Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Bertemu Seseorang


__ADS_3

Matahari mulai terbenam. Menjadi pertanda bahwa bulan dan bintang akan mulai menghiasi langit malam. Menjadi pertanda, bahwa satu hari yang panjang telah terlewati kembali.


Tak terasa, sudah satu bulan berlalu sejak Naina dilamar oleh Delvin dan Jenita. Dan sampai saat ini, ia belum memberikan jawabannya. Hatinya masih dilanda kebimbangan besar.


Dan selama dua minggu terakhir, Delvin sering menjemput Rissa sepulang sekolah. Meski ia harus meminta izin pada Naina terlebih dahulu untuk melakukan itu, ia tak keberatan. Ia berusaha menjadi lebih dekat dengan Rissa dan merebut hati Rissa.


"Mom!" Panggil Rissa manja saat sepasang ibu dan anak itu sudah berada di bawah selimut yang sama malam ini.


"Iya Sayang." Jawab Naina setelah mengecup puncak kepala Rissa.


"Apa Mommy akan menikah dengan Om Delvin?"


"Apa kamu menginginkannya Sayang?"


Rissa terdiam.


"Yang terpenting buat Mommy, hanya kebahagiaanmu. Jika kamu bahagia dekat dengan ayahmu, Mommy akan menikah dengan Om Delvin. Tapi jika tidak, Mommy tidak akan menikah dengannya."


"Om Delvin selalu bilang, bahwa dia ayahku dan dia menyayangiku. Apa itu benar Mom?"


"Apa kata hatimu Sayang?"


"Kadang, aku merasakannya. Tapi, kadang tidak sama sekali."


"Mommy tidak akan memaksamu untuk apapun. Jika kamu memang menginginkan Om Delvin untuk menjadi daddymu seutuhnya, Mommy akan menerima lamarannya. Tapi jika tidak, Mommy akan menolaknya."


"I love you Mom."


"Mommy juga menyayangimu Sayang. Selalu."


Naina memeluk erat tubuh Rissa yang sudah memeluknya lebih dulu. Sepasang ibu dan anak itu saling berpelukan dalam dinginnya malam di bawah selimut hangat mereka.


Keesokan paginya, tepat akhir pekan. Naina dan Rissa menghabiskan waktu mereka bersama seperti biasanya. Dan tanpa Naina ketahui, Rissa mengundang Delvin dan Jenita untuk datang ke rumahnya hari ini.


Untuk apa? Untuk memberikan jawaban atas lamaran yang Delvin berikan pada Naina.


"Bagaimana kabarnya Tante?" Sapa Naina ramah.


"Baik. Dimana Rissa? Dia yang meminta kami datang." Jawab Jenita bahagia.


"Rissa?" Ucap Naina terkejut.


"Iya. Rissa meneleponku kemarin. Dia memintaku dan Mama datang ke rumah hari ini." Jelas Delvin.


"Oh, begitu rupanya. Sebentar, akan saya panggilkan."


Naina segera beranjak dari duduknya. Ia segera mencari keberadaan putri semata wayangnya itu. Yang ternyata, sedang merapikan pakaiannya sembari menonton acara kartun kesukaannya.


"Rissa! Apa kamu yang mengundang Oma Jeni dan Om Delvin datang?" Tanya Naina setelah ia duduk dan memangku Rissa di sofa depan tv.


Rissa menganggukkan kepalanya.


"Untuk apa Sayang?"


"Untuk menjawab pertanyaan Mommy kemarin."


"Pertanyaan Mommy?"


Rissa kembali mengangguk.


"Pertanyaan, apa Rissa mau kalau Om Delvin jadi ayah Rissa seutuhnya." Imbuh Rissa.


"Lalu?"


Rissa segera membisikkan sesuatu ke telinga Naina. Naina tersenyum kecil mendengar jawaban Rissa.


"Jika memang itu yang putri Mommy inginkan, Mommy akan melakukannya untukmu."


"Thank's Mom." Ucap Rissa sambil memeluk Naina dengan erat.


"Tentu Sayang. Apapun demi kebahagiaanmu." Jawab Naina sambil membalas pelukan Rissa.


"Ayo, temui Oma Jeni dan Om Delvin! Mereka sedang menunggumu." Ajak Naina.

__ADS_1


Rissa pun mengangguk kembali. Ia segera turun dari pangkuan ibunya dan segera berjalan bersama sang ibu untuk menemui kedua tamunya.


Jenita dan Delvin menyambut Rissa dengan senyum bahagia mereka. Mereka memiliki firasat, bahwa Rissa dan Naina akan memberikan jawaban atas lamaran mereka hari ini. Dan entah kenapa, mereka memiliki firasat yang baik akan hal itu.


Jenita dan Delvin mengobrol beberapa hal bersama Rissa dan Naina. Hingga akhirnya, Rissa mengungkapkan isi hatinya.


"Om, apa Om mau jadi ayah Rissa?" Tanya Rissa polos.


"Bukankah kamu putriku Cantik? Jadi aku adalah ayahmu. Kita sudah melakukan tes DNA bulan lalu." Jawab Delvin cepat.


