Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Berusaha Berdamai


__ADS_3

Kejujuran. Sesuatu yang begitu mahal harganya. Meski hanya sekedar kalimat sederhana, tapi bisa bermakna begitu besar bagi setiap hal yang meliputinya. Terlebih, jika itu adalah kejujuran pada sang rasa.


"Rissa nggak mau Om Delvin Mom!" Rengek Rissa di sela tangisannya.


Entah sudah berapa kali Rissa mengatakan itu pada Naina sejak dua hari lalu. Tapi Naina tetap memeluknya penuh kehangatan. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi pada putrinya itu.


Kenyataan bahwa Delvin adalah ayah biologisnya, sungguh tak pernah Rissa harapkan. Meski ia pernah sangat mengidolakan sosok Delvin, tapi setelah ia mengenalnya beberapa waktu dan melalui beberapa hal bersamanya, rasa suka itu tidak bertumbuh dengan baik di hati Rissa. Rasa itu malah pudar seiring waktu, karena sikap arogan Delvin yang tanpa sengaja sering ia tunjukkan. Dan Rissa tidak menyukai itu.


Malam ini, Rissa tidur bersama ibunya lagi. Naina tak bisa membiarkan Rissa tidur sendirian disaat suasana hatinya yang sedang tidak baik. Rissa bahkan tidak masuk sekolah karena suasana hatinya yang sedang tak baik sejak kemarin. Dan Naina tak bisa memaksanya untuk itu.


Keesokan paginya, Rissa dan Naina sedang asik bersantai menikmati akhir pekan mereka di taman belakang rumahnya. Rissa bersandar manja di pelukan ibunya yang sedang mengayunkan pelan ayunan mereka.


"Apa Rissa tak mau daddy?" Tanya Naina pelan, sambil mengusap lembut kepala Rissa.


Rissa hanya mengangguk.


"Apa Rissa marah sama Mommy karena daddy biologismu adalah Om Delvin?"


Rissa menggelengkan kepalanya.


"Lantas, kenapa sejak kemarin Rissa bilang nggak mau Om Delvin?"


"Rissa nggak suka sama Om Delvin Mom." Jujur Rissa.


"Kenapa?"


"Om Delvin nggak baik seperti Om Dean Mom."


Naina mengerutkan keningnya.


Rissa lantas menceritakan kejadian saat Delvin mengikuti mobil Niko saat akan mengantar Rissa ke rumah sakit saat Naina di rawat kemarin. Naina terkejut mendengar cerita itu. Ia benar-benar tak tahu tentang kejadian itu.


"Tante Sinta dan Om Niko minta, jangan sampai Mommy tahu tentang itu kemarin saat di rumah sakit." Jelas Rissa.


"Mungkin, Om Delvin dan Oma Jeni hanya khawatir sama Mommy." Jelas Naina pelan, berusaha meluruskan pemikiran sang putri kesayangan, agar tak berpikiran buruk pada orang lain.


"Tapi kan Tante Sinta sudah melarang mereka dengan sopan Mom!" Sanggah Rissa.


"Ya sudah, tak usah memikirkan itu lagi!" Ucap Naina setelah mengecup lembut puncak kepala Rissa.


Rissa pun mengangguk patuh.


"Apa Mommy akan menikah dengan Om Delvin, agar ia jadi daddyku?" Tanya Rissa polos.


"Apa Rissa mau?"


Hati Rissa dilanda kebimbangan. Dalam hati kecilnya, ia ingin memiliki keluarga yang utuh. Memiliki orang tua lengkap seperti teman-temannya. Memiliki ayah yang bisa menemaninya bermain atau mendengar curhatannya kapan pun ia mau.


Tapi, tak bisa Rissa pungkiri, jika calon ayahnya adalah Delvin, itu sungguh tidak ia inginkan. Rasa sayang itu tidak tumbuh dengan baik pada Delvin. Tapi ia malah tumbuh dengan baik pada Dean.


"Rissa mau Om Dean Mom!" Pinta Rissa tanpa ragu.


Naina terpaku mendengar nama itu keluar dari mulut Rissa. Hatinya bergejolak mengingat dia yang berhasil membuatnya merasakan indahnya kembali jatuh cinta.


"Kenapa Om Dean Sayang?"

__ADS_1


"I don't know Mom. But I love him and I want him to be my father." Jawab Rissa polos.


"He's my father Mom. I don't know why, but I can feel it." Imbuh Rissa tanpa ragu.


