan tanggapan Naina yang ketus padanya.
"Naina kenapa pagi-pagi? Dia marah kenapa?" Batin Dean bingung.
"Aku mau masak. Awas!" Imbuh Naina kesal, sambil melepaskan paksa pelukan tangan Dean.
Dean makin bingung dengan sikap Naina. Padahal biasanya, mereka akan masak berdua setelah Dean menggodanya seperti itu. Ia yakin, istrinya kini sedang marah dan ia tak tahu apa alasannya.
Dean akhirnya kembali memeluk erat pinggang Naina dan memutar tubuhnya agar mereka saling berhadapan. Naina yang hampir memegang pisau dan wortel yang sedang ia potong tadi, pun terkejut.
"Apaan sih Mas? Aku mau masak." Sahut Naina kesal.
"Kamu kenapa pagi-pagi? Marah padaku?" Tanya Dean segera.
"Nggak." Jawab Naina singkat.
"Terus?"
"Nggak marah ya nggak marah pokoknya."
"Kalau nggak marah, kenapa wajahmu kesal begitu padaku. Aku melakukan kesalahan apa?"
"Pikir aja sendiri!"
Naina melepaskan paksa pelukan Dean lagi. Ia lalu kembali memutar tubuhnya dan hendak kembali melanjutkan acara memasaknya. Tapi dengan cepat, Dean mencegahnya lagi. Ia berhasil menarik tubuh Naina menjauh dari meja.
"Mbak Atun. Tolong lanjutkan masakan Naina!" Pinta Dean cepat.
"Iya Pak." Jawab Atun patuh dengan sedikit kikuk karena posisi Dean yang memeluk Naina dengan erat.
"Apaan sih Mas? Aku mau masak." Kesal Naina.
"Biar Mbak Atun yang melanjutkan. Kita harus menyelesaikan kekesalanmu padaku." Paksa Dean, tapi dengan nada yang lembut.
Naina mendengus kesal. Ia sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Dean. Dean yang memahami maksud Naina, segera melepaskan pelukannya, dan membiarkan Naina pergi lebih dulu. Dean pun segera menyusul Naina ke kamar mereka.
Naina duduk di tepi ranjangnya sambil menunduk memainkan ponselnya. Ia tak menghiraukan kedatangan Dean yang telah menutup pintu kamarnya kembali.
"Kamu kenapa? Bicaralah! Aku bukan peramal yang bisa membaca isi hatimu." Rayu Dean perlahan, setelah ia duduk tepat di samping kanan Naina dan menatapnya penuh kelembutan.
"Nggak papa." Jawab Naina singkat dan datar, tanpa menoleh sedikit pun pada Dean.
"Kalau memang nggak papa, kenapa kamu kesal padaku sejak tadi?"
"Nggak papa."
"Ayolah Sayang! Katakan padaku! Kamu ini kenapa?"
"Nggak papa."
"Kamu marah karena kita tak melakukannya semalam?" Tanya Dean lagi, dengan otaknya yang mulai mesum.
Naina menoleh penuh tanya.
"Kenapa nggak bilang dari semalam?"
"Kamu ini bicara apa sih Mas?" Ketus Naina lagi.
"Ya alasanmu kesal padaku."
"Maksudmu?"
"Kamu kesal padaku, karena aku tak membuatmu mend*sah kan semalam?" Bisik Dean dengan begitu lembut di telinga Naina.
Naina membulatkan kedua bola matanya. Ia tak mengira, suaminya itu akan berpikir sampai kesana.
__ADS_1
"Mesum!" Cibir Naina.
"Kalau tidak mesum denganmu, aku mau mesum sama siapa lagi?" Goda Dean dengan tangan yang mulai nakal pada paha Naina.
"Mesum sana sama perempuan yang mau kamu kenalin ke aku sama Rissa nanti." Ketus Naina lagi, sambil menghempaskan tangan Dean dari pahanya.
Naina segera beranjak dari duduknya. Ia langsung berjalan menuju keluar kamar dan meninggalkan Dean.
"Ada apa dengannya?" Gumam Dean saat melihat Naina keluar kamar dengan kesal.
"Tunggu! Apa dia cemburu?"
"Ahaha,,"
Dean tertawa keras di kamarnya seorang diri. Bahkan, suaranya terdengar hingga ke kamar Rissa, dimana Naina sedang berada sekarang. Makin bertambah kesal hati Naina.
"Dasar mantan cassanova! Nggak cukup dengan satu wanita saja." Umpat Naina sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang Rissa.
Sang empunya kamar sedikit terusik tidurnya. Ia segera menggeliat dan mulai membuka matanya perlahan. Ia melihat ibunya yang sedang duduk dan sedikit termenung di sampingnya.
"Mommy!" Panggil Rissa lirih.
Naina pun segera menoleh. "Iya Sayang."
"Apa aku kesiangan Mom? Kita akan pergi bersama Daddy bukan?" Tanya Rissa dengan nada mengantuk.