"Maksud Rissa, dia ingin kamu menjadi ayahnya seutuhnya." Jelas Naina berat hati.


Jenita dan Delvin menatap Naina penuh tanda tanya. Mereka bagaikan tanah kering, yang mendapatkan hujan setelah panjangnya penantian. Apa yang mereka harapkan akan segera terkabulkan.


"Jadi, Om boleh menikah dengan Mommy kamu?" Tanya Delvin meyakinkan, setelah menoleh pada Rissa yang duduk di samping Naina.


"Iya Del, aku menerima lamaranmu." Jawab Naina datar.


Hati Jenita dan Delvin sangat bahagia. Mereka sungguh tak menyangka, Naina dan Rissa akan menerima lamarannya secepat ini.


Saking bahagianya, Delvin berdiri dan menghampiri Naina. Ia segera memeluk Naina begitu saja tanpa permisi. Naina segera meronta.


"Jaga sikapmu Del! Kita belum menikah." Tegur Naina tegas.


"Maaf Na, aku terlalu bahagia!" Jawab Delvin sekenanya setelah melepaskan pelukannya.


"Terima kasih Na!" Imbuh Delvin.


"Ini semua karena Rissa." Jujur Naina.


Delvin tersenyum. Ia pun segera meraih tubuh Rissa dan menggendongnya.


"Terima kasih Sayang!" Ucap Delvin bahagia.


Rissa yang tak siap digendong Delvin, hanya tersenyum kaku. Tapi, dalam hati kecilnya ia bahagia. Bagaimanapun, ia tetaplah seorang anak-anak yang mendambakan kasih sayang kedua orang tuanya seutuhnya. Layaknya teman-temannya di sekolah.


Lalu, bagaimana dengan Naina?


Naina menerima lamaran Delvin demi Rissa. Ia sungguh ingin putrinya itu bahagia karena memiliki keluarga yang utuh. Karena memang, kedua orang tuanya masih ada semua.


Dan tanpa banyak basa-basi, mereka semua segera menetapkan tanggal pernikahannya. Jenita dan Delvin sungguh tidak sabar ingin segera memboyong Naina dan Rissa. Dan pastinya, segera melanjutkan rencana mereka ke langkah selanjutnya.


Mereka akhirnya memutuskan, akan menggelar acara pernikahan sebulan lagi. Tapi dengan syarat, tak ada paparazi atau pun peliput berita yang meliput acara itu. Mengingat, nama Delvin kini sedang ramai diperbincangkan masyarakat karena kesuksesan karirnya.


Delvin sebenarnya keberatan dengan syarat itu, tapi ia berusaha mengalah demi kelancaran rencana yang ia buat. Dan semua urusan pernikahan, akan diurus oleh Jenita dan Delvin. Naina hanya perlu mempersiapkan diri saja.


...****************...


Suara rintik hujan saling bersahutan dengan suara-suara alam yang lain pagi ini. Awan hitam masih setia menaungi langit ibukota sejak tadi malam. Membuat sang mentari, seolah enggan menampakkan sinarnya pagi ini.


Pagi ini, Naina sedang bersiap mengantar Rissa ke sekolah seperti biasa. Sepasang ibu dan anak itu, kemarin baru saja melakukan fitting baju untuk acara pernikahan Naina dan Delvin tiga minggu lagi. Rona bahagia sangat terlihat jelas di wajah Rissa.


"Syukurlah, jika kamu bahagia Sayang." Batin Naina saat melihat wajah putrinya yang makin hari makin bahagia.


Rissa pun kini sering menghabiskan waktu bersama Delvin sepulang sekolah. Delvin sering menjemputnya ke sekolah dan mengajaknya berjalan-jalan untuk menjadi lebih dekat dengan Rissa. Dan Naina membiarkan itu, karena memang seperti itulah seharusnya.


Naina semakin menyibukkan dirinya. Ia tak ingin terlarut oleh perasaannya sendiri yang sebenarnya berat untuk menikah dengan Delvin. Tapi demi putri kesayangannya, ia rela melepaskan kebahagiaannya sendiri.


"Maaf Bu! Pukul satu nanti, Ibu ada Janji temu dengan Tuan Wiliam Robert dari Amerika." Sela Sinta sebelum jam makan siang tiba.


"Baiklah. Dimana kita akan bertemu dengannya?" Jawab Naina datar, dengan mata dan tangan yang sibuk membalik kertas di atas mejanya.


"Beliau meminta bertemu di Rhea Resto." Ucap Sinta pelan.


Naina menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Baiklah. Kita sekalian mengunjungi Zee Cafe nanti." Ucap Naina sambil menoleh pada Sinta yang sudah berdiri di depan mejanya sejak tadi.


"Baik Bu. Dan satu lagi Bu. Beliau akan mengajak istrinya nanti. Saya dengar, beliau orang Jogja seperti Ibu."


"Benarkah?" Sahut Naina antusias.


"Iya Bu. Dia istri kedua Tuan Robert. Mereka menikah tiga tahun lalu." Jelas Sinta.

__ADS_1


"Baiklah. Siapa namanya?"


