Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Terbongkarnya Rahasia Part 3


__ADS_3

"Dean?"


Dean segera menghampiri kedua orang tuanya dengan tatapan kecewa dan marah.


"Apa yang dikatakan Nyonya Sekar dan suaminya itu benar Ma, Pa? Apa Rissa adalah putriku?" Tanya Dean dengan perasaan yang tak karuan.


"Dengarkan Mama Sayang!" Ucap Jelita berusaha menenangkan Dean.


"Apa itu benar Ma?" Tanya Dean lagi.


"Ini hasil tes DNA kalian yang kami lakukan di dua rumah sakit yang berbeda di Los Angeles kemarin. Kami mendapatkan sample DNA-mu dari salah satu anak buah kami yang berada di Berlin." Jelas Wiliam sambil menyerahkan dua amplop berlogo rumah sakit ternama di kota Los Angeles.


Dean segera meraih dan membukanya. Ia segera membaca apa yang tertera pada isi amplop itu.


"Dan kalian merahasiakan ini dariku?" Ucap Dean tak percaya dengan perasaan yang sangat kecewa.


"Dengarkan Mama dulu Sayang!" Pinta Jelita panik sambil memegang lengan kekar putranya.


"Oke, Dean akan dengarkan apa yang akan Mama katakan. Tapi sebelumnya, jawab pertanyaan Dean Ma! Apa yang Nyonya Sekar dan suaminya katakan itu benar? Mama dan Papa sudah mengetahuinya sejak lama? Dan bahkan Naina juga batal menikah dengan Delvin?" Cecar Dean tak sabar.


Jelita menoleh pada suaminya. Jonathan pun hanya menatapnya datar.


"Jawab Ma!" Bentak Dean.


"Iya Sayang, iya. Mama akan menjawabnya." Ucap Jelita terbata karena terkejut.


"Itu benar De. Mamamu melakukan tes DNA antara dirimu dan Rissa setelah batalnya pernikahan Naina dan Delvin dua tahun lalu." Sahut Jonathan begitu saja.


"Kenapa Pa? Kenapa kalian merahasiakan itu dari Dean?"


"Itulah alasan kami kemari Tuan, Nyonya." Sahut Sekar.


"Kenapa Ma? Kenapa Mama melakukan itu?" Tanya Dean makin kecewa.


Jelita terdiam. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada putranya. Karena ia tahu, jika ia mengatakan yang sebenarnya, putranya akan makin marah dan kecewa padanya.


"Apa karena masa lalu Naina, Nyonya Jelita? Masa lalu yang membuat Naina hamil Rissa sembilan tahun yang lalu?" Terka Sekar lagi.


Semua orang menoleh pada Sekar. Wajah Jelita makin pucat karena tak bisa menyangkal ucapan Sekar.


"Sepertinya tebakanku benar Nyonya Jelita. Masa lalu Naina adalah alasanmu merahasiakan kenyataan itu dari semua orang. Tapi, tahukah Anda Nyonya, alasan Naina melakukannya saat itu?"


"Dia ingin menyelamatkan nyawa neneknya yang salah satu ginjalnya rusak dan harus segera dioperasi saat itu. Ia nekat melakukan itu demi mendapatkan biaya operasi secepatnya. Aku sudah melarangnya saat itu, tapi tanpa sepengetahuanku dia nekat datang ke tempatku bekerja dan membuat kesepakatan dengan pemilik tempatku bekerja."


"Dan asal Anda tahu Tuan dan Nyonya Jonathan, Naina hanya melakukannya satu kali itu saja. Dan entah keberuntungan ataukah ketidakberuntungannya saat itu, hingga akhirnya dia hamil dari orang yang membayarnya malam itu."


"Apa salahnya Nyonya? Dia hanya melakukannya sekali. Dan itu menjadi aib bagi Anda? Lalu, bagaimana dengan putra Anda yang sudah tidur dengan banyak wanita selama ini demi menuntaskan hasratnya?" Ucap Sekar semakin marah.


Wiliam mengusap punggung istrinya yang sudah mulai tersulut amarahnya, berusaha menenangkannya. Hati Sekar tak terima jika Naina disamakan dengan para wanita malam yang menjadikan pekerjaan itu untuk kesehariannya.


"Jangan kira kami tak tahu Nyonya, bagaimana kelakuan putra sulung Anda sebagai seorang cassanova beberapa tahun yang lalu." Imbuh Sekar makin geram.


Jelita makin tak bisa berucap. Ia seakan ditampar begitu kerasnya dengan ucapan Sekar tadi.


"Saya beritahu Anda wahai Tuan dan Nyonya Jonathan. Kalian tidak tahu bukan, betapa beratnya kehidupan Naina setelah malam itu? Ia bahkan berusaha untuk bunuh diri dua kali karena tertekan oleh kenekatannya malam itu. Ia bahkan nyaris diperkosa oleh teman-teman di kampusnya yang mengira dia adalah 'wanita malam' seperti saya dulu."


