
Setiap hati, memiliki kisahnya masing-masing. Kisah perjuangan suka dan duka yang membuatnya menjadi setegar karang yang selalu dihempas oleh besarnya ombak lautan. Meski terkadang nampak rapuh, tapi ia begitu kuat dan selalu bertahan demi apa yang ia lindungi.
Naina begitu bahagia karena pertemuannya kembali dengan Sekar. Setelah ia sampai di rumah, ia segera membantu putrinya untuk mengganti pakaian dan membiarkannya beristirahat sejenak. Ia pun segera menghampiri Sekar yang sedang menikmati suasana taman belakang rumah Naina.
"Kita video call sama Mbak Hera dan Mbak Lea ya Bu'! Mereka pasti senang melihat Ibu di sini sekarang." Ajak Naina antusias saat ia duduk tepat di samping Sekar.
Belum sempat Sekar menyetujuinya, Naina sudah berkutat dengan ponselnya dan mencari kontak dengan nama dua kakaknya itu.
"Assalamu'alaikum Mbak Lea." Sapa Naina bahagia.
Wajah Lea pun sudah terpampang jelas di layar ponsel Naina.
"Wa'alaikumussalam Na. Bahagia banget?" Goda Lea.
"Iya dong. Mbak Hera mana Mbak?"
"Baru buatin Tasya susu. Sebentar aku panggilin!"
Seketika, Lea sedikit berteriak untuk memanggil madunya itu. Hera pun segera tiba sambil memegang sebotol susu formula untuk sang buah hati, Tasya.
"Kenapa Na?" Tanya Hera penasaran.
"Tebak, Naina ketemu siapa tadi?"
"Siapa Na? Dean?"
Naina terdiam saat nama itu disebut oleh Lea. Hatinya sedikit bergejolak karena mengingat sosok laki-laki itu.
"Bukan. Tebak lagi!"
"Ketemu Mas Al sama Andin?" Celetuk Hera.
"Ah Mbak Hera! Korban sinetron." Cibir Naina.
Sekar yang mendengar obrolan tiga orang itu, hanya cekikikan menahan tawanya agar tak lepas begitu saja.
"Ya mana kita tahu Na kamu ketemu siapa tadi." Sahut Lea ketus.
Naina sedikit menggeser ponselnya, hingga wajah Sekar yang duduk tepat di sampingnya bisa terlihat jelas di layar ponselnya. Hingga Lea dan Hera bisa melihat jelas wajah teman lamanya itu.
"Mbak Sekar?"
Lea dan Hera benar-benar terkejut melihat Sekar ada bersama Naina. Dua orang istri Ben itu, malah nampak saling berebut ponsel karena ingin memastikan bahwa yang bersama Naina adalah Sekar, teman lama mereka yang hilang tanpa kabar enam tahun lalu.
Sekar tersenyum haru sambil menitikan air matanya. Ia bahagia melihat dua teman lamanya itu, kini memiliki kehidupan yang bahagia, sama sepertinya. Memiliki keluarga yang bisa menerima mereka dengan masa lalunya.
Lea dan Hera langsung memberondong banyak pertanyaan pada Sekar setelah memastikan bahwa yang bersama Naina adalah Sekar teman lama mereka. Sekar bahkan kewalahan menjawab pertanyaan Lea dan Hera. Tapi ia tetap belum mengatakan alasannya menghilang enam tahun lalu.
Dan saat mereka masih asik dengan video callnya, Ben terdengar baru saja pulang bekerja. Dua istrinya pun nampak sangat antusias mengenalkan suami mereka pada Sekar. Lea dan Hera bahkan langsung meminta pada Ben untuk mengunjungi Sekar di ibukota. Dan Ben pun menyetujuinya.
Perlahan, Rissa mulai bisa mengobrol santai dengan Sekar. Ia mulai menyambut baik kehadiran Sekar. Dan Sekar sangat bahagia akan hal itu. Apalagi ketika Rissa mau untuk duduk dipangkuannya dan dipeluknya dengan begitu hangat. Hati Sekar begitu bahagia bisa memeluk gadis kecil itu.
"Cucuku." Batin Sekar saat ia memeluk Rissa dengan hangat.
Naina pun ikut bahagia karena putrinya bisa menerima kehadiran Sekar dengan baik. Gadis itu bahkan mulai berceloteh banyak hal tentang kesehariannya pada Sekar. Dan Sekar mendengarkannya dengan seksama sebagai obat rindunya.
Hingga bulan dan bintang telah bertahta indah di langit malam. Menjadi pertanda bahwa telah tiba waktu bagi sang tubuh untuk beristirahat. Melepaskan lelah setelah seharian berkutat dengan banyaknya hal yang tak bisa kita terka kehadirannya.
Rissa telah terlelap di kamarnya. Gadis itu bahkan mau diantar tidur oleh Sekar setelah puas bercerita banyak hal tentang kesehariannya. Setelah memastikan Rissa tertidur, Sekar menghampiri Naina yang sedang berkutat dengan pekerjaannya yang sedikit tertunda tadi.
