
"Tapi Ma, apa Mama setuju kalau Dean sama Naina nanti menjalin hubungan?" Dean melepaskan pelukannya dan menatap serius pada Lita.
Lita menatap tajam pada Dean. Mencoba membaca raut wajah dan arti tatapan sang putra semata wayang.
"Kamu yakin bisa meluluhkan Naina? Kamu aja tadi langsung di jatuhin gitu. Mama yakin, Naina udah badmood duluan sama kamu." Cibir Lita.
"Mama kok malah gitu sih?" Gerutu Dean.
"Makanya, sikapnya itu dijaga! Mama itu bersyukur banget kamu udah nggak kayak dulu lagi, main sama wanita semaumu, celup sana sini nggak ada akhlak. Tapi, sikap kamu juga perlu diperbaiki. Nggak semua wanita itu suka kalau dipegang seenaknya sama lawan jenis. Apalagi kalian baru kenal kan?"
"Iya Maa, Dean paham." Sahut Dean dengan nada lesu.
"Mama nggak papa De, asal Naina juga mau sama kamu dan kalian berjodoh. Tapi, jangan lupa sama Papa kamu. Kamu juga perlu minta pendapatnya, mengingat status Naina single parent." Saran Lita.
"Makasih Mamaku sayang." Dean memeluk erat Lita dengan senyum bahagia. Lita hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Dean.
...****************...
Di sebuah rumah yang cukup luas, seorang gadis kecil sedang asik membaca beberapa lembar kertas yang telah ia tunggu-tunggu kehadirannya.
"Mommy,," Panggil Rissa kala ia memasuki kamar ibunya dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
"Iya sayang." Sahut Naina yang sedikit sibuk dengan pekerjaannya yang ia bawa pulang.
"Ini,," Rissa menyerahkan kertas yang ia bawa pada ibunya.
Naina menerima langsung membacanya. "Oke sayang. Mommy akan baca dulu, kamu sama Mbak Atun dulu ya!"
"Siap Mommy sayang!" Cup. Rissa mendaratkan kecupan hangat dipipi kanan Naina dengan bahagia.
Jadwal Syuting Film. Sebuah tulisan yang tertera jelas pada lembar pertama kertas yang tadi dibawa Rissa.
"Ya Allah, semoga keputusanku tak salah! Semoga tak ada yang menyadari jika Rissa adalah putrinya." Batin Naina.
Naina akhirnya menuruti permintaan Rissa. Setelah gadis kecil itu merayu ibunya dengan berbagai cara. Naina akhirnya mengizinkan Rissa mengikuti casting dan akhirnya terpilih menjadi salah satu pemeran dalam film yang akan dibintangi oleh Delvin Dewangga.
Naina sebenarnya tak ingin mengizinkan Naina bermain film. Selain takut jika sekolahnya terganggu, ia takut jika orang-orang akan tahu jika Rissa putri Delvin. Rahasia yang selama ini ia simpan rapat. Bahkan dari Rissa.
Garis wajah yang mirip, warna mata yang sama. Menjadi hal yang paling menonjol jika dua orang itu disandingkan.
"Kenapa hari ini banyak banget kejadian yang nggak ngenakin sih?" Gerutu Naina.
"Mommy, ayo makan malam!" Teriak Rissa.
"Sebentar sayang!" Sahut Naina.
Naina segera beranjak dari kamarnya. Ia menghampiri putrinya yang sudah siap di meja makan bersama Atun. Naina pun segera duduk di samping Rissa dan mengambilkannya makan.
"Makanlah sayang!" Ucap Naina setelah ia mengambilkan seporsi makanan lengkap untuk Rissa.
Rissa pun segera melahap makanan yang sudah disiapkan Naina. "Mommy nggak makan?"
"Rissa makan dulu ya! Mommy baru saja minum obat. Mommy akan makan nanti." Bohong Naina sambil mengusap kepala Rissa. Naina sedang tak ***** makan karena pikirannya sedang tak karuan.
