Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Lamaran Sederhana


__ADS_3

Bahagia. Sebuah rasa yang sering menjadi tujuan para pemilik rasa. Sebuah rasa yang terkadang sangat menghanyutkan hati dan pikiran para pemiliknya.


Lobi kantor Naina dipenuhi oleh atmosfer kebahagiaan para penghuninya. Sorak sorai kebahagiaan dari para karyawan, membuat suasana begitu riuh dan ramai tak terkendali.


Semua pasang mata, tertuju pada sebuah keluarga kecil yang akhirnya bisa berkumpul dengan penuh kelegaan. Bisa mengetahui posisinya masing-masing. Bisa saling meluapkan rasa sayangnya pada tempat yang seharusnya.


Meski sempat terpisah bertahun-tahun, tapi takdirlah yang kembali menyatukannya. Takdirlah yang membuat sebuah ikatan hati yang tercipta dari hati yang tulus satu sama lain, saling mengikat dan memberi pertanda pada logika agar bisa membuka mata hati dengan lebih jelas.


"Nandini?" Gumam Jelita saat melihat putranya tersenyum lebar bersama wanita pilihannya.


"Kenapa nama itu seperti tidak asing?" Imbuh Jelita lagi.


Jelita sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia mencoba mengingat nama yang tadi sempat Dean sebutkan saat melamar Naina.


"Pa! Sepertinya Mama pernah mendengar nama Nandini. Tapi dimana ya?" Ucap Jelita sambil menarik lengan suaminya.


Jonathan lantas menoleh pada Jelita.


"Nandini?" Ulang Jonathan sambil mencoba mengingat.


"Siapa Ma, Nandini?" Tanya Jonathan.


"Papa gimana sih? Malah balik tanya!" Kesal Jelita.


Jonathan lalu kembali fokus pada putranya yang sedang berbahagia bersama keluarga kecilnya. Sedang Jelita, masih berusaha mengingat nama itu.


"Niko!" Panggil Jelita.


Niko yang sedang berdiri di samping Jonathan bersama Sinta, segera menoleh pada Jelita.


"Iya Nyonya." Jawab Niko cepat.


"Siapa Nandini?" Tanya Jelita tanpa basa-basi.


"Nandini?"


Niko pun berusaha mengingat nama yang cukup tidak asing di telinganya.


"Bukankah itu nama yang selama ini Tuan Dean tanyakan Nyonya?" Terka Niko setelah beberapa saat.


"Oh iya, kamu benar. Nama itu." Jawab Jelita setuju.


"Apa dia Naina?" Imbuh Jelita berusaha menghubungkan.


Jelita lalu kembali menatap putra dan calon menantunya yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Ia menatap haru tiga orang yang sedang menjadi pusat perhatian para hadirin di tempat itu.


"Kami akan segera ke kediaman Anda Nyonya Sekar." Ucap Jelita seraya memegang bahu Sekar.


"Pintu rumah saya, selalu terbuka untuk Anda Nyonya Jelita." Jawab Sekar bahagia.


Dua wanita yang terpaut usia tak begitu jauh itu, saling mengulas senyum bahagia. Mereka saling mengungkapkan perasaan bahagia mereka dengan sebuah pelukan hangat yang cukup singkat diantara euforia para hadirin semua.


Jelita menghormati Sekar sebagai ibu Naina. Meski ia tahu, Sekar hanyalah ibu angkat Naina yang tak memiliki hubungan darah sedikitpun dengan Naina. Tapi ia juga tahu, calon menantunya itu sangat menyayangi Sekar dengan segenap hatinya.


"I love you Mom, Dad." Ucap Rissa bahagia dalam pelukan kedua orang tuanya.


Ya, gadis kecil Naina kini telah menemukan orang tuanya yang seutuhnya. Ia telah berkumpul dengan orang yang selama ini ia dambakan. Meski itu tak terucap oleh bibir kecilnya, tapi hatinya selalu berteriak memanggil sang ayah.


Dan kini, semua telah ia dapatkan. Ayahnya telah berada di sampingnya. Dan siap memberikan kasih sayangnya yang selama ini belum sempat ia berikan.


"I love you too My Princess." Ucap Dean seraya mendaratkan kecupan hangat yang entah sudah keberapa kalinya di wajah sang putri kecil.

__ADS_1


Naina sudah tak bisa berucap. Mulutnya seakan terkunci karena kebahagiaan yang ia nanti telah datang dengan begitu indahnya.


Kepedihan dan penantian yang panjang telah ia lewati. Telah ia lalui demi sang putri tercintanya. Dan kini, itu semua terbayar dengan senyum yang sangat indah dari lubuk hati putrinya.


Semua orang terhanyut dengan kebahagiaan itu. Mereka ikut bahagia melihat atasan mereka tersenyum begitu indah sore ini.


