
Hembusan angin pantai, menelusup lembut menyapa pori-pori tubuh. Membawa kesejukan dalam setiap tiupannya. Memberikan ketenangan dalam setiap sapaannya.
Suara ombak yang berkejaran, menambah tenang suasana pantai. Merangkai nada yang indah dalam setiap buih yang tercipta. Menyatu sempurna dengan suara-suara alam.
"Lespasin De! Nanti Rissa salah paham." Ucap Naina sambil menarik paksa tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Dean.
Dean segera menoleh pada Naina tanpa melepaskan genggamannya yang mendadak berubah sedikit kuat. Naina semakin keras berusaha melepaskan tangannya sebelun Rissa melihatnya kembali bergandengan tangan dengan Dean.
"Na! Tidak bisakah kita seperti ini selamanya?" Tanya Dean perlahan.
"Kamu ini bicara apa De?" Gertak Naina kesal.
"Seperti ini Na! Bergandengan tangan selamanya." Ucap Dean sembari menarik tangannya yang masih menggenggam tangan Naina, tepat ke depan wajah Naina.
"Tak bisakah, kau buka hatimu untukku Na?" Tanya Dean tanpa ragu.
Naina yang sedari tadi masih berusaha melepaskan tangannya, mendadak diam dan mematung mendengar kalimat yang Dean ucapkan. Suara hatinya meronta-ronta tak terkendali. Ingin segera diungkapkan oleh sang bibir.
"Bisa De. Kamu sudah berhasil membuka kunci hatiku yang lama kusimpan rapat." Batin Naina.
Tapi otak Naina masih tetap menolaknya. Ia masih belum bisa membuat sang bibir, mengungkapkan apa isi hati Naina yang sebenarnya. Ia berusaha sangat keras memenangkan logikanya
"Lepas!" Sentak Naina cepat.
Genggaman tangan Dean tiba-tiba terlepas. Naina lantas melangkah pergi meninggalkan Dean, untuk mencari Rissa dan Atun yang sudah lebih dulu pergi menikmati pantai.
Dean menghela nafas lesu.
"Sampai kapan Na kamu mau seperti itu?" Gumam Dean sambil menatap Naina yang makin jauh darinya.
Dean lantas kembali melangkahkan kakinya mengikuti Naina. Dengan perasaan yang masih belum sepenuhnya lega karena sikap Naina yang selalu berubah-ubah padanya.
"Mommy!" Panggil Rissa saat Dean sampai tepat di sebelah Naina berdiri.
Naina melambaikan tangannya pada Rissa.
"Na!" Panggil Dean singkat tanpa menoleh pada Naina.
"Ya." Jawab Naina datar.
Naina merapikan rok bagian belakangnya, lalu duduk di atas pasir pantai begitu saja. Meluruskan kakiny ke depan lalu melepaskan sandal barunya. Ia meletakkan tasnya diantara ia dan Dean.
Dean yang menyadari itu, ia pun mengikuti Naina duduk di atas pasir pantai. Sembari mengawasi Rissa yang sedang bermain air dengan Atun.
"Apa kamu sama sekali tak mencintaiku Na?" Tanya Dean tanpa basa-basi.
Naina menoleh pada Dean. Hatinya kembali berkecamuk. Ingin rasanya marah, tapi tak bisa. Ingin rasanya mengungkapkan semua isi hatinya, tapi juga tak bisa. Terlalu banyak hal yang membuat Naina mengurungkan semua ingin hatinya.
__ADS_1
Dean pun menatap Naina dengan seksama. Ia mencoba untuk membaca raut wajah Naina.
"Iya." Bohong Naina seraya kembali menatap jauh ke laut.
"Tatap mataku dan katakan itu sekali lagi Na!" Pinta Dean tegas.
Naina diam tak bergeming. Pandangannya tetap lurus ke arah birunya air laut. Hatinya terasa pedih tak terkira.
"Na!" Panggil Dean cepat.
Naina menguatkan hatinya dan menoleh pada Dean.
"Aku tidak mencintaimu Dean Pratama Diedrich." Jawab Naina sembari menahan air matanya agar tak tumpah sekuat yang ia mampu.
"Sungguh?" Dean coba merayu Naina untuk meyakinkan.
"Iya. Karena jika aku mencintaimu, kita pasti akan terluka." Ucap Naina sembari kembali menatap laut lepas.
"Maksud kamu?"
"Ada banyak hal yang tak kamu ketahui tentangku De. Dan saat nanti kamu mengetahuinya, kamu pasti akan terluka. Bahkan, pasti akan berpikir berkali-kali untuk menjaga rasa cinta yang ada dalam hatimu."
"Katakanlah! Aku pasti menerima semua tentangmu." Ucap Dean yakin.
Naina menoleh pada Dean yang masih setia menatapnya. Ia tersenyum sinis.
"Aku,," Ucapan Dean terpotong begitu saja.
"Mommy!"
Panggilan Rissa membuyarkan obrolan Dean dan Naina. Naina lalu melambaikan tangan pada Rissa yang berlari menghampirinya.
"Mommy ke sini?" Tanya Rissa bahagia.
"Iya Sayang. Tadi dibeliin sandal sama Om Dean. Jadi Mommy bisa ikut main ke sini." Jujur Naina.
