
Sekeping rasa yang terjaga dengan baik dalam hati, terkadang hanya menunggu waktu yang tepat untuk diungkapkan. Asa yang tersimpan rapi diantara kepingan rasa, memberikan secercah cahaya dalam setiap rasa yang belum terungkapkan.
Keluarga kecil yang baru saja berkumpul itu, masih menikmati pelukan mereka. Rissa memeluk daddy barunya dengan sangat erat di pangkuannya. Sedang pelukan Naina makin melemah pada Dean. Tubuhnya bahkan sudah bersandar sepenuhnya pada Dean.
"Aw!" Rintih Dean tiba-tiba.
Jonathan dan Jelita yang sedang berbincang, langsung menoleh pada putranya. Naina yang sudah sangat lemah pun ingin melihat apa yang terjadi pada Dean.
Sedang putri kecil yang sedang bahagia itu, malah tertawa cekikikan.
"Kenapa kamu mencubit Daddy Sayang?" Tanya Dean setelah mengusap-usap pipinya yang tadi dicubit oleh Rissa.
"Hhihi. I'm sorry Dad. I just wanted to make sure this wasn't a dream." Jawab Rissa cekikikan.
"Kenapa Daddy yang kamu cubit?" Tanya Dean penasaran.
"Karena Rissa tak mungkin mencubit Mommy yang sedang sakit Dad." Jawab Rissa polos sambil menoleh pada Naina.
Rissa memang memiliki kebiasaan aneh. Jika ia ingin memastikan bahwa itu bukan mimpi, ia akan mencubit orang yang ada didekatnya untuk memastikan bahwa orang itu merasakan sakit. Yang berarti, yang ia alami bukanlah mimpi.
Disaat orang lain akan mencubit atau sedikit menyakiti dirinya sendiri untuk memastikan, tidak dengan Rissa. Ia memilih mengganggu orang yang dekat dengannya. Dan Naina-lah yang paling sering menjadi korbannya.
Dean pun tertawa kecil mendengar jawaban Rissa. Jonathan dan Jelita pun tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan Rissa.
Sedang Rissa malah menatap Naina dengan seksama. Ia mengerutkan keningnya melihat Naina yang sudah memejamkan matanya.
"Mommy! Mom!" Panggil Rissa khawatir.
Dean akhirnya menoleh pada Naina yang tubuhnya terkulai tak berdaya dan bersandar pada bahu kirinya.
"Naina! Sayang! Bangunlah!" Dean mencoba membangunkan Naina sambil sedikit menggoyangkan tubuh Naina.
"Naina!" Panggil Jelita panik.
Dean menggoyangkan tubuh Naina dan menepuk-nepuk pipi Naina. Tapi tak ada reaksi apapun dari Naina. Tubuh Naina malah hampir saja terjatuh karena nyaris terlepas dari pegangan Dean.
"Sayang!"
Tanpa mereka ketahui, Naina sudah tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang belum pulih, kelelahan karena tadi berjalan dan berlarian kesana kemari mencari Dean.
"Naina kenapa De?" Tanya Jelita panik.
"Naina kelelahan sepertinya Ma. Dia kabur dari rumah sakit dan membawa mobil Niko seorang diri ke sini." Jelas Dean yang tadi sudah dikabari oleh Niko.
"Bawa kembali ke rumah sakit De!" Pinta Jonathan khawatir.
"Iya Pa."
"Rissa mau ikut Daddy ke rumah sakit atau menunggu pesawat Opa dan Oma berangkat? Om Niko dan Tante Sinta sedang menuju kesini." Tawar Dean sambil memegangi tubuh Naina.
"Tunggu pesawat Oma berangkat ya Sayang! Oma pasti akan merindukanmu nanti di Jerman." Rengek Jelita.
"Rissa akan pulang bersama Om Niko dan Tante Sinta nanti Dad." Jawab Rissa yakin.
Jelita pun bahagia mendengar jawaban Rissa. Dean pun mengangguk paham. Ia segera membopong tubuh Naina tanpa ragu.
"Mama dan Papa hati-hati ya!" Pesan Dean sambil melangkahkan kakinya dengan Naina yang sudah berada di atas tangannya.
"Iya. Kalian juga hati-hati!" Jawab Jelita sambil mengangguk.
Dean tak menjawab Jelita. Ia segera membawa Naina keluar dari area keberangkatan bandara.
"Bertahanlah Sayang!" Gumam Dean saat membenarkan posisi Naina di dalam mobilnya.
Dean lalu bergegas melajukan mobilnya meninggalkan bandara. Ia menginjak pedal gasnya dengan tidak sabar agar segera sampai ke rumah sakit kembali.
Sedang di bandara, Sinta dan Niko akhirnya menemukan Rissa, Jonathan dan Jelita. Niko langsung diberondong banyak pertanyaan oleh Jelita. Ia bahkan sedikit memarahi Niko dan Sinta karena bisa kehilangan Naina dari rumah sakit.
Jonathan pun harus sedikit menenangkan istrinya. Mengingat, mereka sedang berada di tempat umum.
