Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Pagi yang cerah di kota Los Angeles. Kota dengan sejuta pesonanya. Cahaya hangat mentari musim panas, menelusup sempurna melalui celah-celah antara dedaunan. Menghangatkan setiap hal yang ia temui.


Sekar sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya pagi ini. Meski ia memiliki banyak asisten rumah tangga, tapi ia selalu menyiapkan sendiri makanan untuk keluarganya setiap hari. Dan itu yang selalu bisa membahagiakan hati keluarga kecilnya.


Ponsel Wiliam berdering cukup lantang pagi ini. Sang pemiliknya, sedang asik menikmati olahraga paginya di ruang olahraga yang ada di rumahnya. Ia pun menghentikan sejenak aktivitasnya.


Ternyata, sang asisten pribadi yang menelepon.


"Sorry Sir, I have to say this. Miss Naina had a car accident earlier. And now still under medical treatment."


"Okay. Thank's Joe. Prepare for our departure as soon as possible!" Jawab Wiliam cepat.


"Yes Sir."


Panggilan pun segera terputus. Wiliam segera menghampiri istrinya yang sedang asik di dapur.


"Pagi Sayang!" Sapa Wiliam setelah mengecup pipi Sekar yang sibuk memotong sayuran.


"Iya. Tapi mandilah dulu, kamu baru saja selesai berolahraga!" Pinta Sekar halus dengan tangan yang masih fokus pada meja dapurnya.


"Kita akan ke Indonesia." Ucap Wiliam cepat.


"Apa ada masalah di sana?" Tanya Sekar sambil meletakkan pisaunya dan memutar tubuhnya menghadap ke Wiliam.


"Naina mengalami kecelakaan mobil. Joe baru saja mengabariku."


"Apa? Naina kecelakaan?"


Sekar langsung panik saat mendengar kabar itu. Tubuhnya mendadak lemas mendengar putrinya mengalami kecelakaan. Ia hampir terjatuh jika tidak segera dipegangi oleh Wiliam.


"Bersiaplah! Joe sedang menyiapkan keberangkatan kita." Pinta Wiliam perhatian.


Wiliam tahu betul, bagaimana Sekar sangat menyayangi Naina, meski Naina bukan putri kandungnya. Jadi, ia pun segera meminta Joe untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Indonesia.


Sekar yang langsung kalut, tak bisa berpikir jernih. Ia mengangguk dengan tatapan kosong dan airmata yang mulai mengaliri pipinya.


"Rissa." Ucap Sekar lirih.


"Cobalah telepon dia! Dia pasti sedang kebingungan sekarang." Pinta Wiliam yang paham ucapan Sekar.


Sekar segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja makan yang tak jauh dari tempatnya memasak tadi. Ia segera menghubungi Rissa untuk memastikan kondisinya.


Rissa yang tadi terburu-buru berangkat bersama Jonathan dan Jelita, melupakan ponselnya di rumah. Hingga saat Sekar menelepon, hanya Atun yang menjawabnya.


"Mbak Rissa pergi ke rumah sakit bersama Pak Jonathan dan Bu Jelita. Mereka tadi kemari dan mengabari Mbak Rissa kalau Ibu kecelakaan." Jelas Atun melalui telepon.


"Jonathan dan Jelita?"


"Iya Bu. Mbak Rissa langsung pergi ke rumah sakit bersama mereka."


"Yasudah. Tolong kabari aku apapun yang terjadi! Aku segera ke Indonesia."


"Baik Bu."


Panggilan pun terputus. Atun pun kembali panik di rumah seorang diri karena ingin tahu keadaan Naina. Tapi, ia juga tak bisa ke rumah sakit karena tak tahu dimana rumah sakitnya.


Di sisi lain, Sekar segera mengabari dua adiknya yang ada di Lombok. Ia meminta Lea dan Hera segera ke Jakarta untuk menemani Rissa. Meski ia tahu, Rissa sudah bersama Jonathan dan Jelita kini.


Ben, Lea dan Hera pun segera mempersiapkan keberangkatan mereka ke Jakarta. Mereka hanya bisa mendapatkan tiket pesawat keesokan paginya. Mereka akhirnya hanya meminta Atun untuk mengabari apapun jika mendapat kabar Naina.


Di Rumah Sakit Ibrahim Medical Center


Dean masih menunggu dengan cemas para petugas medis yang sedang menangani Naina. Ia pun menunggu kedatangan Jonathan dan Jelita yang sedang menjemput Rissa. Jarak rumah Naina yang cukup jauh dari rumah sakit, membuat waktu yang dibutuhkan Jelita sampai ke rumah sakit sedikit lebih lama.

