
Suara deru pesawat, saling bersahutan dengan hiruk pikuk keramaian bandara. Saling bersatu padu menjadi sebuah harmoni yang terasa tak biasa bagi sebagian pengunjungnya.
Di salah satu kursi pesawat yang tepat berada di dekat jendela, Dean sedang menatap kosong keluar jendela. Hatinya sedang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata yang bisa terucap. Pikirannya melayang jauh. Memorinya masih terpaku pada apa yang kemarin Naina katakan.
Flashback On
"Ayo kita pergi Sayang! Bersama Rissa tentunya."
"Mama dan Papa?" Tanya Naina bingung.
"Ini hidup kita Sayang, kita yang akan menjalani." Jelas Dean penuh harap.
"Tapi bukan berarti kita akan hidup bersama tanpa restu mereka De. Mereka orang tua kita." Rayu Naina perlahan.
"Aku hanya ingin hidup denganmu dan Rissa Sayang!" Rayu Dean lagi.
"Dengan restu mereka De, bukan tanpa restu." Naina menatap pilu wajah Dean.
Naina menarik Dean ke belakang daun pintunya yang masih tertutup.
Entah setan apa yang merasukinya. Naina mendaratkan bibirnya ke atas bibir Dean tanpa permisi. Ia sejenak lupa, mereka sedang berada di rumah dan ada Rissa di taman belakang.
Dean yang tak siap, tetap menyambut ulah Naina yang tak ia duga itu. Mereka berciuman, saling mengecap dan bermain lidah dengan penuh rasa. Menumpahkan rasa yang begitu membuncah dalam dada. Dengan emosi yang menggebu dari hati masing-masing.
Naina melepaskan ciumannya setelah beberapa saat. Ia mengecup lembut bibir Dean dan menangkupkan kedua tangannya ke pipi Dean.
"Jika kita memang berjodoh, kita akan bersama suatu hari nanti, dengan restu Mama dan Papa." Ucap Naina getir.
"Tapi Sayang,,"
"Yakinlah De! Ini yang terbaik untuk kita sekarang. Patuhi permintaan Mama! Kekasihku bukan anak durhaka." Rayu Naina sembari menggelengkan kepalanya.
"Tapi, kita mungkin tak akan bisa bertemu lagi Sayang."
"Jika memang itu yang terbaik untuk kita, maka itu yang akan kita jalani."
"Sayang,,"
"Pergilah De!" Pinta Naina sambil membalikkan badannya.
Tanpa berpikir panjang, Dean menarik tangan Naina keluar rumah. Naina meronta sekuat tenaga.
"Lepas De! Aku tak akan pergi denganmu tanpa restu Mama dan Papa!" Bentak Naina.
Dean mencengkeram cukup erat tangan Naina agar tak lepas. Tapi akhirnya, cengkeraman itu melemah dan Naina bisa melepaskan tangannya.
"Aku mencintaimu Sayang. Kita pasti akan hidup bahagia bersama Rissa." Rayu Dean penuh harap.
"Aku tidak mencintaimu jika kamu seperti ini De." Bentak Naina lagi.
Tubuh Dean mematung mendengar ucapan Naina. Hati dan pikirannya tak pernah siap mendengar kalimat itu dari bibir Naina. Rencana yang tadi ia pikirkan selama perjalanan menuju rumah Naina, lenyap sudah karena perkataan Naina.
Dean berencana membawa pergi Naina dan Rissa bersamanya. Pergi jauh dari keluarganya. Ia berniat untuk menikah dengan Naina, meski tanpa restu orang tuanya. Ia sungguh tak bisa jika harus berpisah dengan Naina.
__ADS_1
Tapi, kalimat yang Naina ucapkan tadi, telah membuat semua rencana Dean lenyap tak bersisa. Ia tak menyangka, Naina akan menolak ajakannya untuk pergi jauh dari keluarganya.
Naina menghempaskan keras tangannya agar terlepas dari Dean. Dan karena cengkeraman tangan Dean yang melemah, tangan Naina pun bisa lepas dari tangan Dean.
"Pulanglah De!" Pinta Naina sambil berusaha menahan airmatanya.
"Om Dean!" Panggil Rissa, yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
Rissa segera menghambur ke tubuh Dean. Gadis kecil itu, memeluk tubuh bagian bawah Dean dengan sangat erat. Seolah tak ingin kehilangan ia yang sedang dipeluknya.
Dean dan Naina terkejut, Rissa menghampiri mereka. Dean segera bersimpuh untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Rissa. Ia pun segera memeluk erat tubuh Rissa.
"Om kenapa lama nggak main ke sini?" Ucap Rissa polos.
"Om sedang sibuk akhir-akhir ini." Bohong Dean.
"Ayo Om, masuk!" Ajak Rissa cepat.
Rissa segera menarik tangan Dean dengan semangat. Ia mulai melangkahkan kakinya ke dalan rumah.
"Rissa stop!" Cegah Naina cepat.
Rissa dan Dean menoleh pada Naina. Rissa menatap Naina penuh tanya.
"Kenapa Mom?"
"Om Dean kemari ingin berpamitan denganmu. Dia akan ke Jerman." Ucap Naina seraya menahan airmatanya yang mulai menggelitik kelopak matanya
"Om Dean akan pindah ke Jerman. Dia tidak akan kembali kemari." Sahut Naina tegas.
"Apa itu benar Om?" Tanya Rissa yang makin gelisah hatinya.
Dean manatap tajam pada Naina.
"Kuberikan kesempatan untuk berpamitan pada Rissa." Sahut Naina sedatar mungkin.
"Om, jangan pergi!" Ucap Risaa sambil merengkuh tubuh Dean kembali ke pelukannya.