Naina mengerutkan keningnya mendengar jawaban Rissa. Tak bisa ia pungkiri, ia pun merasakan kedekatan Dean dan Rissa terasa sangat berbeda. Mereka seperti memiliki ikatan hati yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ikatan hati yang begitu kuat.


"Kenapa kamu berkata seperti itu Sayang? Kamu tahu siapa ayahmu kandungmu bukan?"


"Aku tahu Mom. Hanya saja, hatiku tidak ingin jika ia menjadi ayahku. Dan Mommy selalu berkata, hati tak pernah salah."


Ya, Naina selalu mengatakan pada Rissa bahwa apa yang dikatakan hati tak pernah salah. Karena hati, selalu bisa merasakan apa yang tidak terlihat oleh sang mata. Hati selalu punya cara untuk menilai semuanya dengan caranya sendiri.


"Maafkan Mommy Sayang!" Ucap Naina tulus.


Hati Naina sungguh terasa pedih. Ia juga merasakan apa yang Rissa rasakan. Ia ingin menjadikan Dean menjadi ayah Rissa. Tapi, ternyata takdir berkata lain. Dan Naina tak bisa merubah itu.


Sepasang ibu dan anak itu, saling diam dalam kemelut hatinya masing-masing. Mencoba berdamai dengan semua yang kini mereka hadapi. Mencoba menerima segala hal yang Allah berikan pada mereka sebagai tanda sayang-Nya pada mereka.


...****************...


Waktu terus berjalan. Tak ada yang bisa menghentikannya kecuali Sang Maha Kuasa. Menapaki setiap langkah takdir detik demi detik tanpa kita memintanya. Mengalir dan terus mengalir, mengikuti arus takdir yang telah terpatri.


Satu minggu sudah, Dean berangkat ke Jerman bersama Jelita. Jelita benar-benar memisahkan Dean dengan Naina. Tanpa kabar. Tanpa komunikasi. Tanpa celah sedikit pun bagi mereka bisa saling mengetahui kabar satu sama lain.


Dean masih belum berkantor sejak ia sampai di Jerman. Padahal, biasanya ia langsung berkantor, bahkan sejak pesawatnya mendarat di Jerman. Ia kini masih berusaha menata hati dan pikirannya yang seolah tertinggal di Indonesia bersama semua kenangan indahnya dengan Naina dan Rissa.


Jelita masih membiarkan Dean berdamai dengan keadannya kini. Ia tak ingin memaksa putranya itu untuk segera berkantor. Karena ia tahu, Dean benar-benar kehilangan Naina dan Rissa.


Jonathan sebenarnya sudah mencoba merayu Dean, agar menyibukkan dirinya dengan banyak hal baik, agar ia tak terlalu fokus dengan Naina dan Rissa. Tapi itu belum berhasil. Dean masih betah dengan awan hitam yang menaungi hatinya semenjak ia masih di Indonesia.


Naina berusaha tetap tegar demi putrinya. Ia tetap berusaha bersikap sebiasa mungkin di depan Rissa, agar psikis Rissa tidak lebih terguncang. Naina pun tetap bekerja seperti biasa. Karena ia juga sadar, ia mempunyai tanggung jawab seorang putri yang harus ia jaga.


Sedangkan Rissa, ia baru hari ini berangkat ke sekolah. Hampir satu minggu ia tidak berjumpa dengan guru-gurunya di sekolah. Ia masih dilanda perasaan yang tak beraturan, hingga membuatnya enggan untuk pergi ke sekolah. Dan Naina tak mempermasalahkan itu. Bagi Naina, yang penting Rissa bisa melewati ini semua, meski perlahan.


Naina pun menolak beberapa tawaran wawancara untuk Rissa. Ia tak ingin lagi, Rissa sibuk dengan dunia keartisannya. Jadi Rissa, bisa fokus dengan pendidikannya saja sementara ini.


Kumandang adzan isya mulai bersahutan dari pengeras masjid. Para muadzin dengan suara indahnya, mulai mengagungkan nama Sang Pencipta dengan nada yang berbeda-beda. Memberikan suasana yang menentramkan hati dan melegakan rasa.


Naina dan Rissa bersiap pergi ke masjid malam ini. Tak lupa, Atun pun ikut serta untuk pergi melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Tiga orang wanita itu berjalan santai menuju masjid yang letaknya tak begitu jauh dari rumah mereka.


