Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Kedatangan Sinta


__ADS_3

Bulan dan bintang mulai bertahta. Menjadi pelita, kala sang surya menjalankan tugasnya untuk belahan bumi yang lain. Menerangi gelapnya malam yang selalu menyapa para makhluk-Nya.


Naina teringat pertanyaan Delvin sebelum ia turun dari mobilnya tadi. Sebuah pertanyaan yang terdengar cukup serius di telinganya. Ekspresi wajah Delvin pun nampak tidak sedang bercanda.


"Apa maksud Delvin menanyakan itu?" Gumam Naina lirih kala ia sudah merebahkan tubuhnya di samping tubuh Rissa.


Naina mulai berkutat dengan pikirannya. Mencoba mencari maksud Delvin dari sikapnya hari ini. Naina melirik sejenak pada Rissa yang sudah tertidur lelap sepulangnya dari makan malam bersama Delvin tadi.


"Apa dia mencoba mendekatiku dan Rissa? Lalu apakah aku harus mengatakan yang sejujurnya padanya, bahwa Rissa adalah putrinya? Apa dia akan mempercayainya?" Batin Naina.


Tubuh yang juga merasa lelah, membuat Naina pun terlelap menyusul gadis kecilnya. Ia pun dengan cepat terlelap menyusup Rissa, sembari memeluknya hangat.


Pagi menjelang. Hari ini, Lea dan Hera akan kembali ke Lombok. Urusan Ben di Jakarta sudah selesai. Jadi, ia pun harus segera kembali ke Lombok untuk mengurusi pekerjaannya kembali.


Naina mengantar Lea dan Hera ke bandara setelah mengantar Rissa ke sekolah. Hati Naina seakan tak rela melepas kepulangan dua kakaknya itu kembali bersama keluarganya.


"Kalau ada apa-apa cerita ya Na! Jangan dipendam sendirian!" Saran Lea sebelum ia masuk ke pesawat.


Naina hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Apalagi tentang Dean. Kami mendukung semua keputusanmu Na. Tapi ingat, kamu harus bahagia! Oke?" Imbuh Lea yang langsung memeluk tubuh Naina.


"Mbak Lea sama Mbak Hera juga harus bahagia, ya!" Sahut Naina tulus.


Lea dan Hera mengangguk bersamaan. Mereka pun lantas meninggalkan Naina sendirian di bandara. Naina juga lantas meninggalkan bandara untuk kembali ke rutinitasnya, bekerja. Ia sudah ada janji bertemu dengan rekan bisnisnya hari ini. Hari yang sibuk bagi Naina.


Malam harinya, Naina dan Rissa baru saja selesai makan malam. Saat bel di rumahnya berbunyi.


"Biar saya saja Mbak! Mbak Atun beresin meja makan saja. Itu pasti Sinta, dia sudah bilang mau kesini tadi." Ucap Naina seraya berdiri dari kursinya.


Naina pun segera membukakan pintu rumahnya. Dan benar, Sinta berdiri dengan tegapnya di depan pintu rumah seorang diri.


"Masuk Sin!" Pinta Naina tulus.


"Iya Bu', terima kasih." Sinta pun masuk ke rumah dan mengikuti langkah Naina ke dalam.


"Hai Tante!" Sapa Rissa.


"Hai Cantik! Kamu nggak belajar?" Sahut Sinta ceria.


"Ini mau belajar lagi Tante, habis makan malam."


"Kamu sudah makan malam Sin?" Tanya Naina menghentikan langkahnya.


"Oh, sudah Bu'." Jujur Sinta.


Naina tersenyum padanya.


"Rissa belajar di kamar ya! Mommy mau ngobrol sama Tante Sinta di teras belakang." Pinta Naina.


"Oke Mom."


Rissa segera menuju kamarnya. Ia pun kembali berkutat dengan pekerjaan rumahnya yang cukup banyak malam ini.


Naina pun meminta Atun untuk beristirahat setelah menyajikan minuman dan camilan untuk Sinta. Karena memang pekerjaan Atun sudah selesai hari ini.


"Kenapa Sin? Nggak ada masalah kan sama kantor?" Tanya Naina setelah Atun masuk ke kamarnya.


"Enggak Bu'. Sayaa,," Sinta tak enak hati ingin mengungkapkan maksud hati kedatangannya malam ini.


"Kamu mau izin cuti menikah?" Terka Naina sambil menatap lurus ke taman belakang.


"Eh,," Sinta terkejut karena Naina sudah tahu maksud kedatangannya.


"Iya Sin. Tentu aku akan memberikannya padamu. Kamu mau izin berapa hari?" Tanya Naina tulus.


"Tiga hari saja Bu', sudah cukup." Jawab Sinta tak enak hati.


"Apa? Tiga hari? Kamu bercanda Sin? Kamu kan mau menikah, bukan sekedar liburan."


"Tapi Bu', itu sudah cukup. Lagi pula, kantor sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Ibu akan kelelahan jika mengatasinya sendiri."