"Kamu tidak lelah Na? Ini sudah malam." Tegur Sekar.
__ADS_1
"Sedikit lagi Bu'. Ada yang harus Naina selesaikan hari ini. Apa Ibu ingin istirahat?" Jujur Naina.
"Nanti saja." Jawab Sekar singkat.
Naina segera menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, ia segera duduk bersandar manja di bahu ibunya yang sedang menyaksikan acara tv sambil menunggu Naina menyelesaikan pekerjaannya sedari tadi.
"Ceritakan pada Naina Bu'!" Pinta Naina manja.
"Cerita apa? Kancil nyolong timun?" Goda Sekar.
"Ah Ibu! Alasan Ibu pergi tanpa kabar waktu itu."
"Ow itu. Kamu tidak menunggu Lea dan Hera tiba besok? Kalian sudah janjian kan untuk mendengar cerita Ibu bersama."
"Naina sudah penasaran Bu'. Apa karena Naina?"
"Iya. Karena kamu, Lea dan Hera."
Flashback On
Sore yang cerah. Seperti biasanya, Sekar selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi pusara kedua orang tuanya yang letaknya sedikit jauh dari jantung Kota Jogja. Ia yang merupakan anak tunggal, selalu sendirian mengunjungi pusara kedua orang tuanya yang telah tiada sejak ia masih duduk di bangku SMA.
"Aku menemukanmu Sayang!" Sapa seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, saat Sekar keluar dari area pemakaman di desa kelahirannya.
Sekar terkejut bukan main. Ia sedikit beringsut menjauh dari laki-laki yang cukup ia kenali itu. Laki-laki itu berusia tak jauh darinya dan terlihat cukup tampan. Dengan kulit kuning langsat dan rambut hitam dengan potongan layaknya anak muda. Tak ada yang menyangka, jika ia sudah berusia kepala empat.
"Mau apa kamu kemari?" Tanya Sekar ketus.
"Jelas mencarimu Sayang. Kamu sudah bukan milik Hartono lagi sekarang, jadi aku bisa memilikimu seutuhnya." Sahut laki-laki itu santai.
Sekar tak menghiraukan ucapan laki-laki itu. Ia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari laki-laki itu. Perasaannya tak begitu baik karena bertemu laki-laki itu.
"Kamu mau kemana Sekar Sayang?" Cegah laki-laki itu, dengan segera menghalangi jalan Sekar.
"Aku tak akan melepaskanmu kali ini!" Jawab laki-laki itu yakin.
Laki-laki itu langsung meraih pergelangan tangan Sekar dan menggenggamnya begitu erat. Sekar pun seketika memberontak. Ia tak ingin kembali pada masa lalunya yang sudah ia tinggalkan dalam beberapa bulan terakhir.
"Lepaskan aku! Dasar Joko sialan!" Umpat Sekar sambil terus meronta.
"Tidak akan!" Jawab laki-laki itu sambil menyeringai jahat pada Sekar.
Joko 'Asmoro'. Seorang pemilik klub yang juga sekaligus mucikari bagi beberapa wanita di klubnya. Ia adalah saingan Romo dalam bisnis yang sama sejak lama. Tapi, ia tetap kalah kemampuan jika dibandingkan Romo.
Joko sudah lama menaruh hati pada Sekar. Ia berusaha merebut Sekar dari Romo, tapi tak pernah berhasil. Meski secara fisik, Joko lebih tampan dan usianya pun lebih muda dibandingkan Romo.
Sekar selalu menolak tawaran Joko untuk bekerja di klubnya. Bahkan Sekar pernah menolak pinangannya. Kenapa? Karena Joko memiliki bisnis narkotika yang bisa menjadi bom yang meledak dalam sekejap. Dan pasti, akan merugikan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Selama ini, Sekar cukup aman berada di bawah tangan Romo. Para pengawal Romo, selalu menjaga para pekerja di klubnya, agar tak diganggu oleh para saingan bisnisnya. Karena memang, Romo adalah pebisnis terhandal di Kota Jogja dalam bidang itu. Tapi setelah Romo tiada, ia tak lagi aman.
Sekar berusaha mencari cara agar bisa lepas dari Joko. Sekar mengedarkan pandangannya kesana kemari. Berusaha mencari bantuan, tapi hasilnya nihil. Lokasi makam yang berada di luar dusun terdekat, membuat daerah itu jarang dilewati orang.
Tiba-tiba, Joko melepaskan cengkeraman tangannya pada Sekar. Sekar pun bergegas berusaha lari.
"Pergilah! Dan akan kubawa kedua adikmu ke klubku secepatnya!" Ancam Joko bangga.
Sekar seketika menghentikan langkahnya mendengar ucapan Joko. Ia tahu, siapa yang dimaksud oleh Joko. Sekar segera berbalik badan.
"Ah ya, dan jangan lupakan putri cantikmu yang belum lama melahirkan anak haramnya!" Imbuh Joko sambil tertawa.
"Jangan sentuh mereka!" Bela Sekar.
__ADS_1
"Aku tak akan menyentuh mereka, jika kau mau ikut denganku!" Ancam Joko lagi.