Rissa pun makan dengan lahap bersama Atun. Naina sudah menganggap Atun seperti keluarga, dan terbiasa makan bersama. Atun sudah seperti saudara bagi Naina di kota ini. Kota yang jauh dari tempatnya dilahirkan.
Naina meninggalkan Rissa dan Atun di meja makan karena ponselnya berdering. Ia menjawab teleponnya di halaman belakang rumah. Sang asisten pribadi menelepon, mengabarkan bahwa lahan yang rencananya akan ia bangunkan kos-kosan gagal terbeli.
"Astaghfirullah, kenapa banyak sekali masalah hari ini?" Gumam Naina seraya merebahkan tubuhnya di kursi teras belakang.
Naina berlama-lama di teras belakang. Memikirkan banyak hal yang mulai mengusik hati dan pikirannya. Mulai mengusik kehidupannya dengan putri kecilnya. Ia tak begitu merasakan hawa dingin malam yang mulai menyapanya.
"Mommy! Rissa mau tidur sama Mommy!"
Suara Rissa membuyarkan lamunan Naina. Ia menoleh pada putrinya yang berdiri di pintu dengan wajah yang mengantuk.
"Oke! Ayok tidur sama Mommy!" Naina pun mengajak Rissa ke kamar setelah menutup pintu.
"Mommy, where are my daddy?" Tanya Rissa kala ia dan Naina sudah berada di bawah selimut yang sama di kamar Naina sambil berhadapan.
Deg. Naina membeku mendapat pertanyaan itu dari Rissa. Selama ini, Rissa tak pernah menanyakan hal itu pada Naina. Ini pertama kali ia menanyakan pertanyaan itu pada Naina.
Naina tak tahu harus menjawab apa pada Rissa. "Tidurlah sayang! Besok kalau Rissa sudah besar, Mommy akan jelaskan padamu."
Naina mengusap punggung Rissa lembut. Rissa hanya mengangguk. Rasa kantuk yang sudah menguasainya, mengalahkan rasa ingin tahunya tentang sang ayah.
"Maafkan Mommy sayang! Mungkin ini cara Allah mempertemukanmu dengan ayahmu nanti. Tapi, semoga mereka tak memisahkanmu dari Mommy, kelak jika mereka mengetahuinya."
Naina tak dapat terlelap meski badannya terasa lelah. Banyaknya hal yang ia fikirkan, membuat matanya enggan terpejam. Ia akhirnya kembali keluar kamar setelah Rissa terlelap. Kembali menyendiri dan menikmati malam yang sepi sendirian. Hingga menjelang tengah malam, Naina baru kembali ke kamarnya dan tidur bersama Rissa.
Hingga pagi menjelang. Ini akhir pekan. Naina dan Rissa akan jogging dan olahraga bersama jika akhir pekan tiba. Begitulah cara Naina menghabiskan waktunya bersama putri kesayangannya.
__ADS_1
Pukul delapan mereka baru menyelesaikan rutunitas paginya. Mereka lantas membersihkan diri masing-masing.
Rissa yang sudah merasa lapar, langsung menuju meja makan setelah mandi. Sedangkan Naina masih di kamarnya karena merasakan nyeri di perutnya. Ia tak ingin Rissa melihatnya menahan sakit.
Naina memiliki riwayat penyakit maag akut. Dan itu semakin sering kambuh akhir-akhir ini. Kehidupannya yang tak begitu teratur, kesibukan yang menyita waktu, keadaannya sebagai single parent, membuatnya sering melewatkan jam makan hingga banyaknya hal yang harus ia pikirkan sendiri.
Rissa mengetahui hal itu. Jadi Naina sering menyembunyikan sakitnya agar sang putri tak khawatir. Hingga Rissa selesai makan, Naina masih belum keluar kamar. Ia masih berusaha meredam sakitnya tanpa obat. Karena Naina adalah tipe orang yang sulit jika disuruh minum obat. Ia hanya akan minum obat jika kondisinya sudah tak bisa menahan sakit.
