
Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu rumah Naina menggema di dalam rumahnya, ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Naina sedang mengecek beberapa laporan properti dan usaha kulinernya. Sedang Rissa, sedang menekuni hobinya yang jarang ia gunakan dalam keseharian. Mereka asik dengan gadget-nya masing-masing di kamar Naina.
"Bu', ada Pak Dean mau bertemu dengan Mbak Rissa." Ucap Atun setelah ia membukakan pintu.
Rissa langsung meluncur turun dari ranjang ibunya. Naina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
"Tolong buatkan minum ya Mbak! Biar Rissa saja yang nemenin Dean. Mbak tolong awasi saja dari belakang ya!" Pinta Naina.
"Iya Bu'." Atun segera meninggalkan kamar Naina.
Naina tersenyum kecil setelah Atun keluar dari kamarnya. Ia teringat kejadian kecil sepulangnya dari rumah orang tua Sinta, satu minggu lalu.
Flashback On
"Perutmu masih sakit Na?" Tanya Dean seraya berjongkok tepat di hadapan Naina yang duduk di salah satu kursi taman.
"Berdirilah De! Jangan seperti itu!" Pinta Naina cepat.
Naina merasa tak nyaman karena ulah Dean yang tiba-tiba berjongkok di hadapan Naina. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian.
"Jawab dulu!"
"Iya udah. Perutku udah baikan." Sahut Naina singkat.
Dean pun segera berdiri lalu duduk di samping Rissa yang sudah lebih dulu duduk di samping Naina.
"Mom, kita main disana!" Rissa menunjuk sebuah ayunan kosong yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka duduk.
Rissa langsung turun dan menarik tangan Naina dan Dean. Naina sedikit tersengal-sengak langkahnya karena tak siap tangannya di tarik Rissa.
"Pelan-pelan sayang! Mommy kesulitan jalannya!" Ucap Dean tiba-tiba.
Naina langsung menoleh. Ada perasaan tak biasa di hatinya. Perasaan yang telah lama tak ia rasakan. Perasaan nyaman ketika ada yang diam-diam memperhatikannya dan peduli padanya.
Sebenarnya, ia sering mendapatkan perhatian dari banyak orang. Meski sikapnya cuek dan cenderung angkuh dan tertutup ketika berhadapan dengan orang lain, tapi tetap saja banyak yang memberikan perhatian khusus padanya. Terlebih kaum para Adam. Pesona Naina sungguh terlalu kuat.
Entah mengapa, ada getaran yang tak biasa ketika kalimat itu meluncur dari mulut Dean. Ada sesuatu yang menyeruak ke dalam hatinya yang telah lama tertidur.
"Perasaan apa ini?" Batin Naina.
Rissa segera berlari menuju ayunan yang ia inginkan. Naina memilih duduk di atas fondasi kecil yang ada di dekat ayunan. Dean pun ikut duduk di sebelah Naina.
"Na,,"
"Yaa,," Sahut Naina seraya menoleh sejenak ke arah Dean.
"Maaf! Aku sering membuatmu kesal dan marah." Ucap Dean tulus.
"Tak apa. Setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda bukan?"
"Kamu mau memaafkanku? Aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku ingin mengulangi perkenalan kita waktu di resto dengan lebih baik."
Naina menatap wajah Dean. Mencoba membaca raut wajah laki-laki yang sering membuatnya kesal. Ia memikirkan sesuatu.
"Tentu. Tapi ada syaratnya." Ucap Naina bangga.
"Apapun yang kamu mau!"
"Belikan es krim untukku dan Rissa."
"Itu saja?"
Naina mengangguk. "Tentu Nona."
Dean pun langsung berdiri di hadapan Naina.
__ADS_1
"Hai Nona! Apa aku boleh tahu siapa namamu?" Ucap Dean seraya mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat Naina.
Naina tersenyum dan menyambut uluran tangan Dean.
"Aku Dean."
"Naina."
Mereka tertawa kecil dengan tangan yang masih saling berpegangan. "Kamu cantik Na."
Ah, di dalam hati Naina tiba-tiba mendadak jadi musim semi. Bunga-bunga bermekaran memenuhi hati kecilnya yang lama kosong. Menghiasi setiap sudut hatinya yang lama tak berpenghuni. Angin segar pun terasa bertiup menyejukkan suasana hatinya.
Pipi Naina langsung merona. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ingin rasanya ia tertawa kecil karena dipuji, tapi ia tahan karena malu.
Dean menatap wajah cantik itu dengan senyuman indahnya. Ia pun masih menggenggam tangan Naina seolah tak ingin melepasnya.
"De, tanganku!" Ucap Naina tiba-tiba.
"Oh, hhehe. Maaf." Sahut Dean sedikit malu.
"Rissa, ayo pulang! Om Dean mau ngajakin beli es krim lho. Rissa mau nggak?" Ucap Naina sedikit berteriak.
"Es krim?" Tanya Rissa seraya menatap Naina dari ayunannya.
Naina mengangguk. Rissa pun segera turun dari ayunannya dan menghampiri Naina dan Dean. Mereka akhirnya meninggalkan taman. Dean pun menepati ucapannya untuk membelikan es krim dua wanita cantik itu.
Flashback Off
"Kenapa aku jadi senyum-senyum gini?" Gerutu Naina di dalam kamarnya.