"Kau mau bisnis sampinganmu tersebar luas hingga ke telinga para penegak hukum?" Ancam Sekar.
"Tak usah main-main denganku! Hartono sudah mati sekarang, kau tak akan memiliki pelindung lagi."
Sekar terdiam. Apa yang dikatakan Joko ada benarnya. Kemarin, ia masih memiliki pengawal Romo yang siap membantunya kapan pun. Tapi kini, semua telah tiada.
"Baiklah! Aku akan membawa putrimu bersama bayinya ke klubku! Akan kujadikan dia dan bayinya, 'kupu-kupu malam' terbaik di klubku!"
"Kalau kau berani menyentuh mereka sedikit saja, kau akan merasakan akibatnya!"
"Itu, tergantung pada keputusanmu."
Sekar berpikir keras. Ia tak mungkin egois, demi sesuatu yang sudah ia tinggalkan beberapa saat. Tapi, ia juga tak bisa jika harus melihat Lea, Hera atau bahkan Naina menjadi 'kupu-kupu malam' di klub milik Joko.
"Beri aku waktu!" Ucap Sekar datar.
"Tentu saja Sayang, apapun untukmu!" Jawab Joko senang.
Setelah sedikit perundingan, Joko melepaskan Sekar hari ini. Ia membiarkan Sekar pulang untuk berunding dengan kedua adik dan putrinya.
Saat sampai di rumah, Sekar tak mengatakan apapun pada Lea, Hera dan Naina. Ia berusaha membuat keputusannya sendiri, tanpa melibatkan tiga wanita itu.
Hingga akhirnya, Sekar sampai pada sebuah keputusan. Bahwa dia akan mengikuti keinginan Joko, tapi dengan syarat, Joko tak akan mengusik kehidupan Lea, Hera dan Naina suatu hari nanti. Apapun yang terjadi.
Sekar pun menutupi keputusannya dari Lea, Hera dan Naina. Ia berpamitan pada semuanya untuk menyelesaikan sebuah urusan. Tapi ia tak pernah kembali.
Sekar tidak dijadikan 'kupu-kupu malam' oleh Joko di klubnya. Ia membawa Sekar ke rumahnya. Ia sungguh ingin menjadikan Sekar miliknya seutuhnya.
Dan saat inilah Sekar mempertaruhkan hidupnya. Ia tak mau makan atau minum apapun yang dihidangkan oleh Joko. Ia hanya berdiam diri di kamar yang disiapkan Joko untuknya.
Joko berusaha merayu Sekar agar mau makan atau minum. Tapi Sekar tetap menolaknya. Hingga Sekar harus dilarikan ke rumah sakit karena tak sadarkan diri, satu minggu setelah ia tiba di rumah Joko.
Joko kembali mengancam Sekar menggunakan Lea, Hera dan Naina.
"Silahkan saja jika kamu berani menyentuh mereka! Lea dan Hera juga tahu bisnis harammu." Gertak Sekar.
"Sialan!" Umpat Joko dalam hati.
Joko akhirnya membiarkan Sekar memulihkan diri. Tapi setelah itu, ia beberapa kali merudapaksa Sekar demi keinginannya yang lama ia pendam.
Sekar yang tak pernah mengharapkan itu, hanya bisa pasrah ketika ia tak bisa mengalahkan kekuatan Joko yang seorang laki-laki dengan tubuh yang tegap. Ia hanya bisa menangis, ketika Joko selesai dengan hajatnya.
Meski Sekar adalah mantan 'kupu-kupu malam', ia tak akan menerima tawaran jika ia tak menginginkannya. Meski bayarannya cukup besar.
Dan itu berlangsung selama beberapa bulan. Dan Sekar pun harus keluar masuk rumah sakit karena kasus yang sama. Ia tak mau memakan atau meminum apapun yang diberikan oleh Joko.
Flashback Off
"Kenapa Ibu melakukan itu? Kenapa Ibu tak bilang pada kami waktu itu?" Tanya Naina dengan wajah yang sudah sembab.
"Ibu ingin kalian hidup normal. Jangan lagi terlibat ke dunia hitam itu." Jelas Sekar yang juga wajahnya tak kalah sembab dari Naina.
"Maafkan Naina Bu'!"
Naina segera memeluk erat tubuh Sekar. Ia tak tahu, bagaimana lagi mengungkapkan rasa bersalahnya karena membuat hidup Sekar sepahit itu demi melindunginya. Ia juga sangat berterima kasih karena Sekar begitu menyayanginya. Hingga ia rela mengorbankan hidupnya demi seorang anak angkat.
Sekar pun membalas pelukan Naina. Ia pun menganggukkan kepalanya dalam pelukan Naina. Cukup lama mereka saling berpelukan demi meluapkan rasa dalam hati masing-masing.
"Dan kamu tahu Na, siapa yang Ibu temui setelah dua bulan di sana?" Ucap Sekar yang mulai tenang.
__ADS_1
"Siapa Bu'?" Tanya Naina penasaran.
"Rendi. Asisten pribadi Romo." Jawab Sekar yakin.