
"Iya Mom. Kapan Mommy sama Om Dean menikah?" Ucap Rissa tanpa ragu.
Naina segera menoleh pada Dean dengan tatapan yang sangat tajam. Ia menatap Dean kesal. Tapi, ia pun menyadari, tak ada yang salah dengan ucapan Dean. Ia hanya menjawab pertanyaan yang Rissa ajukan padanya. Dan itu benar.
"Kita pulang yuk Sayang! Mommy sedikit lelah. Tiga hari tanpa Tante Sinta, pekerjaan Mommy benar-benar banyak." Jawab Naina berusaha mengalihkan perhatian Rissa.
"Pulang yuk Om!" Sahut Rissa.
"Yuk!" Jawab Dean singkat.
Dean pun mulai melangkahkan kakinya. Tak lupa, tangan kanannya meraih tangan kiri Naina, dan menggandengnya dengan mesra sembari berjalan keluar aula. Tak lupa, Atun pun mengikutinya di belakang sambil tersenyum melihat pemandangan di depannya.
Hati Naina berdebar kencang. Kala jari-jemari Dean, menyentuh jari-jemarinya dengan lembut. Ingin rasanya ia menolaknya, karena tak ingin Dean salah paham. Tapi, hatinya yang terlah terisi dengan senyuman laki-laki itu, menerimanya dengan bahagia. Ia pun memenangkan hatinya, karena tak ingin membuat keributan jika menolak perlakuan Dean.
Dean pun kembali berkendara bersama Naina, Rissa dan Atun.
"Mommy! Kita main dulu ya!" Pinta Rissa manja.
"Rissa mau main kemana?" Tanya Dean sambil melirik sejenak ke arah Rissa yang duduk di kursi tepat di belakang Naina.
"Ke pantai Om!" Jawab Rissa cepat.
"Rissa, lain kali saja ya kita main ke pantainya!" Tolak Naina halus sambil memutar tubuhnya ke arah Rissa.
"Kenapa Mom?"
"Kita jauh dari pantai Sayang!" Jujur Naina.
"Yaaaaahhhh,," Ucap Rissa kecewa.
"Lain kali saja kita main ke pantai. Sekalian, kita ke tempat Om Ben liburan." Rayu Naina.
"Tapi Rissa maunya sekarang main ke pantainya." Rengek Rissa.
"Yasudah! Kita ke pantai yang terdekat, yang searah sama jalan pulang. Ya?" Sela Dean.
"Terlalu jauh De kalau ke pantai dari sini." Sahut Naina.
"Tak apa Na. Tidak setiap hari kita kesini." Jawan Dean santai.
"Tapi De, ini sangat jauh dari pantai."
"Tak apa, aku yang menyetir. Kalau kamu lelah, istirahatlah! Nanti aku bangunkan jika sudah sampai." Jawab Dean sambil fokus menyetir.
"Oke Om." Sahut gadis kecil di kursi belakang dengan nada yang bahagia.
Naina hanya bisa menghela nafas beratnya. Ia akhirnya kembali mengalah pada Dean, karena memang Dean yang membawa mobil. Ia hanya sebatas menumpang di mobil Dean.
Di kursi belakang, Rissa dan Atun dengan cepat terlelap. Naina dan Dean hanya saling diam. Hanya alunan musik yang Dean putar yang menjadi peramai suasana di dalam mobil.
Setelah hampir tiga jam berkendara, Dean menepikan mobilnya memasuki area parkir sebuah pantai. Cukup ramai pengunjung hari ini, pastinya karena akhir pekan.
Dean berniat membangunkan Naina. Ia menoleh pada Naina setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan rapi. Ia sejenak melirik pada Atun dan Rissa yang masih terlelap. Naina pun juga sudah terlelap sejak tadi.
Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Naina. Dipandangnya dengan seksama wajah wanita yang sedari tadi duduk disampingnya itu. Wajah Naina, kebetulan sedikit menoleh ke arah Dean.
"Akankah aku bisa memilikimu seutuhnya suatu hari nanti?" Batin Dean sambil terus memandangi wajah Naina.
Naina sedikit menggeliat. Ia merasakan mobil yang ia tumpangi sedang berhenti. Ia segera membuka mata. Dan saat ia membuka mata, wajah Dean tepat berada di depan wajahnya.
"Dean?" Ucap Naina terkejut.
Naina segera membenarkan posisi duduknya. Ia merasa gugup karena wajahnya tadi sangat dekat dengan wajah Dean. Dan Dean sedang tersenyum manis padanya saat itu.