"Jika saja Saya, Lea dan Hera tidak memergokinya saat mencoba bunuh diri saat itu, saat ini, Anda tidak akan memiliki cucu secantik dan secerdas Rissa. Yang selalu Anda perlakukan dengan begitu istimewa. Yang sangat Anda sayangi. Yang selalu Anda pantau perkembangannya meski dari jauh." Ungkap Sekar singkat.

__ADS_1


"Apakah sepedih itu kehidupan Naina dulu Nyonya?" Tanya Dean tak percaya.


"Jika kamu tak percaya, kamu bisa bertanya pada Lea dan Hera yang lebih lama menemani Naina." Jawab Sekar yakin.


Tubuh Jelita terduduk begitu saja ke kursi yang tadi ia duduki. Hatinya tetaplah hati seorang ibu. Ia tak bisa mendengar kepedihan putrinya begitu saja, meskipun ia bukan putri kandungnya.


"Maaf." Ucap Jelita lirih.


Air mata jelita pun mengalir deras. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan pada putranya dan cucunya. Apalagi, ditambah bagaimana kisah singkat Naina saat ia terpuruk beberapa tahun lalu.


"Putriku!" Gumam Dean sendu.


Dean segera berlari menuju pintu keluar. Hatinya begitu kecewa dan marah pada ibunya. Tapi, ia juga tak bisa serta merta meluapkan amarahnya pada sang ibu.


"Dean! Dean! Kamu mau kemana?" Teriak Jonathan yang paham sifat putranya.


Dean berlari begitu saja keluar rumah. Ia tak menghiraukan panggilan ayahnya yang beberapa kali memanggilnya. Di pikirannya kini hanya satu, Rissa. Ia ingin segera bertemu dengan putrinya itu.


Sedang di dalam rumah, Jonathan kebingungan. Ia ingin mengejar putranya, karena takut jika sampai putranya hilang kendali. Tapi, ia juga tak bisa meninggalkan istrinya begitu saja. Apalagi, masih ada tamu di rumahnya.


Jonathan akhirnya memilih menenangkan istrinya.


"Sudahlah Ma! Papa sudah pernah mengatakan hal ini pada Mama, tapi Mama tak mau mendengarkan Papa. Dan sekarang, Mama bisa lihat sendiri bukan, bagaimana kekecewaan Dean tadi?" Ucap Jonathan sambil memeluk Jelita.


"Maafkan kami Tuan Jonathan! Bukan maksud kami mengatakan itu pada putra Anda dan membuat semua ini terjadi." Ucap Wiliam tulus.


"Tidak apa-apa Tuan Wiliam, ini memang sudah seharusnya terjadi. Memang sudah saatnya Dean mengetahui semuanya." Jawab Jonathan ramah.


Wiliam dan Sekar membiarkan Jonathan menenangkan Jelita. Mereka tak enak hati jika langsung berpamitan pulang pada tuan rumah setelah apa yang baru saja terjadi.


Di sisi lain, Dean memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Ia hanya ingin segera menemui dua wanita yang ia rindukan selama dua tahun terakhir. Yang ternyata adalah seseorang yang memiliki ikatan khusus dengannya.


BRAK.


Dean berusaha mengendalikan mobilnya yang berputar 360° di tengah persimpangan. Dan saat itulah, bayangan kecelakaan yang ia alami sembilan tahun lalu, berkelebat jelas dalam benaknya. Ia bahkan bisa mengingat beberapa potongan ingatan yang sempat ia lupakan beberapa tahun ini.


Dean memang pernah mengalami kecelakaan hebat sembilan tahun lalu. Beberapa minggu setelah kematian Rhea. Mobilnya disabotase oleh seseorang hingga remnya blong.


Dan karena kecelakaan itu, Dean kehilangan beberapa memorinya sebelum kecelakaan terjadi. Dan itu belum pulih sepenuhnya hingga kini.


"Nandini." Gumam Dean lirih saat bayangan itu bermain di benaknya.


BRAK. Mobil Dean menghantam pembatas jalan di salah satu sudut persimpangan. Ia pun langsung tak sadarkan diri karena kepalanya sempat terbentur bagian mobilnya.


Beberapa orang langsung membantu evakuasi. Dean langsung dilarikan ke rumah sakit. Para pengawal Dean pun segera mengabari Jonathan dan Jelita. Mereka pun segera ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi putranya. Bahkan, Wiliam dan Sekar pun ikut ke rumah sakit.


Kondisi Dean tak begitu buruk. Hanya beberapa memar di beberapa bagian tubuhnya. Ia pun segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Dan setelah itu, Wiliam dan Sekar pun berpamitan pulang pada Jonathan dan Jelita.