__ADS_1


"Apa kamu berniat menikah lagi nanti, setelah menikah dengan Niko?" Goda Naina.


"Maksud Ibu?"


"Kamu itu kan mau jadi pengantin, masak iya cuma libur dua hari. Kamu nggak mau bulan madu sama Niko? Nggak mau menikmati masa indah pengantin baru sama suamimu?" Cibir Naina.


"Kayak kamu pengalaman aja Na!" Sindir Naina pada dirinya sendiri dalam hati.


"Ya mau Bu' kalau itu, hhehe." Jawab Sinta malu-malu.


"Terus, kenapa cuma minta libur tiga hari?"


"Kasihan Ibu nanti ngurusin kantor sendirian."


"Kamu tak perlu memikirkan itu. Kamu hanya perlu memikirkan pernikahanmu nanti. Urusan kantor, biar aku yang tangani."


"Tapi Bu',,"


"Pokoknya, aku kasih kamu cuti dua minggu. Terhitung setelah hari pernikahanmu. Dan tiga hari sebelum kamu menikah, kamu sudah bisa pulang untuk mengurusi pernikahanmu di rumah."


"Itu lama sekali Bu'?"


"Enggak Sin. Dan, tak ada tawar-menawar lagi." Tegas Naina.


Sinta yang memang sudah hafal sifat Naina, ia akhirnya menuruti permintaan Naina. Ia menerima masa cuti pernikahannya yang ia rasa terlalu lama. Tapi ia juga bersyukur, Naina sangat pengertian dan perhatian padanya.


"Jadilah istri yang baik untuk Niko Sin! Aku harap, kehidupan kalian bahagia setelah pernikahan nanti!" Ucap Naina tulus.


"Terima kasih Bu'."


"Ah, akankah aku juga bisa merasakannya Ya Allah? Masa indah itu bersama suamiku, orang yang aku cintai dan juga mencintaiku apa adanya. Dan juga bisa menerima Rissa seutuhnya." Batin Naina perih.


"Oh iya Sin! Besok, kalau Niko melarangmu bekerja dengan alasan apapun, katakan sejujurnya padaku! Jangan kau sembunyikan!" Ucap Naina berusaha mengalihkan gundah hatinya.


"Kami sudah pernah merundingkannya Bu'. Mas Niko masih mengizinkan saya bekerja setelah menikah." Jujur Sinta.


"Oke." Sahut Naina lega.


"Bu',," Panggil Sinta ragu-ragu.


"Iya,," Naina menoleh pada Sinta dengan santai.


"Apa Ibu tak ingin menikah lagi? Pak Dean sepertinya memiliki niat yang serius pada Ibu." Tanya Sinta perlahan. Ia takut akan menyinggung perasaan Naina.


Naina hanya diam. Ia kembali menatap lurus ke arah taman belakang rumahnya. Hatinya bergelut lagi karena pertanyaan Sinta.


"Maaf Bu', jika pertanyaan saya lancang." Ucap Sinta tak enak hati.


Naina berdiri dan melangkah menuju tepi teras. Netranya masih setia menatap ke depan tanpa menoleh pada Sinta. Sinta yang merasa tak enak hati, ikut berdiri dan menghampiri Naina.


"Saya minta,," Ucap Sinta cepat, tapi dipotong oleh Naina.


"Aku tak bisa menikah Sin! Apalagi dengan Dean, itu sangat mustahil." Ucap Naina getir.


"Kenapa Bu'?"


"Karena Rissa."


"Rissa? Kenapa dengannya Bu'? Apa Pak Dean tak bisa menerima Rissa?"


"Ada satu hal yang tak kamu ketahui Sin. Dan itu, hanya diketahui oleh Mbak Lea, Mbak Hera, Mas Ben, dan Ibu Sekar." Sela Naina.


Sinta yang tadi menunduk tak enak hati, mencoba menatap wajah atasannya dengan seksama. Mencoba membaca raut wajahnya dari sisi kirinya.


"Rahasia yang bahkan Rissa juga tak tahu tentang itu." Imbuh Naina seraya menoleh ke belakang, untuk melihat jika saja putri kecilnya berada tak jauh darinya.


Tanpa Naina dan Sinta ketahui, Rissa ternyata sudah tertidur di kamarnya karena kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah yang cukup banyak hari ini. Bahkan, ia belum selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.


"Iyaa???"


"Aku belum pernah menikah Sin. Aku bukan janda." Jujur Naina sambil menatap lembut wajah Sinta.

__ADS_1


"Tapi Rissa, dan data diri Ibu?"


"Aku memanipulasinya. Aku meminta seseorang memalsukan data diriku empat tahun lalu." Naina kembali menatap lurus ke taman belakangnya.


"Rissa?"


"Dia putriku. Putri kandungku." Naina mengambil nafas panjang. Mencoba mengambil kekuatan dari alam untuk mengatakan kejujuran itu pada Sinta.


"Enam tahun lalu, aku menjual keperawananku pada seorang cassanova demi uang, untuk operasi ginjal nenekku yang sudah merawatku setelah kedua orang tuaku meninggal. Dan aku hamil karena itu."