__ADS_1


"Maaf Pak! Apa Bapak yang datang bersama pasien yang mengalami kecelakaan?" Sapa seorang perawat yang baru saja keluar dari bilik penanganan Naina.


"Iya. Bagaimana keadannya?" Jawab Dean seraya berdiri.


"Ibu sudah stabil. Beliau harus menjalani rawat inap. Dokter yang akan menjelaskan keadaannya nanti." Jelas perawat yang tadi sempat terpesona pada Dean.


"Baiklah. Terima kasih Suster."


"Iya Pak. Itu sudah tugas kami."


Seorang dokter perempuan yang tadi juga menangani Naina, berjalan menghampiri Dean dan perawat itu.


"Anda kerabat pasien?" Tanya dokter itu.


"Saya calon suaminya." Jawab Dean yakin.


"Baiklah. Mari ikut saya, saya akan menjelaskan kondisinya!" Ucap dokter itu ramah.


"Iya Dokter."


Dean pun mengikuti dokter tadi bersama perawat menuju bilik dimana Naina masih terbaring belum sadarkan diri.


"Bagaimana keadaannya Dokter?" Tanya Dean cepat saat mereka sampai di samping ranjang.


"Alhamdulillah lukanya tidak parah. Ia juga tidak kehilangan banyak darah seperti dulu karena segera mendapat pertolongan. Hanya keningnya saja yang mendapat tiga jahitan. Yang lain, hanya luka lecet dan lebam kecil." Jelas dokter itu singkat.


"Kenapa dia belum sadar?"


"Kami tadi sempat membiusnya. Ia akan segera sadar saat efek obat biusnya hilang."


"Baiklah Dokter, terima kasih."


"Sama-sama Pak." Jawab dokter itu ramah.


"Iya. Saya masih ingat dengannya. Ibu Naina dipindahkan ke rumah sakit ini dari rumah sakit lain setelah kondisinya cukup stabil setelah mengalami pendarahan bagian kepala cukup parah sekitar dua tahun lalu." Jelas dokter itu.


"Pendarahan bagian kepala?" Ucap Dean berusaha memperjelas.


"Iya. Saya dengar, beliau sebelumnya diculik dan disiksa. Kepalanya terbentur lantai cukup keras saat itu hingga mengalami pendarahan."


"Diculik?" Ucap Dean tak percaya.


"Anda tidak mengetahuinya?" Tanya dokter itu penasaran.


Dean hanya diam.


"Saya tidak tahu bagaimana kronologi lengkapnya. Beliau dipindahkan ke sini oleh orang tuanya setelah kondisinya cukup stabil setelah mengalami kritis. Saat sampai di rumah sakit ini pun, kondisi beliau masih cukup buruk saat itu." Jelas dokter itu singkat.


"Terima kasih Dokter." Ucap Dean tulus.


"Tentu Pak. Silahkan didaftarkan untuk rawat inap terlebih dahulu calon istrinya Pak!" Saran dokter.


"Baiklah Dokter."


"Saya permisi!" Pamit dokter itu.


"Iya Dokter, silahkan!"


Dokter itu segera meninggalkan Dean dan Naina. Dean menatap wajah Naina yang masih terpejam matanya. Ia mengusap lembut wajah wanita yang begitu lama ia rindukan.


"Apa yang dikatakan dokter tadi benar Na? Apa kamu pernah diculik? Kenapa kamu tak mengabariku?" Tanya Dean lembut dengan hati yang berdesir membayangkan kejadian itu.


CUP. Dean mengecup lembut kening Naina.

__ADS_1


"Aku pergi sebentar ya! Cepatlah bangun! Aku sangat merindukan senyummu." Imbuh Dean setelah mengecup kening Naina.


Dean lalu pergi meninggalkan Naina. Ia mengurus sendiri pendaftaran ruang rawat inap untuk Naina. Pengawalnya masih mengurusi mobilnya dan mobil Naina yang ditinggalkan di tempat kecelakaan tadi.


Setelah mendapatkan ruangan, Naina segera dipindahkan. Ia masih belum siuman. Matanya masih terpejam karena pengaruh obat bius. Dean pun masih menanti dengan setia.


Tiba-tiba ponsel Dean berdering Ternyata sang ibu menanyakan keberadaan mereka sekarang karena telah tiba di rumah sakit dan tidak mendapati putranya di ruang IGD.


"Mommy!" Panggil Rissa dengan lantang saat pintu ruang rawat Naina dibukakan oleh Jonathan.