Saat muadzin mengumandangkan iqomah, sebuah mobil mulai terparkir di depan rumah Naina. Dua orang penumpangnya pun segera turun dan masuk ke halaman rumah Naina yang pintu gerbangnya tak tergembok. Mereka pun berjalan menuju teras rumah Naina.


Tok, tok, tok.


Seorang laki-laki mengetuk pintunya dengan hati bahagia. Mereka tak sabar ingin segera menemui Naina dan Rissa. Mereka membawa sebuah kejutan untuk sepasang ibu dan anak itu. Mereka Delvin dan Jenita.


"Mereka kayaknya nggak ada Vin." Ucap Jenita setelah tak mendapat sahutan apapun dari dalam rumah.


"Iya Ma. Sebentar, Delvin coba telepon Naina." Usul Delvin.


Delvin pun mulai mencoba menghubungi Naina. Tapi hasilnya sama saja. Tak ada jawaban apapun dari Naina.


"Atau mungkin, mereka sedang sholat Vin." Celetuk Jenita setelah mendengar kumandang iqomah dari salah satu masjid yang letaknya agak jauh dari rumah Naina.


"Oh iya Ma. Mama sih tadi, nggak mau nunggu selesai waktu isya dulu!" Gerutu Delvin.

__ADS_1


"Mama kan udah nggak sabar Vin. Biar rencana kita cepat terlaksana." Sahut Jenita semangat.


"Yaudah, kita tunggu dulu sebentar Ma! Siapa tahu, sebentar lagi mereka selesai." Usul Delvin lagi.


Jenita pun mengangguk setuju. Mereka pun lantas duduk di kursi yang ada di teras rumah Naina sambil menunggu Naina membukakan pintunya.


"Itu mobil siapa Mom?" Tanya Rissa saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya dari kejauhan.


"Itu sepertinya mobil Om Delvin." Sahut Naina datar.


"Rissa nggak mau ketemu Om Delvin!" Tolak Rissa cepat.


"Tapi Sayang, dia kan ayahmu." Rayu Naina pelan.


"No Mom! He's not my daddy." Tolak Rissa tegas


Naina menghela nafas pendek. Ia tak ingin memaksa putrinya sementara ini untuk hal itu. Jadi, ia membiarkan Rissa dengan keputusannya.


"Oke Sayang! Nanti Rissa belajar di kamar saja ya, biar Mommy yang menemuinya! Tapi, Rissa tetap harus menyapa Om Delvin ya!" Pinta Naina pelan-pelan.


"Oke Mom." Sahut Rissa singkat.


Dan saat sampai di depan rumah, dua tamu Naina segera menyambut sang empunya rumah dengan senyuman yang sangat ramah. Mereka bahkan mencoba menyapa Rissa yang menanggapi mereka dengan datar.


"Silahkan masuk Tante Jenita, Delvin! Saya ke dalam sebentar! Dan silahkan duduk!" Pamit Naina.


"Iya Na, terima kasih." Jawab Delvin ramah.


Naina pun meninggalkan Jenita dan Delvin di ruang tamu. Ia kembali ke kamarnya untuk melepaskan mukenanya. Rissa pun segera ke kamarnya setelah bersalaman dengan Jenita dan Delvin.


"Ada apa ya Tante, kesini malam-malam?" Tanya Naina tanpa basa-basi.


"Mama yang nggak sabar Na." Jujur Delvin


"Vin!" Tegur Jenita.


"Iya, iya Ma." Jawab Delvin sekenanya.


"Ada apa Tante?" Tanya Naina lagi.


"Begini Na, mengenai hasil tes DNA Rissa dan Delvin,," Ucapan Jenita terpotong, karena ia bingung mengungkapkan maksud hatinya.


"Iya Tante. Apa Tante ingin melihat hasilnya?" Tanya Naina ramah.


"Bukan begitu Na. Aku percaya padamu dan Delvin."


"Lalu?" Tanya Naina bingung.


"Aku ingin ikut bertanggung jawab atas Rissa Na! Dia juga putriku." Sela Delvin.


"Iya, kamu punya tanggung jawab atas Rissa." Jawab Naina datar.


"Maka dari itu, kami kemari ingin melamarmu Na. Aku ingin menjadi ayah Rissa yang sah secara hukum." Jelas Delvin.


"Apa?" Ucap Naina tak percaya.

__ADS_1


"Menikahlah denganku Na!"


__ADS_2