
Selamat pagi dunia. Selamat pagi hari baru. Hari yang selalu membawa harapan baru bagi semua. Membawa semangat baru bagi setiap asa yang hampir tak terjaga.
Di sebuah rumah mewah yang cukup besar dengan dua lantai, ada seorang laki-laki tengah menikmati suasana paginya dengan berolahraga di gym pribadinya. Ia tengah asik menggunakan lat pulldown machine miliknya, kala seorang laki-laki sedikit gemulai menghampirinya.
"Nih, yang kamu minta!" Ucap si laki-laki yang sedikit gemulai, Ivan.
Ivan melemparkan beberapa lembar kertas yang sudah di jepit rapi, tepat di atas kursi kecil yang ada di ruangan itu. Tepat bersebelahan dengan handuk yang sudah Delvin siapkan.
"Apa?" Ketus Delvin.
"Kemarin katanya minta data mamanya Rissa."
"Oh. Lama banget, dua hari baru dapet?" Sindir Delvin.
Delvin lalu melepaskan lat pulldown machine-nya. Ia lalu mengelap keringat dengan handuknya dan menenggak air putih untuk menghilangkan dahaganya.
"Udah bagus belum ototku?" Tanya Delvin santai sembari menunjukkan otot-otot lengannya pada Ivan.
"Mau bagus gimana lagi Vin? Itu tuh yang bikin para penggemarmu histeris kalau lihat kamu." Ketus Ivan.
Delvin memang suka memamerkan tubuh atletisnya pada para penggemar lewat media sosialnya. Tubuh atletis yang tercetak sempurna karena hasil olahraga rutin yang ia lakukan.
Delvin sering mengunggah foto-foto kala ia sedang berolahraga hanya dengan kaos singletnya. Hingga menampakkan dengan jelas, barisan otot-otot bisep dan trisep pada lengannya. Atau juga foto kala ia berenang dengan bertelanjang dada hingga menampilkan dada bidang dan barisan roti sobek yang ada di perutnya.
Dan hal itu, akan mendapatkan ribuan bahkan jutaan like dari para penggemarnya. Membuat mereka berteriak histeris kala bertemu langsung dengan Delvin.
Itulah Delvin, ia suka dipuji dan dipuja oleh banyak orang, terlebih jika itu kaum hawa. Bekal wajah yang tampan, mata biru nan indah yang diturunkan dari ayahnya, tubuh tegap nan atletis dengan tinggi badan rata-rata orang Indonesia pastinya. Ia dengan mudah merebut perhatian para kaum hawa kala ia berhasil menampakkan dirinya di layar kaca tiga tahun lalu. Ia dengan mudah mendapatkan banyak penggemar dan perhatian dari para penduduk negeri ini.
"Mereka itu suka sama wajah tampanku." Celetuk Delvin.
"Terserahlah!"
"Tapi kenapa Naina enggak ya?" Gumam Delvin.
"Oh iya, ternyata, Naina lumayan hebat. Bisnisnya cukup menjamur." Ucap Ivan antusias.
Delvin segera membaca lembaran-lembaran kertas yang dibawa Ivan. Ia membaca dengan seksama semua informasi tentang Naina.
"Hebat juga dia. Udah cantik, hebat lagi. Aku harus dapetin Naina! Harus!" Ucap Delvin dengan seringai jahatnya.
"Dan aku akan manfaatin dia, buat balas kematian Papa." Batin Delvin.
"Udahlah Vin! Nggak usah cari masalah! Nikmatin aja apa yang kamu miliki sekarang!" Saran Ivan.
"Ini juga aku nikmatin kok." Sahut Delvin santai seraya berjalan meninggalkan Ivan yang sedang menggunakan treadmill miliknya.
"Jangan lupa, ada syuting jam sembilan nanti." Sahut Ivan.
Delvin hanya diam tak menjawab ucapan Ivan. Ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Ivan pun masih melanjutkan olahraga ringannya dan membiarkan Delvin bersiap untuk pergi syuting hari ini.
...****************...
Di tempat lain, sang gadis kecil kita yang jenius, sedang bersiap juga untuk berangkat syuting bersama Mommy-nya tercinta. Hari ini Rissa hanya syuting di salah satu sudut ibukota saja, tak lagi ke puncak seperti dua hari lalu.
"Mommy, apa Om Dean hari ini ikut lagi?" Celetuk Rissa saat Naina mengambilkan sarapan untuknya.
"Enggak sayang. Kita kan cuma syuting di ibukota hari ini, nggak ke puncak lagi. Lagian, Om Dean kan harus kerja sayang. Mommy juga udah sehat." Sahut Naina lembut.
Naina sempat terkejut mendengar pertanyaan Rissa. Ia tak menyangka, bahwa putri kecilnya akan menanyakan orang yang baru beberapa hari dikenalnya.
"Yaaaahhhhh,," Rissa sedikit kecewa mendengar jawaban ibunya.
"Om Dean kan harus kerja juga sayang. Memangnya, sama Mommy aja nggak mau?"