Hati Naina bergetar melihat pemandangan itu. Ia sungguh tak menyangka, putrinya bisa seperti itu pada Dean. Rissa bahkan sepertinya lebih menyayangi Dean dibandingkan dirinya. Rissa seperti tak ingin ditinggalkan oleh ayahnya saat ini.
Dean melirik pada Naina yang sedang menatapnya dan Rissa. Ia berusaha merayu Naina dengan posisinya kini.
"Rissa, masuk!" Pinta Naina tegas.
"Na!" Bentak Dean.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk berpamitan pada Rissa bukan?" Sahut Naina getir.
"Tapi Na,,"
"Lakukan sekarang atau pulanglah!" Ucap Naina sambil menatap ke arah depan rumahnya. Dimana mobil Niko mulai terparkir di sana.
Rissa semakin erat memeluk tubuh Dean. Gadis kecil itu, sungguh tak ingin berpisah dari laki-laki yang kini sudah sangat ia sayangi.
__ADS_1
Dean yang merasakan pelukan Rissa yang makin erat, segera membalas pelukan itu. Ia pun memeluk Rissa dengan segenap perasaannya.
"Apa Rissa mau ikut Om ke Jerman?" Ucap Dean tiba-tiba.
Bola mata Naina membelalak sempurna. Ia terkejut mendengar ucapan Dean.
"Jangan hasut putriku!" Bentak Naina sambil menarik tubuh Rissa dari Dean.
Rissa yang tak siap dengan sikap Naina, ia sedikit tersentak. Ia meronta untuk kembali ke pelukan Dean, tapi Naina memegangnya erat.
"Jangan kasar padanya Na!" Tegur Dean.
"Niko! Tolong bawa Dean pergi dari sini!" Pinta Naina cepat saat Niko sampai di teras rumahnya.
Niko tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa berucap.
Naina segera menggendong tubuh Rissa masuk ke rumah. Rissa meronta sekuat tenaga agar bisa lepas dari gendongan ibunya. Naina pun segera menutup pintunya dan menguncinya. Ia bahkan menyembunyikan kuncinya, agar Rissa tak bisa keluar.
"Mommy jahat!" Bentak Rissa keras saat Naina berhasil menyembunyikan kunci pintu rumahnya.
Rissa segera berlari ke kamarnya. Ia berlari dengan airmata yang sudah menetes sedari tadi. Gadis kecil yang hampir berusia enam tahun itu, sungguh tak ingin berpisah dari Dean.
Sedang di teras, Dean menatap nanar pintu rumah Naina yang sudah ditutup oleh Naina dengan sedikit keras. Hatinya terasa sakit mendengar teriakan Rissa yang memarahi ibunya karena memaksanya berpisah dengan om tersayangnya.
"Mari Tuan, saya antar pulang!" Ucap Niko halus.
Hati Niko sebenarnya juga tak tega melihat tuannya seperti itu. Tapi, ia juga tak bisa berbuat banyak. Keluarga Diedrich sudah sangat baik padanya selama ini. Ia tak bisa begitu saja mengabaikan semua kebaikan keluarga atasannya itu begitu saja.
Setelah dirayu oleh Niko selama beberapa saat, Dean akhirnya mau untuk meninggalkan rumah Naina. Ia melangkahkan kakinya dengan sangat berat. Apalagi, ia tak tahu, kapan lagi ia akan kembali ke Indonesia. Dan apakah saat di Jerman nanti, ia masih bisa berkomunikasi dengan Naina dan Rissa.
Tanpa Dean dan Niko ketahui, ada dua pasang mata yang mengamati langkah mereka meninggalkan teras rumah itu. Naina dan Rissa.
Rissa segera keluar kamar, sesaat setelah ia masuk ke kamarnya. Ia kembali berlari ke ibunya. Mereka berdua melepaskan kepergian Dean dalam diam.
Flashback Off
"Aku pergi Sayang!" Batin Dean perih sambil terus menatap keluar pesawat.
Jelita yang duduk di sebelah Dean, hanya diam melihat putranya yang melamun. Ia tahu, putranya itu sedang berusaha sekuat yang ia bisa untuk melepaskan wanita yang berhasil menggugah hatinya yang lama tertidur.
Memang bukan sepenuhnya salah Naina karena mengandung Rissa yang merupakan anak Delvin. Tapi, ia tetap masih belum bisa memaafkan apa yang dulu terjadi pada Rhea karena kecerobohan Delvin.
Jelita tetap menyayangi Naina dan Rissa dalam hatinya. Karena ia bisa melihat Rhea hidup dalam diri sepasang ibu dan anak itu.
"Mungkin karena aku kembar identik dengan Jeni, jadi Rissa bisa sangat mirip dengan Rhea." Batin Jelita saat mengingat wajah cantik Rissa dengan mata birunya.
"Bahagialah Na! Kamu tetap putriku." Batin Jelita tulus.
Dean dan Jelita pun akhirnya terbang ke Jerman. Mereka menyusul Jonathan yang sudah di sana sejak satu minggu yang lalu. Dan ya, Jelita benar-benar akan pindah ke Jerman bersama Dean. Mereka akan menetap di sana.
Roda kehidupan. Berputar dan terus berputar tanpa henti. Mengiringi setiap langkah setiap raga yang bernyawa menuju titik akhir yang tak pernah mereka ketahui.
Suka dan duka silih berganti. Sepanjang garis kehidupan yang telah tertulis, mereka selalu ada dan akan terus berjalan berdampingan saling mengisi. Memberikan makna dan falsafah hidup bagi setiap hati yang menyadarinya.
__ADS_1