Pukul sepuluh pagi, Naina sedang menemani Rissa bermain di teras belakang. Bel rumahnya berbunyi. Naina membukakan pintunya sendiri karena Atun sedang sibuk menjemur pakaian.
"Mama?"
Naina terkejut mendapati Lita sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Ia tak tahu jika Lita akan berkunjung ke rumahnya. Lita menyunggingkan senyumnya mendapati ia tak salah alamat.
"Mari Ma, silahkan masuk!"
Tiba-tiba Dean muncul dari balik pintu yang masih tertutup. "Dean?"
"Aku nggak disuruh masuk?" Sindir Dean.
"Masuklah!" Jawab Naina singkat.
"Kamu sendirian Na di rumah?" Tanya Lita seraya mengedarkan pandangannya ke seisi rumah Naina.
"Enggak Ma. Ada Rissa sama ART di belakang. Silahkan duduk Ma!"
"Aku nggak di suruh duduk?" Sindir Dean lagi.
Naina memutar bola matanya jengah. "Silahkan duduk Tuan Dean!"
"Terima kasih. Tapi panggil Dean saja. Oke?" Sahut Dean seraya mendudukkan dirinya di sofa berwarna navy sejajar dengan mamanya.
"Mommy,," Rissa berlari dari arah belakang lalu menubruk Naina yang masih berdiri.
"Sini sayang! Salim sama Oma dan Om dulu ya!" Pinta Naina.
Rissa mengangguk patuh. Ia menghampiri Lita dan Dean.
Deg. "Rhea." Batin Lita langsung bergejolak menatap wajah Rissa. Tubuhnya membeku. Lidahnya terasa kelu. Wajah Rissa sangat mirip dengan Rhea saat kecil. "Tapi itu mata Dean."
"Halo Oma,," Sapa Rissa dengan polosnya sambil mengulurkan tangannya.
"Ma? Mama nggak papa?" Dean membangunkan lamunan Lita.
"Oh iya, maaf." Ucap Lita terkejut. "Iya cantik, siapa namamu?" Sahut Lita dengan senyum ramah seraya membalas uluran tangan Rissa.
"Rissa Oma."
"Panggil Oma, Oma Lita. Oke?"
"Iya Oma Lita." Jawab Rissa sambil tersenyum.
"Rissa, sudah sekolah?" Tanya Lita lagi.
"Sudah Oma."
Naina yang mulai sadar akan arah pertanyaan Lita, ia segera mengalihkan perhatiannya.
"Sama om-nya belum salim sayang?" Ucap Naina tiba-tiba.
Rissa segera mengulurkan tangannya pada Dean dan Dean langsung menyambutnya. "Halo Om,,"
Nyes. Ada aliran aneh menjalar pada tubuh dua orang yang saling bersalaman itu. Dua-duanya saling menatap dan merasakan aliran yang menjalar ke seluruh tubuh itu. Ada getaran yang tak biasa dalam hati masing-masing.
"Perasaan apa ini?" Batin Dean.
"Oh halo Rissa! Nama Om, Dean."
"Halo Om Dean." Rissa masih bingung dengan perasaan di hatinya. Ada yang aneh yang tak bisa ia jelaskan. Ia segera berlari ke arah Naina.
"Sebentar sayang, Mommy mau kebelakang nyari Mbak Atun." Ucap Naina seraya mengusap pipi Rissa.
"Sini sayang, duduk sama Oma!" Ucap Lita ramah.
Rissa memandangi Naina. Naina yang paham tatapan Rissa, hanya mengangguk sambil tersenyum. Rissa lantas menghampiri Lita sembari melirik Dean. Naina pun segera ke belakang untuk meminta Atun menyiapkan minum dan camilan untuk tamu.
"Assalamu'alaikum,," Ucap seseorang dari depan pintu rumah.
Naina kembali membukakan pintu. Ada Sinta dan seorang laki-laki yang asing baginya.
"Wa'alaikumussalam. Sinta? Kenapa Sin? Masuk dulu!"