Saat siang tiba, Dean sudah mulai sadar. Ia berusaha kabur dari rumah sakit demi segera bertemu dengan dua wanita yang ia rindukan. Tapi berhasil dicegah oleh Jonathan.


"Sabarlah De! Pulihkan dulu kondisimu!" Saran Jonathan perlahan.


"Dean ingin menemui putri Dean Pa!" Jawab Dean tegas.


"Sabarlah! Kamu pasti akan menemuinya nanti. Sekarang, pulihkan dulu kondisimu!" Saran Jonathan lagi.


"Kenapa Papa merahasiakan hal itu dari Dean?" Tanya Dean tanpa basa-basi.

__ADS_1


Jonathan terdiam. Ia sebenarnya sudah beberapa kali meminta istrinya untuk mengatakan kebenaran itu pada putranya, tapi selalu ditolak oleh Jelita.


"Maafkan Mama Sayang!" Ucap Jelita lirih yang duduk di dekat ranjang Dean.


Dean tak menggubris ucapan Jelita. Hatinya terlalu kecewa dengan sikap mamanya.


"Jawab Pa!" Pinta Dean lagi.


"Sekarang istirahatlah dulu! Kita kan bicarakan itu nanti setelah kondisimu pulih." Jawab Jonathan menengahi.


Dean pun makin kesal. Ia hanya bisa menahan segala rasa kecewanya dalam hati.


Dean segera teringat oleh seseorang. Ia segera mengambil ponselnya yang selamat dari kecelakaan karena tertinggal bersama tasnya di rumah tadi.


"Niko! Segera ke Munich secepatnya! Dan bawakan sample DNA Rissa untukku!" Pinta Dean cepat setelah pangilannya tersambung.


Dan panggilan pun segera terputus begitu saja tanpa sempat Niko menjawabnya.


"Awas saja kamu Niko, kamu berani merahasiakan hal sebesar itu dariku!" Geram Dean.


Dean berniat melakukan tes DNA sendiri untuk meyakinkan hatinya.


Dua hari kemudian, Niko pun tiba di Munich dengan membawa apa yang Dean minta. Dean segera mengirim sample DNA-nya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan hasilnya. Dan setelah itu semua, ia membuat perhitungan pada Niko.


Niko pun mengatakan dengan gamblang alasannya merahasiakan kebenaran itu dari Dean. Dean pun akhirnya juga tahu, apa yang terjadi pada Naina setelah pernikahannya batal dengan Delvin.


"Kamu akan lebih lama di penjara!" Geram Dean sambil mengingat apa yang telah dilakukan Delvin.


Dan berbekal dengan ingatannya yang telah kembali setelah kecelakaan kemarin, dan hasil tes DNA yang sudah keluar, ia kembali ke Indonesia dengan beberapa tujuan. Tapi satu yang pasti, demi putri dan wanitanya.


Flashback Off


"Jadi, itu alasan Mas tak mengingatku selama ini?" Tanya Naina sambil masih bergelayut manja di bahu Dean.


"Maaf untuk itu Sayang. Aku sebenarnya tak pernah melupakan namamu. Hanya saja, aku tak bisa mengingat dirimu." Jujur Dean.


"Maksud Mas?"


"Setelah aku mengalami kecelakaan sembilan tahun lalu, aku selalu teringat sebuah nama. Nandini. Tapi aku tak bisa menemukan sosoknya di benakku. Aku sudah berusaha bertanya pada Mama, Papa, Niko dan beberapa pengawal pribadiku, tapi mereka tidak tahu. Bahkan hingga kemarin kita berpisah selama dua tahun, aku masih selalu teringat nama itu, tapi tak bisa kutemukan sosoknya." Jelas Dean.


"Kamu jahat! Masak cuma ingat namaku aja selama ini?" Kesal Naina.


"Kamu kan juga cuma ingat nama dan suaraku bukan?" Balas Dean santai.


"Itukan karena kacamataku terjatuh saat itu."


"Aku juga mengalami kecelakaan Sayang." Bela Dean.


"Yang penting, sekarang kita sudah bersama bukan? Dan sebentar lagi, kita akan bisa berkumpul menjadi keluarga yang seutuhnya untuk putri kita." Imbuh Dean.


Naina pun tersenyum lega. Ia juga mengangguk setuju dengan ucapan Dean. Ia lalu memeluk tubuh Dean dengan eratnya.


"Terima kasih karena mengingatku." Ucap Naina lirih.


"Terima kasih, karena menjaga Rissa selama ini dan tetap menungguku kembali." Sahut Dean sambil membalas pelukan Naina dengan hangat.


Naina pun mengangguk.

__ADS_1


Dua hati itu mulai bersatu. Mulai mengukir cerita mereka yang sedikit terjeda oleh perpisahan jarak yang terbentang. Tapi, tanpa mereka sadari, ikatan hati mereka yang telah lama terciptalah yang perlahan-lahan menyatukannya.


__ADS_2