Rissa yang tadi sempat berlari kecil memasuki pintu, langkahnya terhenti seketika. Ia mematung. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya semakin tak beraturan. Mata birunya bertemu pandang dengan seorang laki-laki yang sama-sama memiliki mata biru sepertinya.


"Om Dean?" Gumam Rissa tak percaya.


Dean tersenyum hangat.


"Putriku." Batin Dean menyeruak tak karuan.


Dean tak bisa menahan dirinya. Ia segera berjalan dengan langkah pastinya menghampiri gadis kecil yang dua tahun ini sering hadir di mimpinya. Ia langsung meraih tubuh mungil gadis delapan tahun itu dan menggendongnya tanpa ragu. Ia memeluknya begitu erat. Hingga tanpa ia sadari, buliran bening dari sang netra pun jatuh membasahi pipinya.


Rissa tak tahu, jika Dean kembali ke Indonesia. Dia yang juga merindukan Dean selama dua tahun ini, langsung membalas pelukan Dean dengan sangat erat. Ia pun mulai meneteskan airmata harunya tanpa ragu.


"Om kenapa nggak pernah telepon Rissa? Om nggak rindu sama Rissa?" Ucap Rissa dengan sedikit isakan dalam pelukan Dean.


"Maafkan Om Sayang." Ucap Dean singkat karena terlalu menikmati momennya.


"Mama lihat! Itu semua gara-gara keegoisan Mama. Papa sampai sekarang tidak tahu jalan pikiran Mama selama dua tahun ini. Sampai Mama tega melakukan itu pada putra Mama sendiri." Cibir Jonathan kesal pada istrinya yang baru saja memasuki ruang rawat Naina.


Jelita hanya diam tak menjawab. Ia hanya fokus melihat pemandangan indah yang lama tak ia saksikan.


Rissa yang terlalu menikmati momennya dengan Dean, sejenak melupakan tujuannya untuk menemui ibunya. Ia terlalu bahagia bisa bertemu kembali dengan om kesayangannya.


"Astaga! Mommy!" Ucap Rissa setelah ia melirik ke arah ranjang dimana Naina masih terlelap.


Rissa meronta dari gendongan Dean. Dean pun segera menurunkannya. Rissa langsung menghampiri Naina.


"Mommy! Bangun Mom! Ada Om Dean di sini Mom." Ucap Rissa polos.


"Mom, bangun! Mommy jangan tinggalin Rissa sendirian Mom!" Rengek Rissa karena Naina tak kunjung membuka matanya. Ia mulai ketakutan.


"Tenanglah Sayang! Kondisi Mommy sudah stabil. Dia masih dibawah pengaruh obat bius, jadi masih belum siuman." Jelas Dean perlahan.


"Om yakin? Mommy nggak akan kayak dulu lagi kan Om?" Tanya Rissa polos.


"Dulu?"


"Iya. Mommy dulu juga pernah seperti ini Om. Bahkan Mommy tidur selama beberapa hari karena luka di kepalanya." Aku Rissa.


Dean mengerutkan keningnya. Ia coba memahami maksud ucapan Rissa, yang ia yakini, ada hubungannya dengan apa yang diceritakan dokter yang menangani Naina tadi.


"Bagaimana keadaan Naina De?" Sela Jelita tiba-tiba, agar perhatian sang putra teralihkan dari cerita Rissa.


Dean dan Rissa yang sedang saling pandang, langsung menoleh pada Jelita yang sudah berdiri di dekat mereka. Dean segera menegakkan tubuhnya.


"Dokter bilang, kondisi Naina sudah stabil Ma. Lukanya yang cukup serius hanya di bagian kepala. Yang lain hanya luka lecet dan lebam." Jujur Dean.


"Syukurlah." Sahut Jonathan dan Jelita bersamaan.


Jelita lantas menanyakan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi pada Dean. Ia benar-benar berusaha mengalihkan topik permbicaraan dan fokus Dean dari cerita lama Naina. Yang benar-benar tak diketahui oleh Dean sama sekali.


Dean paham arah pembicaraan Jelita. Ia tahu, ibunya sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia pun mulai curiga dengan ulah ibunya itu. Apalagi mengingat bagaimana ia telah dikelabui oleh ibunya selama dua tahun ini.


Dean hanya mengikuti alur yang Jelita buat. Ia sudah cukup kecewa dengan sikap ibunya yang membuatnya kehilangan momen indah bersama orang-orang yang seharusnya telah bersamanya sejak lama.

__ADS_1


"Aku harus cari tahu tentang penculikan itu!" Batin Dean sembari meladeni pertanyaan mamanya yang cukup banyak.


__ADS_2