
Matahari bersinar dengan gagahnya siang ini. Menjadi cahaya dan penghangat bagi alam semesta. Menjadi penanda betapa besarnya kuasa Sang Ilahi atas semua ciptaan-Nya. Menjadi pegiring langkah setiap takdir yang telah tertuliskan oleh tinta Sang Ilahi.
Suara tiga deru mobil mulai menepi ke halaman rumah Naina. Siang ini, rumah Naina kedatangan tamu cukup banyak. Bahkan, tiga mobil yang baru saja datang, harus rela memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Karena memang, rumah Naina tak memiliki tempat parkir mobil yang luas.
Semua penumpang tiga mobil itu turun satu per satu. Ada dua pasang mata saling bersitatap cukup tegang diantara mereka. Tapi mereka memilih saling acuh satu sama lain. Mereka pun melangkahkan kakinya menuju rumah Naina bersama malaikat kecil pemilik rumah yang baru saja pulang sekolah.
"Oma Lita!" Panggil Rissa gembira saat melihat Jelita berjalan menuju rumahnya.
"Halo Sayang! Kamu baru pulang sekolah?" Sapa Jelita ramah setelah Rissa menghampirinya.
"Iya Oma. Hari ini pulang lebih awal, karena ada kecelakaan di sekolah." Jujur Rissa.
"Oh, begitu. Mommy?"
"Bu Naina di rumah Nyonya. Mungkin sedang istirahat." Sahut Sinta ramah sambil tersenyum pada Jelita.
Di saat bersamaan, Delvin dan Jenita menghampiri tiga orang yang sedang mengobrol santai di depan pintu gerbang rumah Naina. Semua pun menoleh pada mereka berdua.
"Halo Cantik!" Sapa Delvin ramah dengan senyum tampannya pada Rissa.
"Hai Om!" Jawab Rissa singkat.
"Kok, Oma Lita ada dua?" Ucap Rissa polos saat melihat wanita yang berjalan bersama Delvin.
"Ini bukan Oma Lita Rissa. Ini mamanya Om Delvin. Namanya Oma Jeni." Jawab Delvin menjelaskan.
Jenita pun sedikit membungkuk dan menyapa Rissa dengan hangat.
"Halo Cantik!" Ucap Jenita sambil memegang lembut dagu Rissa.
Rissa kebingungan menatap Jenita yang memiliki wajah yang nyaris sama dengan Jelita. Ia berusaha mencari perbedaan dari kedua wanita kembar itu.
"Rissa! Oma Lita dan Oma Jeni itu kembar identik." Bisik Sinta menjelaskan
Rissa segera menoleh pada Sinta. Ia mengamati Jelita dan Jenita lebih seksama.
"Iya Tante. Mereka kembar identik." Ucap Rissa polos.
Para orang dewasa pun tersenyum mendengar penuturan polos Rissa.
"Ada apa ya Nyonya Jelita dan Nyonya Jenita kemari?" Tanya Sinta menengahi.
"Kami ingin bertemu Naina." Jawab Jenita.
"Aku ingin bertemu Naina." Jawab Jelita.
"Begitu rupanya. Baiklah, mari silahkan masuk! Ibu Naina pasti sedang istirahat." Jawab Sinta ramah.
Sinta segera membuka pintu gerbang rumah Naina. Dan semua baru menyadari, jika ada mobil Dean yang terparkir di halaman rumah Naina.
"Dean di sini?" Gumam Jelita penasaran.
Semua pun segera melangkahkan kaki menuju pintu rumah Naina. Rissa pun segera berlari, karena tak sabar ingin melihat kondisi ibunya yang baru saja kembali dari rumah sakit kemarin.
"Mommy!" Teriak Rissa saat ia membuka pintu.
"Sayang, jangan berteriak! Kalau Mommy baru istirahat bagaimana?" Tegur Sinta pelan.
"Uuppss!" Rissa segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Kebetulan, pintu rumah Naina tidak dikunci. Jadi, para tamu itu bisa masuk tanpa membuat keributan yang berarti.
Sinta dan Rissa segera mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Mereka pun mengecek kamar Naina, karena mungkin saja Naina sedang beristirahat di kamarnya. Tapi, ternyata tidak ada.
__ADS_1
Samar-samar, mereka mendengar percakapan dua orang dari arah teras belakang. Mereka pun melangkahkan kakinya ke arah teras belakang rumah Naina. Dan benar, Naina sedang mengobrol dengan Dean di sana. Dan dua orang itu, tak menyadari kehadiran mereka berlima.
Tanpa sengaja, mereka mendengar ucapan Naina yang membuat mereka semua terkejut. Sebuah rahasia yang Naina simpan rapat selama beberapa tahun terakhir.
"Aku tidak bercanda De. Itu kenyatannya." Jawab Naina cepat.