__ADS_1
Sinta pun langsung mengabari Sekar bahwa Naina sudah dibawa kembali ke rumah sakit oleh Dean. Sekar lalu memutar balik mobilnya menuju rumah sakit kembali.
Matahari makin meninggi. Semakin gagah dengan sinarnya yang semakin memanaskan hari. Lalu lalang para pencari nafkah pun, masih terlihat hampir di setiap penjuru ibukota.
Di rumah sakit, Rissa yang hari ini tidak berangkat sekolah, sedang tertidur pulas di ranjang lain yang ada di ruang rawat Naina. Naina pun masih terlelap karena kondisinya yang masih lemah, meski kini kondisinya sudah stabil.
Dean dan Sekar masih mengobrol berdua sembari menunggu dua wanita berbeda generasi itu tertidur. Wiliam dan dua putra-putrinya baru saja berpamitan pulang lebih dulu. Sedangkan Sinta dan Niko, sudah kembali ke kantor mereka masing-masing dan berkutat dengan rutinitas mereka biasanya, setelah tadi mengantar Rissa kembali ke rumah sakit.
"Ibu'!"
Panggilan lirih itu mengalihkan pembicaraan Dean dan Sekar. Mereka segera menoleh ke sumber suara. Yang ternyata, Naina sedang menatap mereka dengan senyum kecilnya.
"Ibu di sini Sayang. Kamu butuh sesuatu?" Tanya Sekar lembut setelah ia sampai di dekat Naina.
"Rissa?" Tanya Naina dengan suara sedikit serak
"Dia tidur di ranjang di sampingmu." Jawab Sekar sambil mengangkat dagunya.
Naina pun menoleh ke sisi kirinya. Ia pun dapat melihat putri cantiknya sedang terlelap dengan sangat nyaman.
Tiba-tiba, ponsel Sekar berdering.
"Ibu angkat telepon dulu ya!" Pamit Sekar sambil mengusap lembut lengan Naina.
Naina pun mengangguk. Sekar lalu mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja dekat ia mengobrol dengan Dean tadi. Ia lalu keluar dari ruangan untuk menjawab telepon.
Dean akhirnya mendekati Naina.
"Kamu mau minum Sayang?" Tanya Dean setelah duduk di tepi ranjang Naina.
"Apa aku sedang bermimpi? Atau suhu tubuhku terlalu tinggi hingga berhalusinasi?" Gumam Naina.
"Kamu bicara apa Sayang? Ini bukan mimpi." Jawab Dean.
"Kenapa kamu ada di sini De? Bukankah kamu seharusnya pergi ke Jerman? Aku pasti berhalusinasi." Gumam Naina lagi.
"Aw! Kenapa kamu mencubitku?" Rintih Naina setelah Dean mencubit pelan pipinya.
"Kamu tidak bermimpi Sayang. Ini nyata. Buktinya, pipimu sakit saat aku cubit tadi." Jawab Dean dengan senyum nakalnya.
Naina terdiam. Ia mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi.
"Kamu lupa, kamu memelukku erat di bandara tadi?" Imbuh Dean.
Naina akhirnya bisa mengingat apa yang terjadi tadi.
"Kamu benar-benar tidak pergi?" Tanya Naina masih tak percaya.
"Tentu saja. Aku tidak akan meninggalkanmu dan putri kita lagi." Jawab Dean yakin.
Hati Naina bergetar. Jantungnya mendadak berdegup kencang saat Dean mengucapkan kalimat itu. Airmatanya tanpa permisi mulai memenuhi kelopak matanya. Perasaannya terlalu sulit untuk dijelaskan. Tapi yang pasti, ia bahagia.
"Jangan menangis! Katakanlah, apapun itu!" Pinta Dean lembut saat melihat genangan air itu mulai memenuhi kelopak mata Naina.
Naina tersenyum kecil diiringi oleh buliran bening yang berhasil keluar dari kelopak matanya. Ia tak pernah menyangka, bahwa ia akan mengalami sesuatu yang terasa begitu mengharukan ini. Hingga membuatnya kesulitan untuk mengucapkan sesuatu dari bibirnya.
...****************...
Satu minggu telah berlalu. Kondisi Naina pun berangsur membaik. Hati yang bahagia dan pikiran yang tenang, sangat membantu Naina pulih dengan cepat. Naina masih berada di rumah sakit hingga hari ini. Ia hanya menunggu kondisinya cukup baik untuk menjalani rawat jalan.
Dean masih setia menemaninya di rumah sakit. Ia bahkan juga tidak pernah pulang selama Naina di rumah sakit. Ia hanya sesekali keluar untuk membeli beberapa keperluannya.
Sekar pun setiap hari juga ke rumah sakit untuk melihat kondisi Naina. Ia juga bergantian dengan Lea dan Hera untuk menjaga Rissa selama Naina masih di rumah sakit.
Naina baru saja selesai menikmati makan malamnya. Ia juga sudah meminum obat yang diberikan oleh perawat tadi. Ia sedang memeriksa laporan yang Riska kirimkan padanya melalui email.
"Cukup Sayang!" Ucap Dean sambil merebut tab milik Naina.
"Sedikit lagi De!" Rengek Naina manja.