__ADS_1
"Nona? Anda kan,,??" Laki-laki itu terkejut melihat Naina.
"Itu mobil siapa Bu'? Baru ada tamu ya?" Tanya Sinta penasaran sembari berjalan masuk.
"Itu seperti mobil,," Ucap laki-laki tadi.
"Niko?" Ucap Dean.
"Tuan? Nyonya?" Ucap Niko terkejut.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Dean penuh selidik.
Naina menatap bingung percakapan mereka. Sedang Sinta tersenyum kaku dan menundukkan wajahnya. Naina menyadari ekspresi aneh Sinta.
"Sebentar! Kamu sama kekasihmu ngapain kesini Nik?" Selidik Dean.
"Sinta bilang mau ngenalin saya sama atasannya. Sekalian mau,," Niko tak melanjutkan kalimatnya.
"Ini kekasihmu Sin? Siapa dia?" Tanya Naina. Sinta hanya mengangguk.
"Namanya Niko Bu'. Dia asisten pribadi Tuan Dean."
Jleb. Naina terkejut bukan main. Sinta ternyata selama ini mengenali Dean. Dan bahkan menjalin hubungan dengan asisten pribadinya.
"Ini atasanmu Sayang?" Tanya Niko. Sinta kembali mengangguk.
"Tunggu dulu! Kalau dia atasanmu, berarti dia pemilik kafe itu?" Terka Dean seraya berdiri.
Dean selama ini tahu, jika Niko menjalin hubungan dengan Sinta. Dia juga tahu jika Sinta adalah asisten pribadi dari pemilik Zee Cafe dan beberapa kafe lain. Tapi ia tak tahu, jika itu adalah Naina.
Sinta melirik Naina. Naina hanya menatap tajam pada Sinta. Naina menghela nafas panjang.
"Kafe apa De maksudmu?" Tanya Lita bingung.
"Kafe sebelah Rhea Resto Ma."
Semua orang menatap Naina penuh tanya. Rissa hanya menahan tawa melihat ekspresi ibunya yang kelabakan karena ketahuan.
"Iya, aku pemilik Zee Cafe." Ucap Naina singkat.
"Benarkah itu Naina?" Tanya Lita belum percaya.
"Iya Ma."
Lita menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tak pernah tahu jika Naina adalah seorang pebisnis bidang kuliner. Ia hanya tahu, jika Naina bekerja di sebuah perusahaan properti dibagian pemasaran.
"Bisa kita bicara sebentar Sin?" Pinta Naina.
"Iya Bu'."
"Maaf semuanya, saya permisi sebentar!" Pamit Naina.
"Oh iya, silahkan duduk Niko! Dan silahkan diminum semuanya! Saya permisi!" Naina dan Sinta lalu berjalan menuju teras belakang.
"Jadi, kamu selama ini kenal sama Dean?" Tanya Naina.
"Iya Bu'."
"Kenapa nggak bilang?"
"Kan Ibu sendiri yang bilang, 'nggak penting' katanya waktu itu." Bela Sinta.
"Sejak kapan kamu kenal Niko?"
"Sejak pembukaan Zee Cafe Bu'." Jujur Sinta.
"Kamu nggak bilang apa-apa kan?"
"Enggak Bu'."
Naina tiba-tiba berpegangan pada Sinta erat. "Ibu kenapa?" Sinta memegangi tubuh Naina.
Tubuh Naina dingin dan mengeluarkan banyak keringat. Wajahnya terlihat menahan sakit sembari memegangi perutnya.
"Tolong,, ambilkan obat,,ku di kamar!" Ucap Naina terbata sembari menahan sakit di perutnya.
Sinta segera menuntun Naina ke arah kursi. Ia mendudukkan Naina lalu berlari masuk ke rumah untuk mengambilkan obat Naina.
Tak lama Sinta sudah kembali dengan obat Naina dan segelas air putih.
"Mbak Atun, Mbak Atun! Bantu saya angkat Ibu'!"
__ADS_1