Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Momen Tak Terduga


__ADS_3

Cinta. Sebuah rasa dengan begitu banyak makna. Sebuah rasa, yang terkadang tak pernah kita duga kehadirannya. Sebuah rasa, yang terlalu berharga jika kita menyia-nyiakannya.


"Maaf Na!" Ucap Dean yang menyadari sikapnya diluar dugaannya.


Dean segera melepaskan pelukannya pada Naina. Naina pun terpaku karena menerima perlakuan Dean dengan bahagia. Ia mematung sejenak setelah tersadar.


"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menyambut pelukannya?" Batin Naina.


Dua insan yang sedang salah tingkah itu, lalu berjalan sedikit menjauh masing-masing. Naina berjalan menuju ke ruang keluarga, sedang Dean berjalan menuju teras belakang. Mereka berusaha menetralisir perasaannya masing-masing.


Jantung keduanya berdegup kencang di tempatnya masing-masing. Saling bertalu dan berdetak cepat tak karuan. Diiringi oleh desiran perasaan yang entah bagaimana menjabarkannya. Yang pasti, terasa indah.


Dean menyunggingkan senyum kecilnya karena menyadari bahwa Naina tak menolak pelukannya. Bahkan ia menyambut dan menikmatinya.


Secercah harapan, kembali hadir di hati sang pebisnis muda itu. Harapan untuk bisa meluluhkan hati sang pujaan hati, yang dalam beberapa bulan terakhir, berhasil mengusik ketenangan hari-harinya.


Bagaimana dengan Naina?


Naina mencoba menepis rasa itu. Ia merutuki dirinya sendiri karena terhanyut oleh pelukan hangat Dean yang cukup menenangkannya.


Batin Naina kembali bergelut. Ada rasa bahagia dan ingin membalas setiap perlakuam manis Dean dengan tangan terbuka dan bahkan membalas perasaan cintanya yang sempat ia ungkapkan kemarin. Tapi di sisi lain, ia juga harus dihadapkan pada kenyataan bahwa, ia sudah memiliki Rissa. Dan ayah Rissa, adalah sepupu Dean sendiri, dan merupakan seseorang yang sangat Dean benci.


Naina menghadapi dilema berat kali ini.


Rasa yang lama ia bunuh, ternyata tumbuh sempurna karena kehadiran dan perhatian dari Dean. Dalam hati kecilnya, ia ingin membalas semuanya. Tapi, masa lalunya menahannya. Rahasia yang ia tutupi, harus menjadi penghalang besar untuk menuruti keinginan hati kecilnya.


Naina berusaha keras menetralisir perasaan dan kemelut hatinya. Ia tak ingin, Dean melihatnya dalam keadaan yang galau, gundah gulana.


Setelah beberapa saat dan cukup tenang, Naina berjalan menuju teras belakang untuk menghampiri Dean.


"Kamu tak merasa aneh De? Kenapa orang yang fobia serangga bisa memiliki taman yang cukup luas dengan dua pohon yang tumbuh cukup besar di dalamnya?"


Naina berusaha mencairkan suasana. Ia tak ingin Dean salah paham jika ia terus diam karena salah tingkah. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di teras belakang yang di punggungi oleh Dean.


"Eh,, Na,," Dean terkejut karena Naina ternyata sudah ada dibelakangnya.


Dean segera berbalik badan dan ikut duduk di kursi yang bersebrangan dengan Naina.


"Kenapa memangnya Na?" Tanya Dean yang juga berusaha mencairkan suasana.


"Aku tak ingin Rissa fobia sepertiku. Meski itu akan menyulitkanku, karena terkadang harus menemui beberapa serangga di taman. Tapi, itu lebih baik, daripada Rissa harus memiliki fobia sepertiku." Jujur Naina.


"Kenapa kamu bisa fobia pada serangga? Dan bisa sampai berhalusianasi juga." Tanya Dean penasaran.


"Sebenarnya, tak semua serangga aku takuti. Ada beberapa yang masih bisa aku hadapi tanpa ketakutan yang begitu besar. Tapi tidak untuk ulat dan belalang atau sejenisnya. Aku sangat ketakutan jika berhadapan dengan mereka."


Naina memejamkan matanya dalam. Bayangan ulat dan serangga itu menyerangnya lagi.


"Jika kamu kesulitan menceritakannya, tak perlu kau ceritakan Na!" Ucap Dean yang menyadari sikap Naina.


