Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Yang Dinantikan


__ADS_3

Good evening Los Angeles. Siang yang cukup terik di kota dengan sejuta kesibukannya. Kota dengan julukan City of Angels ini, menyambut setiap orang yang tiba di sana dengan hal yang berbeda-beda. Termasuk dengan sejuta pesona hiruk-pikuk kehidupannya.


Naina tiba di LA bersama Dean dan Rissa siang ini. Setelah perjalanan panjang dari Indonesia, mereka akhirnya tiba dengan tubuh yang cukup lelah. Ini adalah kali pertama, keluarga kecil itu pergi ke LA bersama-sama.


Keluarga kecil Naina segera disambut oleh Mia dan Sean yang sudah menunggu di bandara sejak beberapa saat yang lalu. Mereka segera menuju kediaman Wiliam terlebih dahulu.


"Ayo Mas, ke rumah sakit! Aku ingin segera bertemu ibu." Rengek Naina, ketika mereka baru saja masuk ke kamarnya.


"Astaga, Sayang. Kita baru saja sampai di rumah. Istirahatlah dulu! Nanti kita akan ke rumah sakit melihat kondisi ibu." Tolak Dean halus.


"Tapii Mas,,"


Tubuh Naina sedikit oleng. Kepalanya terasa pusing tiba-tiba. Dean yang sedang duduk di tepi ranjang, segera berdiri dan meraih tubuh Naina.


"Lihat! Kamu kelelahan, Sayang. Istirahatlah dulu! Kamu tidak lupa kan pesan dokter kemarin." Ucap Dean, sambil menuntun Naina ke ranjang.


"Aku ingin ketemu ibu, Mas." Rengek Naina sambil menahan rasa pusingnya.


"Iya, nanti kita akan menemuinya. Tapi sekarang, kamu istirahatlah dulu! Rissa juga biar istirahat dulu. Dia juga pasti kelelahan setelah penerbangan tadi." Bujuk Dean perlahan.


Naina akhirnya mengangguk. Dean lalu membantu Naina untuk merebahkan diri di atas ranjang yang begitu lembut. Dengan tubuh yang memang terasa lelah, Naina pun segera terlelap di sana. Dean pun akhirnya ikut beristirahat bersama sang istri.


Saat sore menjelang, Naina sudah tiba di rumah sakit dimana Sekar dirawat. Ia segera menghambur ke pelukan ibunya. Menangis haru penuh kebahagiaan.


"Maaf, Naina tidak menemani Ibu kemarin." Ucap Naina sambil sesenggukan.


"Tidak apa-apa, Sayang. Semua terjadi diluar kendali kita." Jawab Sekar lembut, demi menenangkan hati Naina.


"Tapi kan dulu, Ibu nemenin Naina, waktu Naina melahirkan Rissa. Naina juga ingin menemani Ibu."


"Tak apa, Na. Ibu kurang hati-hati kemarin, hingga terpeleset di rumah."


"Tapi Ibu tidak apa-apa kan? Nggak ada yang sakit kan? Apa perlu Naina buatkan jamu?" Tanya Naina panjang lebar.


"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Kamu lihat sendiri bukan? Ibu sangat baik." Jawab Sekar haru.


Hingga, suara Dean mengalihkan perhatian mereka.


"Sayang, lihatlah! Dia sangat cantik seperti ibu." Sela Dean sambil berjalan mendekati Naina dan Sekar, dengan putri Sekar di gendongannya.


Naina pun segera menanggapi Dean dengan sangat antusias. Ia bahkan segera mengambil alih adik barunya itu dengan senyuman bahagia.


"Mommy! Apa adik-adik Rissa nanti seperti dia?" Tanya Rissa polos.


"Tentu saja Sayang, jika mereka perempuan." Sahut Naina bahagia.


Melihat putri Sekar yang menggemaskan, ditambah antusias Rissa yang begitu besar, membuat hati bumil satu ini, makin tidak sabar ingin segera melahirkan buah hati kedua dan ketiganya.


Keluarga Wiliam dan Dean pun mengobrol banyak hal dan mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Dibumbui canda tawa bahagia dari semua orang, waktu terasa begitu indah. Begitu menyenangkan.