Dean akhirnya mengajak Naina dan Rissa pergi berjalan-jalan menikmati sore. Ditemani hangatnya mentari sore, keluarga kecil itu menikmati sore yang indah di atas hamparan pasir pantai. Bersama semilir angin yang bertiup lembut, mereka saling tersenyum bahagia. Betapa indahnya hari ini.


...****************...


Pagi yang cerah mengawali hari. Sinar sang surya begitu hangatnya mendarat di bumi dengan berjuta manfaatnya. Menelusup dan melewati segala yang ada dengan lembutnya.


Rumah Naina sedikit sibuk pagi ini. Lea dan Hera pun masih menginap di rumah Naina. Bahkan, Sekar pun semalam ikut menginap.


"Na, Kamu itu cepat siap-siap! Sebentar lagi Dean dateng kan?" Saran Hera sedikit kesal.


"Iya Mbak. Ini Naina juga mau mandi Mbak." Jawab Naina sedikit malu-malu.


Naina pun segera menuju kamarnya untuk bersiap.


Hari ini, Dean dan kedua orang tuanya akan datang ke rumah Naina untuk melamar Naina. Meski kemarin Dean sudah mendapat jawaban pasti dari Naina, tapi Dean dan kedua orang tuanya tetap menghargai Sekar sebagai keluarga Naina. Jadi, mereka melamar Naina secara lebih formal.


"Mommy, cepatlah! Daddy sudah hampir tiba." Teriak Rissa di depan pintu kamar Naina.


"Sebentar Sayang!" Sahut Naina dari dalam kamarnya.


Rissa sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Daddy-nya hari ini. Ia baru saja menghubungi Dean dan menanyakan sudah sampai mana sekarang ayahnya yang sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.


Sekar, Lea dan Hera hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rissa. Tiga wanita itu pun bahagia melihat gadis kecil Naina begitu bahagia hari ini.


"Ini baru acara lamaran. Bagaimana besok kalau acara pernikahannya?" Ucap Lea yang baru saja selesai mendandani putrinya, Tasya.


"Biarin Le! Namanya juga anak-anak." Sahut Hera memaklumi.


Pukul sepuluh pagi, dua buah mobil mulai terparkir rapi di depan rumah Naina. Satu demi satu para penumpang mobil itu pun turun. Wajah mereka pun dihiasi dengan senyuman indah penuh kebahagiaan.


Rissa dan seisi rumah segera menyambutnya, kecuali Naina. Bahkan, Rissa segera berlari menghambur ke pelukan Dean, yang hari ini nampak lebih gagah dan tampan dari biasanya dengan setelan jasnya yang berwarna navy.


"You're so handsome Dad." Puji Rissa tanpa ragu setelah berada di gendongan Dean.


"Really?" Sahut Dean memastikan.


Rissa pun mengangguk yakin. Dean lantas mendaratkan kecupan gemas di pipi Rissa. Semua lantas masuk ke rumah Naina.


Acara hari ini memang sengaja diadakan di rumah Naina. Naina sendiri yang memintanya. Ia tak enak hati, jika harus mengadakan acara lamaran di rumah Wiliam dan Sekar, yang dianggap sebagai wali dari Naina. Meskipun, Wiliam tak keberatan sama sekali akan hal itu.


"Dimana Naina?" Tanya Jelita segera, saat tak mendapati calon menantunya itu di ruang tamu bersama yang lain.


"Dia masih di dalam. Biar saya panggilkan." Sahut Sekar tulus.


Sekar segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar Naina. Ia pun segera memanggil Naina agar cepat keluar kamar.


Naina pun segera keluar. Ia lalu berjalan berdampingan bersama Sekar menuju ruang tamu. Pandangan seisi ruang tamu tertuju pada Naina yang hari ini tampil begitu cantik.


Dengan A-line dress berpotongan midi berwarna senada dengan jas yang Dean kenakan, Naina nampak lebih cantik dari biasanya. Rambut hitam panjangnya ia gerai begitu saja setelah tadi ia buat sedikit bergelombang bagian bawahnya.


"You're so beautiful Mom." Puji Rissa dengan lantang.


Naina dan Sekar tersenyum mendengar ucapan Rissa.


Bagaimana dengan Dean? Laki-laki yang siap melakukan segalanya demi Naina itu, terpaku begitu saja melihat penampilan Naina yang nyaris paripurna.

__ADS_1


Karena Atun yang dibantu oleh Lea dan Hera telah selesai menyajikan makanan dan minuman untuk para tamu, acara pun segera dimulai.


Niko mewakili keluarga Jonathan langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka untuk meminang Naina menjadi istri Dean. Dean yang tadi nampak begitu bersemangat, mendadak menjadi grogi dengan degup jantung yang tak beraturan. Pandangannya tak lepas dari Naina yang hanya tertunduk dan tersipu dengan hati yang terus saja bergetar hebat.


Sebagai wali dari pihak Naina, Wiliam yang menjawab dan menanggapinya. Dan tanpa basa-basi, Wiliam pun segera menjawabnya dengan yakin. Bahwa Naina menerima pinangan dari keluarga Jonathan.


