
Setiap manusia, memiliki sisi lainnya masing-masing. Tak ada yang sempurna. Mungkin kasat mata, nampaklah sempurna. Tapi dibalik kesempurnaan itu, pasti ada hal yang tak kasat mata yang membuatnya tak sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah semata.
"Sin, ada apa kesini?" Tanya Naina setelah ia keluar dari kamar. Perasaannya sudah mulai tenang.
"Maaf Bu', kemarin saya janji sama Rissa mau ngajak dia jalan-jalan ke taman hiburan." Jujur Sinta.
"Oh gitu. Kapan kalian janjian?"
"Kemarin, waktu nganter Rissa pulang."
"Om boleh ikut nggak cantik?" Celetuk Dean tiba-tiba.
"Boleh ya Mom?" Rissa menatap wajah ibunya yang baru saja duduk di sofa ruang keluarga bersama yang lain.
"Iya boleh. Tapi jangan nakal dan rewel sama Tante Sinta sama Om Niko ya."
"Ibu nggak ikut?" Tanya Sinta kebingungan.
"Kamu tahu sendiri Sin, gimana aku kalau habis ketakutan. Nanti malah ganggu kalian lagi. Kalian ajak Mbak Atun aja, buat jagain Rissa, ya?"
Semua terdiam. Sinta memikirkan ucapan Naina.
Naina memang akan ketakutan sepanjang hari jika baru saja bertemu dengan serangga. Bayangan serangga itu akan mengikutinya sepanjang hari, hingga membuatnya ketakutan sendiri meski tak ada serangga apapun. Ia memilih istirahat di rumah atau tidur untuk mengurangi efek fobianya itu.
"Ibu nggak papa dirumah sendiri?"
"Nggak papa. Nanti aku di kamar aja. Lagian badanku juga capek rasanya." Jujur Naina.
"Biar aku yang temani Naina di rumah." Timpal Dean tiba-tiba.
Semua menoleh pada Dean. Mereka menatap Dean penuh kebingungan.
"Om katanya mau ikut?" Celetuk Rissa.
"Kasihan Mommy kalau di rumah sendiri sayang!" Ucap Dean lembut pada gadis kecil yang duduk di pangkuannya.
"Yaudah, Om Dean nemenin Mommy di rumah ya!"
"Nggak usah cantik! Om Dean biar ikut kalian aja ke taman hiburan." Tolak Naina halus.
"Tapi Bu', saya nggak tenang kalau ibu dirumah sendirian!" Ucap Sinta cemas.
"Nggak papa Sin. Kamu ajak Mbak Atun ya, biar nanti Rissa ada yang jagain, jadi nggak begitu ganggu kencan kalian."
"Kan Rissa udah ada yang jagain, jadi biar aku yang jaga kamu di rumah." Timpal Dean.
Naina langsung melirik tajam pada Dean. Kekesalannya belum mereda pada laki-laki yang tadi sudah mengerjainya itu.
"Rissa setuju sama Om Dean." Celetuk Rissa semangat.
"Saya juga." Sahut Niko dan Sinta bersamaan.
"Kalau gitu, Mbak Atun biar di rumah aja. Biar Dean yang nemenin Rissa." Sahut Naina kesal.
"Mbak Atun!" Panggil Sinta tiba-tiba.
Atun yang masih di halaman belakang, ia segera berlari masuk. Ia masih memastikan tak ada lagi serangga di taman atasannya itu.
__ADS_1
"Iya Bu Sinta?"
"Mbak Atun ikut ke taman hiburan ya! Nemenin Rissa. Ibu biar istirahat di rumah. Mbak tahu sendiri kan gimana ibu kalau habis ketemu serangga." Ucap Sinta tanpa basa-basi.
"Tapi Ibu nanti di rumah sendiri gimana Bu'?" Tanya Atun khawatir.
"Ada Tuan Dean yang nemenin Ibu'." Sinta mengedipkan sebelah matanya pada Atun untuk memberi kode.
