
Dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Seolah menjadi sebuah ungkapan yang mewakili misteri dari sang pemilik rasa. Menjadi sebuah pengingat bagi kita, bahwa tak ada yang tahu pasti, apa isi hati seseorang.
Niko sedang melajukan mobilnya dengan perasaan yang sedikit bergetar. Ada rasa yang tak biasa dalam hatinya.
"Bagaimana jika mereka tahu, kalau yang menghabisi Romo adalah anak buah Tuan Dean?" Gumam Niko khawatir.
"Ah, aku tak perlu memikirkan itu. Yang terpenting, sekarang aku harus segera mengatakan kemungkinan itu pada Tuan dan Nyonya." Imbuh Niko di sela fokusnya mengemudi.
Niko mempercepat laju kendaraannya. Ia sudah sangat tidak sabar ingin mengatakan kabar berita yang masih menjadi misteri yang cukup mengganjal hatinya, pada Jonathan dan Jelita.
Ada secercah harapan di dalam hati Niko. Ia sungguh berharap, Rissa adalah putri Dean. Karena ia tahu sendiri, bagaimana Dean bisa sangat menyayangi Rissa tanpa alasan yang pasti.
"*Mungkinkah itu karena ikatan hati antara Tuan Dean dan Rissa*?"
Niko mencoba menghubungi bawahannya untuk memastikan dimana keberadaan Jonathan dan Jelita sekarang. Karena ia tadi sempat melihat Jonathan dan Jelita di ballroom hotel.
"Selamat sore Tuan, Nyonya!" Sapa Niko ramah saat ia sudah berhadapan dengan Jonathan dan Jelita di kediaman Diedrich
"Sore Nik! Bagimana kabarmu?" Sahut Jonathan ramah.
"Saya baik Tuan."
"Duduklah! Pasti ada yang ingin kamu sampaikan bukan?" Terka Jonathan.
"Iya Tuan."
"Bagaimana perusahaan? Tidak ada masalah bukan?"
"Tidak Tuan. Semua berjalan dengan baik."
"Bagaimana istrimu?" Tanya Jelita tiba-tiba.
"Dia juga baik Nyonya." Jawab Niko jujur.
"Apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Jelita lagi.
"Saya minta maaf Tuan dan Nyonya sebelumnya karena mengatakan ini." Ucap Niko sungkan.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Sahut Jonathan penasaran.
"Ini mengenai Nona Naina dan putrinya, Rissa." Jawab Niko cepat.
"Ada apa dengan mereka? Apa tentang kebenaran Rissa dan Delvin? Jika mengenai itu, kami sudah tahu tadi saat di hotel." Terka Jelita.
"Berkaitan dengan itu Nyonya."
"Maksudmu?" Tanya Jelita bingung.
"Maaf Tuan, Nyonya! Mungkinkah, Rissa adalah putri Tuan Dean?" Ucap Niko ragu-ragu.
Jonathan dan Jelita mencoba mencerna dan memahami kalimat Niko. Mereka berusaha memahami maksud dari apa yang Niko ucapkan.
"Kenapa kamu mengatakan itu?" Tanya Jonathan penasaran.
"Apa karena Rissa mirip dengan Rhea saat kecil?" Imbuh Jelita paham.
"Itu juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan Nyonya."
"Apa ada hal lain yang kamu ketahui?" Tanya Jelita mulai lebih ingin tahu.
"Iya Nyonya."
Niko lantas menceritakan pertemuannya dengan Rendi di rumah Naina tadi. Ia juga menceritakan apa yang dikatakan Rendi pada Jonathan dan Jelita.
"Lantas, apa hubungannya dengan Dean dan Rissa?" Sela Jelita.
"Karena Tuan Dean yang meminta saya membunuh Hartono dan anak buahnya saat itu. Dan dia adalah mucikari yang membuat kesepakatan dengan Almarhumah Nona Rhea, agar menukar posisi wanita yang menemani Delvin malam itu dengannya." Jelas Niko.
"Rhea?" Ucap Jelita tak percaya.