"Meski malam itu aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya, tapi almarhum Romo sudah mencoba mencarikan informasi lengkapnya sebelum beliau tiada. Dan beliau mendapatkan identitas Delvin sebagai laki-laki yang membayarku malam itu. Dan dia ayah Rissa." Imbuh Naina.
"DEAN!" Panggil Jelita tegas.
Dean dan Naina menoleh ke arah dalam rumah. Mereka sangat terkejut, ada lima orang di belakangnya dan mereka tidak tahu sejak kapan lima orang itu berada di sana.
"Mama?" Ucap Dean dan Naina bersamaan.
Naina dan Dean langsung berdiri. Dean segera menghampiri mamanya yang sedang menatap mereka penuh tanya dan ada sedikit guratan amarah bercampur kekecewaan di wajahnya.
"Pulang!" Bentak Jelita cepat saat Dean berada di sampingnya.
"Tapi Ma, dengerin Dean dulu!" Tolak Dean tak kalah cepat.
"Mama bilang pulang!" Bentak Jelita marah.
Jelita menatap Naina penuh kekecewaan. Ia merasa dibohongi oleh Naina. Ia tak pernah menyangka, jika Naina memiliki rahasia sebesar itu. Rahasia yang terasa sangat menyakitkan baginya.
Jelita sudah terlanjur menyayangi Naina dan Rissa. Bahkan, karena kemiripan Rissa dengan Dean, sempat terbersit pemikiran di benak Jelita, bahwa Rissa adalah putri Dean, karena kesalahan Dean dimasa lalu. Kalaupun tidak, ia berharap, Rissa bisa menjadi cucunya suatu hari nanti.
Tapi kini, itu semua hancur sudah. Pengakuan itu telah terucap sendiri dari mulut Naina. Kenyataan yang cukup menyakitkan bagi Jelita. Kenyataan bahwa Rissa, adalah putri dari orang yang sampai saat ini masih ia benci. Karena menjadi penyebab kematian putri kesayangannya.
"Apa itu benar Mom?" Sela Rissa yang juga tak percaya.
"Iya Sayang, itu benar." Jawab Naina lirih.
Tubuh Rissa spontan berjalan mundur. Ia menubruk Sinta yang berdiri di belakangnya. Ia seakan tak terima, jika ayahnya adalah Delvin, orang yang ia idolakan selama ini.
"Apa Mommy sudah tes DNA?" Tanya Rissa cepat.
Gadis kecil itu mulai menunjukkan kepintarannya dalam banyak hal. Ia juga paham, apa itu tes DNA.
"Belum." Jawab Naina tertunduk.
"Kita lakukan tes DNA." Sela Dean.
"Kamu tak usah ikut campur urusan mereka!" Bentak Jelita lagi.
"Tapi Ma,,"
"Nggak ada tapi! Sekarang pulang!" Ucap Jelita sambil memegang erat tangan Dean.
"Na,," Dean menoleh pada Naina dengan tatapan sendu.
"Pulanglah De! Turuti apa kata Mama!" Ucap Naina berat.
Ketakutan Naina terjadi. Kenyataan itu membuat Dean menjauh darinya. Meski Dean masih berusaha menerimanya, tapi ternyata Jelita yang mentah-mentah menolaknya. Dan Naina tak bisa berbuat banyak untuk itu.
Naina menghela nafas panjangnya. Airmatanya makin deras mengalir melewati pipi mulusnya.
"Lakukan tes DNA Sayang!" Teriak Dean saat tangannya mulai ditarik oleh Jelita untuk keluar dari rumah Naina.
Naina hanya diam. Ia hanya menatap Dean dan Jelita yang makin menjauh dari pandangannya dan mulai menghilang dibalik bufet yang ada di rumahnya.
Tanpa Naina, Rissa, Sinta, Jelita dan Dean sadari, Delvin dan Jenita tengah tersenyum penuh kemenangan. Mereka menyeringai di tengah kejadian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya
"Apa itu benar Na?" Tanya Delvin mencoba meyakinkan Naina.
__ADS_1
"Iya Del. Kamu mungkin tak mengenaliku. Karena memang, penampilanku dulu dan sekarang sangat berbeda." Jelas Naina singkat.
Delvin segera menoleh pada Rissa. Gadis kecil itu, terlihat sedang menahan sesuatu. Rissa tiba-tiba berlari ke kamarnya begitu saja. Ia akhirnya menangis di kamarnya demi menumpahkan rasa di hatinya.
Rissa kebingungan dengan perasaannya. Ia tak tahu, harus bahagia ataukah sedih dan kecewa. Bahagia karena ia akhirnya tahu, siapa sosok ayah yang selama ini tak ia ketahui identitasnya. Ataukah sedih dan kecewa, karena ternyata ayahnya adalah orang yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Dan ia ternyata adalah anak karena sebuah kesalahan satu malam yang terjadi karena keterpaksaan.