Atun berfikir sejenak. "Iya Bu'."
"Oke!" Sahut Sinta senang.
"Siinn,," Panggil Naina penuh selidik.
"Ini diluar rencana Bu'. Kemarin maksud saya mau ngajak Ibu sama Rissa jalan-jalan sebagai permintaan maaf saya. Tapi ternyata ada insiden serangga. Saya terlanjur janji dengan Rissa Bu'." Jujur Sinta.
Naina akhirnya mengalah. Ia tak enak hati pada Atun jika harus menggagalkan ajakan Sinta untuk jalan-jalan.
"Urusan Dean, gampanglah nanti." Batin Naina.
Atun dan Rissa pun bersiap-siap, meninggalkan sepasang kekasih dan calon kekasih, mungkin. Tak butuh waktu lama, mereka sudah siap dengan diri masing-masing.
"Jangan nakal ya sayang sama Tante Sinta dan Om Niko." Pesan Naina saat mengantar putri kecilnya ke depan rumah.
Rissa mengangguk lalu menyalami Naina. "Pakai ini Sin, kalau nanti Rissa banyak jajan."
Naina memberikan sebuah kartu debet miliknya. Ia tak ingin merepotkan pasangan kekasih itu jika Rissa terlalu banyak jajan. Apalagi, Atun juga ikut dengan mereka.
"Tidak perlu Nona! Hari ini, biar Rissa jadi tanggung jawab saya." Sahut Niko.
Sinta pun mengangguk setelah menoleh pada Niko. "Iya Bu', benar kata Mas Niko."
"Iya Bu'." Sahut Sinta dan Atun.
Sinta, Niko, Atun dan Rissa akhirnya berangkat bersama. Meninggalkan Naina dan Dean berdua. Dean tersenyum bahagia dalam hatinya.
"De,,"
"Na,," Mereka saling panggil dan menoleh bersamaan setelah mobil Niko meninggalkan rumah Naina.
"Pulanglah!" Pinta Naina.
"Ada yang ingin kukatakan padamu!" Tolak Dean.
"Yasudah, katakanlah cepat! Setelah itu, kamu bisa pulang." Ketus Naina.
"Kita bicara disini?"
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" Naina masih kesal pada Dean.
Naina melangkahkan kakinya masuk rumah. Ia tak ingin jika sampai akhirnya berdebat dengan Dean, akan menjadi tontonan warga yang berlalu lalang di depan rumah. Dean pun akhirnya mengikuti Naina masuk ke rumah.
"Na,," Dean mencekal tangan Naina dan sedikit menariknya. Tubuh Naina tersentak hingga berbalik menghadap Dean.
"Lepas!" Naina menghempaskan tangan Dean sekuat tenaga.
Dean pun melepaskan tangan Naina. Naina kembali berjalan meninggalkan Dean. Dean mempercepat langkahnya mengejar Naina.
__ADS_1
Set. Dean memeluk Naina dari belakang.
DEG. Naina terpaku. Ia menghentikan langkahnya karena terkejut. Sejenak, ia menikmati pelukan Dean yang terasa begitu hangat dan menenangkan.
Ada getaran aneh dalam hati Naina saat lengan kekar itu melingkar di bawah lehernya. Ada rasa yang tak biasa. Ada rasa ingin membalasnya. Ada hasrat ingin memegang lembut tangan itu. Apalagi, kepala Dean tepat berada di ceruk leher kanan Naina. Hingga deru nafas laki-laki itu terasa begitu lembut menyapa telinganya.
"Tolong jangan marah padaku Na! Aku tahu, aku salah. Kumohon, maafkan aku!"
Suara Dean begitu lembut mengalun ditelinga Naina. Suara yang beberapa minggu terakhir, menjadi salah satu hal yang ia rindukan. Meski suara itu terkadang membuatnya kesal, tapi, ia tak dapat memungkirinya, bahwa ia mulai menyukai suara itu. Dan mulai merindukannya jika tak mendengarnya.