__ADS_1
"Kamu harus istirahat! Agar kamu bisa segera pulang dari sini." Tolak Dean seraya meletakkan tab Naina ke meja tamu.
Naina mendengus kesal. Ia sebenarnya hanya tinggal menyelesaikan satu laporan terakhir yang Riska kirim. Tapi malah di hentikan oleh Dean yang sedari tadi sudah memperhatikannya dengan seksama dan memberinya kelonggaran.
"Ada yang ingin ku katakan padamu!" Ucap Dean setelah duduk di tepi ranjang Naina.
"Hem? Katakanlah!" Jawab Naina santai sambil menyandarkan punggungnya ke ranjangnya dan melepaskan kacamata bacanya.
"Terima kasih karena telah menjaga Rissa selama ini." Ucap Dean sendu sambil menggenggam sebelah tangan Naina.
"Dia putriku. Kenapa aku tak menjaganya?"
"Ibu bilang, kamu sempat ingin bunuh diri dan tak menginginkan Rissa dulu."
"Semua terjadi begitu saja dulu. Semua hal yang tak kuharapkan terjadi begitu saja. Aku tak siap saat itu. Jika bukan karena Ibu, Mbak Lea dan Mbak Hera yang selalu menemaniku saat itu, entah bagaimana nasibku saat ini."
"Maafkan kecerobohanku dulu." Aku Dean.
"Sudahlah De! Semua sudah terjadi. Bukankah karena kecerobohanmu, kita bisa seperti ini sekarang?" Goda Naina.
Dean tersenyum pada Naina. Ia lega, Naina bisa berbesar hati dengan semua yang telah terjadi padanya. Karena sungguh, ia tahu lika-liku kehidupan Naina dulu saat ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia hamil karena menjual hal yang paling berharga miliknya.
Sekar, Lea dan Hera sudah menceritakan banyak hal tentang beratnya hidup Naina dulu pada Dean. Apalagi, saat Naina juga harus kehilangan kabar dari Sekar. Hanya Lea dan Hera yang menemaninya melewati hari-hari Naina yang penuh cibiran tanpa henti.
Hingga akhirnya, Naina memilih mengadu nasib di ibukota dan merintis usahanya sendiri demi menghidupi putri kecilnya. Dan ternyata, nasib baik berpihak padanya. Ia berhasil membangun kerajaan bisnisnya yang hingga kini masih terus berkembang seiring waktu.
"Tunggu sebentar! Kenapa kamu tak memberiku panggilan sayang? Aku saja sudah memanggilmu Sayang sejak lama." Cibir Dean.
"Kamu ini! Kayak anak ABG aja!" Ejek Naina cekikikan.
"Mana ada kayak anak ABG? Mama dan Papa saja punya panggilan sayang sampai saat ini. Dan kamu juga tahu sendiri, Ibu Sekar dan Daddy Wiliam juga punya panggilan kesayangan mereka bukan?"
Naina terdiam. Ia tak bisa membantah ucapan Dean yang sungguh ada benarnya. Ia hanya belum bisa menemukan panggilan sayang untuk Dean, hingga sedikit mengejeknya tadi.
"Baiklah. Sekarang, kamu harus memberikan panggilan sayangmu padaku. Dan aku, akan memberimu hadiah nanti." Rayu Dean.
Naina mengerutkan keningnya. Ia berusaha menemukan panggilan sayang yang cocok untuk Dean. Bukan karena iming-iming hadiah yang Dean berikan, tapi memang sebenarnya ia juga menginginkannya.
"Mas." Panggil Naina ragu-ragu.
"Apa Sayang? Ulangi lagi!" Goda Dean.
"Maass." Panggil Naina lagi.
Dean tersenyum mendengar itu.
"Itu hanya panggilan biasa. Tapi kenapa terdengar berbeda saat kamu mengucapkannya Sayang?"
"Terserah ah! Mana hadiahku?" Tantang Naina.
Dean mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia pun tersenyum melihat ekspresi wajah Naina yang cukup penasaran dengan hadiah yang ia janjikan tadi.
"Naina Andini. Maukah engkau menikah denganku?" Ucap Dean seraya menunjukkan sebuah cincin yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu.
Wajah Naina seketika berubah. Ekspresinya langsung mendadak masam dan kesal.
"Kamu melamarku di rumah sakit Mas? Apa tidak salah?" Cibir Naina kesal.
Naina kesal pada Dean yang melamarnya di rumah sakit. Ia sungguh tak menyangka Dean akan melakukan itu. Dalam hati kecilnya, ia bahagia karena Dean melamarnya. Tapi, ia sungguh berharap akan dilamar oleh seseorang di tempat lain dengan cara yang romantis.
Dean kebingungan mendapati reaksi Naina. Ia berusaha membaca apa maksud dari ucapan Naina.
"Udah ah Mas, aku mau tidur!" Ucap Naina makin kesal.
Naina akhirnya membenarkan posisinya, dan menarik selimutnya lalu mulai memejamkan matanya begitu saja.
"Jawab dulu Sayang!"
"Aku mau tidur!" Sahut Naina ketus dengan mata yang terpejam.
__ADS_1