
Malam semakin larut. Jutaan bintang di langit, semakin indah menghiasi malam dengan cahayanya yang saling berkedip satu sama lain. Memberikan keindahan yang paripurna pada setiap netra yang memandangnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana malam pun makin tenang. Apalagi di rumah sakit, suasana ruang rawat inap cukup tenang malam ini.
Dean masih terjaga seorang diri di ruang rawat Naina. Ia berdiri memandangi pemandangan malam ibukota dari jendela ruang rawat. Ia masih setia menunggu Naina membuka matanya. Ia sangat ingin, orang pertama yang dilihat Naina saat membuka mata adalah dirinya.
Rissa sudah pulang bersama Jonathan dan Jelita sejak satu jam yang lalu. Rissa sebenarnya ibgin menemani ibunya, tapi tidak diizinkan oleh pihak rumah sakit untuk menemani ibunya di rumah sakit terlalu lama. Mengingat usianya yang masih delapan tahun.
Dean menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu tentang kasus penculikan Naina dua tahun yang lalu. Niko tidak bisa dihubungi sejak tadi. Jadi Dean meminta anak buahnya yang lain untuk mencari seluruh informasinya.
KREK. Suara dari arah ranjang Naina mengalihkan perhatian Dean. Ia segera membalikkan badan.
Sebuah senyuman tersungging indah di wajah Dean. Ia bisa melihat, mata Naina telah terbuka. Dan kini sedang memandang ke arahnya. Dean segera menghampiri Naina.
"Kamu sudah bangun Sayang?" Sapa Dean lembut dengan wajah tampannya.
Naina hanya diam.
"Aku panggilkan perawat dulu ya!"
Dean segera memanggil perawat untuk memeriksa Naina. Itu juga yang dipinta oleh perawat yang tadi membantu Naina dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Kenapa aku di rumah sakit?" Batin Naina saat menyadari ia sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Naina mencoba mengumpulkan ingatan terakhirnya. Ia pun mulai ingat saat sebuah mobil melaju kencang ke arah mobilnya saat di persimpangan jalan.
"Kamu butuh sesuatu Sayang?" Tanya Dean perhatian.
Naina yang tadi masih mencoba mengingat kecelakaan yang ia alami, segera menoleh ke arah Dean yang sudah duduk di sampingnya. Dean cukup memahami keadaan Naina saat ini.
"Kamu tadi mengalami kecelakaan mobil. Sistem keselamatam mobilmu tidak bekerja dengan baik. Kepalamu terbentur mobil. Tangan dan kakimu juga mengalami beberapa luka lecet dan lebam karena tadi tubuhmu terjepit body mobilmu yang rusak." Jelas Dean.
Naina hanya mendengarkan dengan seksama. Ia sebenarnya ingin menanggapi ucapan Dean. Hanya saja, hatinya terlalu bergejolak karena bertemu lagi dengan Dean. Apalagi jika teringat, apa yang membuatnya mengalami kecelakaan tadi. Ia tak bisa berkata-kata.
"Maaf, jika kehadiran dan ucapanku tadi mengejutkanmu." Ucap Dean tulus.
Naina masih diam. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Dean. Karena sesungguhnya, ia sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan Dean. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan ucapan Dean tadi saat di pesta.
Suasana hening itu teralihkan oleh ketukan pintu ruang rawat Naina. Dua orang perawat datang untuk mengecek kondisi Naina.
"Apa calon istriku sudah bisa makan atau minum sesuatu Suster?" Tanya Dean, setelah perawat selesai memeriksa Naina.
Naina menoleh ke arah Dean dengan cepat. Ia menatap tajam pada Dean.
"Sudah Pak. Ibu sudah bisa makan atau minum apapun. Pengaruh obat biusnya sudah hilang, karena Ibu bilang, beliau sudah bisa mengeluarkan gas dari perutnya tadi." Jawab perawat itu ramah.
"Baiklah Suster. Terima kasih."