"Benar Nyonya. Dan menurut saya, Nona Naina-lah yang menemani Tuan Dean malam itu di Hotel Rose Gold. Karena menurut penuturan Rendi, malam itu hanya ada dua orang yang menyewa wanita dari Hartono untuk dibawa keluar kelab. Dan mereka sama-sama memesan kamar di Hotel Rose Gold. Dan Rendi sudah mengetahui identitas salah satu laki-laki itu, Tuan Delvin." Jelas Niko.
Jonathan dan Jelita terdiam mendengar penjelasan Niko. Mereka berusaha lebih memahami apa yang Niko sampaikan.
"Lalu, kenapa Naina tidak mengenali Dean? Tak mungkin dia melupakannya begitu saja bukan?" Tanya Jelita bingung.
"Saya dengar, Nona Naina tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata saat itu. Dan tanpa sengaja, ia menjatuhkan kacamatanya sesaat sebelum bertemu dengan Tuan Dean. Jadi, Nona Naina tidak mengetahui wajah Tuan Dean dengan jelas."
"Oke, aku tahu tentang kondisi penglihatan Naina. Tapi, kenapa Dean juga tak ingat pada Naina? Dia punya ingatan yang sangat bagus bukan?" Tantang Jelita.
__ADS_1
Niko terdiam. Ia juga berusaha memikirkan jawaban dari pertanyaan itu sejak tadi. Tapi belum kunjung ia temukan jawabannya.
"Saya juga tidak mengetahui alasannya Nyonya. Tapi, mungkin kita bisa menemukan jawabannya setelah mengatakan hal ini pada Tuan Dean Nyonya." Usul Niko.
"Jangan katakan pada Dean! Apapun itu." Tolak Jelita tegas.
Jonathan dan Niko menatap Jelita penuh tanya.
"Tapi Nyonya,," Sela Niko tak rela.
"Jangan katakan apapun padanya! Aku akan menyelidiki semuanya terlebih dahulu!" Sahut Jelita yakin.
Niko dan Jonathan tersenyum kecil.
"Baik Nyonya." Jawab Niko patuh.
Perasaan Niko sudah cukup lega mendengar jawaban Jelita. Hatinya cukup tenang setelah mengatakan semuanya dan mendapatkan respon yang baik dari Jonathan dan Jelita.
Kini, Niko hanya perlu menunggu hasil penyelidikan Jelita dan anak buahnya. Penyelidikan tentang beberapa keanehan yang diungkapkan oleh Niko tadi. Niko pun lantas melaporkan beberapa hal tentang perusahaan pada Jonathan.
Di sisi lain, saat bulan dan bintang telah menghiasi langit yang gelap, suara-suara hewan malam pun telah meramaikan suasana. Menyapa para penduduk bumi dengan suara-suara merdunya.
Naina masih belum bisa terlelap, kala sang malam telah bergulir dengan semua keindahannya. Ia belum dapat mengistirahatkan pikirannya, yang masih belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang menyita waktunya sejak tadi.
"Ya Allah, aku harus bagaimana lagi?" Gumam Naina seorang diri di teras belakang.
"Hadapi Na!" Jawab Lea tiba-tiba.
Naina segera menoleh pada sumber suara, yang ternyata masih berdiri di tengah pintu. Lea berdiri bersama Hera di ambang pintu belakang rumah Naina. Mereka juga belum dapat mengistirahatkan diri karena mencemaskan Naina.
"Mbak Lea sama Mbak Hera belum tidur?" Tanya Naina basa-basi, demi menutupi gundah hatinya.
"Kamu kira kami tukang nglindur? Bisa tidur sambil jalan kemana-mana?" Cibir Lea seraya berjalan ke arah Naina.
Naina tersenyum kecil. Ia lalu kembali menundukkan kepalanya, saat Lea dan Hera sudah duduk di kursi lain yang ada di teras belakang.
"Kita lakukan tes DNA Na pada Rissa!" Usul Hera.
"Maksud Mbak Hera?" Tanya Naina bingung.