"Aku tak tega membangunkanmu. Tidurmu terlihat begitu nyaman." Bohong Dean.
"Apa?" Jawab Naina bingung.
__ADS_1
Naina melihat ke sekeliling. Ia mulai menyadari, mereka sedang berada di sebuah tempat parkir.
"Ini dimana?" Tanya Naina.
"Pantai." Jawab Dean santai.
Naina menoleh cepat. Ia tak percaya, jika Dean benar-benar membawa mereka ke pantai.
"Bangunkan Rissa! Aku pergi dulu!" Ucap Dean santai.
Naina hanya mengangguk. Dean pun segera keluar mobil.
"Sayang! Bangunlah! Kita sudah sampai di pantai." Ucap Naina sambil sedikit menggoyangkan tubuh Rissa.
Rissa dan Atun mulai menggeliat. Atun pun segera membuka matanya. Ia lalu mengedarkan matanya melihat ke luar mobil. Begitu pula Rissa.
Rissa sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya. Wajahnya mulai berbinar kala mendengar debur ombak yang samar menggema di indera pendengarannya.
"Kita di pantai Mom?" Tanya Rissa antusias.
"Iya Sayang." Jawab Naina singkat.
"Om Dean dimana Mom?"
"Sudah keluar. Kamu mainlah dengan Mbak Atun. Mommy tunggu di mobil."
"Kenapa Mom?"
"Mommy pakai high heels Sayang. Tidak nyaman jika dipakai berjalan di pasir pantai."
"Yaahhh!"
"Nggak papa Sayang! Main sama Mbak Atun sama Om Dean ya! Jangan nakal ya!" Pinta Naina lembut.
Rissa hanya mengangguk.
"Baik Bu'." Jawab Atun patuh.
"Ini buat beli baju ganti ya! Baju Rissa nanti pasti basah waktu main air. Kamu juga bisa pakai buat beli apapun nanti." Ucap Naina seraya menyerahkan beberapa lembar uang pada Atun.
"Iya Bu'." Jawab Atun paham.
"Mommy nggak papa sendirian di mobil?" Tanya Rissa sebelum turun.
"Iya Sayang. Kamu nanti cari Om Dean ya di pantai!" Pesan Naina.
"Oke Mom!"
Rissa dan Atun segera keluar mobil. Mereka segera berjalan menuju pantai dengan hati bahagia.
Naina menghela nafas beratnya. Ia sebenarnya ingin menemani Rissa di pantai. Tapi, alas kaki yang ia kenakan, sungguh sangat tidak nyaman jika dikenakan berjalan di atas pasir pantai. Karena ia mengenakan sepatu dengan heels setinggi dua belas senti yang berwarna putih, senada dengan tas tangan yang ia bawa.
Naina sebenarnya tak enak hati dengan Dean jika harus menitipkan Rissa padanya. Tapi, ia juga tak ingin memiliki kenangan baru dengan Dean, yang mungkin akan membuatnya terlalu sulit menghapuskan nama Dean dari dalam hatinya.
Tak lama, kaca pintu mobil di samping Naina diketuk seseorang. Naina yang sedang memainkan ponselnya, terkejut bukan main.
"Dean?"
Naina segera menurunkan kaca mobilnya.
"Kamu nggak kepantai? Rissa sama Mbak Atun nyariin kamu di pantai." Ucap Naina panik.
"Aku jemput kamu dulu." Jawab Dean dengan sebuah senyuman.
Hati Naina berdebar tak karuan ketika melihat senyuman itu di wajah Dean. Ia berusaha mengatur perasaannya agar tak diketahui oleh Dean bahwa ia sedang mengagumi senyum tampannya.
"Aku di sini saja. Tolong temani Rissa hari ini!" Ucap Naina tulus.
__ADS_1
Dean hanya tersenyum. Dengan cepat, Dean membuka pintu mobilnya.
"Sini kakimu!" Pinta Dean singkat.
"Apa?" Tanya Naina bingung.
"Kakimu!"
Naina tidak bereaksi. Ia hanya mengerutkan keningnya karena kebingungan. Dean yang tak sabar, meraih kedua kaki Naina dan menariknya. Tubuh Naina pun memutar mengikuti arah kakinya.
"Eehh! Kamu mau ngapain De?" Tanya Naina panik.
"Ganti sepatu kamu." Jawab Dean singkat.