"Kan kalau ada Om Dean juga, jadi lebih ramai Mom. Apalagi Om Dean baik banget." Jujur Rissa.
"Sayang,, Om Dean kan juga punya urusan yang harus diselesaikan. Om Dean juga punya keluarga yang harus dijaga." Jelas Naina lembut sambil mengusap kepala Rissa.
"Mommy,,"
"Heem,,"
__ADS_1
"Where is my dad?"
Deg. Naina medadak bisu. Tubuhnya serasa disambar petir pagi ini. Semua agenda dan rencananya hari ini mendadak lenyap dari otaknya. Pagi yang cerah mendadak gelap gulita hanya karena sebuah pertanyaan sederhana dari putri kesayangannya.
Naina menoleh pada Rissa yang menatapnya penuh harap. Harapan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Kenapa kamu menanyakan itu sayang?" Naina masih mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Rissa.
"Apa Om Delvin itu daddy-ku?" Naina dan Atun terkejut mendengar pertanyaan Rissa.
Atun memang selama ini tak pernah tahu, siapa sosok ayah Rissa atau mantan suami Naina. Ia hanya tahu, jika Naina seorang janda, itu pun Naina yang mengatakannya. Naina tak pernah menceritakan tentang siapa mantan suaminya atau apa pun itu tentang pernikahannya, jadi Atun pun tak pernah menanyakannya. Ia juga tak pernah melihat satu pun foto lelaki di rumah Naina, yang mungkin adalah sosok ayah Rissa. Hanya ada satu foto lelaki di kamar Naina, dan itu adalah ayah Naina.
Jantung Naina berdetak sangat cepat. Belum hilang kepanikan dan keterkejutannya karena pertanyaan Rissa sebelumnya, kini ia ditambah terkejut oleh ucapan Rissa yang sungguh tak pernah Naina bayangkan.
Tubuh Naina bergetar hebat. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri diantara tatapan putri dan asisten rumah tangganya. Perlahan ia mengambil gelas berisi air putih dan mengenggaknya sedikit untuk menetralkan perasaannya.
"Mommy kenapa gugup?" Tanya Rissa polos.
"Kenapa Rissa bilang begitu?" Tanya Naina setelah ia meletakkan gelasnya kembali.
"Kemarin waktu di puncak, banyak yang bilang kalau Rissa mirip sama Om Delvin. Ada juga yang bilang kalau Rissa anak Om Delvin." Jujur Rissa.
Mata Naina membola sempurna. Ia sungguh tak mengira, sudah banyak yang menyadari kemiripan Rissa dengan Delvin. Meski tak begitu mencolok, tapi jika disandingkan, garis wajah Rissa dan Delvin memang cukup mirip. Terlebih, mata biru mereka.
Naina berusaha mencari jawaban paling sederhana yang bisa Rissa terima. Tapi ia juga tak ingin membohongi putrinya. Naina menghela nafasnya pelan.
"Sayang,, dengarkan Mommy! Rissa, nggak perlu memikirkan omongan orang lain! Yang penting, sekarang Rissa fokus sama sekolah dan syuting Rissa. Besok kalau Rissa sudah besar, Mommy akan jelaskan ke Rissa. Oke?" Ucap Naina lembut.
Rissa mengerutkan keningnya. Bibir mungilnya sedikit mengerucut. Tatapannya sedikit kecewa dan bingung.
"Kalau Mommy jelaskan sekarang, nanti Rissa belum faham sayang." Jelas Naina sembari menangkup kedua pipi Rissa. Rissa hanya menatap polos pada ibunya.
"Memang Rissa mau kalau Om Delvin jadi daddy Rissa?" Pancing Naina.
"No Mom." Naina tersenyum kecil.
"Memangnya kenapa?"
Kini giliran Naina yang mengerutkan dahinya. Ia tak menyangka, Rissa bisa berfikiran seperti itu. Atun cekikikan mendengar jawaban Rissa.
"Om Dean?"
Rissa mengangguk gemas. Naina akhirnya tersenyum melihat tingkah polos Rissa. Ia tertawa kecil.
"Sudah, ayo sarapan lagi! Nanti kita terlambat lagi ke tempat syuting." Ajak Naina untuk mengalihkan perhatian Rissa.
Semua pun kembali melanjutkan sarapannya. Pukul delapan pagi, Naina, Rissa dan Atun berangkat ke lokasi syuting. Naina sengaja mengajak Atun, agar ada teman untuk mengobrol jika Rissa sedang melakukan syuting.
Setelah empat puluh menit berkendara, Naina sampai di lokasi syuting. Syuting dilakukan di sebuah rumah dengan gaya arsitektur bangunan Eropa. Rumah yang cukup besar dan terawat.
"Hai cantik!" Sapa seorang laki-laki, kala Rissa sedang dibantu Naina bersiap. Naina dan Rissa menoleh bersamaan.
"Hai Om Delvin!" Sahut Rissa singkat. Naina hanya diam tak merespon.
"Hai Naina!" Sapa Delvin lagi.