Sinta mengatupkan tangannya kemulut. Ia terkejut mendengar ucapan Naina, yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Kenyataan yang sungguh tak pernah ia bayangkan.


Naina pun menceritakan kisahnya enam tahun lalu pada Sinta. Bagaimana ia harus bertaham hidup ditengah hinaan dari lingkungannya. Hingga harus menerima kenyataan bahwa ia hamil seorang anak dari laki-laki yang tak ia ketahui identitasnya.


Tanpa terasa, air mata itu mengalir lembut di pipi Naina. Mengingat masa lalu kelamnya, selalu bisa membuatnya menitikan air mata. Mengingat betapa berat perjuangannya melawan mulut-mulut pedas dengan lidah tanpa tulang. Sungguh, membuat hatinya selalu terasa pedih, meski ia berhasil melewatinya.


"Jadi, siapa ayah Rissa Bu'?" Tanya Sinta sehalus mungkin.


"Setelah sebulan pencarian, Romo mendapat sebuah nama. Ah ya, kamu pun mengenalnya." Sahut Naina sebiasa mungkin.


"Siapa Bu'?"


"Delvin. Delvin Dewangga. Dia ayah Rissa."


"Delvin? Lawan main film Rissa yang baru saja dirilis?"


"Iya. Itu yang Romo katakan, sebelum akhirnya ia dibunuh oleh orang yang tak diketahui identitasnya hingga kini." Nada bicara Naina mulai biasa kembali.


"Lalu, apa Delvin sudah mengetahuinya?"


"Belum, aku belum mengatakannya. Ada sesuatu yang mengganjal hatiku, hingga membuatku berpikir berkali-kali untuk mengatakannya."


"Apa itu Bu'?"


"Entahlah Sin. Ada sesuatu yang tak benar rasanya. Rissa sepertinya tak memiliki ikatan apapun dengannya meski aku sudah mencoba mendekatkan Rissa pada Delvin."


"Apa Pak Dean tak bisa menerima itu?"


"Apa kamu tak tahu Sin? Dean dan Mama Lita punya punya dendam tersendiri pada Delvin."


"Maksud Ibu?"


"Mereka tidak menyukai Delvin, karena Delvin adalah penyebab kematian Rhea, adiknya Dean."


Sinta mengerutkan keningnya. Ia tak pernah tahu tentang hal itu. Niko pun juga tak pernah bercerita tentang sosok adik Dean, meski Niko juga mengenalnya semasa Rhea masih hidup.


Sinta mulai paham arah maksud dari ucapan Naina tadi. Mengapa Naina tadi Naina berkata ia tak bisa menikah, apalagi dengan Dean.


"Jadi kumohon padamu, jangan coba mendekatkanku pada Dean lagi!" Pinta Naina tulus.


"Maaf Bu'." Ucap Sinta penuh penyesalan.


"Aku berusaha keras agar tak jatuh hati padanya Sin, agar aku tak harus terluka lebih dalam esok."


"Iya Bu', saya mengerti. Maafkan sikap saya selama ini!"


"Tak apa Sin. Aku tahu, kamu berniat baik padaku."


Naina menoleh pada Sinta yang tertunduk. Sinta benar-benar menyesal atas sikapnya pada Naina akhir-akhir ini. Apalagi jika ia mengingat, bagaimana ia merahasiakan kepergian Dean ke Jerman beberapa waktu yang lalu dan selalu berusaha memojokkan Dean dengan Naina.


"Dan satu lagi. Tolong jangan katakan ini pada siapapun, bahkan pada Niko!" Pinta Naina tulus.


"Tentu Bu'. Saya akan merahasiakannya!" Jawab Sinta penuh keyakinan.


Sinta akhirnya memeluk tubuh Naina begitu saja. Naina sampai tersentak karena terkejut. Ia tak mengira, jika Sinta akan memeluknya dengan sangat erat. Ia bisa merasakan, pelukan yang sangat hangat dari Sinta. Naina pun akhirnya membalas pelukan wanita yang selalu ada untuknya itu.


Sinta sedikit terisak di pelukan Naina. Hatinya merasa sangat bersalah pada Naina, hingga tak bisa membendung air matanya.


Dua wanita itu, akhirnya kembali mengobrolkan banyak hal setelah sesi pelukan dengan beberapa bulir airmata. Meski mereka sering bertemu, tapi jarang sekali mereka mengobrol santai seperti saat ini. Menghabiskan waktu berdua sebagai perempuan biasa. Bukan sebagai atasan dan bawahan.


Naina merasa sedikit lega, ia bisa mengatakan itu pada Sinta. Ia pun sedikit merasa bersalah pada Sinta karena telah berbohong padanya selama ini tentang statusnya.

__ADS_1


Kejujuran. Sesuatu yang bisa sangat mahal harganya. Meski kadang teras sulit, tapi akan sangat melegakan jika kita bisa melakukannya.


__ADS_2