Naina mengatur nafasnya yang tak beraturan. Perlahan ia membuka matanya dengan nafas yang mulai beraturan. Ia lalu menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Saat aku kecil, di sekitar rumahku, di serang oleh hama ulat bulu yang begitu banyak. Mereka bahkan masuk ke rumah. Dan dari sanalah aku mulai takut dengan segala jenis ulat." Jujur Naina.


"Kamu baik-baik saja Na?" Tanya Dean khawatir.


Naina diam tak menjawab. Ia menatap lurus kedepan.


"Setelah kejadian itu, saat aku berkunjung ke rumah sepupuku, aku diajak dia ke sawah untuk menangkap belalang. Tiba-tiba, dua belalang besar yang ia tangkap, terlepas dan terbang. Mereka hinggap bersamaan di wajahku dan sempat menggigit kelopak mataku. Aku sampai pingsan saat itu karena ketakutan." Imbuh Naina.


"Jadi karena itu?" Gumam Dean.


Naina tiba-tiba beranjak dari kursinya dan berlari ke dalam rumah. Meninggalkan Dean yang terkejut karenanya. Dean pun segera mengejar Naina ke dalam. Ia takut jika Naina akan ketakutan lagi seperti tadi.


Naina berlari ke kamarnya. Ia berjongkok di dekat ranjangnya. Membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Menutup rapat kedua telinganya dengan tangannya. Tubuhnya mulai gemetar.


Bayangan ulat dan belalang di masa kecilnya, muncul lagi. Ia berusaha sekuat tenaga menghapus bayangan itu.


"Na,," Panggil Dean sedikit panik dari belakang Naina.


"Aaaaaaa,," Naina tersentak hingga berdiri dan berteriak sambil memejamkan matanya.


Dean pun ikut terkejut karena Naina mendadak berdiri. Ia berniat menenangkan Naina, tapi kepalanya mendadak kembali sakit. Ada sekelebat bayangan wanita muncul di benaknya. Wanita yang sama ketakutannya dengan Naina sekarang.


"Kacamataku,," Ucap wanita itu panik dalam benak Dean.


"Aaww,," Rintih Dean saat bayangan itu muncul dibenaknya.


Dean tak jadi memegangi Naina untuk menenangkannya. Ia memegangi kepalanya sendiri yang mendadak berdenyut keras dan terasa sangat sakit.


Naina yang masih ketakutan, mendengar suara rintihan Dean. Ia tersadar hingga membuka matanya. Naina melihat Dean yang memegangi kepalanya erat.


Dean hanya diam. Ia hanya menggelengkan kepalanya sembari masih tetap memegangi kepalanya.


"Duduklah!" Naina membantu Dean untuk duduk di ranjangnya.


Dean perlahan membuka matanya. Sakit di kepalanya sedikit berkurang.


"Kamu nggak papa De? Kepalamu sakit? Apa kepala kita tak sengaja terbentur tadi?" Tanya Naina bingung.


"Tidak Na. Kepala kita tidak berbenturan tadi." Sahut Dean untuk menenangkan Naina yang nampak jelas wajah cemasnya.


Naina segera berdiri. "Aku ambilkan minum sebentar!"


Rasa itu mengalir lembut di hati Naina. Rasa sayang dan penuh perhatian pada Dean, mengalir tanpa hambatan saat ini. Melihat dia yang disayangi kesakitan, mengalahkan segala amarah dan gengsinya yang ia bangun demi menutup jalan bagi rasa yang indah itu.


Naina segera berdiri dan mulai melangkahkan kakinya. Tapi, satu tangannya di tahan oleh Dean dan sedikit di tarik. Naina yang tak berdiri dengan benar karena hendak melangkah, tubuhnya tersentak dan oleng. Tubuhnya jatuh tepat di pangkuan Dean.


Dean terkejut Naina jatuh di pangkuannya. Tangannya refleks memeluk pinggang Naina agar tak terjatuh dati pangkuannya.


Naina pun tak kalah terkejut dari Dean. Tapi, ia menyadari tangan Dean memeluk pinggangnya. Dan karena hal itu, dengan cepat Naina mendorong bahu Dean dengan kuat. Dan akhirnya, momen uwu itu kembali terjadi.


Tangan Dean yang memeluk pinggang Naina, membuat tubuh Naina ikut tertarik saat Naina mendorong bahu Dean cukup kuat. Dean jatuh telentang dan tertindih separuh tubuh Naina.

__ADS_1


Naina sempat menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya yang ada di bahu Dean. Hingga wajahnya, tak menindih wajah Dean. Tapi, pandangan keduanya tak bisa dihindari. Dua pasang bola mata itu saling memantulkan bayangan wajah satu sama lain.