"Tidak Sayang. Tapi, ini sudah hampir pukul delapan. Kamu masih mau tidur lagi?" Jawab Naina sembari merebahkan tubuhnya di samping Rissa.
Rissa pun menggeleng lalu memeluk ibunya dengan gemas.
"Maaf Mom, aku dan Daddy mengerjaimu semalam." Jujur Rissa.
"Tak apa Sayang." Sahut Naina yang juga membalas pelukan Rissa dengan gemas.
"Kita jadi pergi bukan Mom? Kita akan kemana hari ini Mom?"
"Mommy tidak tahu Sayang. Daddy tidak mengatakannya pada Mommy."
"Biarkan aku yang bertanya padanya."
Rissa segera bangun dari posisinya. Ia lalu bersiap untuk beranjak turun dari ranjangnya.
"Kamu sekarang mandilah! Mommy juga akan mandi. Setelah itu, kita sarapan bersama. Oke?" Cegah Naina cepat.
Naina dan Rissa pun segera beranjak dari ranjang. Mereka menuju kamar mandinya masing-masing. Tapi Naina harus menunggu Dean menyelesaikan mandinya terlebih dulu. Barulah ia kemudian bergantian mandi.
Selepas sarapan, keluarga kecil itu segera berangkat dengan mobil Dean. Mereka berkendara dengan cukup santai. Dean masih belum mengatakan kemana mereka akan pergi sekarang.
Setelah berkendara hampir lima puluh menit, mereka tiba di sebuah tempat yang cukup asing bagi Naina.
"Red Hills Memorial Park." Gumam Naina saat membaca tulisan yang terpampang jelas dengan huruf-huruf yang begitu besar.
"Kita mengunjungi Tante Rhea Dad?" Tanya Rissa cepat.
"Tante Rhea?" Ucap Naina bingung sambil menatap sekitar.
"Kamu pernah kesini Sayang?" Tanya Dean terkejut.
"Iya. Dengan Oma Lita dan Opa Nathan."
"Kapan?" Tanya Dean antusias.
"Setelah Mommy dan Daddy menikah." Jujur Rissa.
Dean pun mengangguk paham. Dean lantas memarkirkan mobilnya dan segera mengajak Naina dan Rissa untuk turun. Tak lupa, ia membawa karangan bunga yang tadi sempat ia beli saat di perjalanan.
Naina masih berusaha mengingat sesuatu, nama yang Rissa sebut tadi. Terdengar tidak asing di telinganya. Tapi ia lupa, siapa dia.
Tiga orang itu lalu berjalan memasuki sebuah kompleks pemakaman elit yang sudah sering Dean datangi. Dulu ia sering datang kemari seorang diri jika sangat merindukan wanita yang spesial baginya itu.
Dean pun mengajak Naina dan Rissa menuju salah satu gundukan tanah yang begitu terawat. Semua memang terawat dengan baik di sini.
"Rheana Putri Diedrich." Naina membaca nama yang tertera di batu nisan dimana Dean meletakkan karangan bunganya di sana.
"Astaghfirullah. Ini makam Rhea, adik Dean. Jadi, wanita spesial itu, Rhea. Astaga, kenapa aku bisa berpikiran sangat jauh." Batin Naina merutuki dirinya sendiri.
"Halo Sayang. Maaf Kakak agak lama tak mengunjungimu! Tapi, sekarang Kakak tidak sendirian kemari." Ucap Dean sambil mengusap lembut batu nisan di depannya.
"Kenalkan, ini Naina, kakak iparmu. Dan ini, Rissa, keponakanmu. Kalian sepertinya sudah berkenalan sebelumnya. Rissa bilang, dia sudah kemari bersama Mama dan Papa setelah pernikahan Kakak." Ucap Dean, sambil meraih satu per satu tangan dua wanita yang diajaknya sekarang.
"Halo Tante. Aku kemari lagi kan? Seperti yang kemarin aku bilang." Ucap Rissa antusias.
Dean lalu menoleh pada Naina yang sedang tertunduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu tak ingin menyapanya Sayang? Ini makam Rhea, adikku." Jelas Dean.
Naina mengangkat kepalanya dan menoleh pada sang suami. Ia lalu menoleh pada gundukan tanan yang ada di depannya.
"Hai Rhea, aku Naina. Aku banyak dengar tentangmu dari Mama dan Papa." Sapa Naina lembut.
"Kalian sangat mirip Rhe. Sifat Naina sangat mirip denganmu." Aku Dean santai.
Naina menoleh pada Dean lagi, dan Dean menyadari itu.
"Itu benar. Sifat kalian sangat mirip. Dan itu menurun pada Rissa. Kalian pantang menyerah melakukan apapun demi orang yang kalian sayangi. Tapi, bisa dalam sekejap putus asa yang begitu mendalam." Jelas Dean.
"Benarkah Dad? Aku mirip dengan Tante Rhea juga?" Tanya Rissa penasaran.