__ADS_1


Setelah empat hari, Sekar diijinkan pulang oleh dokter. Naina pun menyempatkan memeriksakan kandungannya selama ia menemani Sekar di rumah sakit.


Semua penghuni kediaman Wiliam, sangat antusias menyambut kepulangan Sekar. Bahkan, Rendi beserta istri dan anaknya juga ikut menyambutnya. Tak lupa, Ben dan keluarganya, juga ikut menyambut Sekar. Mereka baru tiba pagi tadi.


Naina benar-benar menikmati waktunya bersama Sekar dan kedua kakaknya di kediaman Wiliam. Mereka sangat bahagia, bisa kembali berkumpul seperti dulu. Dan bahkan, kini dalam keadaan yang sungguh sangat baik.


Setelah dua minggu, keluarga Dean dan Ben, memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dua kepala keluarga itu, harus kembali mengurus pekerjaan mereka di tanah air. Dan juga, Rissa pun tak bisa jika lebih lama lagi bolos sekolah.


...****************...


Waktu berjalan dan terus berlalu. Merangkai cerita demi cerita dengan bingkai indahnya di setiap hal yang terlewati. Menjadikan kenangan tersendiri bagi setiap rasa yang mungkin hadir melengkapi cerita.


"Ma! Mama!" Teriakan Dean, menggema dengan sempurna di kediaman orang tuanya.


Keluarga kecil Dean, sudah sejak dua minggu terakhir pindah ke kediaman Jonathan. Itu mereka lakukan, lantaran anak kembar mereka sudah mendekati hari kelahirannya. Usia kehamilan Naina sudah menginjak minggu ke 36.


"Kenapa teriak-teriak?" Sahut Jelita sedikit kesal, sambil berlari dari arah dapur.


Pagi yang tadinya tenang, mendadak sedikit gaduh karena teriakan Dean. Perhatian semua orang, teralihkan oleh suara Dean yang berlari menuruni tangga.


"Itu Ma, Naina mengompol banyak. Katanya ketubannya pecah." Sahut Dean panik.


"Bawa ke rumah sakit!" Pinta Jelita segera.


Dean yang belum berpengalaman sama sekali, menuruti permintaan Naina untuk membantunya turun dan memanggilkan mamanya. Tapi, ia malah meninggalkan Naina di kamarnya sendirian, demi segera memanggil mamanya.


Langkah Dean terhenti segera. Ia segera kembali ke kamarnya untuk menjemput sang istri yang sudah berada di ambang pintu sambil menahan kontraksi dari kedua bayinya.


"Maaf, Sayang. Aku panik." Sahut Dean gusar.


"Mama mana?"


"Mama di sini, Sayang. Ayo ke rumah sakit!" Sahut Jelita sumringah, tapi sedikit cemas.


Naina hanya mengangguk. Ia enggan banyak bicara karena menahan kontraksi bayi kembarnya. Dean yang sedang panik, tak bisa berpikir cepat. Ia hanya menuntun Naina perlahan.


"Kamu ngapain, De? Gendong Naina!" Bentak Jelita.


"Apa? Oh, iya Ma." Sahut Dean segera.


Dean pun dengan sigap membopong tubuh Naina. Naina hanya pasrah, ketika lengan kekar sang suami merengkuh tubuhnya dalam gendongan yang begitu kuat. Karena memang, tubuh Naina bertambah bulat dalam beberapa bulan terakhir.


Jonathan yang sedang menikmati kopi paginya di taman belakang, segera menghampiri istrinya yang sedang menuruni tangga bersama Dean dan Naina. Tak terkecuali Rissa. Ia juga segera keluar kamar dan mengikuti langkah kedua orang tuanya.


"Rissa ikut, Oma!" Pinta Rissa cepat.


"Tentu saja, Sayang. Ayo!" Sambut Jelita bahagia.


Keluarga Jonathan akhirnya pergi ke rumah sakit bersama. Rissa pun memilih bolos sekolah demi menemani ibunya dan menyambut adik kembarnya.

__ADS_1


Pukul delapan pagi. Naina akhirnya melahirkan dua bayi kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki. Semua menyambut bahagia kelahiran dua bayi itu.