"Sama-sama Pak. Kami permisi." Ucap suster itu sambil sedikit mengangguk.
"Iya Suster."
Dua perawat tadi lalu pergi meninggalkan ruang rawat Naina. Mereka kembali ke ruang jaga pasien untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu mau minum?" Tanya Dean lagi, setelah perawat tadi pergi.
"Sejak kapan aku jadi calon istrimu?" Sahut Naina ketus.
"Sejak aku bertemu denganmu." Jawab Dean santai.
Naina melengos mendengar jawaban Dean. Sesungguhnya, hatinya bergejolak tak karuan saat Dean meyebut dirinya sebagai calon istri. Rasa cinta dan sayang Naina pada Dean, masih tersimpan rapi dalam hati Naina selama dua tahun ini. Sekuat apapun Naina mencoba menepis dan menghapus rasa itu, semakin dalamlah pula rasa yang ia rasakan pada laki-laki itu.
Dean hanya tersenyum melihat tingkah Naina. Ia lantas mengambilkan gelas minum Naina.
"Minumlah! Kamu pasti haus." Pinta Dean penuh perhatian.
Naina masih tak bergeming. Ia menatap ke arah jendela ruang rawatnya yang tadi sempat dibuka tirainya oleh Dean.
"Maaf, aku tak mengenalimu lebih cepat." Ucap Dean penuh penyesalan.
Naina terkejut mendengar ucapan Dean. Sebenarnya, ia tak ingin membahas hal itu saat ini. Karena sungguh, badannya masih lemas dan terasa sakit di beberapa bagian. Ia masih enggan untuk banyak bicara. Tapi ia juga penasaran, kenapa Dean tidak mengenalinya kemarin.
"Pulanglah!" Pinta Naina singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tidak. Aku akan di sini menemanimu. Aku sudah berjanji pada putri kita untuk menjagamu saat dia tidak bisa menemanimu." Jujur Dean.
Naina menoleh cepat ke arah Dean.
"Siapa yang kau bilang putri kita?" Tanya Naina tak terima.
__ADS_1
"Rissa. Clarissa Fauziah Diedrich. Dia putri kita bukan?" Jawab Dean sambil mencoba menggenggam tangan Naina.
"Atas dasar apa kau bisa mengaku sebagai ayahnya?" Tantang Naina.
"Aku sudah melakukan tes DNA."
"Apa? Emh,," Sahut Naina lirih sambil menahan sakit.
"Aku sudah melakukan tes DNA menggunakan sample DNA Rissa sebelum kembali ke Indonesia kemarin. Aku bahkan melakukannya di dua tempat yang berbeda. Dan hasilnya sama. DNA kami cocok. Jadi dia adalah putri kandungku." Jelas Dean.
"Tidak, itu tidak mungkin." Sanggah Naina sambil menahan kepalanya yang mulai berdenyut keras.
"Mama dan Nyonya Sekar juga sudah membuktikannya." Imbuh Dean.
"Apa kamu bilang?" Cibir Naina tak percaya.
"Eeemmhh,,"
Naina tiba-tiba merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terluka. Matanya terpejam begitu rapat karena menahan sakitnya. Kondisinya yang baru saja sadar dan tubuhnya yang terluka, membuatnya sedikit lemah.
"Kamu kenapa? Aku panggilkan perawat dulu!" Ucap Dean panik, seraya bangkit dan memegang tangan Naina.
Dean segera memanggil perawat kembali. Dua perawat pun kembali ke ruang rawat Naina. Mereka memberi Naina obat agar meredam rasa sakitnya. Naina pun diminta untuk lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
"Maafkan aku karena memaksamu tadi. Istirahatlah! Aku akan menemanimu di sini." Pinta Dean lembut sambil kembali duduk di tepi ranjang Naina.
Naina yang mulai merasakan sakit kepalanya sedikit mereda, hanya diam. Ia menoleh ke arah nakas yang ada di samping ranjangnya. Tangannya mulai terangkat untuk mengambil gelas berisi air di atasnya.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Dean perhatian.
