Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Dua Kabar Bahagia Part 1


__ADS_3

Wahai bahagia! Dapatkah engkau selalu hadir menemani kami yang selalu menantimu? Dapatkah engkau tetap ada dalam setiap langkah, untuk menjalani takdir yang tak pernah kita ketahui akhirnya?


Takdir. Tak pernah kita ketahui akan seperti apa nantinya. Tak pernah kita tahu, bagaimana jalannya. Dan, rintangan seperti apa yang akan kita hadapi nantinya.


Waktu berjalan begitu cepat terasa, saat hati merasa bahagia. Dan itulah yang kini sedang Dean dan Naina rasakan. Tak terasa, sudah dua bulan mereka menikah. Dan mereka, baru saja kembali dari Jerman satu minggu yang lalu, demi memenuhi keinginan putri semata wayang mereka.


Dan Dean jelas tak menyia-nyiakan liburannya itu. Ia pun sekaligus mengajak Naina berbulan madu ke vila pribadinya, sementara Rissa menepati janjinya bersama Rachel dan Belinda untuk menikmati musim gugur. Rissa ditemani oleh Jelita dan Jonathan pastinya selama Dean dan Naina berbulan madu.


"Nggak boleh!" Rengek Naina manja pada Dean.


"Ayolah Sayang! Aku harus segera berangkat ke kantor. Ada meeting dengan klien pagi ini." Rayu Dean lagi.


"Aku mau di rumah sama kamu Mas! Mas nggak usah ke kantor dulu hari ini." Rengek Naina dengan mata yang mulai memerah.


"Kamu ini kenapa Sayang? Nggak biasanya kayak gini." Tanya Dean bingung.


"Mas udah nggak sayang lagi sama aku. Mas lebih mentingin kerjaan." Ucap Naina sedih. Airmatanya pun mulai meluncur tanpa dipinta.


Dean tambah kebingungan. Ia yang sudah siap dengan setelan jas kerjanya untuk ke kantor, harus menundanya beberapa saat karena tingkah aneh Naina. Ia tadi berniat untuk berpamitan pada Naina seperti biasa. Tapi Naina malah bersikap sangat tak biasa.


"Kamu kenapa sih Sayang? Kenapa nangis?" Tanya Dean perhatian, sambil duduk berhadapan dengan Naina di tepi ranjang mereka.


Naina menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


"Terus kenapa nangis? Aku kan juga bekerja untukmu dan keluarga kita. Itu tanggung jawabku Sayang."


Naina kembali menggeleng tanpa bersuara.


Dean menarik tubuh Naina dalam pelukannya. Ia tak tega melihat istri tersayangnya itu menangis. Apalagi, ia tak tahu apa alasan Naina menangis.


"Tetaplah di rumah." Pinta Naina lirih.


"Tapi Sayang, aku ada janji temu dengan seseorang hari ini. Niko tak bisa menemuinya seorang diri." Jelas Dean perlahan.


Naina seketika mendorong tubuh Dean. Ia memaksakan diri untuk lepas dari pelukan sang suami.


"Ayolah Sayang! Aku akan pulang, setelah pertemuan nanti selesai. Aku janji." Rayu Dean lagi


Naina menggeleng lagi.


"Mas jahat!" Umpat Naina sedih.


Dean mengerutkan keningnya. Ia sungguh kebingungan menghadapi sikap aneh Naina pagi ini.


Tok, tok, tok.


"Naina! Ada tamu untukmu Sayang."


Suara Jelita mengalihkan perhatian Dean dan Naina. Naina segera berjalan menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu. Wajahnya masih merah dan basah.


Semalam, Dean dan Naina menginap di rumah Jonathan atas permintaan Jelita. Dan pagi tadi, Rissa sudah berangkat sekolah diantar oleh Jonathan.


"Ibu?"