"Kita lakukan tes DNA pada Rissa dan laki-laki itu!" Jawab Hera penuh keyakinan.
"Dean Na." Jawab Lea sedikit kesal.
"Untuk apa Mbak?"
"Untuk mengetahui siapa ayah Rissa Na."
"Enggak Mbak. Naina nggak akan melakukan itu!" Jawab Naina getir.
"Jangan bilang, kamu tidak memikirkan hal itu sejak tadi?" Tantang Lea.
Naina terdiam. Lidahnya mendadak kelu karena mendengar ucapan Lea. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang Lea ucapkan, meski pun hanya sebuah kebohongan.
Tidak bisa Naina pungkiri, hal itulah yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Membuatnya kebingungan karena tak bisa menemukan jawabannya.
"Mungkinkah Dean adalah ayah Rissa?"
Kemiripan dari segi fisik dan sifatnya. Hingga kedekatan Dean dan Rissa yang nampak sangat natural dan bagaikan memiliki ikatan hati yang telah lama terjalin. Meskipun, perkenalan mereka belumlah lama terjadi.
"Aku tak bisa melakukan itu Mbak." Jawab Naina lirih.
"Kenapa Na?" Tanya Hera tak setuju.
"Aku tak bisa Mbak! Itu saja." Jawab Naina sedikit memaksa.
"Apa alasannya Na? Apa kamu tak ingin mengetahui siapa ayah biologis Rissa?" Cecar Lea.
"Aku ingin Mbak, sangat ingin. Aku ingin mengetahui siapa Mr. D yang juga adalah ayah Rissa."
"Kalau begitu, lakukan Na! Tak ada salahnya kita melakukan tes DNA pada Dean bukan? Banyak keanehan antara Dean dan Rissa yang terlalu sulit untuk dijelaskan Na." Sahut Lea sedikit geram.
"Aku hanya tidak siap untuk mengetahui hasilnya Mbak." Jawab Naina mulai terisak.
"Maksudmu?"
"Jika hasil tesnya tidak cocok, aku harus kemana lagi mencari ayah Rissa Mbak? Sedangkan aku sama sekali tak tahu wajah dan nama aslinya. Bahkan, Pak Rendi pun tak tahu siapa dia."
"Dan jika hasilnya cocok, apa yang harus aku lakukan Mbak setelah itu? Mama Lita sudah sangat kecewa padaku. Dia pasti tidak akan menerimaku dan Rissa nantinya. Lalu, bagaimana aku harus menghadapi Rissa Mbak? Bagaimana aku menjelaskan padanya, jika neneknya tidak menerimanya karena masa lalu ibunya yang tidak diharapkan oleh neneknya?"
__ADS_1
"Aku tidak akan bisa mengatakan itu pada Rissa Mbak! Aku sudah mengecewakan Rissa selama ini, dengan menutupi kebenaran itu darinya. Aku tidak akan bisa kembali mengecewakannya karena hal itu Mbak!"
Naina mulai menangis tersedu-sedu. Hatinya terasa begitu bimbang menghadapi masalah yang kini tengah ia hadapi. Dilema yang cukup berat membuatnya meluapkan rasa dihatinya dengan airmata yang selalu setia menemaninya.
Lea segera mendekati Naina. Ia mendekap dan memeluk Naina dengan erat. Ia membiarkan Naina menumpahkan segala rasa hatinya melalui airmatanya yang entah sejak kapan membasahi pipi Naina tanpa permisi.
Lea dan Hera memahami gundah hati Naina. Mereka bisa mengerti, kebimbangan rasa yang Naina rasakan saat ini. Mereka cukup kebingungan menganggapi apa yang Naina utarakan tadi.
Cukup lama Naina menangis dalam pelukan Lea. Perlahan, tangisan itu mulai mereda. Ia mulai bisa mengendalikan perasannya yang tadi sempat hilang kendali.
"Lakukan Na! Setidaknya, kita mengetahui hasilnya. Apapun itu." Ucap Hera setelah Naina mulai sedikit tenang.