Tanggal pernikahan pun segera ditetapkan. Kedua belah pihak setuju mengadakan pernikahan Dean dan Naina satu bulan kemudian. Jelita-lah yang tak ingin berlama-lama menunda acara itu.


Naina tak banyak bicara hari ini. Ia terlalu gugup dengan apa yang terjadi saat ini. Hatinya masih tak percaya, bahwa laki-laki pilihannya, tengah meminangnya secara resmi hari ini. Laki-laki yang ternyata adalah orang yang ia cari selama ini.


Begitu juga dengan Dean. Ia hanya sibuk menatap Naina yang sedari tadi tak berani bertemu pandang dengannya.


Setelah acara inti selesai, dilanjutkan dengan obrolan santai. Semua hanyut dengan obrolan mereka masing-masing. Yang paling seru, adalah obrolan tiga orang pebisnis laki-laki yang usianya hampir sama. Jonathan, Wiliam dan Ben. Mereka sangat menikmati waktu mengobrolnya. Sedang para istri, sibuk dengan obrolan mereka sendiri-sendiri.


Niko dan Sinta, sibuk mengurusi putranya bersama para bocil yang sangat aktif bermain. Naina yang belum bisa mengatur perasaannya, memilih pergi ke taman belakang rumah sejenak.


"Kamu kenapa sendirian di sini?" Tanya Dean yang tiba-tiba memeluk pinggang Naina dari belakang.


Naina sontak terkejut. Jantungnya yang sudah berdetak beraturan, kembali bertalu lebih keras dan tak beraturan kembali. Pipinya pun kembali merona karena sikap Dean baru saja.


"Lepas Mas! Nanti Rissa lihat." Ucap Naina seraya berusaha melepaskan pelukan tangan Dean di pinggangnya.


"Sebentar saja Sayang!" Sahut Dean yang malah makin memepererat pelukannya pada Naina.


Dean makin menarik tubuh Naina dalam dekapannya. Ia menghirup aroma parfum Naina yang selalu Naina kenakan. Dean mendaratkan dagunya di bahu kanan Naina dengan manja.


"Kamu cantik sekali Sayang." Puji Dean tepat di telinga kanan Naina.


Dan siirrrr. Darah Naina berdesir hebat mendengar pujian Dean barusan. Apalagi dengan posisi mereka kini, tubuh Naina mendadak dingin seketika. Jantungnya berdegup makin kencang dan kencang lagi.


"Dean!"


Sebuah suara yang amat Dean dan Naina kenali, menggema indah di telinga mereka tiba-tiba. Bukannya menoleh, Dean malah tetap memeluk Naina dengan erat.


"Sebentar saja Ma!" Kilah Dean santai.


Dean sudah hafal betul apa yang akan mamanya itu katakan. Jadi, ia tak begitu menghiraukan panggilan mamanya saat ini. Ia memilih memeluk calon istrinya, yang nampak lebih cantik dari biasanya hari ini.


"Mas, ada Mama!" Naina sedikit memberontak.


"Sudah, biarkan saja! Mama pasti mengerti." Jawab Dean santai.


Jelita akhirnya hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban putranya. Ia memilih membiarkan putranya sejenak menikmati waktunya bersama calon istrinya yang sudah dinanti cukup lama.


Setelah makan siang dan obrolan panjang, keluarga Jonathan pun berpamitan pulang. Semua yang berkaitan dengan acara pernikahan Dean dan Naina satu bulan lagi, sudah dirundingkan bersama.


"Mommy, bolehkah Rissa menginap di rumah Daddy malam ini?" Pinta Rissa sebelum para tamu Naina pergi.


Naina terdiam. Ia terkejut mendengar permintaan putrinya. Bukan Naina tak mau, ia hanya tidak terbiasa berada jauh dari Rissa.


"Izinkanlah Sayang! Dean juga orang tuanya bukan?" Ucap Sekar yang berdiri di samping Naina.


Naina tak bisa menemukan alasan untuk menolak permintaan Rissa. Ia akhirnya menyetujui permintaan Rissa. Rissa pun bersorak bahagia mendapat izin Naina.


Naina lalu membantu Rissa menyiapkan baju ganti untuk Rissa.


"Jangan nakal ya di rumah Daddy!" Pesan Naina sebelum Rissa pergi bersama Dean dan yang lainnya.


"Oke Mom!" Sahut Rissa semangat.


"Oke Sayang, kita berangkat!" Ajak Dean antusias.

__ADS_1


Rissa pun mengangguk. Mereka lalu berpamitan pada semua yang ada di rumah Naina.


Sebuah kisah, baru saja akan dimulai. Kisah tentang sebuah ikatan hati yang menyatukan sebuah keluarga kecil. Kisah tentang kuatnya ikatan hati yang tak akan bisa terhalangi meski jarak memisahkan begitu jauhnya. Mereka akhirnya bersatu, dengan cara yang begitu indahnya.


__ADS_2