Naina menoleh lalu tersenyum. Ia lalu kembali merias Rissa dan mengacuhkan Delvin. Delvin mencoba mendekati Naina. Ia menanyai Rissa beberapa pertanyaan. Rissa pun menjawab sekenanya.
Tak lama, Rissa sudah dipanggil sang sutradara untuk melakukan syuting. Delvin masih tetap di sana untuk mendekati Naina, karena memang adegan Rissa tanpa Delvin.
"Kekasihmu tak ikut Na?" Tanya Delvin tiba-tiba. Ia berusaha akrab pada Naina.
"Kekasih?" Tanya Naina bingung.
"Yang kemarin menemanimu ke puncak. Dia kekasihmu bukan?"
"Oh, Dean. Bukan, dia bukan kekasihku. Dia hanya temanku." Sahut Naina santai.
"Aku kira dia kekasihmu." Celetuk Delvin. Ia menyeringai mendengar jawaban Naina.
"Bukankah dia sepupumu?"
__ADS_1
Jleb. Ekspresi Delvin berubah seketika. Ia terkejut mendengar ucapan Naina. Jantungnya terasa berhenti seketika.
"Tak perlu shock begitu." Sindir Naina yang melihat ekspresi Delvin.
"Dari mana kau tahu Na?" Tanya Delvin sesantai mungkin untuk menutupi kegugupannya.
"Mama Jelita. Aku sudah cukup lama mengenalnya."
"Sial!" Umpat Delvin dalam hati.
"Aku pergi dulu Na!" Pamit Delvin.
"Iya silahkan!" Sahut Naina santai.
Delvin pun segera meninggalkan Naina dan Atun. Ia kembali menghampiri Ivan yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Aahh, sial! Kenapa dia bisa tahu kalau aku sepupu Dean? Dan bagaimana bisa dia kenal Tante Jelita? Pasti Tante Jelita sudah meracuni fikiran Naina." Gumam Delvin sambil berjalan.
"Pasti akan sulit menaklukkan hati Naina jika Tante Jelita sudah menceritakan semuanya. Aarrgghh,," Umpat Delvin kesal.
Sedang di meja Naina, Naina tersenyum lega karena Delvin sudah pergi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari mengamati Rissa yang sedang melakukan adegan bersama Anne.
"Memang benar ya Bu', Tuan Dean itu sepupunya Tuan Delvin?" Tanya Atun tiba-tiba.
Naina menoleh pada Atun. Naina hanya mengangguk.
"Ibu sudah kenal dengan mamanya Tuan Dean sejak lama?"
"Sudah Mbak. Bahkan jauh sebelum aku kenal Dean." Jujur Naina.
"Mama Jelita itu baik banget sama aku Mbak. Katanya, aku mirip sama anak perempuannya yang udah meninggal, adiknya Dean, Rhea namanya."
"Oohh, gitu." Sahut Atun singkat.
"Udah lah Mbak, nggak usah bahas itu." Ucap Naina santai. Karena Naina sebenarnya enggan membahas Dean.
Naina dan Atun pun mengobrolkan hal lain sembari menunggu Rissa syuting. Hingga pukuk dua siang, Rissa telah menyelesaikan syutingnya hari ini. Naina lalu membereskan beberapa perlengkapan Rissa bersama Atun dan bersiap pulang.
"Hai Na,," Sapa seseorang yang mengalihkan perhatian tiga wanita yang bersiap untuk pulang.
"Om Dean?" Ucap Rissa gembira. Rissa langsung turun dari kursinya dan menghambur ke arah Dean. Dean pun langsung menangkap tubuh Rissa dan menggendongya.
"Iya cantik. Sudah selesai?" Tanya Dean.
"Sudah Om."
"Yuk pulang!" Ajak Dean. Rissa mengangguk gemas.
Naina, Rissa dan Atun akhirnya pulang bersama dengan Dean. Dean memilih membawa mobil Naina dan membiarkan Niko membawa mobilnya sendiri. Dengan sedikit paksaan dari Dean pastinya.
Perasaan itu kian tumbuh dan berkembang di hati mantan cassanova itu. Perasaan yang sudah lama tak ia rasakan. Perasaan yang ia bunuh dengan sengaja karena sebuah pengkhianatan dari sang kekasih beberapa tahun lalu, dan akhirnya menjerumuskannya ke dalam lubang hitam yang kelam selama beberapa tahun berikutnya.
Akankah perasaan itu terbalaskan? Ataukah perasaan itu harus kandas karena kenyataan yang tertutup rapat dan belum terungkap?
...****************...
Hai, hai Readers 🤗
Makasih semua yang masih setia membaca kisah Naina sampai di sini 😉
Yuk, yuk jangan lupa like, vote, rate dan komen ya 🙏😉
kritik dan saran juga jangan lupa 👍
Maaf kalau sedikit membosankan alurnya 🙏
Othor masih belajar 😁
Okey, see you next episode ya 😁😁
terima kasih semuanya 😍😘🥰🤩
__ADS_1