Jantung keduanya berdegup kencang. Mereka saling gugup satu sama lain. Tapi, mereka pun sejenak menikmati momen tak terduga yang terjadi begitu saja itu.


Hingga, suara bel rumah Naina berbunyi. Dua insan yang masih saling berpandangan itu, tersadar tiba-tiba. Naina segera bangkit dan berdiri. Dan disusul oleh Dean.


"Maaf De,," Ucap Naina gugup.


"Assalamu'alaikum,," Suara tamu Naina, menggema tak begitu jelas dari kamar Naina.


"Na, ada tamu." Ucap Dean mencoba mengalihkan perhatian demi menghilangkan kegugupan diantara mereka.


"Eh, iya,," Naina tersentak kaget karena masih berusaha menetralisir perasaannya. Ia sejenak lupa, bel di rumahnya berbunyi.


Naina segera keluar kamar untuk membuka pintu. Ia berjalan dengan perasaan yang masih tak karuan. Jantungnya masih berdegup kencang. Hatinya pun bergejolak tak menentu.


Naina menarik nafas panjang saat ia sampai di pintu sebelum membukanya. Berusaha semaksimal mungkin untuk menetralisir perasaannya, agar sang tamu tak melihat kegugupannya.


"Mbak Lea! Mbak Hera!" Ucap Naina bahagia saat pintu terbuka lebar.


Naina segera menghambur ke pelukan dua wanita yang tersenyum penuh hangat padanya. Mereka pun memeluk Naina dengan bahagia.


"Gimana kabarmu Na?" Tanya Lea setelah pelukan hangat itu usai.


"Baik Mbak. Mbak Lea sama Mbak Hera gimana kabarnya? Kenapa nggak kasih kabar kalau mau kesini?" Sahut Naina antusias.


"Mas Ben ada urusan besok di sini. Jadi, kita ikut deh. Sekalian main ke tempatmu. Kan udah lama nggak kesini." Jujur Hera.


Naina hanya mengangguk paham.


Lea dan Hera, masih menjalin komunikasi yang baik dengan Naina meski mereka terpisah jarak yang cukup jauh. Terlebih setelah dua mantan 'kupu-kupu malam' itu menikah. Jarak mereka semakin jauh terbentang.


Lea dan Hera menikahi seorang pengusaha resort, Ben Raka Wijaya. Memang terdengar gila, tapi itu memang terjadi. Lea dan Hera menikahi satu orang yang sama. Mereka bahkan tinggal dalam satu atap bersama suaminya itu.


Ben memiliki beberapa resort di Pulau Bali dan Lombok. Ia yang yatim piatu, terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga tak sempat untuk menjalin asmara. Sampai tiga tahun lalu, ia bertemu dengan Lea dan Hera saat kunjungan bisnis ke Jogja. Dan ia langsung jatuh cinta pada dua mantan 'kupu-kupu malam' itu.


Enam bulan kemudian, mereka melangsungkan pernikahannya secara meriah di Lombok. Naina pun hadir di sana saat itu.


Naina awalnya tak percaya saat Lea dan Hera mengabari tentang pernikahan mereka. Tapi, saat Naina bertemu langsung dengan Ben, ia akhirnya percaya pada Lea dan Hera.


"Halo keponakan Tante yang cantik-cantik!" Sapa Naina seraya membungkuk, menghadap pada dua bayi perempuan yang sedang asik dengan mainannya di kereta dorongnya masing-masing.


"Hai Na!" Sapa laki-laki yang dari tadi masih sibuk menurunkan barang-barang milik dua istri dan anaknya.


"Hai Mas Ben!" Sahut Naina santai.


"Kamu baru ada tamu Na?" Tanya Ben sembari melirik pada mobil Dean yang terparkir di depan rumah Naina sembari berjalan menghampirinya.


"Iya Mas." Jawab Naina singkat.


Ben merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Naina. Pria yang baru saja memasuki usia kepala empat itu, menganggap Naina sebagai adiknya, sama seperti Lea dan Hera. Naina pun menyambutnya.

__ADS_1


"Siapa Na?" Tanya Dean dari arah dalam rumah.


Dan suara Dean, berhasil mengalihkan perhatian empat orang dewasa yang sedang asik melepas rindu di teras rumah Naina. Semua menoleh pada Dean. Termasuk Naina, yang masih memeluk Ben yang ia anggap seperti ayah dan kakak baginya.


__ADS_2