Naina segera menghambur ke pelukan wanita yang datang bersama Jelita, Sekar. Sekar tiba di Indonesia semalam bersama Wiliam. Ia belum mengabari Naina tentang itu pastinya. Dan ia sengaja memberi kejutan pada Naina pagi ini. Tapi, ia pun juga terkejut melihat Naina dengan wajahnya yang sembab pagi ini.


"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Jelita dan Sekar panik.


Naina hanya menggeleng di bahu Sekar.


"Kamu apain Naina?" Tanya Jelita cepat, saat melihat putranya menghampiri mereke di ambang pintu kamar.


Jelita segera menghampiri putranya dan memukul lengannya keras.


"Mama apa-apaan sih? Dean nggak tahu kenapa Naina nangis Ma." Jujur Dean.


"Trus kenapa bisa nangis gitu? Dia kan dari kamar sama kamu." Cecar Jelita.


"Dean cuma pamitan sama Naina Ma, mau berangkat kerja. Tapi nggak boleh sama Naina. Naina tiba-tiba nangis Ma." Jelas Dean.


Jelita yang tangannya masih terangkat, dan bersiap kembali memukul lengan putranya, mendadak membeku. Ia berusaha keras memahami penjelasan Dean.


"Bener yang Dean bilang Na?" Tanya Sekar lembut.


Naina mengangguk lemas.


"Emangnya kenapa nggak boleh berangkat?" Tanya Sekar bingung.


"Nggak boleh ya nggak boleh Bu'. Naina cuma mau ditemenin Mas Dean dulu hari ini. Tapi, Mas Dean lebih mentingin kliennya daripada Naina." Adu Naina sesenggukan dipelukan Sekar.


Jelita dan Sekar saling pandang. Mereka mencoba memahami apa yang sedang terjadi diantara pasangan suami istri baru ini.

__ADS_1


Tapi tak lama, sudut bibir dua wanita yang saling pandang tadi, segera tertarik ke atas cukup lebar. Jelita tiba-tiba memukul gemas lengan putranya.


"Sudah! Jangan nangis lagi!" Pinta Sekar halus, sambil mengusap pelan punggung Naina.


"Yaudah, Dean berangkat dulu Ma, Bu'!" Sela Dean cepat.


"Kamu nggak boleh kemana-mana! Tunggu di rumah dulu!" Cegah Jelita cepat, sambil memegangi tangan Dean yang ia ulurkan untuk menjabat tangan ibunya.


"Tapi Ma, Dean ada meeting pagi."


"Nggak ada tapi. Tunggu dulu sampai ada hasilnya nanti." Jawab Jelita sekenanya.


"Hasil apa Ma?" Tanya Dean bingung.


"Hasil rapat." Sahut Jelita ketus.


Sekar tersenyum geli mendengar perdebatan ibu dan anak di hadapannya. Sedang Naina, masih memeluk manja tubuh Sekar yang selalu ia rindukan kehadirannya.


"Biar pengawalku yang membeli." Usul Sekar tiba-tiba.


"Jangan Mbak! Kasihan pengawalmu, pasti malu. Dia kan laki-laki. Biar aku minta Endah yang beli." Jawab Jelita sedikit cekikikan.


"Iya juga." Sahut Sekar ikut cekikikan.


"Mama sama Ibu ngapain sih?" Kesal Dean yang tak paham pembicaraan dua ibu itu.


"Diem kamu!" Jawab Jelita cepat.


"Udah, Dean berangkat dulu Ma!" Pamit Dean lagi.


"Udah dibilangin jangan pergi sebelum tahu hasilnya. Malah pamitan lagi." Ketus Jelita.


"Hasil apa sih Ma?" Dean makin kesal karena sedang diburu waktu untuk jadwal rapat paginya.


"Udah, nanti juga tahu. Palingan, kamu nggak jadi berangkat nanti." Sahut Jelita asal.


"Kamu tunggu di kamar sama Naina dan Mbak Sekar. Mama ke bawah dulu cari Endah."