Rissa lalu menoleh ke arah kaki Naina. Ia bisa melihat sandal baru Naina yang sama persis dengan milik Dean.
"Kembaran ya sama Om Dean?" Celetuk Rissa santai.
"Iya Sayang." Jawab Naina bahagia.
Hati Naina bahagia bukan main, tatkala melihat putrinya itu tersenyum bahagia. Kegelisahan dan kecamuk hatinya mendadak sirna hanya karena senyuman indah Rissa yang selalu bisa menenangkannya. Selalu menjadi obat lelahnya.
"Main sama Om yuk!" Ajak Dean seraya berdiri.
Rissa pun mengangguk bahagia. Ia lantas kembali menuju ombak lautan yang bergulung menuju pantai. Bermain kejar-kejaran di atas karpet indah Sang Pencipta.
__ADS_1
Naina meneteskan air matanya melihat pemandangan yang akhir-akhir ini sering ia dapati. Rissa bisa tersenyum lepas bersama Dean.
"Maafkan aku De! Aku tak bisa mengorbankan dirimu dalam masalahku. Aku harap, kamu bisa mendapatkan pasangan yang terbaik untukmu kelak." Batin Naina pedih sambil melihat Rissa, Dean serta Atun yang bermain air.
"Ibu, Ayah! Naina rindu. Bu' Sekar, Naina juga rindu padamu."
Ingin rasa hati Naina menumpahkan segala kecamuk hatinya pada orang tuanya. Mengadu pada mereka yang bisa sekedar mendengarkan atau mungkin memberikan solusi yang terbaik bagi gelisah hatinya.
Tapi itu semua terlalu sulit. Kedua orang tuanya sudah tiada. Ibu sambung yang ia anggap seperti ibu kandungnya pun, ia tak tahu kini berada dimana. Sedang Lea dan Hera, sedang menikmati masa indah berkeluarga dengan keluarga mereka.
"Aku mencintaimu De." Batin Naina getir sambil menatap Dean yang sedang tersenyum bahagia bersama Rissa.
Hati mana yang tak pedih, ketika harus bersikap munafik dihadapan orang lain demi kebaikan orang itu. Apalagi, jika itu adalah hal yang jarang ia rasakan atau temui.
Rasa Cinta Naina pada Dean, benar-benar tumbuh dengan perlahan namun pasti. Nama dan sosok Dean, sungguh telah terpatri dalam hati Naina nyaris tanpa cacat. Bukan karena kekayaan atau ketampanannya, tapi karena sikapnya yang selalu bisa membuat Naina merasakan indahnya disayangi secara tulus.
Naina diam-diam mengambil ponselnya di tas. Ia lalu memotret kebersamaan Dean dan Rissa yang sudah sangat mirip seperti kebersamaan ayah dan anaknya.
"Biar kusimpan ini sebagai kenanganmu De. Karena setelah ini, aku tak tahu, apa lagi yang akan aku hadapi jika berjalan bersamamu. Maafkan aku De." Gumam Naina sambil melihat foto yang baru saja ia ambil.
Naina sudah memikirkan semua ucapan Lea dan Hera tempo hari. Ia merenungkannya selama beberapa hari. Cukup sulit baginya mengambil keputusan setelah semua hal yang ia pertimbangkan.
"Come on Mom!" Ajak Rissa semangat.
Naina hanya menggeleng sambil tersenyum. Rissa pun kembali bermain bersama Dean dan Atun kembali.
Menjelang senja, mereka semua akhirnya pulang ke rumah dengan rasa lelahnya masing-masing. Tak lupa, Dean mengantar Naina pulang lebih dulu. Rissa dan Atun segera masuk rumah lebih dulu untuk membersihkan diri.
"Thank's De." Ucap Naina tulus.
"Tentu. Apapun untukmu Na." Jawab Dean lembut.
Ingin rasanya Naina tersenyum hangat pada Dean, tapi ia tahan semampunya. Ia berusaha bersikap datar dengan semua perhatian Dean.
"Aku akan tetap menantimu Na." Imbuh Dean sebelum ia melangkahkan kakinya untuk pergi.
Naina terpaku mendengar ucapan Dean. Tapi, ia juga tak bisa menolak atau membantahnya. Hatinya terlalu pedih mendengar ucapan Dean yang tak bisa ia balas.
"Aku pulang dulu! Jika butuh bantuan atau apapun, hubungi aku!" Pinta Dean penuh perhatian.
Naina hanya diam tak menjawab.
Dean lantas melangkahkan kakinya kembali ke mobil. Meninggalkan Naina yang masih mematung dengan segala rasa yang sekuat tenaga ia tahan. Menahan air mata yang mungkin saja bisa tumpah tanpa permisi.
Naina hanya bisa menatap langkah Dean yang semakin menjauh darinya dan mulai hilang karena masuk ke dalam mobil. Ia pun menatap mobil Dean yang mulai meninggalkan halaman depan rumahnya.
"Bye De." Batin Naina setelah mobil Dean tak lagi nampak di pelupuk matanya.
__ADS_1
Naina pun masuk ke dalam rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Hari yang panjang dan lelah telah terlewati. Ia harus menyiapkan diri, untuk menyambut hari esok yang pasti akan sangat padat dan melelahkan.