Dean segera melepaskan sepatu yang Naina kenakan satu per satu. Ia letakkan sepatu itu di depan kursi yang diduduki oleh Naina. Ia lantas meraih sesuatu yang tadi ia letakkan di samping mobil. Ia pun memasangkannya di kaki Naina.
"Apaan sih De?" Naina mencoba menarik kakinya.
"Kamu nggak akan nyaman kalau jalan di pantai pakai heels setinggi itu."
"Apa?"
Naina mulai merasakan sebuah sandal jepit berlabuh dikakinya. Ia terkejut bukan main.
"Sudah. Ayo cari Rissa!" Ajak Dean setelah selesai memakaikan sandal di kaki Naina.
Naina memandangi kakinya yang kini mengenakan sepasang sandal jepit berwarna putih dengan tali sandal berwarna biru. Ia lalu menatap Dean dengan penuh tanda tanya.
Dean yang menyadari tatapan Naina, muncul sebuah ide jahil di kepalanya.
"Kenapa? Apa aku kelihatan lebih tampan?" Ucap Dean sambil memainkan sebelah alisnya naik turun.
"Iisshh!" Kesal Naina sambil memalingkan wajahnya.
"Hhaha. Lalu kenapa kamu menatapku seperti itu tadi?"
Naina kebingungan menjawab Dean. Ia memilih diam tak menjawab.
"Sudahlah! Ayo susul Rissa ke pantai!" Ajak Dean sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Naina turun.
"Aku di sini saja." Jawab Naina singkat.
"Ayolah Na! Alas kakimu sudah nyaman bukan? Tapi maaf, hanya ada itu disekitar sini." Jujur Dean.
Dean tadi keluar mobil lebih dulu untuk mencarikan Naina ganti alas kaki. Ia tahu, Naina pasti kesulitan jika berjalan-jalan di pantai dengan sepatu hak tingginya. Jadi, ia pergi ke sekitar, dan mencarikan Naina ganti alas kaki. Dan juga untuknya sendiri yang juga memakai sepatu.
"Milikku juga sama seperti milikmu." Imbuh Dean sembari menunjukkan kakinya yang sudah mengenakan sandal jepit yang sama persis dengan yang Naina kenakan. Hanya ukurannya saja yang berbeda.
Naina melirik ke arah kaki Dean. Ia hanya menghela nafas pendek. Tiba-tiba, tangan Naina digenggam lembut oleh Dean, dan sedikit ditarik.
"Yuk!"
Hati Naina tak bisa menolak ajakan Dean. Otak Naina ingin menolak, tapi tubuhnya tak sejalan. Ia mengikuti tarikan lembut tangan Dean begitu saja. Naina pun turun dari mobil, lalu Dean pun menutup pintunya.
"Sebentar!" Ucap Dean tiba-tiba.
Dean segera melepaskan genggaman tangannya pada Naina. Ia lalu melepaskan jas dan dasi yang ia kenakan. Ia memutari bagian depan mobilnya untuk meletakkan jas dan sepatunya ke dalam mobil. Tak lupa, ia menutup jendela yang tadi dibuka Naina.
Dean pun kembali menghampiri Naina. Ia lantas kembali meraih tangan Naina dan mulai mengajaknya berjalan bersama.
Hati Dean sangat bahagia saat ini. Karena Naina tak menolak perlakuannya. Ia berjalan dengan wajah yang dihiasi senyum tipisnya. Sembari sesekali melirik ke arah Naina yang diam saja.
Iya, Naina diam saja. Ia diam karena sedang berusaha menetralisir perasaannya yang sedang tak karuan karena tangan Dean yang sedari tadi mengenggam lembut dan penuh perhatian padanya. Apalagi, Dean dengan tulusnya mencarikan ganti alas kaki untuknya agar ia pun bisa menikmati suasana pantai bersama Rissa. Sungguh, perlakuan yang sangat manis dari Dean.
Meskipun Dean sering melakukan berbagai hal manis untuk Naina, tapi hari ini, diluar dugaannya. Ia tak pernah terpikirkan, Dean akan memperhatikan hal sekecil itu untuknya.
Kerasnya batu karang, perlahan bisa terkikis karena hantaman air laut yang datang waktu demi waktu. Membuat batu itu, sedikit demi sedikit semakin berkurang ukurannya. Begitupun sang hati. Mungkin saja, kerasnya benteng hati yang berdiri kokoh, akan hancur karena perlakuan demi perlakuan yang tak pernah terduga sebelumnya. Mengikis dan menghancurkan dinding itu perlahan-lahan.
__ADS_1