"Ma."


"Diem!" Bentak Jelita kesal.


Sekar yang masih memeluk Naina, tersenyum geli melihat tingkah besan dan menantunya itu. Ia lantas mengajak Naina masuk ke kamar dan duduk di sofa di kamarnya. Dean pun mengekori dua wanita itu sambil memainkan ponselnya untuk menghubungi Niko.


"Iya Bu'. Mama mau beli apa? Kenapa juga pengawal Ibu malu?" Timpal Naina tak kalah penasaran.


"Nanti kalian juga tahu." Jawab Sekar jahil.


Sedang di lantai bawah, Jelita segera mencari ART-nya yang ternyata sedang asik tebar pesona pada salah satu pengawal Wiliam. Ia pun segera menyerahkan satu lembar uang seratus ribuan pada Endah, dan memintanya untuk membeli sesuatu.


"Cepat ya!" Pinta Jelita tegas.


"Iya Nyonya." Sahut Endah yakin.


Sang ART segera menuju garasi dan mengendarai motornya untuk membeli pesanan sang majikan.


Karena jarak tempat tujuan Endah tidak begitu jauh dari rumah majikannya, lima belas menit kemudian, ia sudah kembali dengan sebuah plastik putih berisi pesanan Jelita. Ia segera menyerahkannya pada Jelita yang sudah ada di kamar Dean lagi.


"Ini Sayang! Cek sekarang ya! Mama tunggu hasilnya." Ucap Jelita cepat, setelah Endah menyerahkan pesanannya.


Naina menerima plastik itu dengan penuh penasaran. Ia pun segera membukanya.


"Test pack?" Ucap Naina bingung.


Dean segera menyambar plastik di tangan Naina. Wajah kesal Dean, segera berubah dihiasi senyuman kecil yang tampan. Kekesalan yang tadi melanda hatinya, seketika hilang hanya karena barang yang dibelikan oleh mamanya tadi.


"Kamu bukan wanita cengeng Sayang! Dan nggak biasanya kamu bersikap seperti itu bukan?" Ucap Jelita lembut.


"Mama sebenarnya sudah curiga sejak kita di Jerman kemarin. Tapi karena belum banyak tanda-tanda yang Mama lihat, jadi Mama masih diam." Imbuh Jelita bahagia.


Naina menoleh pada Dean yang sedang tersenyum bahagia padanya sambil menyerahkan lagi plastik beserta isinya tadi. Tangan Naina, refleks menerima plastik itu dari Dean.


"Kalian sudah menikah selama dua bulan Sayang. Kalian pasti sudah melakukannya berkali-kali bukan?" Tutur Sekar lembut.


Wajah Naina merona tiba-tiba.


"Setiap hari malahan Bu'. Bahkan Naina sering memintanya beberapa kali dalam sehari." Jujur Dean santai.


Naina yang rahasianya dibocorkan oleh Dean, segera melemparkan plastik yang ditangannya pada Dean dengan perasaan yang sangat malu. Jelita dan Sekar tertawa mendengar penuturan Dean dan reaksi Naina.


"Dean saja berhasil membuatmu hamil Rissa dalam satu malam. Apalagi ini sudah malam yang keberapa?" Goda Sekar santai.

__ADS_1


"Ibu!" Sungut Naina malu sambil meraih lengan Sekar erat.


"Lagian, apa kamu belum terlambat datang bulan?" Tanya Sekar lagi.


Naina terdiam.


"Sudah. Setelah kami menikah, Naina belum datang bulan sampai sekarang." Jujur Dean lagi.


Jelita dan Sekar menatap aneh pada Dean.


"Kenapa? Ya tahu dong! Kan tiap hari, Dean sama Naina gantian minta jatah." Jujur Dean santai.


"Maasss!" Kesal Naina karena ucapan jujur Dean.


Jelita dan Sekar hanya bisa tertawa melihat tingkah pasangan suami istri itu.