"Iya. Bahkan wajah kalian sangat mirip saat Tante Rhea masih kecil. Hanya bola matamu saja yang membedakannya. Bola mata Tante Rhea hitam, sedangkan milikmu biru seperti Daddy."
Rissa tersenyum bahagia mendengar penuturan ayahnya. Ia ikut mengusap batu nisan Rhea dengan penuh perhatian.
Naina pun tersenyum bahagia dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Hatinya begitu hangat mendengar pengakuan Dean yang ternyata sangat memahaminya.
"Terima kasih Rhe, kamu menjaga kakakmu dengan sangat baik. Aku akan berusaha menjaganya untukmu mulai sekarang." Batin Naina haru.
Ada rasa bersalah yang cukup besar dalam hati Naina karena sempat salah faham pada Dean. Dia sungguh berpikiran, bahwa Dean memiliki wanita lain selain dirinya.
"Maaf Mas."
Naina menyandarkan kepalanya dengan manja ke bahu Dean. Dean pun merengkuhnya dengan hangat dengan satu tangan.
"Iya Sayang." Jawab Dean setelah mendaratkan kecupam hangat di puncak kepala Naina.
Tak lupa, satu tangan Dean yang lain, meraih tubuh mungil putri semata wayangnya yang berada di sisi lain Naina. Ia memeluk erat dua wanita yang kini akan selalu menemaninya dalam setiap hal yang akan dia lalui. Dua wanita yang menjadi bagian penting dalam hidupnya kini dan nanti.
Setelah mengirimkan do'a dan sejenak melepas rindu dengan Rhea, Dean mengajak keluarga kecilnya untuk berjalan-jalan menikmati akhir pekan, lagi. Jika kemarin Dean mengajak Naina dan Rissa ke taman hiburan, kali ini dia berencana mengajak keluarga kecilnya itu ke puncak. Mengingat kenangan mereka saat masa awal Dean mendekati Naina.
"Sayang, bisa kamu tunggu Mommy dan Daddy di mobil dulu? Ada yang ingin Mommy bicarakan dengan Daddy sebentar." Pinta Naina pada Rissa, saat Dean sedang menerima telepon setelah selesai berziarah.
Rissa pun mengangguk paham.
"Bisa kita bicara sebentar Mas?" Ucap Naina setelah Rissa masuk ke mobil dan Dean pun selesai menelepon.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Dean penuh perhatian.
Naina menggeleng.
"Lalu?"
"Aku ingin minta maaf Mas." Ucap Naina penuh penyesalan.
"Minta maaf? Untuk apa?" Ucap Dean bingung.
"Aku,," Naina tertunduk malu.
Naina benar-benar malu mengungkapkannya. Ia tak tahu, bagaimana mengungkapkan alasannya meminta maaf.
"Akuu,,"
"Aku tak marah padamu. Aku senang kamu merasa cemburu. Karena itu berarti, kamu sangat menyayangiku dan tak ingin kehilanganku. Benar begitu bukan?" Sahut Dean santai.
"Apa?" Naina mengangkat wajahnya bingung.
"Kamu cemburu karena ucapanku semalam bukan? Kamu cemburu karena aku ingin mengajak kalian menemui wanita lain yang spesial untukku hari ini."
"Ituu,,"
Dean menarik Naina dalam pelukannya. Ia memeluknya dengan hangat dan begitu lembut. Naina yang tak siap, hanya terbengong karena masih berusaha mencerna ucapan Dean yang benar adanya.
"Percayalah! Hanya ada dirimu dalam hatiku. Tak akan ada yang lainnya. Jika ada yang lain, itu adalah putri kita." Ucap Dean lembut.
Naina mengangguk bahagia. Ia pun segera membalas pelukan sang suami yang sangat menenangkannya.
"Maaf Mas!" Ucap Naina lirih.
"Jangan meminta maaf Sayang, karena kamu tak melakukan kesalahan apapun." Jawab Dean penuh perhatian.
Dean dan Naina menikmati pelukan mereka. Menikmati setiap aliran kasih sayang yang tercipta begitu saja hanya karena sebuah pelukan sederhana itu. Menikmati rasa yang begitu indah dalam hati masing-masing.
"Come on Mom, Dad!" Teriak Rissa dari dalam mobil yang mulai jenuh menunggu kedua orang tuanya.
Dean dan Naina segera melepaskan pelukannya lalu menoleh pada putri mereka. Mereka pun tersenyum dan segera menghampiri Rissa yang terlihat sedikit kesal.
Keluarga kecil itu segera meninggalkan tempat pemakaman yang megah itu. Mulai menyusuri kembali lalu lintas akhir pekan yang cukup padat menuju tempat wisata dengan hati yang lebih lega. Dengan perasaan yang lebih tenang dan bahagia.
Cemburu. Hal yang pasti dirasakan oleh setiap hati. Rasa yang menjadi hak bagi setiap pemiliknya. Rasa yang terkadang, menjadi bumbu indah dalam sebuah hubungan, jika kita bisa mengendalikannya.
__ADS_1