Lama Dean dan Rissa mengobrol berdua di ruang tamu. Naina pun sudah menyelesaikan pekerjaannya yang sempat menumpuk.
"Mommy." Panggil Rissa tepat di pintu kamar Naina.
"Iya sayang."
"Mommy?" Naina mengerutkan keningnya.
Rissa hanya mengangguk. Rissa pun masuk ke kamar Naina untuk mengambil laptop dan ponselnya, lalu ia bawa ke kamarnya sendiri. Naina pun segera menemui Dean di ruang tamu.
"Kenapa mendadak gugup?" Batin Naina sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Hai De!" Sapa Naina saat ia sampai di ruang tamu.
"Hai Na! Pekerjaanmu sudah selesai?" Sahut Dean dengan senyumannya.
"Oh, sudah. Ada apa?" Jawab Naina sembari duduk di kursi, berhadapan dengan Dean.
"Apa aku boleh minta tolong?"
"Apa?"
"Tersenyumlah!"
Naina kebingungan. Ia mencoba memahami ucapan Dean yang sangat sederhana.
"Kenapa?"
"Tak apa. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum." Jujur Dean.
Naina masih belum faham maksud ucapan Dean. Ia mencoba berfikir sejenak. Menimang-nimang sebuah permintaan sederhana dari laki-laki yang ada dihadapannya. Laki-laki yang dalam satu minggu terakhir cukup menyita perhatiannya.
Bagaimana tidak? Semenjak pulang dari rumah orang tua Sinta seminggu yang lalu, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Dean tak lagi sungkan mengirim pesan atau bahkan melakukan panggilan video pada Naina ketika ia merindukan wanita itu.
Naina pun dengan senang hati membalas pesannya dan melakukan panggilan video dengan Dean. Hubungan mereka berjalan lebih baik.
"Enggak." Sahut Naina datar.
__ADS_1
"Sedikit saja Na!" Rayu Dean lagi.
"Enggak De."
"Ayolah Na! Tersenyumlah, sedikit saja!" Pinta Dean lagi.
"Tersenyumlah, sebelum aku pergi!" Batin Dean.
"Kamu ini kenapa? Nggak biasanya kayak gini?" Sahut Naina sedikit kesal.
"Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Itu saja."
Naina pun menarik kedua sudut bibirnya dengan kesal dan hanya sesaat.
"Yang ikhlas dong! Masak kayak gitu? Kamu jelek kalau kayak gitu." Ejek Dean.
"Emang aku jelek, kenapa?" Sahut Naina lebih kesal.
"Naaa, ayolah!"
Dean pun berdiri menghampiri wanita yang wajahnya sedikit ditekuk karena kesal itu. Ia berjongkok di samping kakinya.
Naina langsung beringsut karena tak nyaman dengan sikap Dean. Ia tak ingin kejadian itu dilihat Rissa atau Atun.
"Kamu ngapain De disitu? Berdirilah!" Pinta Naina gugup.
Ah, hati Naina yang dari tadi sudah gugup, kini makin tak karuan. Ia tak tahu harus bagaimana menyikapi Dean.
"Tersenyumlah! Lalu aku akan berdiri."
Naina akhirnya berdiri dan berjalan meninggalkan Dean menuju jendela depan rumahnya. Sedikit menyibakkan gorden yang sudah tertutup rapat karena hari telah gelap.
Naina menatap keluar jendela. Ia berusaha menenangkan hatinya yang gugup karena laki-laki yang kini bertamu di rumahnya.
Dean menunduk lesu. Ia sungguh hanya ingin melihat senyum Naina yang selalu menjadi semangatnya beberapa hari terakhir. Lalu menyimpannya dalam hati sebagai hal yang akan ia rindukan.
"Naa,," Dean berdiri menghampiri Naina yang berdiri membelakanginya. Ia berdiri di samping Naina. Menatap lekat wajah cantik Naina dari samping.
"Aku pasti akan merindukan wajah itu." Batin Dean.
Naina masih diam tak bergeming. Pandangannya lurus menembus jendela kaca menatap ke taman depan rumahnya.
Dean menghembuskan nafasnya pelan. Ia tak ingin memaksa Naina lagi. Dean memejamkan matanya sejenak.
"Yasudah! Aku pulang dulu Na!" Pamit Dean setelah ia kembali membuka matanya.
"Udah gitu aja? Kamu kesini cuma mau itu?" Tanya Naina heran.
Dean hanya mengangguk. "Maaf, jika aku mengganggumu. Aku permisi Na!"
"Oke."
Dean pun langsung berjalan menuju pintu. Naina pun mengantarnya. Dalam hati kecil Dean, ia berharap bisa melihat senyum Naina sebelum ia pergi.
Tapi ternyata tidak sama sekali. Naina masih diam tak tersenyum sedikit pun.
"Makasih ya Na. Aku pulang dulu! Salam buat Rissa!" Ucap Dean setelah ia berada di depan pintu rumah Naina.
"Iya, nanti aku sampaikan!" Sahut Naina santai.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Dean pun kembali ke mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya. Ia membuka kaca mobilnya dan menoleh pada Naina yang masih berdiri di pintu rumahnya. Berharap, Naina akan memberikan senyum tulusnya meski hanya sejenak. Tapi ternyata tidak.
Dean pun mulai melajukan mobilnya dengam perasaan kecewa. Ia pulang dengan hati yang sedih.
__ADS_1
"Maaf Na."