"Udah Sayang, cepetan di cek!" Pinta Dean tak sabar.


"Aku temenin ya?" Tawar Dean tulus.


"Nggak. Aku sendiri aja." Jawab Naina singkat.


"Ingat Sayang! Kamu nggak sendiri lagi. Ada kami di sini. Dan suamimu juga menunggumu." Tutur Sekar penuh perhatian.


Ingatan Sekar, memutar ke kejadian sembilan tahun lalu. Bagaimana Naina terpuruk setelah mengetahui dirinya hamil tanpa seorang suami. Tanpa terasa, airmata Sekar menetes begitu saja.


"Iya Bu'." Jawab Naina yang langsung memeluk Sekar.


Naina lalu mengambil test pack yang tadi dibelikan oleh Jelita. Ia segera ke kamar mandi untuk mengeceknya. Sedang tiga orang di kamar itu menunggu dengan harap-harap cemas.


"Sayang, kenapa lama? Kamu nggak papa kan di dalam?" Tanya Dean panik di depan pintu kamar mandinya.


Sudah lima belas menita Naina di kamar mandi. Tapi ia tak kunjung keluar. Dean pun mulai panik.


Lalu, pintu kamar mandi pun terbuka. Naina keluar dengan wajah yang kembali basah dan merah. Dean pun segera memeluknya.


"Tak apa Sayang! Aku tidak memaksamu untuk segera hamil. Kita sudah memiliki Rissa bukan?" Ucap Dean cepat, demi menenangkan Naina.


Naina menggeleng di pelukan Dean.


Jelita dan Sekar lalu menghampiri anak mereka. Mereka sedikit mendengar ucapan Dean tadi. Jelita mengambil test pack di tangan Naina yang melingkar di punggung Dean.


"Kamu ini! Belum lihat hasilnya udah bilang macem-macem." Ketus Jelita sambil memukul lengan Dean, setelah melihat garis yang ada di test pack itu.


Dean melepaskan pelukannya.


"Tuh! Naina hamil." Sahut Jelita sambil menyodorkan test pack yang ia pegang pada Dean.


"Apa?"


Dean segera menerima benda pipih itu dari ibunya. Ia lalu menatap Naina bingung.


"Kamu hamil Sayang?" Tanya Dean tak percaya.


Naina mengangguk.


Dean langsung mengangkat tubuh Naina tinggi. Menyangganya dengan lengan kekarnya. Hingga Naina harus berpegangan pada bahu Dean agar tak terjatuh.


"Naina sedang hamil. Jangan diangkat gitu!" Marah Jelita sambil kembali memukul lengan putranya.


"Oh iya. Maaf Sayang!"


Dean segera menurunkan Naina. Ia mendaratkan kecupan bertubi-tubi ke wajah Naina. Ia tak menghiraukan dua orang ibu yang ada di dekatnya.


Jelita hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.


"Udah sana, berangkat ke kantor!" Goda Jelita cepat.


"Dean cuti hari ini Ma." Sahut Dean santai.


"Tadi ngotot mau berangkat ke kantor, sekarang malah cuti." Sindir Jelita.


Dean tak menanggapi ucapan ibunya. Ia terlalu bahagia dengan kehamilan Naina. Sungguh, Dean tak menyangka, secepat ini ia bisa mendapat kabar bahagia itu.


Semua orang di kamar Dean diliputi kebahagiaan saat ini. Hingga dua orang laki-laki paruh baya, memasuki kamar itu dan mengalihkan perhatian mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Jonathan penasaran.


"Kita bakal jadi opa sama oma lagi Pa." Jawab Jelita bahagia, sambil berjalan menghampiri Jonathan.


"Benarkah?" Tanya Jonathan tak percaya.

__ADS_1


Jelita mengangguk pasti.


"Wah, ada dua kabar bahagia berarti." Sahut Jonathan santai.


__ADS_2