Rissa memang masih kecil, tapi jalan pikirannya sudah cukup paham tentang hal yang baru saja ia dengar.
Jelita memaksa Dean untuk pulang. Ia tak ingin, jika Dean melanjutkan perasannya pada Naina. Dalam hati kecil Jelita, ia juga tak ingin melakukan itu pada Naina. Tapi, kenangan masa lalu yang masih membekas hingga kini, membuatnya tak bisa membiarkan putranya menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki ikatan dengan orang yang ia benci.
Naina dan Sinta menatap Rissa yang berlari ke kamarnya. Sedang Delvin dan Jenita, saling pandang dengan tatapan penuh kebahagiaan dalam hati mereka.
"Tuhan mendu**kung kita Ma." Batin Delvin.
Naina sedikit kebingungan menghadapi situasinya sekarang. Ia segera menoleh pada tamu-tamunya.
"Maaf Tante, Delvin! Ada apa ya datang kemari?" Tanya Naina cepat.
"Oh, itu Na, Mama ingin berterima kasih atas bantuanmu di kafemu tempo hari. Ia juga ingin menjengukmu setelah pulang dari rumah sakit." Jawab Delvin.
"Oh, terima kasih Tante atas perhatiannya. Saya sudah membaik sekarang. Dan untuk masalah di kafe, Tante tidak perlu sungkan. Sudah menjadi kewajiban kita saling membantu satu sama lain."
"Syukurlah jika seperti itu." Imbuh Jenita.
"Maaf Tante, Delvin! Saya ingin ke kamar Rissa dulu." Pamit Naina yang hatinya sangat tidak tenang karena mengingat reaksi Rissa tadi.
"Tentu Na, pergilah!" Sahut Delvin ramah.
"Sinta, tolong temani Tante Jenita dan Delvin mengobrol sebentar!" Pinta Naina cepat.
"Baik Bu'!" Jawab Sinta paham.
Naina segera berlari ke kamar putrinya. Sedang Sinta, mengajak Jenita dan Delvin ke ruang tamu untuk duduk dan mengobrol. Sinta pun membuatkan minum untuk kedua tamu atasannya itu.
"Kuatkan hati Bu Naina dan Rissa Ya Allah." Do'a Sinta dalam hati sembari sibuk menyiapkan minum dan camilan untuk tamu Naina.
Sedang Naina, perlahan melangkahkan kakinya memasuki kamar sang putri. Ia melihat Rissa, meringkuk bersama gulingnya di atas ranjangnya. Punggungnya terlihat bergetar. Ada isakan kecil yang terdengar.
Naina segera menghampiri Rissa. Ia duduk di tepi ranjang, dimana ia bisa melihat dengan jelas wajah merah putrinya karena menangis.
"Maafkan Mommy Sayang!" Ucap Naina sembari mengusap lembut kepala Rissa.
Rissa segera bangun dari posisinya. Ia langsung memeluk tubuh Naina dengan begitu erat. Menumpahkan lagi kemelut rasa dalam hatinya yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Rissa nggak mau Om Delvin Mom!" Ucap Rissa di sela tangisannya.
"Kenapa Sayang? Apa Rissa tidak ingin daddy?" Jawab Naina getir.
"Tapi bukan Om Delvin Mom!" Jawab Rissa sambil melepaskan pelukannya. Ia langsung menatap wajah ibunya.
"Lalu?"
"Rissa ingin Om Dean Mom!" Jujur Rissa.
Jeduar. Naina seakan disambar petir dengan tegangan ribuan volt. Tubuhnya membeku seketika. Waktu terasa terhenti tanpa ia inginkan. Membuatnya mendadak kehilangan kata-kata yang ingin ia ucapkan pada Rissa.
Naina tak menyangka, kedekatan Rissa dengan Dean, bisa membuat Rissa menginginkan Dean untuk menjadi ayahnya. Yang sungguh, ia pun menginginkan hal itu.
"Maafkan Mommy Sayang!" Ucap Naina seraya menarik Rissa ke dalam pelukannya.
"Mommy juga menginginkan itu Sayang." Batin Naina dalam pelukannya yang ternyata juga diiringi oleh air mata yang jatuh tanpa ia minta.
Naina dan Rissa akhirnya saling berpelukan lebih erat. Mereka saling memberikan kekuatan satu sama lain. Berusaha saling mengerti dan memahami apa yang mereka rasakan kini.
__ADS_1
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Akan selalu ada kehendak Allah yang akan memberikan yang terbaik yang kita butuhkan. Yang selalu ada, dan berjalan mengiringi setiap langkah kita. Untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi.