
Isi hati manusia, siapa yang tahu. Bahkan, terkadang bisa berubah hanya dalam sekejap mata. Dan selalu menjadi misteri bagi hati yang lain untuk memahaminya.
"Maaf Bu', boleh saya makan di sini sebentar?" Tanya Naina pada istri Parto.
"Sayang, ini sudah malam." Tegur Dean segera.
"Nggak papa A'. Si Eneng biar makan sebentar. Ayo, masuk dulu! Tapi maap, rumah Ibu teh, kurang nyaman." Jawab wanita paruh baya itu sungkan.
"Sebentar saja Mas. Aku ingin makan di sini." Rengek Naina.
"Turuti saja Mas! Istrinya sedang hamil kan?" Sahut Parto.
"Iya Pak. Tapi, ini kan sudah larut. Kurang pantas rasanya bertamu jam segini. Apalagi, tadi sudah merepotkan Bapak dan Ibu." Jawab Dean jujur.
"Nggak papa atuh A'. Si Eneng biar makan dulu. Kasihan itu jabang bayinya udah nggak sabar." Timpal istri Parto.
"Ayo Neng, masuk!" Ajak istri Parto, sambil menggandeng tangan Naina.
"Iya Bu', terima kasih." Jawab Naina bahagia.
Naina pun dengan senang hati mengikuti langkah wanita ramah itu. Sedang Dean, sedikit mendengus kesal karena Naina tak mendengarkannya. Ia sangat tak enak hati dengan Parto dan istrinya.
"Tidak apa-apa Tuan. Biarkan Nyonya makan dulu! Pak Parto ini, ketua RT di sini. Jadi, Tuan tak perlu melapor karena bertamu di jam seperti ini." Sahut Niko sekenanya, demi menenangkan Dean.
"Oh, Bapak ketua RT?" Ucap Dean basa-basi.
"Iya Mas." Jawab Parto.
Dua wanita tadi sudah duduk santai di kursi kayu yang ada di ruang tamu. Kursi dengan ukiran nan indah dan mendetail di setiap sandarannya. Dilengkapi busa tak begitu tebal sebagai alas duduk dan bantalan sandarannya.
Parto pun mengajak Dean dan Niko masuk. Dua laki-laki yang hampir seumuran itu pun akhirnya mengikuti Parto masuk ke rumah.
Rumah Parto sebenarnya cukup luas. Ruang tamunya saja dilengkapi dengan dua set kursi sebagai pelengkapnya. Belum lagi, kamar-kamar tidur dan ruangan lain yang ada di dalamnya.
Tapi, mereka hanya hidup berdua. Anak-anak mereka sudah berumah tangga dan hidup di rumahnya masing-masing. Jadi, Parto hanya tinggal berdua dengan istrinya dengan gaya hidup yang sederhana. Termasuk, Parto yang tetap menjadi pedagang angkringan. Meski ia dijatah uang bulanan oleh ketiga anaknya dengan jumlah yangvsangat mencukupi pastinya.
Naina segera membuka plastik yang sedari tadi ditentengnya.
"Apa Ibu yang memasaknya sendiri?" Tanya Naina dengan tangan yang sibuk membuka satu bungkus nasi kucingnya.
"Iya Neng. Ibu kan cuma tinggal berdua sama Bapak." Jujur istri Parto.
"Sebentar, Ibu ambilkan sendok." Imbuh wanita paruh baya itu.
"Terima kasih Bu'." Jawab Naina bahagia.
Saat istri Parto mengambil sendok, Naina melambaikan tangannya pada Dean yang berjalan ke arahnya. Menepuk pelan busa yang tepat berada di sampingnya. Memintanya untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
Kekesalan Dean pun perlahan menghilang melihat senyum Naina yang terlukis sempurna di wajah cantiknya yang tadi sempat tertekuk saat di rumah Niko.
Dean pun menghampiri Naina. Ia lantas duduk tepat di sebelah Naina yang sudah asik memandangi satu bungkus makanan yang sangat diinginkannya malam ini. Niko dan Parto pun ikut duduk di kursi yang lain.
Setelah istri Parto datang dengan sendoknya, Naina segera menikmati makanan yang menggoda nafsu makannya sejak tadi. Naina bahkan sangat menikmati suapan pertamanya dengan wajah bahagia.
"Apa enak Mbak?" Tanya Parto saat melihat Naina menikmati makanannya.
"Iya Pak, enak banget. Ibu pinter masaknya." Sahut Naina dengan mulut yang masih berisi makanan.
Parto tersenyum mendengar jawaban Naina.
"Sayang, pelan-pelan makannya! Jangan sambil bicara! Nanti tersedak." Saran Dean cemas.
Naina pun langsung menoleh sambil sedikit meringis.
"Mas mau? Enak lho." Tawar Naina setelah makanan di mulutnya habis.
Dean hanya menggeleng.
"Satu suap saja Mas."
"Kamu saja yang makan! Kan kamu tadi yang pengen banget makan itu."
"Tapi kan ini ada banyak Mas. Ibu buat lima bungkus."
"Ayolah Mas! Ini cuma ikan laut kecil-kecil kok. Enak." Rayu Naina yang cukup paham dengan selera makan Dean.
Parto dan istrinya sedikit terkejut dengan ucapan Naina. Tapi mereka mulai memahami, jika tamu mereka malam ini yang berwajah blasteran itu, mungkin bukanlah orang sembarangan. Hingga ia tak biasa makan makanan seperti yang sedang Naina nikmati.
"Satu aja Mas!" Paksa Naina dengan sendok yang sudah berisi nasi dan pelengkapnya, siap untuk disuapkan pada Dean.
Dean sedikit kebingungan. Ia sebenarnya juga tahu, jika itu hanya ikan laut. Tapi, ia memang belum pernah memakan itu sebelumnya.
Melihat ekspresi wajah Naina yang begitu antusias, membuat Dean menghela nafas pendeknya. Ia pun mulai membuka mulutnya untuk menerima suapan dari sang istri. Naina pun segera menyuapkan makanan di tangannya pada Dean.
"Enak kan?" Tanya Naina bahagia.
Dean pun mengangguk dan tersenyum kecil sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. Dan saat Dean menikmati makanannya, istri Parto pun datang dengan empat gelas teh hangat di atas nampan. Ia lalu menyajikan minumannya pada para tamu.
"Tadi, pas Bapak telepon minta dibuatkan nasi kucing buat Mas Niko, saya kira teh, Neng Sinta yang ngidam. Ternyata bukan." Jujur istri Parto.
"Bukan Bu'." Jawab Niko singkat.
Mereka pun lantas mengobrol sambil menunggu Naina menikmati makanannya. Hingga Naina akhirnya menghabiskan dua bungkus nasi kucing dengan wajah bahagia.
Setelah cukup berbincang, Dean, Naina dan Niko lantas undur diri. Mereka berpamitan pada tuan rumah yang sudah bersedia mereka repotkan malam ini. Tak lupa, Dean meminta Niko memberi imbalan yang pantas pada sepasang suami istri itu, karena bersedia menerima tamu di jam yang sangat tidak sepantasnya itu.
__ADS_1
Parto dan istrinya sempat menolak. Tapi, setelah dirayu oleh Naina, akhirnya mereka mau menerima imbalan yang benar-benar jauh dari harga lima bungkus nasi kucing tadi.
"Ini namanya nasi kucing, Mas. Lauknya ada beberapa macam. Tergantung penjualnya. Mas belum pernah makan, kan?" Ucap Naina bahagia, saat ia dan Dean sedang menyusuri jalanan ibukota dini hari ini.
"Iya. Apa kamu sering makan seperti itu?" Jawab Dean sambil menatap jalanan di depan, di belakang kemudinya.
"Enggak. Aku udah lama nggak makan nasi kucing. Kalau dulu iya, waktu masih di Jogja sering makan bareng Ibu." Jujur Naina.
Naina pun teringat kenangan bersama Sekar beberapa tahun lalu. Bagaimana Sekar sering menemaninya banyak hal, dan menjaganya dengan sangat baik.
Ada sekelebat penyesalan datang mendera hati Dean saat Naina mengatakan hal itu. Ia pun mulai membayangkan, betapa beratnya hidup Naina saat ia hamil Rissa tanpa ada seorang suami di sisinya. Menjalani kerasnya hidup bersama bayi dalam kandungannya, dan hanya ditemani oleh ibu dan kakak-kakak angkatnya.
Apalagi, Dean mendengar banyak cerita dari Sekar, Lea dan Hera tentang apa saja yang pernah Naina alami saat itu. Sungguh, Dean benar-benar menyesal tidak segera mencari Naina dulu.
Dean menoleh pada Naina yang menatap lurus ke depan. Wajahnya sudah mulai terlihat kembali mengantuk karena hari masih gelap. Dean lalu mengusap lembut kepala Naina, hingga Naina pun menoleh.
"Tidurlah lagi!" Pinta Dean dengan nada yang lembut.
Naina pun tersenyum. Ia segera membenarkan posisi duduknya dan mulai memejamkan matanya. Mencoba kembali menapaki alam bawah sadarnya dan berkelana dalam alam mimpinya.
Setelah sampai di rumah, Dean dengan sangat perlahan menggendong Naina yang masih terlelap. Atun pun dengan sigap membukakan pintu untuk majikannya.
"Ibu?" Tanya Atun cemas, karena melihat Naina digendong Dean.
"Dia hanya tidur." Jawab Dean lirih agar tak membangunkan istrinya.
Atun pun mengangguk.
"Rissa?" Tanya Dean singkat.
"Mbak Rissa masih tidur Pak." Jawab Atun tak kalah lirih.
Dan karena percakapan singkat itu, Naina pun terbangun. Ia mulai membuka matanya.
"Kita sudah sampai Mas?" Tanya Naina dengan nada malas.
"Iya. Tidurlah lagi! Aku gendong sampai kamar." Jawab Dean lembut.
Naina yang masih mengantuk, pun kembali tidur dalam gendongan Dean.
"Mbak, ada nasi kucing di mobil. Tolong diambil ya!" Pinta Dean sebelum kembali melangkahkan kakinya.
"Baik Pak."
Dean pun membawa Naina ke kamar. Dengan perlahan meletakkan sang istri di atas kasurnya. Naina pun segera beringsut membenarkan posisi tidurnya. Dean pun juga segera ikut beristirahat kembali di samping sang istri.
Penyesalan pasti ada dalam setiap hati manusia. Mengikuti langkah demi langkah takdir setiap pemilik hati. Menjadi saksi, bahwa hati itu masih hidup dan memiliki nyawa sampai saat ini.
__ADS_1