Naina hanya diam. Ia masih berusaha menjangkau gelas yang ada di atas nakas. Dean lalu berdiri dan meraih gelas itu.
"Aku bantu!" Pinta Dean tulus sambil mendekatkan gelas ke arah mulut Naina.
Naina hanya diam. Ia membuang muka dari Dean.
"Kumohon Na, minumlah! Aku tahu, kamu haus bukan? Aku hanya ingin membantu dan menjagamu Na." Rayu Dean.
Tak bisa Naina pungkiri, kerongkongannya terasa begitu kering. Ia merasa haus sejak ia bangun tadi. Tapi, ia juga tak bisa serta merta menerima perhatian Dean begitu saja.
"Nandini!" Panggil Dean lembut.
"Jangan sebut nama itu!" Pinta Naina kesal.
Naina akhirnya mengalah. Ia tak bisa menahan rasa hausnya. Ia meminum air putih yang disuapkan oleh Dean. Dean pun tersenyum hangat melihat Naina akhirnya mau minum.
"Istirahatlah!" Pinta Dean setelah meletakkan gelasnya di tempat semula.
Naina hanya diam. Ia segera memejamkan matanya. Dean sedikit membenarkan selimut Naina. Ia lalu berbaring di ranjang lain yang ada di ruangan itu, dan membiarkan Naina beristirahat.
"Maaf Na." Gumam Dean lirih sambil menatap Naina yang mulai terlelap kembali.
Keesokan harinya, ponsel Dean berdering dengan nyaring saat ia sedang mambantu Naina makan. Naina tak bisa berbuat banyak dengan kondisinya kini. Ia cukup kesulitan melakukan apapun sendirian. Jadi, ia tak bisa menolak perhatian yang Dean berikan padanya.
"Sebentar, aku terima telepon dulu!" Ucap Dean sambil meletakkan piring makan Naina.
Naina hanya mengangguk kecil. Dean pun meraih ponselnya yang ada di atas nakas lalu membaca siapa orang yang meneleponnya.
"Assalamu'alaikum. Ada apa Nik?"
"Maaf Tuan, saya tidak tahu jika ponsel saya kehabisan daya semalam. Apa ada masalah Tuan?"
Dean tidak menjawab. Ia mengalihkan panggilan suara dari Niko ke panggilan video.
"Kamu kenal bukan siapa dia?" Tanya Dean setelah mengarahkah kamera ponselnya ke arah Naina.
"Nona Naina? Nona kenapa Tuan? Kenapa kepalanya diperban?"
"Dia mengalami kecelakaan semalam. Kami di Ibrahim Medical Center sekarang."
"Baik Tuan, saya mengerti. Maaf, saya tidak bisa membantu Anda semalam."
"Tidak apa-apa. Kamu juga sedang libur bukan? Baiklah, lanjutkan liburmu! Semua sudah lebih baik. Tapi, ada satu tugas menantimu esok."
"Tugas apa Tuan?"
"Besok saja, saat kamu sudah tidak libur."
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Yasudah, aku harus menyuapi calon istriku." Ucap Dean sambil melirik pada Naina.
"Iya? Oh, baik Tuan."
"Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Panggilan pun terputus. Dean lalu kembali mengambil piring makan Naina dan kembali menyuapi Naina yang hatinya berdebar-debar karena Dean kembali menyebutnya calon istri.
Siang harinya, dua kakak Naina tiba di rumah sakit setelah sebelumnya ke rumah Naina terlebih dahulu. Mereka datang bersama Rissa dan Atun yang juga ingin melihat kondisi Naina.
Ben, Lea dan Hera terkejut melihat Dean ada di ruang rawat Naina. Karena Rissa tak mengatakan apapun sebelumnya pada mereka. Tapi mereka mengesampingkan hal itu karena khawatir pada Naina.
Mereka lalu menanyai Naina banyak hal. Salah satunya kenapa Naina bisa sampai mengalami kecelakaan. Dan Naina kebingungan menjawab pertanyaan itu.