"Saya kurang tahu Bu tentang hal itu. Saya dengar, Tuan Robert merahasiakan identitas istrinya demi melindunginya."


"Begitu rupanya. Nyonya Robert sangat beruntung." Jawab Naina dengan senyum kecilnya.


"Iya Bu."


"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu! Persiapkan saja yang akan kita bawa untuk pertemuan nanti!"


"Baik Bu."


Sinta pun kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dan saat jam makan siang tiba, ia kembali menjadi asisten pribadi yang siap memarahi atasannya jika sang atasan sampai terlambat makan. Karena akan berpengaruh buruk pada kesehatan sang atasan.


"Kita makan di Zee Cafe saja!" Ajak Naina.


"Baik Bu!"


Naina dan Sinta segera meluncur menuju Zee Cafe. Mereka membelah kemacetan siang ibu kota dengan mobil pribadi Naina.


Saat sampai di Zee Cafe, kondisi kafe sedang cukup ramai. Semua meja di lantai satu sudah terisi. Di lantai dua pun hanya tersisa dua meja kosong.


"Kita makan di kantor saja! Kafe sedang ramai." Pinta Naina setelah melihat kondisi kafenya.


"Baik Bu!"


Sinta segera memesankan makan siang untuk Naina dan dirinya. Mereka menghabiskan waktu makan siang di ruang kantor sembari menikmati makanan mereka. Sinta pun tak lupa mengecek laporan mingguan kafe setelah ia selesai makan siang.


Dan saat jarum jam hampir menunjuk pada pukul satu siang, Naina dan Sinta segera keluar kafe dan berpindah ke bangunan sebelah, Rhea Resto. Sinta mencoba menghubungi asisten pribadi klien yang akan ia temui bersama Naina. Dan ternyata, mereka sudah menunggu di sebuah meja yang telah mereka pesan di lantai dua. Naina dan Sinta pun segera menuju lantai dua.


"Good afternoon Mr. Wiliam Robert. Nice to meet you." Sapa Naina sangat ramah sambil mengulurkan tanganya untuk menjabat tangan lawan bicaranya.


"Good aftermoon Miss Naina Andini. Nice to meet you too." Jawab laki-laki paruh baya dengan wajah bule tulennya yang menyambut hangat uluran tangan Naina.


"Anda bisa berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan Tuan Robert, Nona Naina. Beliau sudah cukup fasih berbicara dengan Bahasa Indonesia." Sela sang asisten yang bernama Joe.


Naina dan Sinta menoleh pada Joe dengan tatapan tidak percaya. Mereka pun terkejut mendengar Joe yang berwajah bule itu, juga fasih berbicara Bahasa Indonesia.


"Yang dikatakan asisten saya benar. Kami bisa berbahasa Indonesia cukup baik Nona Naina." Imbuh Wiliam.


Naina dan Sinta saling pandang dan tersenyum.


"Baiklah jika seperti itu Tuan Robert. Dan maaf, kami sedikit terlambat!" Ucap Naina merendah.


"Tentu tidak Nona. Ini bahkan belum ada pukul satu. Kami yang datang lebih awal karena sekaligus makan siang di sini." Jelas Wiliam.


"Begitu rupanya." Jawab Naina ramah.


"Oh iya, silahkan duduk Nona!" Pinta Wiliam cepat.


"Terima kasih Tuan." Jawab Naina.


Mereka berempat pun segera duduk. Naina dan Sinta duduk berdampingan. Sedang di sisi lain meja, Wiliam dan Joe juga duduk berdampingan.


"Saya dengar, Anda mengajak istri Anda hari ini?" Tanya Naina penasaran.


"Iya Nona, Anda benar. Dia sedang ke toilet. Dia ingin bertemu dengan Anda." Jelas Wiliam.


"Saya?" Tanya Naina keheranan.


"Oh, itu dia istri saya." Ucap Wiliam dengan senyumannya, yang ia tujukan untuk sang istri.


Naina sangat penasaran dengan sosok istri Wiliam. Apalagi setelah apa yang Wiliam katakan barusan. Ia jadi ingin tahu, seperti apa istri sang pebisnis properti handal yang ingin bekerja sama dengannya.


Naina mulai mendengar langkah kaki dengan sepatu seorang wanita semakin mendekat. Oh, hatinya makin berdebar hanya karena ucapan Wiliam tadi. Ia sungguh ingin tahu, seperti apa sosok wanita yang ingin bertemu dengannya.


"Dia sudah di sini Sayang." Ucap Wiliam cepat, saat sang istri tiba di mejanya.


Naina mendongakkan wajahnya. Ia pun segera berdiri untuk menyalami wanita yang membuat hatinya sedikit berdebar. Ia memutar sedikit tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan wanita itu. Dan wanita itu pun memutar tubuhnya bersamaan dengan Naina.


Bola mata Naina membulat sempurna menatap wajah wanita di hadapannya. Tubuhnya seketika membeku tak dapat bergerak. Tenggorokannya tercekat tak bisa mengeluarkan suara. Bibirnya pun terasa kaku untuk berucap.


"Ibu?" Sebuah kata itu akhirnya keluar dari mulut Naina.

__ADS_1


__ADS_2