"Naina mohon Mbak, jangan paksa Naina lagi!" Tolak Naina keras.
"Kamu yakin Na?" Tantang Lea.
"Cukup Mbak! Naina nggak mau membahas hal ini lagi!" Bentak Naina seraya berdiri seketika.
Lea dan Hera terkejut melihat reaksi Naina. Mereka menatap Naina penuh kebingungan.
"Naina masuk dulu Mbak, mau istirahat!" Sahut Naina cepat.
Naina segera meninggalkan Lea dan Hera di teras belakang begitu saja. Lea dan Hera pun tak mencegah Naina sedikit pun. Mereka membiarkan Naina beristirahat malam ini. Karena mereka sangat tahu, bagaimana perasaan Naina sekarang.
...****************...
Pagi yang cerah. Sinar hangat sang mentari, menelusup lembut di antara dinginnya udara pagi yang masih tersisa. Memberikan kehangatan pada setiap rasa, yang mulai menata kepingan-kepingan asa demi mengawali hari untuk menjemput kebaikan-kebaikan dalam setiap takdir yang telah terukir.
Satu minggu berlalu sudah, setelah hari yang tak pernah Naina harapkan itu. Selama satu minggu ini, Naina dan Rissa hanya di rumah saja. Mereka kesulitan untuk keluar rumah, karena pemberitaan yang beredar di internet dan televisi.
Naina harus mengerjakan pekerjaannya dari rumah selama satu minggu ini. Sedangkan Rissa, harus mengikuti pembelajaran dari rumah karena ia enggan berangkat ke sekolah.
Keluarga Lea dan Hera telah kembali ke Lombok tiga hari yang lalu. Hanya tersisa Sekar, yang kini menginap di rumah Naina. Wiliam pun sudah kembali ke Amerika lebih dulu, karena harus mengurusi pekerjaannya.
"Delvin? Ngapain dia telepon pagi-pagi gini?" Gumam Naina setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya yang sedang berdering.
"Kenapa nggak dijawab Na teleponnya?" Tanya Sekar penasaran sembari membereskan meja makan bersama Atun.
"Dari Delvin Bu'."
"Yaudah jawab aja! Nggak ada salahnya kan cuma jawab teleponnya?" Sahut Sekar santai.
Naina hanya mengangguk. Ia pun menyetujui ucapan Sekar. Naina segera meraih ponselnya yang berada di atas meja makan.
"Assalamu'alaikum. Kenapa Del?" Ucap Naina saat panggilan sudah tersambung.
"Wa'alaikumussalam Na. Gimana kabarmu Na?"
"Baik."
"Rissa. Bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik juga."
"Apa kita bisa bertemu Na?"
"Ada apa?"
"Ada yang ingin kusampaikan padamu."
"Katakan sekarang!"
"Aku ingin mengatakan secara langsung. Aku ingin minta maaf padamu."
"Aku sudah memafkanmu."
"Aku ingin mengatakannya secara langsung Na. Dan ada beberapa hal yang ingin kujelaskan padamu. Aku janji, tak akan butuh waktu lama untuk itu."
Naina terdiam. Ia berusaha menerka, apa yang ingin Delvin jelaskan padanya. Ia pun berusaha mengambil keputusan yang terbaik.
"Baiklah. Tale Cafe. Besok siang, pukul sebelas siang."
"Terima kasih Na. Aku akan menemuimu di sana besok!"
"Ya."
"Baiklah Na, aku tutup teleponnya! Sampai jumpa besok siang."
Naina hanya diam tak menjawab. Dan tak lama, panggilan pun segera diakhiri oleh Delvin begitu saja.
__ADS_1
Naina sebenarnya sangat enggan bertemu dengan Delvin. Tapi, ia berusaha menyambut niat baik Delvin untuk meminta maaf padanya. Jadi, ia menerima ajakan Delvin untuk bertemu besok siang. Dan pastinya, untuk mengakhiri segala hal baik dan buruk yang pernah terjadi diantara mereka.