Naina tak mungkin berkata jujur di depan Rissa, bahwa ia mengalami kecelakaan setelah mendengar pengakuan dari Dean. Meski saat ini, Rissa sedang fokus berceloteh bersama Dean di sofa yang ada di ruangan itu.
"Nanti saja Mbak, Naina ceritakan." Jawab Naina sekenanya.
"Apa ada hubungannya dengan Dean?" Terka Lea.
Naina hanya tersenyum kecil. Lea dan Hera pun paham maksud Naina. Mereka lantas sejenak berbincang.
"Dimana dua asistenmu?" Tanya Hera.
"Mereka sedang libur semua Mbak. Sinta sedang pulang ke kampung bersama Niko. Riska juga sedang mengunjungi orang tuanya di Semarang." Jelas Naina.
"Kamu ini, punya dua asisten bisa sampai kecelakaan kayak gini, dua asistenmu juga nggak ada di sini satu pun." Cibir Hera.
"Nggak papa Ra. Kan udah dapet asisten baru." Goda Lea sambil melirik ke arah Dean.
Hera langsung paham maksud Lea.
"Siapa Mbak? Mbak Atun? Dia aja di rumah." Sahut Naina bingung.
"Atun di bawah, jagain Via sama Tasya. Lagian, bukan Atun asisten barunya." Jawab Lea semangat.
"Terus?" Tanya Naina polos.
"Tuh yang ganteng, yang lagi asik sama Rissa." Jawab Hera sambil melirikkan bola matanya ke arah Dean.
Naina membuang nafas kesal. Ia memutar bola matanya jengah karena digoda oleh dua kakaknya yang jahil.
Setelah cukup berbincang, Lea, Hera dan Atun berpamitan pulang. Ben bergantian dengan Atun menjaga Via dan Tasya di bawah. Karena dua balita itu tidak diizinkan masuk ke rumah sakit, sesuai peraturan yang berlaku.
Rissa pun akhirnya juga ikut pulang. Lagi-lagi karena ia belum diperbolehkan menemani pasien terlalu lama. Rissa pun kembali meminta Dean untuk menjaga Naina selama ia tidak bisa menemaninya.
"Tentu Sayang, Om akan menemani Mommy menggantikanmu, selama kamu belum bisa menemaninya sementara ini." Jawab Dean yakin.
"Makasih Om." Jawab Rissa bahagia di pangkuan Dean.
CUP.
Rissa mengecup pipi Dean dengan bahagia. Dean terpaku mendapat kecupan dari Rissa. Hatinya bergetar. Tubuhnya terasa dingin seketika. Lidahnya mendadak kelu.
"Rissa pulang dulu ya Om!" Pamit Rissa.
"Eh. Oh, iya. Hati-hati ya Sayang!" Pesan Dean sedikit gelagapan.
Rissa dan yang lain pun lalu meninggalkan Naina dan Dean berdua lagi. Dua insan itu masih tak banyak bicara.
Sebenarnya, Dean ingin mengatakan banyak hal pada Naina. Tapi mengingat kejadian semalam, karena ucapannya, kondisi Naina langsung sedikit memburuk, membuat Dean berpikir kembali untuk mengatakan banyak hal padanya.
Tiba-tiba, ponsel Dean berdering kembali. Ia segera menjawab panggilan yang ternyata dari Leon.
"Yes Le, what's wrong?"
"Sorry sir, there's a problem. We are framed. Customs security found a prohibited item in our shipping box. And in large numbers."
"How bad are the consequences?"
"The company can have its trading license revoked."
"Okay. I'll be right back."
"Yes Sir."
Dean menghela nafasnya berat. Ia tak mengira, akan ada masalah besar di perusahaannya saat ini. Apalagi, ia harus turun tangan untuk menanganinya.
__ADS_1
Diam-diam, Naina mendengarkan percakapan Dean dengan Leon tadi.
"Apa ia akan kembali ke Jerman lagi?" Batin Naina perih.