Ide jahil Naina muncul. Ia ingin sedikit membalas ulah Dean tadi. Ia merasakan pelukan itu tak begitu erat dan kencang. Naina perlahan menyentuh tangan Dean yang masih melingkar di dadanya. Sentuhan yang begitu lembut dan halus. Ia menarik satu tangan Dean dengan perasaan yang halus.
Dean pun tersenyum kecil, karena Naina merespon sikapnya dengan baik. Tapi,,
Set. Set. BUG.
"Aaww,, sakit Na!"
Naina ternyata memasang kuda-kudanya dengan cepat, lalu menarik lengan Dean sekuat tenaga dan membantingnya ke lantai.
Dean tak menyadari gelagat Naina. Ia terbuai oleh sikap lembut Naina yang memegang tangannya. Ternyata, ia salah kira.
Dean memegangi punggungnya yang sakit karena terbentur lantai cukup keras. Ia kemudian berusaha bangkit dari posisinya sambil meringis kesakitan.
"Itu balasan karena kamu mengerjaiku pagi ini." Ketus Naina sambil melangkah masuk menuju depan tv.
"Kejam banget kamu Na!" Gerutu Dean yang berjalan mengikuti Naina dengan wajah kesakitan.
"Salah sendiri ngerjain orang fobia!"
"Yaaaa, bukan maksudku gitu Na." Kilah Dean gelagapan.
Naina lalu menjatuhkan tubuhnya pada sofa panjang yang tepat menghadap ke tv. Ia mulai mengganti stasiun tv dan mencari acara yang menarik baginya.
"Tanggung jawab Na!" Gerutu Dean setelah ia duduk di samping Naina.
"Tanggung jawab apa? Emang kamu hamil?" Celetuk Naina.
"Iya, kamu yang hamilin. Cepet tanggung jawab!" Dean mendekatkan wajahnya ke samping wajah Naina untuk menggodanya.
Tanpa disangka, Naina refleks menoleh karena mendengar jawaban Dean. Naina terkejut, karena wajah Dean tepat berada di hadapannya, dan hanya berjarak beberapa senti saja. Dean pun juga terkejut karena Naina menoleh tiba-tiba.
Dean menatap manik mata hitam Naina. Manik mata yang begitu menarik perhatiannya dan selalu ia rindukan beberapa minggu ini. Pandangannya sedikit turun ke bibir mungilnya yang pagi ini berwarna pink natural, terlihat begitu menggoda di mata Dean.
Naina pun terpaku oleh manik mata biru Dean yang sama dengan manik mata biru Rissa. Manik mata yang selalu membuatnya tenang dan terlihat begitu indah. Pandangan Naina pun turun ke bibir sexy Dean. Bibirnya sedikit tebal namun nampak menggoda.
Dean tetaplah seorang laki-laki. Terlebih, ia berhadapan dengan wanita yang ia cintai. Dan wanita itu, sangat ia rindukan dalam satu bulan terakhir karena terpisah jarak dan waktu.
Dean mendekatkan wajahnya pada Naina lagi perlahan, karena Naina pun diam terpaku menatapnya. Insting kelaki-lakiannya mulai meronta. Ia ingin merasakan bibir pink yang ada dihadapannya itu.
"Kamu mau ngapain De?" Ucap Naina seraya memundurkan kepalanya.
Dean tersentak. "Maaf Na!"
Dua insan itu saling salah tingkah. Kedua pipi mereka saling merona. Mereka saling membuang muka karena malu.
"Aahh, sial! Sedikit lagi tadi." Batin Dean.
__ADS_1
"Kenapa aku tadi menatap bibirnya? Astaghfirullah! Lalu, perasaan apa juga ini? Kenapa jantungku berdetak kenceng banget? Nggak mungkin kan aku jatuh cinta padanya?" Batin Naina.