Dean yang biasanya begitu tegas dalam segala hal, tak bisa menahan air matanya ketika menemani sang istri melahirkan buah cinta mereka. Ia menangis haru melihat perjuangan istrinya melahirkan bayi mereka dengan jalan normal.


"Terima kasih, Sayang. I love you." Ucap Dean, setelah mendaratkan kecupan hangat di bibir Naina.


Naina hanya mengangguk dan tersenyum. Hatinya sangat bahagia, ia bisa ditemani oleh orang-orang yang sangat menyayanginya saat ini. Bahkan, ada orang yang sangat ia cintai, yang setia menemaninya sejak tadi.


Kabar kelahiran putra kembar Dean, menyebar dengan cepat. Niko dan Sinta, segera menuju rumah sakit untuk melihat putra kembar atasan mereka. Tak lupa, Riska pun turut serta bersama Sinta dan Niko.


Keluarga Ben yang berada di Lombok pun, segera mempersiapkan keberangkatan mereka ke ibukota. Untuk menyambut dan berkenalan dengan keponakan kembar mereka yang juga mereka nantikan.


Tak lupa, keluarga Sekar yang berada di LA, juga antusias mendengar kabar itu. Mereka juga segera mempersiapkan keberangkatan ke Indonesia, setelah berkonsultasi pada dokter, untuk membawa putri mungil mereka terbang jauh untuk berkenalan dengan sepupu barunya.


"Mas, udah siapin nama buat mereka?" Tanya Naina, kala malam itu ia belum bisa tertidur di ruang rawatnya.


"Sudah. Aku sudah mempersiapkan nama untuk mereka." Jawab Dean setelah mengecup kening Naina.


"Siapa, Mas?"


"Sebelum itu, apa kamu tidak ingin memberi mereka nama?"


"Aku belum menemukannya, Mas. Lagi pula, aku sudah memberikan nama pada putri kita dulu. Sekarang, giliranmu memberikan nama pada putra kita."


Dean tersenyum mendengar jawaban Naina.


"Maaf, aku tak disampingmu dulu, saat kamu melahirkan Rissa." Jawab Dean sendu.


"Sudahlah, Mas! Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Jadikan itu pengingat dan pelajaran bagi kita untuk esok." Sahut Naina sambil mengusap tangan Dean yang menggenggam satu tangannya.


Dean pun mengangguk.


"Jadi, siapa nama mereka, Mas?" Tanya Naina penasaran.


"Yang lahir lebih dulu, kita panggil dia, Alex Arkana. Sedang adiknya, kita panggil, Axel Arkana. Bagaimana?"


"Nama yang bagus, Mas. Artinya apa, Mas?"


"Alex Arkana, dia penolong sesama. Sedang Axel Arkana, dia yang membawa kebaikan. Kurang lebih seperti itu artinya."


Naina mengangguk bahagia. Ia segera menarik tubuh sang suami ke dalam pelukannya. Dean pun menyambut Naina dengan perasaan yang tak kalah bahagia.


Hari berganti dan terus berganti. Memberi warna tersendiri bagi setiap hati yang terus hidup. Memberi harapan yang tiada henti bagi setiap jiwa yang selalu mendamba indahnya kehidupan.


Kelahiran bayi Alex dan Axel disambut bahagia oleh semua. Apalagi sang kakak perempuan mereka. Ia bahkan bolos sekolah beberapa hari demi bisa menemani adik kembarnya yang sangat ia nantikan.


Naina dan Dean belajar bersama menjadi orang tua yang terbaik bagi putra-putri mereka. Menjadi sandaran yang selalu bisa diandalkan oleh buah hati mereka.


Karena memang semua butuh proses. Dan proses itu membutuhkan waktu. Dan jelas, Dean dan Naina menikmati setiap waktu itu. Mereka menikmati setiap tumbuh kembang putra dan putri mereka dengan seksama. Agar tak ada penyesalan di kelak kemudian hari.

__ADS_1


Kebahagiaan. Selalu datang di saat yang tepat. Meski selalu ada kesedihan yang terjadi sebelumnya, tapi yakinlah, kebahagiaan itu akan tiba. Bahkan, ia akan tiba di saat kita tidak pernah menduganya.


......~TAMAT~......


__ADS_2